Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab. 25 : Lihat saja, apakah dia akan bertahan!


__ADS_3

Tiara berteriak sekencang-kencangnya, ia benar-benar terkejut. Sial ternyata dia salah masuk kamar, dan yang lebih mengejutkan lagi, dia melihat sang empunya kamar, baru saja selesai mandi. Entah ini anugrah atau musibah bagi Tiara, ia melihat Tuan mudanya itu hanya menggunakan CD saja.


Bukan hanya Tiara, Teo yang ada di dalam saja pun tak kalah terkejut, ia langsung mengambil handuk dan melilitkan ke pinggangnya.


'Ya ampun bodoh, kenapa aku bisa seceroboh ini!' batin Tiara, menggerutu dirinya sendiri.


Wajah Teo yang sedari tadi terlihat terkejut, kini berubah. Ada raut kemarahan di sana. Laki-laki itu langsung berjalan menghampiri Tiara.


Teo langsung menarik tangan Tiara, yang sedari tadi menutupi mata gadis itu.


Membuat Tiara terkejut kembali. "Maaf, aku tidak sengaja, aku pikir ini kam—" Belum saja Tiara menyelesaikan ucapannya. Teo langsung menutup pintu kamar tersebut dengan keras.


Lagi-lagi membuat Tiara terkejut, perasaan saat ini bercampur aduk, antara malu dan kesal. Malu kerena ia salah masuk kamar, apa lagi melihat Teo keadaan seperti tadi. Kesal kerena ia belum selesai berbicara, laki-laki itu sudah menutup pintu kamarnya, padahal niat Tiara mau minta maaf padanya.


Tiara hanya bisa menghelai nafas, tidak mungkin juga ia melampiaskan kekesalannya itu pada Teo. Saat ini laki-laki itu sudah menjadi majikannya.


"Huh, belum ada satu jam aku di sini, tapi udah di bikin sport jantung!" gumam Tiara, ia pun berlalu dari depan kamar tersebut, dan menuju kamar yang satunya lagi.


"Gak mungkin kali ya, aku salah kamar lagi!" ucap Tiara, seraya membuka pintu kamar tersebut.


Ia bernafas lega saat masuk kamar tersebut, di sana tidak ada orang. Berati benar ini kamarnya. Sedikit terpukau juga, kamar yang di sediakan untuknya terbilang cukup mewah, ada fasilitas televisi juga, ranjang cukup besar.


"Ini kamar, apa kamar hotel?" gumamnya.


"Wah ada balkonnya juga," seru Tiara. Ia terlihat begitu bahagia. Wanita itu langsung menuju balkon yang terhubung dengan kamarnya itu.


Tiara berdiri di balkon tersebut, ia merentangkan kedua tangannya, senyuman manis terpancar dari wajah wanita itu, dengan mata terpejam, Tiara menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa tubuhnya itu. Entah mengapa Tiara merasa hatinya damai, saat ini ia merasa sedang menikmati hidup yang sebenarnya, bebannya terasa lepas begitu saja.


Tanpa Tiara sadari sedari tadi di seseorang terlihat memperhatikan. Ya, Teo. Sedari tadi laki-laki itu pun berdiri di balkon yang terhubung dengan kamarnya, kamar Tiara dan Teo bersebalahan, tentu saja sama-sama mempunya balkon, hanya saja balkon tersebut terhalang oleh tembok yang tingginya kira-kira 100 cm.


'Konyol sedang apa dia? Dia pikir saat ini dia berada di kapal Titanic?' batin Teo, tak sadar Teo mengulas senyuman tipisnya.


'Eh tapi tunggu! Apa dia suster baru? Aku baru melihatnya hari ini. Kenapa Mamah dan Papah memperkerjakan wanita itu, tidak punya sopan santun pula. Main mau masuk kamar kamar orang sembarangan! Baiklah, aku akan belas nanti, lihat saja sampai kapan kamu akan kuat denganku? Aku rasa besok kamu akan pergi dari sini,' batin Teo lagi.


