
"Temuilah dulu adik anda Nona Tiara, saya berikan anda waktu 15 menit," ujar Ken pada Tiara, saat mobil yang dilajukan Ken tersebut sampai di Rumah Sakit.
"Hah 15 menit? Itu terlalu singkat Tuan Ken!" protes Tiara.
"Tolong mengertilah Nona Tiara! Saya harusnya saja mengantarkan Nona langsung ke Rumah Tuan Smith, tapi saya masih berbaik hati, membawa Nona ke sini, untuk menemui Nona Tari! Setalah ini masih banyak juga yang harus saya kerjaannya."
Tiara langsung memasang wajah kesalnya. "Anda juga harus mengerti saya Tuan Ken! Saya akan berpisah cukup lama dengan adik saya, saya ingin menghabiskan waktu saya bersama Tari, sebelum ia berangkat nanti. 1 jam deh, gak apa-apa. Asal jangan 15 menit, saya berjalan dari parkir ini saja menuju ruangan Tari, memakan waktu 5 menit."
"15 menit atau tidak sama sekali!" tegas Ken, seraya kembali menghidupkan mesin mobilnya itu.
"Eh-eh, iya-iya. 15 menit, aku akan kembali setalah 15 menit!" ujar Tiara, ia dengan cepat keluar dari mobil tersebut.
Ken hanya bisa menghelai nafasnya, sebenernya ia tidak tega. Ia cukup mengerti posisi Tiara saat ini. Namun ia juga tidak mungkin menuruti permintaan wanita itu. Kerena menang seharusnya Ken langsung membawa Tiara ke kediaman Tuan Smith.
Tiba-tiba saja Ken mendapatkan telepon dari Nyonya Henzy. Segara Ken mengangkat teleponnya yang masuk ke ponselnya itu.
"Hallo, Nyonya..."
"Iya Hallo, Ken. Kamu di mana? Bukannya seharusnya kamu sudah sampai di rumah? Suster Tiara jadikan ke sini?"
"Iya Nyonya, 30 menit lagi saya sampai. Jalanan cukup macet, ini saya sudah membawa suster Tiara."
"Ah baiklah, saya tunggu! Secepatnya ya Ken, soalnya saya mau keluar ada acara, Teo tidak ada yang jaga. Bi Maya lagi cuti, dia sakit."
"Baiklah Nyonya."
Panggil itu pun terputus. Ken langsung melihat jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Tiara baru 5 menit menemui Tari, ia harus menunggu 10 menit lagi.
"Semoga dia tepat waktu! Kalau tidak mampuslah aku!" gumam Ken.
*
*
*
Sementara itu Tiara kini sudah berada di ruang Tari. Tiara sudah mengatakan jika ia tidak bisa mengantarkan Tari, walau sampai ke Bandara.
Wajah Tari terlihat kecewa, namun ia tidak bisa apa-apa. Ia harus bisa mengertikan Kakaknya itu.
"Kakak juga tidak bisa lama-lama di sini, kamu nanti baik-baik ya di sana. Kamu harus semangat buat sembuh, biar kita cepat kumpul lagi," ujar Tiara sambil memeluk adiknya itu.
"Iya Kak, Kakak juga baik-baik di sini. Tari pasti akan cepat pulang, Tari sayang Kakak."
Tiara tersenyum lalu ia melepaskan pelukannya itu pada Tari. Mengusap air mata sang adik dengan lembut.
__ADS_1
"Kakak juga sayang sama kamu." Tari tersenyum saat mendengar perkataan Kakaknya yang tulus itu.
Tiara melihat ponselnya, untuk melihat banyak waktu yang ia punya untuk bersama adiknya itu. Sialnya ia sudah hampir 15 menit di sana, perasaan ia baru saja berbicara singkat bersama adiknya itu.
"Kakak pergi dulu ya," pamit Tiara.
Tari hanya mengangguk lemah, ia masih menggenggam tangan Kakaknya itu, terlihat jelas Tari seakan tak rela Kakaknya itu pergi.
Tiara tersenyum, ia mencoba menguatkan dirinya agar tidak menangis lagi, walau pun dalam hatinya ia sama seperti halnya yang di rasakan oleh Tari, mereka sama-sama tidak rela berpisah, namun keadaan harus memaksa mereka.
'Semua ini demi kebaikan kamu, Dek.' ucap Tiara dalam hatinya.
