
"Tari kamu kenapa?" Tanya Tiara panik, saat ia masuk ke dalam ruang rawat adiknya itu, nampak Tari tengah menangis sesenggukan.
Dengan cepat Tiara menghampiri adiknya itu, lalu memeluknya.
"Dek kamu kenapa menangis?" tanya Tiara lagi, ia mengusap punggung adiknya itu, berusaha menenangkannya.
Namun tangis Tari semakin pecah. Membuat Tiara merasa bingung sekaligus khawatir, apa yang terjadi dengan Tari?
"Tari jangan seperti ini, ada apa Dek? Sudah jangan menangis, ceritakan ada apa Dek?"
"Kak kenapa sih Kakak gak pernah nurutin permintaan Tari?"
"Apa maksud kamu Tari? Memangnya kamu minta apa sama Kakak?" Tiara semakin bingung menatap adiknya itu.
"Kenapa Kakak masih mau mempertahankan pernikahan Kakak dengan Kak Rey? Kenapa Kakak meminta maaf sama dia? Apa Kakak sudah tidak punya harga diri? Kak, jangan jadi alasan semua itu karena Tari. Sampai-sampai Kakak merendahkan diri sendiri di hadapan laki-laki bajingan itu!"
"Hah?" Tiara sangat terkejut mendengar ucapan Adiknya itu.
"Apa yang kamu bicarakan Tari? Mana mungkin Kakak sebodoh itu! Siapa yang yang memberi tahu informasi bodong seperti ini sama kamu?" sambung Tiara.
Tari terdiam, ia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Kakaknya itu. Entah siapa yang harus Tari percaya?
"Tari kenapa kamu diam? Siapa yang mengatakan semua itu sama kamu?" tanya Tiara lagi.
"Kak Rey, Kak. Dia tadi ke sini, dia bilang kalau hubungan Kakak dan dia, sudah baik-baik saja, bahkan Kakak bersujud di kakinya, meminta maaf sama dia," jelas Tiara.
"Astaga Tari...." Tiara mengusap wajahnya dengan kasar. 'Si Reyhan benar-benar keterlaluan!' lanjut Tiara dalam hatinya.
"Terus kamu percaya sama ucapan dia?"
"Ya, awalnya tidak percaya. Tapi..."
"Tapi apa? Karena dia seperti berbicara bersungguh-sungguh?" potong Tiara.
Tari terlihat menganggukkan kepalanya, ya itulah kelemahan Tari, dia sangat mudah untuk di kibuli alias di bohongi.
"Enggak Tari, dia itu berbohong. Mana mungkin Kakak melakukan hal konyol seperti itu!" tegas Tiara.
"Jadi Kakak mau berpisah dengan Kak Rey?"
"Iya, seperti permainan kamu, dan memang itu juga yang Kakak inginkan," jawab Tiara.
"Terima kasih Kak, Kakak sudah mau menuruti permintaan Tari. Sekarang biarlah Tari yang berkorban untuk Kakak, Kakak sudah banyak berkorban untuk Tari."
Tiara mengernyitkan dahinya menatap adiknya itu.
"Maksud kamu?"
"Kak, setalah Kakak berpisah dengan Kak Rey. Kakak jangan memikirkan Tari lagi ya, biarkan lah Tari seperti ini. Jangan mempersulit diri Kakak lagi. Tari juga tidak mau terus menerus membebani Kakak, Kak batalkan saja rencana Kakak untuk membawa Tari berobat ke luar Negeri." pinta Tari.
__ADS_1
"Gak Tari!" tolak Tiara dengan cepat.
"Kak, tolong. Tari juga sudah lelah, Tari tidak mau berobat lagi."
"Tidak Tari, kamu itu masih tanggung jawab Kakak. Dengerin Kakak, tanpa Reyhan pun Kakak akan membawa kamu ke sana. Kamu harus semangat Tari jangan seperti ini, ini sama saja kamu membuat Kakak sedih! Apa kamu akan membuat perjuangan Kakak selama ini sia-sia?" Tiara berkata dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Bukan begitu maksud Tari, Kak. Kakak tau sendirikan kondisi kita, kondisi Kakak."