Ya itulah Teo, sebenernya akhir-akhir ini. Teo sudah merasa dirinya lebih baik-baik, ia mulai bisa mengontrol emosinya. Namun untuk berbicara, Teo masih ragu, lidahnya masih terasa kelu dan bibirnya juga kaku.


Sebenernya Teo itu hanya butuh waktu sendiri, ia tidak ingin di ganggu. Apa lagi jika ada orang yang mengurusinya, mengaturnya, dia tidak suka. Teo merasa bahwa dirinya baik-baik saja, hanya hatinya saja yang masih merasa terluka. Apa lagi jika mengingat mendiang sang adik yang sudah tiada akibat ulahnya pada saat itu.

__ADS_1


Suster-suster yang selama ini pernah di perkerjaan oleh kedua orang tuanya, membuat Teo merasa terusik, jika ia kambuh, itu karena dia merasa jengkel dan kesal, namun tidak bisa mengungkapkan secara lisan. Dan mengamuk seperti itu, tentu saja adalah salah satu senjata Teo juga, mereka pasti akan takut melihat dirinya yang mengamuk tidak jelas. Dan selama ini semua itu berhasil, entah berapa ratus Suster yang sudah Teo singkirkan, mereka ketakutan dan langsung memundurkan diri.


Teo pikir kedua orang tuanya akan mengerti, bahwa suster yang Tuan Smith dan Nyonya Henzy itu tidak akan berpengaruh padanya. Teo pun sadar, kesembuhan dirinya itu, terdapat pada dirinya sendiri. Dan menurut Teo dia hanya butuh waktu sendiri, tidak butuh Suster-suster itu, apa lagi setiap Suster yang di perkerjaan oleh kedua orang tuanya itu, memperlakukan Teo seperti orang yang sakit dan tidak bisa apa-apa. Sungguh memuakkan! Makam harus di suapi, padahal dia masih punya tangan. Segala kebutuhan dirinya selalu di siapkan, padahal ia meras bahwa dirinya mampu.


Setiap Suster itu seperti mengira bahwa Teo tidak bisa apa-apa, dia lemah. Dan Teo tidak menyukai itu semua. Apa lagi suster kali ini, baru mau kerja sudah membuat Teo kesal.


Dan Teo akan membuat Tiara sang Suster barunya itu juga, segara memundurkan diri dari sana.


Cukup lama Tiara berdiri di sana, dengan posisi yang masih sama.


"Semangat Tiara, kamu pasti bisa melakukannya semua dengan baik, jangan sampai kamu mengecewakan Tuan Smith dan Nyonya Henzy, yang baik padamu," ucap Tiara pada dirinya sendiri.


Tiara pun membalikan badannya, berniat ingin masuk ke kamarnya itu. Entah kebetulan atau bagaimana, Tiara kebalikan badannya terlebih dahulu menghadap samping, tepatnya ke arah balkon Teo.


Lagi-lagi Tiara merasa terkejut, melihat Tuan mudanya itu ada di sana.


'Sejak kapan dia situ?' batin Tiara bertanya-tanya. Ia hanya bisa mengerut dirinya sendiri, yang seperti orang konyol itu.


Toe terlihat menahan Tiara, raut wajah laki-laki itu terlihat biasa-biasa saja, bahkan terkesan cuek, datar dan dingin.


Tiara langsung menundukkan kepala. Lalu beberapa detik kemudian Tiara melihat dari ekor matanya, jika laki-laki itu berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Sesampainya di kamar, Tiara langsung mengambil kertas yang tadi di berikan oleh Nyonya Henzy. Saat ini sudah waktunya Tuan muda Teo makan siang.


"Baiklah, ayo kita mulai kerja!" seru Tiara dengan semangat ia pun keluar dari kamar itu, Tiara turun kebawah, wanita itu menuju dapur untuk membuatkan makan siang untuk Tuan mudanya itu.


