
Zalleta kini sudah mendengar cerita dari kedua orangtuanya, tentang apa yang sudah terjadi, tentang Tiara yang sebenar menjadi suster untuk merawat sang Kakak.
Mereka juga menceritakan tentang kondisi Teo, saat kehilangan Zalleta, Teo yang mengalami trauma berat, bahkan orang-orang sudah menganggap jika kewarasan Teo sudah hilang.
“Ya ampun jadi Kak Tiara ngasuh bayi gede, Mah?!” serunya. Seakan merasa tidak percaya, bukan tidak percaya, terkesan geli saja Zalleta membayangkan Tiara yang mengasuh Kakaknya Teo.
“Ya, begitulah,” jawab Nyonya Henzy sang Mamah.
“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Kakakku, pasti dia sangat tertekan.”
“Tentu saja Kakak sangat tertekan, semua orang sudah menganggap aku tidak waras!” sahut Teo, menimpali.
“Ck, aku bukan membayangkan kondisi Kakak, tapi kondisi Kak Tiara, di pasti tertekan mengurus bayi gede seperti Kakak! Awas ya kalau Kakak berani macam-macam sama Kak Tiara, aku akan jadi garda terdepan buat melindungi Kak Tiara, apa lagi kalau Kakak bersikap kasar sama Kak Tiara, lihat saja, aku akan membuat Kakak menyesal!” celetuk Zalleta.
(Mulai bab ini, kita sebut Tari dengan Zalleta saja ya geas, biar gak berbelit-belit, hehe. Oke lanjut)
“Kok kamu lebih peduli sama dia sih, Dek! Yang Kakak kandung sebenernya itu siapa? Kakak apa dia!” Tentu saja Teo tidak terima Adiknya lebih memihak pada Tiara, padahal jelas-jelas Teo adalah Kakak kandung, bukan Si Suster Tiara itu. Bener-bener menyebalkan! pikirnya.
“Ya kalian berdua posisi sama, walaupun Kak Tiara bukan Kakak kandung aku, tapi aku sangat menyayangi dia, sama kaya aku sayang sama Kakak!” jawab Zalleta dengan santainya.
Kondisi Zalleta kini terlebih lebih baik, wajah pucatnya itu terus dihiasi dengan senyuman manisnya, aura kebahagiaan terpancar dari gadis itu.
“Sudah, sejak lama kalian tidak bertemu, apa bisa gak sehari saja, kalian itu tenang, damai. Heran, Mamah sama kalian. Kamu Teo, mengalah dong sama Adik kamu sendiri, kemarin aja nangis kejer, hilang semangat, sekarang malah begini,” ucap Nyonya Henzy.
Zalleta terlihat senyum penuh kemenangan, usia mendengar ucapan dari Mamahnya itu, sementara Teo ia hanya berdecak kesal.
Teo tidak bermaksud untuk beradu mulut dengan adiknya itu, hanya saja sikap Zalleta dari dulu memang tidak berubah, masih menyebalkan, tapi walaupun begitu, ia sangat sayang pada Adiknya tersebut.
__ADS_1
“Oh iya gimana Mah, Pah, jadi besok kita kembali ke rumah?” tanya Teo, sengaja ia mengalihkan pembicaraan.
“Jadi, tadi Mamah sama Papa sudah bicara sama Dokter, tapi lihat dulu besok, kalau kondisi Zalleta baik seperti ini, kita semua pulang,” jawab Nyonya Henzy.
“Tenang Mah, Pah, semuanya. Aku pasti baik-baik aja, ah aku pengen cepat pulang udah kangen banget sama Kak Tiara,” pungkas Zalleta.
***
Sementara itu di tempat lain. Tiara benar-benar merasa bosan, ia tidak tahu harus melakukan apa di rumah tersebut. Semua pekerjaan rumah sudah selesai dikerjakan sama Bu Maya dan pelayan yang lainnya, Tiara sendiri, ia tidak ada yang harus dikerjakan karena Tuan Mudanya sedang tidak ada.
“Bu mau kemana? Kok kayanya ketar-ketir gitu?” tanya Tiara pada Bu Maya, wanita parubaya itu sejak tadi memang Tiara perhatikan wara-wiri terus. Entah apa yang sedang dilakukannya.
“Oh ini, Ra. Ibu lagi nyiapin kamar buat Non Zalleta, katanya besok dia mau pulang, barusan Nyonya kasih kabar, kalau Non Zalleta sudah ditemukan, katanya ingatannya sudah kembali. Oh iya, kamu udah tau belum ceritanya?”
Bu Maya memang belum tahu jika ternyata Zalleta adalah Tari yang selama ini Tiara perjuangkan.
“Cerita apa, Bu May?” tanya Tiara.
