Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 62. Gaya Sosialita Dompet Kaki Lima!


__ADS_3

“Pak tolong izinkan saya masuk, Pak!” mohon Reyhan pada kedua security yang berjaga di dapat kantor milik Teo tersebut.


“Maaf, tidak bisa. Apa anda tidak dengar tadi apa kata Bos besar!” tolaknya.


“Rey sudahlah, ayo kita pergi. Malu dilihatin orang, kamu kaya gak punya harga diri tahu gak!" bujuk Lian, ia menarik tangan Reyhan.


Sejak tadi Reyhan terus memohon, ia sama sekali tidak mau pergi dari sana. Ia tidak mau hancur begitu saja! pokoknya Reyhan harus bisa masuk ke dalam untuk membujuk Ken dan Teo lagi, agar kerjasama dengan perusahaan keduanya tetap berjalan.


Reyhan sudah tidak perduli dengan harga diri atau apapun, lebih baik ia merendahkan diri pada Ken dan Teo, dari pada perusahannya bangkrut otomatis orang akan merendahkannya kerena miskin. Bahkan ia juga tidak menghiraukan orang-orang yang sejak tadi menatapnya heran dan mentertawakan tingkahnya itu. Sejak tadi Reyhan dan Lian memang menjadi pusat perhatian, terlebih saat ini jam istirahat makan siang, otomatis banyak para karyawan kantor di sana yang berlalu lalang.


“Aku tidak peduli Lian, harusnya kau juga melakukan apa yang aku lakukan, kalau kita tidak bisa membujuk untuk masuk dan berbicara sama pemilik perusahaan ini, demi perusahan Lian!" tegas Reyhan.


Lian terlihat geram, “ ya sudah terserah kau saja, aku tidak Sudi memohon seperti ini, masih banyak cara lain Rey dari pada cara rendahan seperti ini!” pekik Lian.


Setalah berkata seperti itu, Lian langsung menarik paksa Reyhan, wanita itu mengeluarkan seluruh tenaganya untuk menyeret Reyhan. Benar-benar memalukan.


“Masuk mobil!” bentak Lian pada Reyhan. Wanita itu kini terlihat sangat mengerikan.


Akhirnya Reyhan pun terpaksa menuruti permintaan Lian, ia masuk ke dalam mobil, lalu Lian pun menyusul masuk.


Tanpa kata Lian yang sudah duduk di kursi pengemudi itu pun langsung melajukan mobilnya.


“Udahlah Rey, kita cari cara lain saja. Untuk sementara waktu aku akan pinjamkan modal untuk perusahaan kamu,” ujar Lian.


Rey terlihat tersenyum sinis, “memang kau punya uang sebanyak apa? Kamu pikir untuk mengambil semuanya segampang itu hah? Tidak Lian! sudahlah kau tidak usah banyak omong, bikin pusing saja! Semua ini gara-gara kamu tau gak! kalau saja kamu tidak ikut-ikutan ngebacot pasti semuanya tidak akan seperti ini!” pekik Reyhan.


“Kok kamu ngomongnya kasar benget sih, Rey? Aku ini calon istri kamu loh!” Lian nampak tidak suka dengan sikap Reyhan dan cara bicaranya.


“Ini masih wajar Lian, kerena memang semua ini salah kamu, semua yang terjadi itu sejak awal itu masalahnya ada pada kamu! Andai saja aku dulu kamu tidak merayu aku, dan kita sampai melakukan hal itu, pasti semua ini tidak akan terjadi, aku masih bersama Tiara pastinya!”


“Kamu keterlaluan Rey! sebenernya yang kamu pikirkan saat ini apa hah? Perusahan kamu atau mantan istri kamu itu hah?” pekik Lian.


“Keduanya! puas kau!” balas Reyhan sengit.


Lian terlihat semakin merasa kesal, wanita itu langsung menambahkan kecepatan mobilnya.


“Lian kau gila hah? Kau mau kita mati!” pekik Reyhan.


Lian tak menjawab, ia malah semakin menambah kecepatan mobilnya itu. Dan ...

__ADS_1


“Lian awas!” teriak Reyhan.


Brak!


Mobil itu seketika oleng, Lian membating setirnya, untuk saja mobil itu bisa menghadiri mobil yang melaju dari arah yang berlawanan tersebut. Namun sayangnya mobil tersebut menabrak sebuah pohon yang ada dipinggir jalan tersebut.


“Gila kau Lian!” pekik Reyhan dengan napas yang memburu. Pelipis kening Reyhan terlihat berdarah, semantara Lian wanita itu terlihat tak sadarkan diri.


“Lian," panggil Reyhan. Namun wanita itu tidak menyahutnya, Reyhan belum sadar jika Lian pingsan.


