Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab. 30 : Shock


__ADS_3

Malam ini Tiara benar-benar tidur nyenyak, entah kapan ia lupa dirinya merasakan tidur senyaman ini.


Apa lagi sebelum tidur ia sempat bertukar kabar dengan sang Adik, ia melakukan video call dengan Tari. Tari sudah sampai di sana, dan keadaanya seperti tidak buruk.


Tak terasa pagi pun menjelang, Tiara segara meraih ponselnya yang bergetar dan berbunyi, alarm yang ia setel berbunyi. Waktu menunjukkan jam setengah enam pagi, Tiara pun bangun dan ia segara ke kamar mandi, untuk memberikan diri.


Setengah jam kemudian ia selesai. Usai berganti pakaian, Tiara langsung turun ke bawah, membuat sarapan untuk Tuan Mudanya itu.


Sesampainya di dapur, Tiara melihat Bi Maya yang tengah berkutat dengan aktifitas paginya, menyiapkan serapan untuk majikannya. Tiara pun menghampiri wanita parubaya itu.


“Pagi, Bi...” sapa Tiara. Bi Maya menoleh lalu tersenyum.


“Pagi kembali Nona Tiara. Saya sudah mendengar dari Nyonya tentang Nona Tiara, yang merawat Tuan Muda,” tutur wanita itu.


“Iya, Bi.”


“Semangat ya Non, harus sabar juga menghadapi Tuan Muda, tapi sebenarnya Tuan Muda itu baik banget kok Non, percaya deh sama Bibi.”


“Iyakah, Bi?” Rasanya Tiara tidak percaya, baik segi mananya? Yang ada bayi gedenya itu sangat menyebalkan!


Bi Maya menjawab dengan anggukan kepalanya dan senyuman.


“Bi, jangan panggil aku Nona ya, panggil saja aku Tiara, kita di sini sama-sama berkerja loh,” protes Tiara.


Bi Maya terkekeh pelan,“iya baiklah, Tiara.”


Tiara tersenyum sambil mengacungkan jempolnya pada wanita itu. Syukurlah di sini, ia di kelilingi orang-orang baik.


Rasanya seperti mimpi, dia bisa berada di sini.


“Mau siapin sarapan untuk Tuan Muda?” sambung Bi Maya.


Tiara langsung menganggukkan kepalanya. “Kira-kira makanan sesukaan dia Tuan Muda apa ya Bi?” Tidak ada salahnya bukan, jika ia menanyakan hal itu pada Bi Maya, secara yang Tiara tau, wanita itu sudah lama kerja di keluarga Smith.


Bukan apa-apa, Tiara hanya tidak mau salah lagi, seperti kejadian kemarin. Seperti Tuan Mudanya itu begitu sensitif, Tiara harus bisa berhati-hati dalam hal apapun. Apa lagi ia mendengar cerita dari Nyonya Henzy semalam.


“Sebenernya Tuan Muda urusan makan tidak muluk-muluk, Ra. Apa saja masuk, tapi kalau moodnya tidak bagus, dia sama sekali tidak mau makan apa pun.” jelas Bi Maya.


Lah terus, kalau begini Tiara harus bagaimana?


“Terus gimana dong, Bi?”


“Ya terserah kamu saja, Ra. Ikutin kata hati kamu aja, kamu mau bikin Tuan Muda sarapan apa.”


“Kok pake hati sih, Bi. Ada-ada saja deh!” ucap Tiara merasa aneh.


Bi Maya hanya terkekeh pelan, Tiar terlihat menghelai nafasnya, sambil terus berpikir. Ia membuatkan sarapan apa untuk Tuan Mudanya itu.


Setelah beberapa saat berpikir, Tiara pun berjalan menuju kulkas, ia mengambil beberapa telur, dan beberapa sayuran.

__ADS_1


“Oke baiklah, aku akan membuat omlet saja, yang simpel.” ujar Tiara.


Bi Maya terlihat menatap wanita muda di sampingnya itu, omlet? Setalah itu ia memperhatikan gerak-gerik Tiara yang memasak dengan telaten.


