
Dengar mata yang masih merasa berat, Tiara pun bergegas menuju kamar mandi untuk memberikan tubuhnya.
“Untuk apa coba aku ikut ke Kantor? Benar-benar ya dia!” gerutu Tiara.
Ingin rasanya ia menolak, tapi mana bisa? Sungguh menyebalkan!
Kurang lebih setengah jam, Tiara pun selesai dengan ritual mandinya.
“Pake baju, apa ya? Ke kantor harusnya pake pakaian yang rapi dan sopan ya,” Tiara menatap isi lemarinya itu, sambil berpikir kira-kira baju mana yang akan di pakai nanti.
Ah iya Tiara baru ingat, kemarin kan dia beli baju banyak pas di Mall, bukan di sih, tapi Teo. Semoga aja ada baju yang pas untuk di pakai ke kantor.
Tiara pun memeriksa barang belanjaannya yang kemarin, kerena semua itu belum ia bereskan, belum di lihat sama sekali malah.
Senyuman di wajah Tiara terambang, saat menemukan kemeja berwarna Dusty dan rok dengan panjang kira-kira di bawah lutut, seperti itu sangat cocok untuk di pakai ke kantor nanti.
Tiara pun segara memakai, ah senangnya, semuanya sangat pas, lalu Tiara mengoleskan make-up tipis di wajah cantiknya itu.
“Apa yang kurang ya?” gumam Tiara sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin besar tersebut.
“Ah iya tas!"
Tiara mengambil salah satu tas yang kemarin dibelikan oleh Teo juga. Saat ini Tiara bener-bener seperti wanita berkelas.
“Memang benar ya, wanita itu cantik perlu duit,” gumam Tiara sambil terkekeh pada dirinya sendiri.
“Sayang, apa kau sudah siap?” teriak Teo dari luar sana.
“Ya aku sudah siap!” sahut Tiara tak kalah melengking.
“Apa aku boleh masuk?” teriak Teo lagi.
“Jan ... ”
Belum saja Tiara menyelesaikan ucapannya, pintu kamarnya terlihat sudah lebih dulu terbuka.
‘Kalau langsung nyelong buat apa coba bertanya, benar-benar gak jelas banget!’ lanjut Tiara berucap dalam hatinya.
“Woaw! so beautiful honey,” puji Teo yang melihat penampilan Tiara, yang tentu saja sangat berbeda.
Tiara terlihat berekspresi biasa-biasa saja, katakan saja jika Tiara jaim, gengsi dong terlihat salting di depan calon suaminya itu.
“Gak ada niat buat ucapin terima kasih, gitu?” sindir Teo, sepertinya Teo tidak menyukai ekspresi Tiara yang biasa-biasa saja itu.
Dalam hati Tiara bersorak gembira, berarti ekspresi buatannya itu berhasil dong?
“Berterima kasih untuk apa?" Tiara pura-pura tidak mengerti dengan ucapan pria yang ada di hadapannya itu.
“Ya sudah lupakan saja, ayo kita berangkat sekarang,” ajak Teo, pria itu terlihat tersenyum terpaksa.
Ya sudahlah, seperti ia harus mengertikan Tiara, lagian ini masih pagi, tidak baik jika berdebat. Lebih baik mengalah, tapi Teo merasa beruntung bisa memiliki Tiara, dia memang cantik luar dalam, pikirnya.
Hatinya baik, parasnya cantik. Tinggal satu lagi yang belum bisa Teo lihat, kecantikan yang sesungguhnya dalam diri calon istri itu, sabar itu nanti kalau udah SAH saja.
Tiara mengangguk kepalanya, lalu ia pun berjalan menghampiri Teo, mereka pun berjalan beriringan menuju kebawah.
Mereka terlihat sangat serasi, mulai dari pakaiannya juga. Setalah Jas Teo senada dengan rok yang dikenakan Tiara yaitu warna hitam, dan warna kemeja yang dibalut oleh Jasnya, senada dengan warna kemeja yang digunakan Tiara.
