
Tuan Smith, Nyonya Henzy dan Ken, kini sudah berada di dalam Zet pribadi tersebut, Zet pribadi itu sudah lepas landas.
“Ken, Suster Tiara mana?” tanya Tuan Smith, sejak tadi ia tidak melihat Suster Tiara di sana.
“Iya, kemana Suster Tiara?” Nyonya Henzy ikut bertanya. Seperti mereka memang baru menyadari jika Tiara tidak ada di sana.
Ken juga lupa memberitahu mereka jika Tiara tidak itu.
“Oh iya saya lupa, Tuan, Nyonya, Suster Tiara tidak mau ikut,” jawab Ken.
“Loh kenapa? Harusnya kamu meminta dia untuk ikut Kendra!” bentak Nyonya Henzy.
“Saya sudah mengajak Nyonya, saya sudah meminta dia untuk bersiap-siap, tapi dia tatap menolaknya.” Ken menundukkan kepalanya, dalam hati ia menggerutu dirinya sendiri, harusnya tadi Ken memaksa Suster Tiara untuk ikut saja.
“Ya sudah sih, orang dia gak mau ikut, jangan nyalahin Ken, Mah. Lagian dia tidak penting juga, bukan siapa-siapa kita juga!" sahut Toe, senyuman sinis terlihat dari wajah pria itu.
“Apa kamu bilang Teo? Suster Tiara tidak penting?” tanya Nyonya Henzy.
Ken mengangguk sambil menatap sang Mamah, Nyonya Henzy terlihat menatap tajam kearah putranya itu. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Teo.
“Benar-benar tidak tahu diri! Mikir, siapa yang merawat Zalleta selama ini hah? Dia, dia yang merawat Zalleta, dia yang menyematkan adik kamu, merawatnya, membiayanya selama ini, dan asal kamu tahu ya Teo, dia mau berkerja merawat kamu itu kerena adiknya! Tari alias Zalleta, dia rela tidak mendapatkan gajih asalkan kita menanggung semua pengobatan Adiknya, Adiknya yang ternyata adalah Adik kandung kamu Teo!” bentak Nyonya Henzy, tentu saja ia sangat kecewa dengan Teo, yang menganggap Tiara tidak penting baginya, bagi Nyonya Henzy serta Tuan Smith, Tiara sangat berjasa.
Jika tidak ada Tiara dan keluarganya yang tulus menyayangi Zalleta/Tari mungkin ceritanya tidak akan begini. Segala pengorbanan Tiara untuk putri kandungannya itu jelas tidak akan bisa dibayar dengan apapun.
“Kamu benar-benar keterlaluan Teo, benar yang dikatakan oleh Mamah-mu, dan ingat satu hal siapa yang dengan sabar merawat kamu selama ini, bahkan hingga kamu bisa bersikap normal lagi seperti, bisa bicara, melawan rasa trauma kamu itu, bilang siapa? Tiara, dia yang membuat kamu seperti ini, sudah beberapa ratus Suster yang pernah merawat kamu, apa mereka bisa merawat kamu seperti hal yang dilakukan oleh Suster Tiara, ada Teo? Jawab!” bentak Tuan Smith, ia ikut naik pitah karena sikap Teo yang tidak bisa menghargai Suster Tiara tersebut.
Teo terdiam, ia tidak bisa membela diri, kerena dalam hatinya pun ia membenarkan perkataan kedua orangtuanya itu. Namun, ia terlalu gengsi untuk mengakui itu semua.
“Bahkan dia tetap sabar dan memperlakukan kamu dengan baik, di saat kamu bersikap kasar dan seenaknya sama dia! kamu pikir kami tidak tahu, kami selama ini memperhatikan kamu Teo! Tidak ada wanita yang sabar seperti Tiara, bahkan dia tunduk padamu, walaupun sebenernya dia sudah muak denganmu, semua itu dia lakukan demi satu tujuan, agar kami tetap membiayai Tari, Tari yang ternyata itu Zalleta, keluarga kita!” pekik Tuan Smith.
__ADS_1
“Bu—bukan begitu maksud Teo, Pah,”
“Lalu apa hah?” sela Tuan Smith. Amarah serta kekecewaan bercampur aduk menjadi satu di jiwa pria parubaya itu.