Tiara langsung menggelengkan kepalanya, selama ini memang Tiara tidak pernah mendengar cerita apa pun dari Tuan Smith dan Nyonya Henzy, bahkan Tiara saat ini tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bu Maya.
“Ibu cerita, tapi kamu jangan bilang-bilang sama siapa-siapa ya, janji ya?”
“Siap Bu, aman sentosa deh. Memangnya cerita apa sih, Bu?”
“Tentang Tuan Muda dan Non Zalleta, dulu Tuan Muda sebenernya normal kok, dia sama kaya kita begini, maksud Ibu, ya kamu juga ngerti kali, Ra. Gak perlu Ibu jelasin juga, toh setiap hari kamu yang rawat Tuan Muda Teo,” ucap Bu Maya, wanita parubaya itu menghentikan ucapannya sejenak.
Tiara hanya mengangguk menanggapinya. Tiara juga berpikir, seperti Bu Maya belum tahu juga jika ternyata Tuan Mudanya itu sudah normal kembali, tapi Tiara memilih untuk diam dan tidak mengatakan hal tersebut, kerena ia sangat penasaran dengan cerita Bi Maya, tentang Teo dan Tari yang ternyata adalah Zalleta.
__ADS_1
“Nah jadi begini, Ra. Penyebab Tuan Muda kondisinya jadi seperti itu, semuanya berawal dari...”
Bu Maya pun menceritakan semuanya pada Tiara, ia cukup terkejut mendengar cerita dari Bu Maya itu, tidak menyangka jika Tuan Muda yang ia pikir arogan itu ternyata jiwanya sangat rapuh.
Tapi, tadi Bi Maya bilang Zalleta sudah kembali mengingat semuanya, tapi kenapa saat Tiara tadi menelpon dengan adiknya itu, dia mengatakan jika belum mengingat semuanya?
“Bibi benar-benar gak nyangka loh, Ra. Jika Non Zalleta masih hidup, karena kami semua saat itu melihat jenazah yang disangka itu Non Zalleta, memang kondisi tidak bisa dikenali, kerena mengalami luka bakar, tapi ciri²nya sangat persis, dan saat di indentifikasi terbukti jika itu memang Non Zalleta.”
“Namanya juga takdir, Bu. Kita gak pernah tahu takdir orang, jangankan takdir orang, takdir kita sendiri juga kita gak tau,” sahut Tiara.
“Iya benar, Ra. Tapi Ibu masih gak nyangka aja gitu. Eh terus tadi katanya Non Zalleta selama ini di rawat sama orang lain, tapi apa Ibu tanya sama Nyonya, katanya nanti Ibu juga tahu. Ibu jadi penasaran siapa yang sudah merawat Non Zalleta selama ini, bahkan katanya Non Zalleta saat ini sedang sakit parah, orang yang menolong dan merawat Non Zalleta sangat baik seperti, hatinya sangat mulia, tulus banget sayang sama Non Zalleta,” papar Bu Maya.
Tiara hanya tersenyum mendengar ucapan wanita itu, andai saja Bu Maya tahu kalau yang sedang ia bicarakan saat ini adalah Tiara, dia orangnya, orang yang dia sebut tulus dan mulia itu saat ini ada dihadapannya. Akan tetapi Tiara memilih untuk diam saja.
“Terus gimana Bu, apa kamarnya sudah siapa?” tanya Tiara.
“Udah beres, Ra. Ya sudah Ibu kebelakang dulu ya, mau mandi, lengket banget ini dari tadi sibuk wara-wiri,” pamit wanita itu sambil terkekeh.
“Kenapa tadi Ibu gak panggil Tiara, padahal Tiara dari tadi gak ada kerjaan, Tiara bisa bantuin Ibu,” protesnya.
“Mana berani, Ra. Bisa-bisa nanti Ibu kena semprot sama Tuan dan Nyonya, lagian kita udah punya tugas masing-masing, udah ah Ibu mau kebelakang.”
Tiara hanya mengangguk pasrah, setalah itu Bu Maya pun berlalu dari sana. Selama berkerja di sana, Bu Maya dan Tiara sudah terlihat seperti ibu dan anak. Bukan hanya terlihat saja, memang mereka masing-masing sudah merasa seperti itu.
Tiara menghelai napas bertanya, Adiknya sekarang sudah ingat kembali siapa dirinya sebenarnya, Tuan Muda Teo juga sudah sembuh, lantas sekarang apa lagi yang Tiara harus lakukan di rumah itu?
Kini ia merasa semua beban sudah lepas, semuanya terasa ringan. Perjanjian dengan Tuan Smith tentu bisa diakhiri, kerena padanya nyata adiknya yang selama ini Tiara perjuangkan adalah anak dari Tuan Smith sendiri.
__ADS_1
“Semoga kamu selalu diberikan kebahagiaan Zalleta, maafkan Kakak,” ucap Tiara dalam hatinya.
Bersambung...