"Masalah biaya? Tenang saja Tari, Kakak sudah memikirkan hal itu dengan matang. Kamu jangan memikirkannya, karena Kakak sudah menyiapkan semuanya, Kakak pastikan kamu akan pergi ke sana dan menjalankan perawatan yang terbaik."
"Uang dari mana Kak? Apa Kakak mau memakai semua tabungan Kakak? Tidak, Kak! Tari gak setuju!"
"Tari kamu sayang 'kan sama Kakak?" tanya Tiara. Tari memang sedikit keras kepala, bicara dengan Tari harus secara pelan, Tiara mengerti posisi Tari saat ini.
Tari menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu sayang sama Kakak, kamu nurut saja ya sama Kakak. Apa pun akan Kakak lakukan demi kamu Tari. Sebenernya ada yang ingin Kakak bicarakan lagi sama kamu, hal lain." ujar Tiara.
"Apa?" Tari dengan cepat meresponnya.
Tiara tersenyum tipis pada Adiknya itu.
"Kamu masih ingat tempo hari lalu ada laki-laki yang mencari Kakak?" tanya Tiara. Tari langsung menganggukkan kepalanya.
"Dia, dia yang akan membantu kita Tari," sambung Tiara.
Tari terlihat bingung, ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Kakaknya itu. Bagaimana bisa orang yang baru saja di kenal oleh Kakaknya itu, membantu mereka.
"Apa Kakak tidak merasa aneh? Maksud aku, apa mereka bisa di percaya?" tanya Tari, usai menyimak semua cerita Kakaknya itu.
"Awalnya Kakak memang ragu, seperti yang kamu pikirkan saat ini. Itu sesuatu yang tidak wajar bukan?"
Tari mengangguk-angguk kepalanya.
"Emang sakit apa anaknya Tuan Smith itu Kak?"
"Entahlah, Kakak belum tau dia sakit apa. Karena mereka tidak memberitahu Kakak tentang kondisi anaknya itu." jelas Tiara.
"Semoga saja tidak aneh-aneh ya Kak. Jujur saja Tari merasa ragu, apa Kakak tidak coba memikirkan lagi? Takutnya mereka ada niat terselubung Kak."
"Kakak sudah tanda tangan kontraknya Tari, tidak mungkin membatalkannya. Sudahlah kita jangan berprasangka buruk."
"Iya Kak, Tadi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Kakak. Terima kasih Kakak, Kakak sudah berkorban banyak untuk Tari, maaf jika Tari sampai saat ini belum bisa membahagiakan Kakak." ucap Tari tulus.
"Kamu mau bikin Kakak bahagia?" tanya Tiara.
Tari menganggukkan dengan semangat.
"Kalau kamu mau bikin Kakak bahagia. Kamu harus semangat untuk sembuh, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Tari. Yakinlah kalau kamu bisa melewati ini semua," ucap Tiara.
__ADS_1
"Iya Kak, Tari akan menuruti ucapan Kakak. Tari sayang sama Kakak." Tari memeluk Kakaknya itu.
"Kakak juga sayang sama kamu." balas Tiara.
"Terima kasih Kak, Kakak sudah menyayangi Tari, padahal Tari bukan adik kandung Kakak." ucap Tari lirih sambil memeluk Kakaknya itu.
"Jangan bicara seperti itu, Kakak sudah menganggap kamu seperti adik kandung Kakak sendiri. Apa pun akan Kakak lakukan untuk kamu, untuk kebaikan kamu. Saat ini hanya kamu satu-satunya yang Kakak punya Tari, kamu penyemangat Kakak, kamu yang membuat Kakak punya tujuan untuk memperjuangkan semuanya." Tiara melepaskan pelukannya, lalu mengusap kepala adiknya itu dengan lembut.
"Terima kasih Kak." Hanya itu yang bisa Tari ungkapan pada Kakaknya itu, Tari memang tahu jika Tiara bukanlah kakak kandungnya, karena Tari diadopsi oleh Kedua orang tua Tiara, saat Tari beranjak remaja, jadi Tari sudah mengerti semuanya.
