
"Bagaimana Ken, apa kamu sudah bertemu dengan Tiara?" tanya Tuan Smith pada Ken, yang baru saja kembali ke kantor.
"Sudah Tuan."
"Baiklah, apa yang dikatakan? Sebaiknya kita bicara di ruang saya saja."
Ken mengangguk, lalu ia mengikuti langkah Tuan Smith yang sudah lebih dahulu berjalan. Sesampainya di ruangan Tuan Smith, Ken menceritakan semuanya dengan detail, apa yang dibicarakannya tadi bersama suster Tiara.
"Jadi Si Reyhan meminta ganti rugi?" tanya Tuan Smith, rasanya ia ingin tertawa, namun merasa kasian juga pada Tiara, kenapa dia mempunyai suami seperti itu, bener-bener tidak punya hati nurani. Untuk apa membantu jika tidak ikhlas. Ia benar-benar merasa heran di jaman modern seperti itu masih banyak orang-orang seperti Reyhan. Sungguh miris!
"Ya semacam itu mungkin Tuan," sahut Ken.
"Baiklah, kamu berikan saja uang itu. Kasih langsung pada laki-laki itu." titah Tuan Smith.
"Tapi Tuan, apa Tuan yakin? Bagaimana kalau nanti Nona Tiara menipu kita? Bisa sajakan, dia sebenernya sekongkol dengan Pak Reyhan. Setalah kita memberikan uang itu, bagaimana kalau mereka kabur?"
"Hahaha..." Tuan Smith malah tertawa mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Ken tersebut.
"Saya rasa itu tidak mungkin Ken. Sudahlah kamu jangan berprasangka buruk dulu. Dan jika pun itu benar, itu hanya masalah kecil, Ken. Begini saja, kamu berikan uang itu pada Reyhan tanpa sepengetahuan Tiara."
"Apa itu tidak apa-apa Tuan? Jika saya memberikan uang itu secara langsung pada Pak Reyhan, apa dia tidak akan curiga kalau kita mengenal Nona Tiara?"
"Curiga tidak curiga itu bukan masalah Ken."
"Lalu, saya harus memberi alasan apa nantinya Tuan?"
"Ken, Ken. Kamu ini, masa begitu juga kamu tanya saya. Untuk apa saya menyekolahkan kamu dulu sampai S2 ke Australia. Jika hal sepele seperti ini saja kamu masih bertanya pada saya hemm?" jawab Tuan Smith, sambil terkekeh pelan.
"Kenapa Tuan membahas soal itu, apa mau seperti Pak Reyhan? Meminta saya untuk menganti atas biaya yang sudah dikeluarkan untuk biaya sekolah saya dulu?" tanya Ken, ikut terkekeh.
"Hahaha, kau ini Ken. Apa kau pikir saya ini seperti itu? Jika saya berniat seperti itu, saya sudah lakukan itu sejak dulu, dan saya tidak mungkin membayar semua gajih kamu, jika saya mau itung-itung." Tuan Smith tertawa lepas. Bukannya tersinggung oleh ucapan Ken itu, ia malah merasa lucu.
Ken sendiri ikut tertawa, karena memang niatnya berkata seperti itu hanya bercanda.
"Saya ini sudah menganggap kamu sebagai anak saya sendiri Ken. Mana mungkin saya meminta hal yang sudah saya kasih sama kamu, itu pantang bagi saya. Kamu saja yang selalu menganggap saya ini majikan kamu, apa lagi sebutan kamu itu, memanggil saya 'Tuan'. Kamu seperti menganggap saya seperti orang lain," lanjut Tuan Smith.
Ken hanya tertawa menanggapinya. Ya memang begitulah adanya, Ken hanya ingin membatasi dirinya saja, ia tidak mau sampai lupa diri. Ia senang jika Tuan Smith menganggap dia seperti anaknya sendiri, karena begitu juga sebaliknya, Ken sudah menganggap laki -laki yang ia panggil Tuan itu seperti Ayahnya sendiri.
"Saya sudah berulang kali meminta kamu memanggil saya dengan sebutan 'Papah' sama seperti anak saya, tapi kamu selalu menolaknya." ucap Tuan Smith lagi.
"Hahaha, saya hanya ingin memposisikan posisi saya saja Tuan."
"Terserah kamu sajalah Ken, saya juga tidak mau memaksa kamu." Pasrah Tuan Smith, mengingat ini bukan pertama kalinya ia membahas soal ini dengan Ken.
"Baiklah, lanjutkan perkerjaan kamu." lanjutnya.
"Baik Tuan. Saya akan menemui Pak Reyhan nanti."
"Ya, tapi ingat jangan sampai Tiara tau. Dan jangan lupa kamu juga hubungi Tiara, suruh besok dia siap-siap, kamu jemput dia, antarkan ke rumah."
__ADS_1
"Besok Tuan? Apa itu tidak terlalu cepat? Apa Tuan tidak akan melakukan semacam tes, atau yang lainnya?"
"Aku rasa tidak perlu Ken, lagian saya kasian sama istri saya, di sudah kewalahan mengurus Teo, semoga saja Tiara bisa membantunya. Saya juga sudah menceritakan tentang Tiara yang akan merawat Teo."