“Mamah benar-benar tak habis pikir sama kamu Teo, kamu itu sebenernya menyayangi kami atau tidak? Menganggap kami ini orang tua kamu atau tidak hah? Bahkan kamu tidak memberitahu kami saat kamu bisa bicara! Kamu malah mengancam Suster Tiara, dimana akal sehatmu Teo?!” Nyonya Henzy ikut menimpali.
Teo langsung menunduk kepalanya, untuk pertama kalinya ia melihat kemarahan orang tuanya sampai seperti ini.
“Maaf, Mah, Pah,” ucap Teo.
“Jangan minta maaf sama kami, minta maaflah pada Suster Tiara, dia yang layak mendapatkan maaf dari kamu, Teo!” tegas Tuan Smith.
Ken yang mendengarkan itu semua tentu saja tercengang, ia juga ikut merasa kecewa atas sikap Tuan Mudanya itu, sejak kecil hidup bersama Teo, ia sudah menganggap Teo sebagai Kakaknya sendiri, tak menyangka jika Teo se-egois ini.
“Jangan sampai kamu menyesali semuanya Teo! Jika kamu mempertahankan keegoisan kamu itu, Papa yakin kamu akan menyesali semuanya!”
Walaupun sikap wanita itu selalu membuat Teo kesal. Entahlah.
Zet pribadi itu pun akhirnya mendarat, mereka semua langsung menuju ke tempat di mana Tari/Zalleta di rawat.
Sesampainya di sana, seorang kepercayaan Ken, yang bertugas untuk merawat Tari/Zalleta terlihat langsung menghampiri mereka.
“Syukurlah kalian semua datang, baru saja saya akan menghubungi anda Tuan Ken,” ujarnya.
“Memangnya ada apa?”
“Tadi Nona Tari berteriak histeris, ia mengeluh jika kepala sakit, tapi Dokter sudah menanganinya.”
Ken serta yang lainnya terkejut mendengar hal tersebut.
__ADS_1
“Lalu bagaimana sekarang kondisinya? Bukankah kemarin kondisinya sudah membaik?” tanya Nyonya Henzy, raut wajah penuh kekhawatiran terpancar jelas dari wanita parubaya tersebut.
“Iya memang sudah membaik Nyonya, tapi entah kenapa jadi seperti itu, Dokter juga belum memberi penjelasan, beliau masih melakukan pemeriksaan leb, Nona Tari sekarang sudah tertidur, kerena terpaksa tadi kami memberikan obat penanganan,” jelasnya.
“Saya ingin menemuinya,” ujar Nyonya Henzy.
Setalah itu mereka pun langsung menuju ke tempat Tadi di rawat, tempat tersebut bukan rumah sakit, tepatnya rumah pribadi milik Tuan Smith, tapi semua alat medis dan Dokter serta perawat sudah di sediakan 24 jam di sana untuk memantau kondisi Tari/Zalleta.
Sesampainya di kamar tempat Tari/Zalleta, Nyonya Henzy mematung seraya menatap putrinya itu yang terbaring di atas kasur, tubuhnya kurus, dengan wajah yang pucat, serta kepalanya terlihat tertutup oleh Ciput rajut, sudah dipastikan jika kepala putrinya itu pasti sudah tidak ada rambut.
“Zalleta,” lirih Nyonya Henzy, ia langsung menghampirinya, memeluknya, air mata terlihat mengalir deras dari pelupuk matanya.
Sementara itu Tuan Smith dan Teo terdiam membisu, kondisi anak melihat kondisi Tari/Zalleta yang sangat memprihatinkan itu.
“Maafkan Mamah, Zalleta, sembuh Nak, Mamah ada disamping kamu sekarang, Mamah akan selalu ada di samping kamu Zalleta,” lirih Nyonya Henzy sambil terisak.
Merasakan ada yang memeluk, mata Tari/Zalleta perlahan terbuka.
“Ma—mamah...”
Deg!
Nyonya Henzy langsung melepaskan pelukannya lalu menatap kearah putrinya itu.
“Za—Zalleta, ka—kamu ingat Mamah, Nak?” tanya Nyonya Henzy.
Gadis itu mengangguk pelan, seperti sakit kepala yang tadi ia rasakan itu, membuatnya kembali mengingat semuanya, Tari kini ingat siapa dirinya, ternyata dia adalah Zalleta.
Bersambung....
__ADS_1