Semua itu sebenarnya memang sudah direncanakan oleh Teo, tentunya tanpa sepengetahuan Tiara, ya itung-itung biar Tiara mikirnya itu semua hanya kebetulan saja.
Bukan hanya itu, Teo juga tidak mau terlalu menampakkan kebucinannya pada Tiara.
__ADS_1
“Orang-orang pada kemana ya?” tanya Teo pada Tiara, mereka kini sudah sampai di bawah, tapi keadaan terlihat sepi, di meja makan juga tidak ada siapa-siapa.
“Mungkin mereka belum pada bangun, kita mau sarapan dulu, apa nanti saja sarapan di kantor?” tanya Teo.
“Terserah, aku ikut saja,” jawab Tiara.
“Baiklah, kita sarapan di kantor saja ya, aku belum mau sekarang.”
“Ya baiklah,” pasrah Tiara. Ia pun memang tidak ingin serapan.
Lalu mereka pun berjalan keluar dari rumah tersebut. Langsung menuju mobil, dan Teo langsung melajukan mobil tersebut.
“Kita ke kantor Papa, bukan?” tanya Tiara pada Teo yang tengah mengemudikan mobilnya itu.
“Bukan, emangnya untuk apa kita ke kantor Papa?”
“Lah terus kemana? Di tanya kok malah balik tanya!” kesal Tiara.
“Kita ke kantor KUA, mau?”
Sontak Tiara langsung membulat matanya. Tentu saja ia terkejut saat mendengar ucapan pria yang ada di sampingnya itu.
“Jangan bercanda deh! Masa ke kantor KUA sih!”
“Haha ... ” Teo malah tertawa melihat Tiara yang parno itu.
“Mateozy Smith! jangan bikin aku parno deh!” bentak Tiara.
Calon suaminya itu benar-benar menguji kesabarannya, tahu begini tadi Tiara serapan dulu, menghadapai Teo memang butuh tenaga yang ekstra sepertinya.
“Iya, kenapa Ratu Mateozy Smith?”
Sumpah demi apapun, Tiara merasa jika Teo benar-benar tidak jelas.
“Iya memang, nama kamu Tiara, kamu itu Ratunya Mateozy Smith, ada yang salah dengan ucapanku Sayang?”
Astaga, Teo, kau bikin hati Tiara yang tadinya jengkel menjadi meleleh seketika.
Tiara langsung memalingkan pandangan ke arah samping, saat ini ia tidak bisa mengkondisikan dirinya dan hatinya, Tiara terlihat salah tingkah.
Bisa-bisanya gombal receh pria itu membuat hatinya meleleh dan berbunga-bunga.
Teo terkekeh pelan melihat ekspresi calon istrinya itu, Teo tahu pasti Tiara sedang menyembunyikan wajah tersipu-sipunya. Aaa sangat menggemaskan sekali.
“Kita mau ke kantor punyaku, bukan punyaku, tapi mulai saat ini perusahaanku akan menjadi perusahaan kita, juga,” ujar Teo.
“Hah, maksudnya?” Tiara kembali mengalihkan pandangan, ia menatap Teo yang kini tengah menatapnya juga.
“Nanti kamu juga mengerti Sayang,” jawab Teo, kembali menatap fokus ke jalanan.
“Maksudnya kamu punya perusahan sendiri gitu? Kamu bukan beban keluarga?” cerca Tiara.
“Jadi kamu menganggap aku beban negara, astaga. Keterlaluan sekali kamu calon istri!”
Emmpp! Tiara langsung membekap mulutnya. Kenapa dia tidak bisa mengontrol ucapannya. Tapi, kan emang benar Tiara tadinya berpikir seperti itu.
“Maaf, bu-bukan begitu maksudku Sayang,” ucap Tiara.
Teo langsung mengehentikan mobilnya, lalu menatap pada Tiara yang terlihat terkejut akibat ulah dari calon suaminya itu.