Ia melangkah, dengan kepala yang masih menoleh kearah Tari, perlahan tangan mereka mulai terlepas, kerena Tiara berjalan semakin jauh. Membuat Tari tidak bisa meraih tangan Kakaknya itu lagi.
"Kak...." panggil Tari sambil terisak. Namun Tiara sama sekali tidak menghiraukannya, ia terus berjalan keluar dari ruang rawat tersebut.
"Aku sayang Kakak, aku janji akan berjuang demi Kakak..." lirih Tari, saat Tiara hilang di balik pintu ruang rawatnya itu.
Sementara itu Tiara mempercepat langkahnya, ia terus berjalan menuju mobil Ken berada. Dengan rasa sesak yang terus menggema di hatinya.
Sesampainya di sana, Tiara langsung masuk ke dalam mobil tersebut.
"Anda terlambat 7 menit Nona!" ketus Ken.
"Ya aku tau," sahut Tiara dengan bibir yang bergetar.
15 menit kemudian akhirnya mereka pun sampai, di rumah Mewah tersebut.
Tiara benar-benar tidak menyangka ia akan menginjak kakinya di rumah ini lagi.
"Turunlah Nona, Nyonya sudah menunggu anda." titah Ken.
Tiara menganggukkan, lalu mereka berdua pun turun dari mobil tersebut.
Ken langsung membawa Tiara masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Ken akhirnya kamu sampai juga. Kamu telat beberapa menit Ken!" Suara Nyonya Henzy terdengar menyambut kedatangan mereka.
"Maaf Nyonya."
"Okelah, aku maafkan. Kerena baru kali ini kamu buat kesalahan!" ujar Nyonya Henzy.
"Ini suster Tiara, kan?" lanjutnya. Seraya menatap kearah Tiara yang berdiri di samping Ken.
Tiara tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, ini saya sudah buatkan daftar apa saja yang harus kamu kerjaan saat merawat anak saya. Kalau kamu tidak mengerti kamu bisa tanyakan saya sama Ken. Saya harus pergi sekarang," ujar Nyonya Henzy seraya memberikan sebuah kertas pada Tiara. Lalu wanita itu berjalan tergesa-gesa keluar dari rumahnya.
"Nyonya mau saya antar?" tanya Ken.
"Tidak usah Ken, saya tau kamu banyak kerjaan. Saya pergi sendiri saja." jawab Nyonya Henzy berteriak, sambil terus melanjutkan langkahnya.
"Baiklah, kalau begitu saya juga harus pergi. Silahkan Nona pahami apa saya yang harus Nona kerjakan di sini. Kalau tidak ada yang mengerti anda bisa tanyakan saja pada saya."
"Ah iya Tuan Ken. Terima kasih sebelumnya."
Ken hanya mengangguk, setalah itu ia pun berlalu dari sana.
Tiara mulai membaca apa saja daftar pekerjaannya yang di berikan Nona Henzy tadi.
"Ini cukup mudah, sama seperti seperti aku merawat pasien di Rumah Sakit." gumam Tiara.
Senyuman tersebut lebar. Tapi tunggu! Nyonya Henzy pergi, Ken juga pergi! Lah terus dia gimana?
Tiara terus berjalan masuk ke dalam rumah tersebut. Ia berjalan menuju dapur, ia bermaksud ingin mencari orang di rumah itu, Tiara ingat pada Bi Maya. Wanita itukan ART di sana.
Namun saat Tiara sampai di dapur, ia melihat seorang laki-laki yang tengah mengambil air minum.
Tiara terdiam, sambil memandangi laki-laki itu, yang kini tengah melihat mata Tiara.
'Si—apa dia? Ya ampun, tampan sekali,' batin Tiara.
Sama halnya dengan Tiara laki-laki itu terlihat tertegun saat melihat Tiara, ia mantap Tiara. Sambil bertanya-tanya, siapa wanita itu?
Namun detik kemudian, laki-laki tersebut memalingkan wajahnya. Setalah itu berlalu dari sana. Tanpa satu patah kata pun.
"Tuan tunggu!" panggil Tiara, namun laki-laki itu sama sekali tidak menghiraukannya, ia terus berjalan menaiki anak tangga.
"Ck, dia seperti orang bisu dan tuli saja!" gumam Tiara kesal.
"Dia memang bisu." Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang dari arah belakang Tiara.
Tiara membulat matanya, ia terkejut. Lalu berbalik.
"Tu—tuan?"
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dulu geas.
Biar aku makin semangat update.
__ADS_1
Siapa ya laki-laki yang di lihat sama Tiara?