Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 35. Cabe setan!


__ADS_3

Pagi ini seperti biasa Tiara menyiapkan semua kebutuhan Tuan Mudanya itu, ia membawakan sarapan ke kamar Teo.


Tok tok tok


Tiara mengetuk pintu kamar tersebut, setalah itu ia pun membuka pintu kamar dan masuk.


Kamar terlihat sepi, Tiara tidak melihat sang pemilik kamar tersebut.


“Dimana dia?” gumam Tiara.


Tiara pun meletakkan nampan yang berisikan sarapan untuk Tuan Mudanya itu di atas meja,


matanya menyapu setiap sudut kamar tersebut, perasaan tadi Tiara melihat Teo sudah kembali dari luar, kerena setiap pagi Tuan Mudanya itu memang selalu berolahraga berlari berkeliling komplek.


“Tuan Muda, ini saya bawakan sarapan.” Tiara memberanikan diri untuk memanggil Tuan Mudanya itu. Akan tetapi Tiara sama sekali tidak mendengar sahutan dari pria tersebut.


“Apa dia kembali bisu ya? Tuh orang kemana sih! pagi-pagi bikin emosi aja deh. Tapi kalau beneran bisu lagi, aku bahagia banget, habis itu mulut kalau ngomong pedes! ngalahin cabe setan yang ada di pasar!” gerutunya.


“Apa maksud kamu membandingkan saya dengan cabe setan?!”

__ADS_1


Deg!


Tiara terkejut saat mendengar suara seseorang yang menyahut ucapannya itu. Tentu saja Tiara sudah bisa menebak siapa pemilik suara tersebut. Mampus!


Perlahan Tiara pun membalikkan badannya, ia semakin terkejut melihat Teo yang kini sudah berdiri tepat dibelakangnya itu.


“Tu—tuan Muda, se—sejak kapan Tuan di sini?” tanya Tiara terbata-bata.


“Sejak kapan pun saya di sini, itu bukan urusan kamu Suster Tiara!” jawab Teo sinis.


Tiara berusaha menampilkan senyuman termanisnya, mencoba menutupi rasa takutnya. Sial! kenapa Tiara tidak bisa mengontrol ucapannya. Kalau sudah begini tamatlah riwayat Tiara. Kalau sudah begini Tiara harus bagaimana?


“Ini Tuan saya sudah membawakan sarapan untuk Tuan Muda.” Tiara memberikan menyodorkan nampan tersebut pada Teo.


Teo tersenyum sinis sambil menatap nampan tersebut.


“Kau mau mengalihkan pembicaraan dengan sarapan ini hmm?”


“Maksud Tuan Muda apa ya, sa—saya tidak mengerti?” tanya balik Tiara, ia memasang wajah sok polosnya seakan benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Teo barusan. Padahal Tiara sangat mengerti, perkataan Teo juga benar, bener jika dirinya memang ingin mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Ck! sok polos. Kenapa tadi kau bilang mulut saya seperti cabe setan hah?!”


“Ya itu memang kenyataannya Tua—” Tiara langsung mengetubkan bibirnya. Tak menyelesaikan ucapannya tersebut. Sial! ‘ini mulut kenapa gak bisa di rem sih, ah mampus, mampus! bodoh kamu Tiara,’ lanjut Tiara dalam hatinya.


“Kau!” geram Teo, ia menatap tajam Susternya itu. Sumpah demi apa pun, lancang sekali wanita yang ada dihadapannya itu.


“Ma—maaf Tuan, bukan begitu maksud sa—”


“Cukup!” sela Teo. “Sebaiknya kau keluar sana dan kemasi barang-barang kamu, hari ini kau saya pecat, paham!” imbunnya dengan tegas.


Tiara langsung membulat matanya. Ia langsung menyimpan nampan yang ditangannya itu kembali ke atas meja, lalu Tiara memeluk kaki Teo.


“Jangan Tuan Muda, saya mohon jangan pecat saya, saya masih butuh perkejaan ini. Kasihani saya Tuan, saya masih membutuhkan uang untuk membiayai pengobatan Adik saya,” mohon Tiara.


Ia tidak perduli memohon seperti ini, tak peduli jika di sebut tidak punya harga diri, yang pasti Tiara tidak mau sampai kehilangan pekerjaannya itu. Demi Tari, apa pun akan Tiara lakukan.


Sementara itu Toe hanya bergeming sambil tersenyum sinis, penuh kemenangan.


Bersambung....

__ADS_1


Maaf baru update temen-temen, jangan lupa like dan ramaikan kolom komentar. Terima kasih.


__ADS_2