“Ke-kenapa berhenti?” tanya Tiara terbata-bata. ‘Mampus apa dia tersinggung dengan ucapan aku tadi ya? Ahh bagaimana ini, apa dia mau meminta aku untuk keluar dari mobil, aku barusan kan udah minta maaf,’ lanjut Tiara dalam hatinya..
__ADS_1
“Coba ulangi perkataan kamu tadi,” pinta Teo.
Tiara terlihat bingung, “ke-kenapa berhenti?”
“Tidak! Bukan yang itu, ucapan kamu sebelum yang itu!”
“Emm ... ” Tiara berpikir sejenak, detik kemudian ia teringat.
“Maaf, bukan begitu maksud aku Sa ... ” Tiara menghentikan ucapannya. Lah ia baru sadar, tadi ia menyebut Teo ‘Sayang’
“Apa-apa? Yang jelas dong!”
“Maaf, bukan begitu maksud aku.”
“Tidak, tadi bukan begitu!”
Tiara mendengkus kesal. “Maaf, bukan begitu maksud aku Sayang!” ucapnya secara lugas, bercampur dengan kesal.
“Ah, bagus! Aku suka, mulai saat ini panggil aku dengan sebutan itu. Oke Sayang!”
“Ya-ya-ya, terserah kau saja!” malas Tiara.
“Oke Cintaku.” Teo terlihat tersenyum penuh kemenangan, lalu ia pun kembali melajukan mobilnya.
*
*
*
“Kenapa bisa sampai seperti ini? Kenapa mereka memutuskan secara sepihak? Bukankah kita selama ini berkerja sama dengan baik?” pekik Reyhan.
Amarah terlihat jelas dari wajah pria itu.
“Saya juga tidak tahu, Rey. Bahkan Perusahan MZ—Jaya pun memutuskan kerja sama juga!” ucap sekertaris-nya yang tak Lain adalah Lian.
“Astaga! Kenapa merasa seperti ini, sangat tidak profesional sekali!”
“Ada yang lebih buruk lagi, Rey, kerena kedua perusahaan besar itu memutuskan kerja sama, yang lain pun ikut juga, sekarang kita tidak punya investor sama sekali!” jelas Lian lagi.
“Kamu jangan bercanda Lian!”
“Apa kamu lihat aku sedang bercanda, Rey, ini lihat saja dokumen pemutusan kontrak dari mereka, bahkan mereka lebih memilih membayar finalty dari pada masih berkerja sama dengan kita!” Lian memberikan beberapa dokumen pada Rey.
Rey mengambilnya, ia melihat semua dokumen tersebut.
“Ah sial!” pekik Reyhan, terlihat sekali jika ia frustasi, bagaimana tidak? Sekarang perusahannya benar-benar diujung tanduk.
“Hubungi pihak Perusahan Smith dan MZ-Jaya, aku ingin menemui mereka, kita harus bisa membujuk mereka, kedua perusahan itu yang saat ini yang bisa menolong kita, kalau perlu aku akan bersujud di kaki mereka, aku tidak mau perusahaan yang selama ini aku bangun hancur lebur begitu saja!” pintanya.
“Baiklah, aku akan menghubungi mereka.”
Lian pun berlalu dari ruangan Reyhan.
“Kenapa mereka tiba-tiba begini? Apa mungkin ada perusahaan lain yang ingin menjatuhkan aku? Lalu perusahaan itu menghasut mereka semua agar tidak berkerja sama lagi dengan perusahaanku. Aku harus mencari tahu siapa orang yang ingin menjatuhkan aku, bahkan ini bukan termasuk menjatuhkan, tapi menghancurkan!” geram Reyhan.
Bersambung ...
Udah baca Tiara sama Teo, lanjut baca karya author yang baru ya. Di jamin menguras esmosi, sambil nunggu Tiara up lagi, oke Buibu, akak-akak, ade-ade, bapabak, semuanya dah. Mampir yuk.
Terima kasih.
__ADS_1