Hingga sepuluh menit kemudian, omlet itu pun siap di sajikan. Tiara memberikan saus di atasnya, menggambar dua bulatan mata dan senyuman yang melengkung.


“Akhirnya jadi juga,” ujar Tiara.


“Wih keren, Ra. Omletnya senyum gitu,” sahut Bi Maya, entah itu sebuah pujian atau apa. Yang pasti Tiara memasak itu dengan segenap hati dan jiwanya.


Sebenernya juga Bi Maya tidak ada maksud menghina atau bagaimana. Hanya saja, kenapa Tiara menyajikan serapan seperti itu, bukan masalah omletnya, setau Bi Maya Tuan Mudanya itu memang menyukai omlet, hanya saja hiasan sausnya yang menurut lucu, lah dia pikir Tuan Muda Teo anak kecil? Mau di tegur, rasanya dia gak enak. Takut Tiara tersinggung, tapi di sisi lain ia juga takut, omlet itu tidak di terima oleh Tuan Mudanya, yang akhirnya Tiara kena marah dengan Tuan Mudanya itu.


‘Semoga saja Tuan Muda suka, kasian Tiara kalau kena amarah dia,’ batin Bi Maya.


“Aku ke atas dulu ya, Bi.” pamit Tiara.


Bi Maya terlihat menganggukkan kepalanya. Setelah itu Tiara pun berlalu dari sana.


Sesampainya di depan kamar Tuan Mudanya itu, Tiara pun langsung mengetuk pintu kamar tersebut. Namun beberapa kali ia mengetuk pintu, tidak ada sahutan sama sekali.


Tiara pun memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut. Pintu kamar itu tidak terkunci, sehingga Tiara dengan mudah membuka.


“Selamat pagi Tuan Muda, apakah Anda sudah bangun? Saya membawakan serapan untuk Tuan Muda,” teriak Tiara. Ia menyapu pandangannya ke setiap sudut kemar tersebut, namun ia sama sekali tidak melihat batang hidup Tuan Mudanya itu.


Tiara pun meletakkan terlebih dahulu makanan yang ia bawa itu di atas meja.


“Apa dia sedang mandi ya?” gumam Tiara. Dengan ragu Tiara pun berjalan menuju kamar mandi, hanya untuk mengecek saja. Namun saat sampai di sana, pintu kamar mandi memang tertutup, tapi tidak ada tanda-tanda orang sedang mandi di dalam sana.


Tiara pun duduk di sofa, sambil menatap omlet yang berada di atas meja. Omlet itu sudah dingin.


Hingga beberapa saat kemudian, pintu kamar terlihat terbuka, Tiara terkejut saat melihat Tuan Muda Teo masuk ke sana.


Tiara segar berdiri dan menyambutnya dengan membungkuk hormat.


‘Ck, untuk apa Suster sialan ini di kamarku?!’ batin Teo, sekilas ia menatap Tiara, setalah itu berlalu menuju kamar mandi.


Melihat Teo ke kamar mandi, Tiara pun langsung menyiapkan baju ganti untuk Tuan Mudanya itu. Seperti Teo habis olahraga, Tiara bisa menebak dari pakaian yang digunakan oleh Tuan Mudanya tadi.


Sementara itu, percikan air terdengar dari kamar mandi, Teo sudah memulai ritual mandinya itu, tubuhnya bener-bener merasa segar, sudah lama sekali ia tidak berolahraga.


‘Ah sial, kenapa aku melupakan handukku?” batin Teo. Ia sudah selesai dengan ritual mandinya itu, namun ia baru ingat, bodoh! Kenapa dia lupa membawa handuk. Tidak mungkin ia keluar dengan keadaan seperti ini, memakai bajunya tadi juga tidak mungkin, bau keringat.


Meminta bantuan pada Susternya itu, tapi bagaimana caranya?


Teo pun menggedor-gedor pintu kamar mandinya itu, Tiara yang mendengarnya segara bergegas menghampirinya.


“Tuan Muda, apa Tuan baik-baik saja?” teriak Tiara, ia terlihat panik, takut terjadi apa-apa.