Sesampainya di dapur, Tiara terdiam. Ia bingung, Tuan mudanya itu biasanya makan apa? Sementara di kertas yang diberikan oleh Nyonya Henzy tidak tertulis apa saja makanan kesukaan Teo, dan makanan yang tidak di sukai laki-laki itu.


"Ah Tuan Ken, aku tanya Tuan Ken saja!" Tiara langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya itu. Lalu mencoba menghentikan Ken.


Namun sayangnya beberapa kali Tiara melepaskan laki-laki itu, sama sekali tidak ada sahutan, Ken tidak mengangkat teleponnya darinya.


"Apa dia sibuk ya? Terus gimana dong, harus masak apa aku? Mana gak ada orang lagi! Pelayan di sini pada kemana. Masa iya yang kerja di sini hanya Bi Maya doang, mana Bi Maya gak ada lagi." Tiara benar-benar bingung. Lalu ia pun berjalan menuju kulkas.


Membuka kulkas tersebut, bahan makanan di sana lengkap sih.


"Masak apa ya?" gumam Tiara sambil memandang bahan-bahan pangan yang ada di dalam kulkas tersebut.

__ADS_1


"Sebentar! Dari daftar yang di berikan sama Nyonya Henzy, Tuan muda Teo, sangat susah makan. Kira-kira apa ya yang membuat orang yang susah makan, jadi nafsu makan?"


"Ah iya, aku baru ingat. Tari kalau sudah makan, dia akan nafsu makan kalau aku masak, sup ikan. Apa aku coba masak itu juga ya? Siapa tau Tuan Muda Teo, bisa nafsu makan juga. Kaya Tari." ucap Tiara, ia bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ia pun segara eksekusi, ia akan membuat sup ikan. Dengan cekatan Tiara mengambil bahan-bahan yang ia butuhkan itu, dan ia langsung memasaknya.


Setengah jam kemudian, sup ikan ala Tiara itu, sudah jadi. Tak lupa Tiara mengkoreksi masakan itu.


"Aromanya sangat harum dan rasanya sangat enak, aku memang pintar memasak," pujinya pada dirinya sendiri.


Tiara pun segara menyajikan sup tersebut dan langsung membawanya ke kamar Tuan mudanya itu.


"Kok jadi deg-degan gini sih!" gumamnya saat ia sudah berada di depan pintu kamar Teo.


Perlahan dan ragu Tiara pun mengetuk pintu kamar tersebut, tidak ada sahutan dari dalam sana, sial Tiara lupa, mana mungkin Tuan mudanya itu menyahut, dia kan bisu! Pikirnya.


Namun beberapa saat kemudian, pintu terlihat terbuka, nampak sosok Toe, yang berdiri di sana dengan penampilan santainya, menatap Tiara.


Tiara berusaha tersenyum di sela ke gugupannya itu.


"Maaf mengganggu, Tuan Muda. Perkenalkan nama saya Tiara, saya di tugaskan oleh Tuan Smith dan Nyonya Henzy untuk merawat Tuan Muda. Emm, dan ini sudah waktunya jam makan siang Tuan Muda, saya membawakan makanan untuk Tuan Muda," ucap Tiara.


Teo hanya memberikan bahasa isyarat, ia meminta Tiara untuk masuk, dengan ragu Tiara pun masuk ke dalam kamar tersebut.


Teo menutup pintu kamarnya, lalu ia menghampiri Tiara, yang tengah meletakan makanan tersebut di atas meja yang ada di dalam kamar tersebut.


"Ini, silahkan di makan Tuan Muda. Apa mau saya suapi?" tanya Tiara, ia masih berusaha menyembunyikan rasa gugupnya itu, tapi saat ini kegugupan itu bercampur dengan rasa takut. Ia melihat Teo yang berjalan terus mendekatinya, menatap Tiara dengan tatapan yang sulit diartikan.


'Mau apa dia? Kenapa menatap ku seperti itu?' batin Tiara, merasa was-was.


Bersambung...


Hallo geas, jangan lupa bantu like, komen dan votenya ya.


Ini dia bab, aku jadikan satu bab loh.


Wkwkwk

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2