“Apa dia pingsan?”


Reyhan berdecak kesal, ia pun menganti posisinya, ia memindahkan Lian ke jok belakang, dan ia yang mengemudikan mobilnya.


Untung mobilnya masih bisa jalan, hanya bagian depannya saja yang penyok, sialnya lagi di sana jalanan terlihat sepi.


Reyhan pun segara membawa Lian menuju rumah sakit terdekat, tak lupa ia juga menghubungi Ibunya, memberikan kabar.


Setengah jam kemudian Reyhan pun sampai di rumah sakit. Ia segara meminta petugas rumah sakit untuk membantunya membawa Lian ke dalam rumah sakit tersebut.


Setalah mendapat pertolongan pertama, Dokter mengatakan jika Lian harus di rawat beberapa hari di rumah sakit, luka akibat kecelakaan tadi memang bukan luka berat, hanya saja Lian mengalami pendarahan, dan mengakibatkan janin yang ada di dalam kandungan wanita itu keguguran.


“Merepotkan saja!” gerutu Reyhan, usai membayar administrasi Lian.


Memang tidak banyak, tidak sampai puluhan juta, hanya saja disaat kondisi seperti ini, uang itu sangat berarti untuk Reyhan.


Hingga tak lama kemudian, Ibunya Rey pun datang.


“Rey gimana kondisi kamu? Lian mana?" cercanya. Wanita parubaya itu terlihat sangat panik.


“Aku gak apa-apa, Lian keguguran," jawab Reyhan terlihat sangat santai.


“Apa kok bisa? Astaga kamu ini gimana sih Rey, kok bisa jadi seperti ini, kamu itu menjaga Lian saja tidak becus!”


“Udah deh Bu, jangan banyak drama. Bukankah itu bagus, jadi aku tidak usah menikah dengan dia. Lagian saat ini ada yang lebih penting dari pada itu!” papar Reyhan.


“Kamu ini benar-benar Keterlaluan Rey, sekarang dimana Lian? Ayo antar ibu ke kamar rawatnya.”


Dengan malas Rey pun mengantarkan Ibunya ke kamar tempat Lain di rawat.

__ADS_1


“Ya ampun Rey, apa kamu yakin Lian di rawat diruangan seperti ini? Ini mah ruangan biasa, ruangan orang miskin di rawat, Ibu gak mau tahu pindahkan Lian, Ibu gak mau masuk ke ruangan itu, bisa-bisa Ibu terkena virus lagi dari orang-orang miskin yang di rawat di dalam, ih ... ”


Wanita parubaya itu terlihat menggerdikan bahunya, menatap ruangan rawat tersebut dari luar dengan jijik!


“Kalau Ibu gak mau masuk yang sudah!”


“Apa maksud kamu Reyhan?”


“Bu dengar, Reyhan sekarang sudah tidak punya apa-apa! Dan satu lagi Rey minta nanti Ibu yang bayar biaya rawat inapnya Lian, kerena Rey tadi baru bayar operasi pengangkatan janin Lian saja.”


“Heh, apa maksud kamu, gak ya. Ibu gak punya uang! Lagian apa sih maksud kamu hah, gak punya apa-apa, gimana maksudnya?”


Rey pun menjelaskan semuanya pada sang Ibu jika dirinya sudah bangkrut, perusahaan sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Reyhan juga mengatakan jika ia akan menjual rumahnya.


“Tidak-tidak, terus kalau kamu jual rumah kita, kita mau tinggal di mana Reyhan? Kamu jangan konyol ya!”


“Jadi Ibu lebih baik aku masuk penjara gitu? Aku bisa dilaporkan sama para karyawan aku, Bu.”


“Ya sudahlah, kita pikirkan saja nanti masalah ini. Sekarang kamu minta sama Suster buat pindahkan Lian, pindahan dia ke ruangan VIP.”


“Enggak, Bu!” tolak Reyhan dengan tegas.


“Udah deh, jangan bertingkah sok orang sosialita sekarang dompet kita kaki lima, Bu!" sambung Reyhan.


*


*


*


Sementara itu Teo dan Tiara kini sudah berada di sebuah Butik. Seperti rencana awal mereka akan fiting baju pengantin mereka.


Tiara kini tengah mencoba gaunnya, sementara Teo menunggu giliran, ia kini sedang duduk di sofa yang disediakan di Butik tersebut.


“Mateozy ... ” Tiba-tiba saja seorang wanita terlihat berjalan mendekat Toe, senyuman terlihat merekah di bibir wanita tersebut.


Teo menoleh ka sumber suara tersebut, ia menatap bingung pada wanita yang kini tengah berjalan kearahnya itu.


“Siapa dia?” gumam Teo.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2