"Kak, apa Kakak tau siapa orang tua Tari?" tanya Tari tiba-tiba. Untuk pertama kalinya Tari menanyakan hal itu pada Tiara. Tiara terlihat terkejut saat mendengar pertanyaan Adiknya itu.
"Kakak tidak tau, Tari. Bahkan mendiang Ibu dan Ayah pun tidak tau. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
Ada rasa takut di hati Tiara, saat Tari menanyakan soal orang tuanya. Tiara memang tidak tahu siapa orang Tua Tari, bahkan Ibu dan Ayahnya pun tidak tahu. Dulu mereka memang sempat mencari tahu, tapi hasilnya nihil. Apa lagi saat itu kondisi Tari tidak memungkinkan untuk mereka mencari tahu asal-usul gadis itu. Namanya saja Tari tidak tahu, dia siapa. Dan orang tau Tiara yang memberi nama 'Tari' padanya.
"Tari Kakak tau pasti kamu sangat merindukan orang tua kandung kamu. Nanti Kakak akan coba mencari informasi. Tapi..." Tiara menggantungkan ucapan. Matanya mulai berkaca-kaca. Tiara takut, takut jika suatu hari nanti Tari bertemu dengan orang tua kandungnya, maka Tari akan meninggalkannya.
"Tapi apa Kak?" tanya Tari.
"Ah tidak." Tiara mencoba memaksakan senyumnya.
'Kenapa Kak Tiara seperti sedih? Apa aku salah berbicara.' batin Tari.
"Kak maafin Tari kalau ucapan Tari barusan melukai hati Kakak. Sudahlah Kak, jangan pikirkan ya. Siapa pun orang tua kandung Tari, Tari tidak peduli. Jangan cari mereka Kak, biarkan saja. Tidak bertemu mereka lagi pun Tari tidak masalah. Kerena Tari punya Kakak, itu sudah lebih dari cukup." ucap Tari.
Tari berpikir, untuk apa juga di mencari tahu siapa orang tua kandungnya itu. Toh selama ini juga mereka tidak mencari tahu, semenjak Tari di rawat oleh kedua orang tua Tiara, ia sama sekali tidak menemukan tanda-tanda orang tuanya itu mencarinya. Ya walaupun memang Tadi tidak tahu sebenernya orang tua kandungnya siapa, dia pun tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.
"Jangan berkata seperti itu, nanti Kakak akan meminta bantuan pada teman Kakak, untuk mencari keluarga kandung kamu. Sekarang kamu istirahat ya, Kakak ada urusan dulu. Nanti ke sini lagi, kemungkinan Kakak juga akan menginap di sini untuk sementara waktu, sampai nanti Kakak mulai berkerja pada Tuan Smith."
Mungkin nanti Tiara akan mencoba meminta bantuan pada Tuan Smith atau Ken, mencari informasi tentang Tari. Tiara tidak mau egois, walau bagaimana pun Tari harus bisa bertemu dengan orang tua kandungnya. Entahlah, biarlah nanti dia di sebut tidak tau diri juga oleh mereka, tapi semoga saja mereka mau membantu Tiara.
"Iya Kak. Kakak gak usah pulang ke Rumah si Rey ya, kalau Kakak mau ganti baju pakai baju Tari aja, kan ada banyak tuh," ucap Tari sambil tersenyum.
"Iya, lagian Kakak gak mau menginjak kaki ke sana lagi. Masalah baju ganti, nanti Kakak beli aja."
"Baiklah terserah Kakak saja."
"Ya sudah kamu istirahat ya, Kakak keluar dulu," pamit Tiara.
Tari tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Tiara pun beranjak keluar dari ruang rawat adiknya itu.
Rencana Tiara saat ini, ia ingin membuat dulu surut pengunduran diri, setalah itu ia berniat ingin menghubungi Ken. Ada sesuatu yang ingin Tiara bicarakan pada laki-laki itu.
"Semoga semuanya di permudah," gumam Tiara.
Bersambung....
Jangan lupa, like, komen dan votenya ya.
__ADS_1
Terima kasih.