"Baiklah Tuan."
"Dan satu lagi, kamu urus juga keberangkatan Tari—adiknya Tiara, Minggu ini kita bawa langsung dia ke luar negeri." pinta Tuan Smith lagi.
"Baik Tuan."
"Huh, seperti malam ini lembur lagi," lanjut Ken bergumam pelan.
"Makanya kamu jangan menganggap saya ini sebagai atasan kamu," sahut Tuan Smith. Seperti ia masih mendengar gumam Ken barusan.
Ken tersenyum, "mungkin saya akan mempertimbangkan soal ini lagi Tuan."
"Haha.. oke-oke. Saya tunggu sebutan baru dari kamu untuk saya," kata Tuan Smith sambil tertawa.
"Saya permisi." pamit Ken kemudian. Taun Smith hanya menganggukkan kepalanya. Setalah itu Ken pun berlalu keluar dari ruangan tersebut.
***
Sementara itu, Tiara terlihat berjalan mondar-mandir di depan ruangan rawat Tari—adiknya.
"Kok dia gak ada kabarin aku ya? Ayolah Tuan Ken, aku butuh kabar baik dari kamu?" gumam Tiara.
Tiara benar-benar bingung harus bagaimana. Apakah Tuan Smith, menyanggupi permintaannya atau tidak.
"Kalau Tuan Smith tidak memberikan uangnya bagaimana? Harus kemana lagi aku mencari uang sebanyak itu? Ah Reyhan kau benar-benar menyebalkan. Aku sumpahin kamu sengsera seumur hidupmu, kerena udah membuat aku ada di posisi seperti ini." gerutu Tiara. Perasaan bercampur aduk.
"Tiara..." panggil seseorang membuat Tiara menghentikan langkahnya yang mondar-mandir tidak jelas itu. Lalu menoleh.
"Dokter Marvin, ada apa Dok?"
"Bisa bicara sebentar?" balik tanya Dokter tampan itu.
"Ah iya Dok, silahkan."
"Tapi tidak di sini, di Caffe dekat sini bisa?"
"Emm..." Tiara terlihat berpikir sejenak. Benaknya bertanya-tanya, ada hal apa yang ingin di bicarakan oleh Dokter Marvin, apa mengenai kondisi Tari? Tapi jika membicarakan hal itu kenapa harus di Caffe.
"Hanya sebentar kok, saya janji."
"Baiklah."
Mereka pun berjalan menuju Caffe yang ada di dekat Rumah Sakit tersebut.
Sesampainya di sana, Dokter Marvin memesan dua minuman untuk dirinya dan Tiara.
__ADS_1
"Emm, maaf Dok. Sebenernya apa yang ingin Dokter bicarakan?" tanya Tiara, ia membuka percakapan dengan laki-laki yang duduk berhadapan dengan itu.
"Emm itu, apa benar kamu sudah memundurkan diri dari rumah sakit? Saya dengan dari suster Irena."
"Iya benar Dok." jawab Tiara, tersenyum tipis.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, saya akan berkerja di tempat lain, makanya saya memundurkan diri."
"Kerja di tempat lain? Rumah sakit mana?" tanya Dokter Marvin lagi.
Tiara terdiam, ia rasa tidak mungkin memberitahu tentang kebenarannya.
"Ada Dok, saya lupa nama Rumah sakitnya," dusta Tiara.
"Lalu bagaimana dengan Tari?"
"Tari akan segara berobat ke luar negeri Dok."
"Maaf, biayanya? Bukankah Pak Rey---" Dokter Marvin tidak melanjutkan ucapannya karena di potong oleh Tiara.
"Ada saudara kami yang membantu Dok, dan saya juga masih ada tabungan, serta uang pesangon juga. Saya rasa cukup untuk pengobatan Tari di sana." potong Tiara.
Dokter Marvin hanya mengangguk-angguk kepalanya. Setalah itu mereka berbicara sebentar, sambil menikmati minuman yang tadi di pesan oleh Dokter Marvin.
***
Sementara itu di tempat lain.
"Rey kamu mau kemana?" tanya Mamah Sarah pada Putranya itu.
"Keluar Mah, ada urusan." jawab Rey seraya merapihkan kerah kemeja.
"Urusan apa? Jangan bilang kamu mau temui di Tiara itu!" tuduhnya.
"Enggaklah Mah. Rey mau ketemu sama rekan bisnis. Rey pergi dulu Mah."
Setelah itu Rey berlalu meninggalkan Mamahnya. Reyhan melajukan mobilnya membalas jalan raya. Malam ini Reyhan di minta datang ke sebuah Restoran oleh Ken.
"Kira-kira mau apa ya Pak Ken ketemu sama aku? Malam-malam begini lagi, apa gak bisa besok siang aja. Semoga saja ini bukan hal buruk," gumam Ken.
Bersambung...
Like dulu yu...
Tinggal jejak di kolom komentarnya juga ya geas, biar otor makin semangat.
Babay, sampai bertemu lagi besok, sama Tiara dan kawan-kawannya.
__ADS_1