“Tuan Muda...” teriak Tiara lagi, namun sahutan dari dalam sana hanya gedoran pintu saja.

__ADS_1


“Gimana ini? Ya ampun, ada apa sih? Dia kenapa? Kalau terjadi sesuatu sama dia bagaimana? Kenapa juga di tak menjawab!” ucap Tiara, antara kesal, cemas bercampur aduk di hatinya.


Ck! Kenapa Tiara bodoh, Tiara terlihat menepuk jidatnya, Tuan Mudanya itukan bisu! Mana bisa menjawabnya.


Tiara pun mencoba membuka pintu tersebut, namun susah, seperti pintu itu terkunci dari dalam.


Sementara itu, Teo masih menggedor-gedor pintu kamar mandi tersebut, ia mendengar jelas suara teriakan tari susternya itu. Tapi, ia juga bingung harus menjawabnya seperti apa.


“Tuan Muda? Apa anda baik-baik saja, pintunya terkunci, Tuan Muda tolong jawab, saya takut. Tuan Muda...” teriak Tiara, suara wanita itu terdengar gemetar, apakah Susternya itu mengkhawatirkannya.


Astaga, Teo benar-benar bingung. Ingin rasanya ia menjawab, ‘Saya baik-baik saja, saya hanya butuh handuk, tolong ambilkan!’ tapi kenapa rasanya susah sekali.


“Tuan Muda, tolong buka pintunya. Jangan membuat saya takut, nanti saya bisa di marahi sama Tuan besar dan Nyonya,” teriak Tiara lagi.


Sebenernya bisa saja Teo membuka pintu kamar mandi tersebut, namun rasanya ia segan, bagaimana kalau aset berharga di lihat oleh Susternya itu. Membayangkannya saja Teo merasa horor sendiri.


Teo menghembus nafas beratnya. perlahan ia menarik nafas dalamnya, lalu membuangnya perlahan-lahan.


“Saya tidak apa-apa, tolong ambilkan handuk!” ucap Teo, namun sayangnya tidak bersuara, ia hanya mulutnya yang bergerak.


‘Sial, kenapa rasanya susah sekali,’ kesalnya. Mungkin kerena efek, membisu selama beberapa tahun ini, mulutnya terasa kelu. Tapi, tidak mungkin ia terus seperti ini juga, sekarang dia butuh handuk, ia sudah mulai menggigil.


Berulang kali Teo mencoba berbicara, namun hanya mulutnya saja yang bergerak, tanpa mengeluarkan suara. Sementara Tiara, ia masih berdiri, dengan perasaan yang tak menentu, mau meminta bantuan, tapi rasanya ia ragu.


“Handuk!”


Tiba-tiba saja Tiara terdiam, saat mendengar suara dari dalam sana. Sesaat ia mematung, apakah yang berbicara barusan ada Tuan Mudanya?


Begitu pun dengan Teo, ia terkejut sendiri, setalah berulang kali mencoba mengeluarkan suaranya, akhirnya ia pun berhasil.


“Tuan Muda, apa barusan anda yang berbicara? Tuan Muda, anda butuh handuk?” tanya Tiara dari balik pintu sana.


“I—iya.” jawab Teo.


Tiara masih tak percaya, ternyata Tuan Mudanya itu bisa berbicara. Saat ini banyak pertanyaan yang tersimpan di benak Tiara. Apakah Tuan Mudanya itu hanya pura-pura bisu?


“Cepat!” teriak Teo lagi.


Suara itu kembali menyadarkan Tiara, ia pun bergegas mengambil handuk.


“Ini Tuan," ucap Tiara.


Pintu kamar mandi terlihat terbuka, sedikit, lalu sebuah tangan terulur dari sana, Tiara pun memberikan handuk tersebut.


Teo segara membalut tubuhnya. Ia masih shock sendiri. Setalah sekian lama ia mencoba membuka suaranya, namun saat itu selalu gagal. Tapi saat ini, kenapa bisa?


Bersambung...


Jangan lupa like dan komen serta vote dulu ya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2