Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab. 7 : Apa yang dia katakan?


__ADS_3

"Semalam Kak Rey ke sini nyariin Kakak. Sebenernya apa yang terjadi pada Kakak dan Kak Rey?"


"Apa yang Mas Rey katakan sama kamu?" Tiara tidak menjawab pertanyaan Tari, ia malah bertanya balik pada Adiknya itu. 'Apa jangan-jangan kondisi Tari semalam memburuk karena Mas Rey?' lanjut Tiara berucap dalam hatinya.


"Mas Rey tidak bicara apa-apa kok Kak, dia hanya menanyakan Kakak saja, semalam." jawab Tari, memaksakan senyumannya.


Tiara menatap lekat wajah Adiknya itu, entah mengapa Tiara merasa tidak percaya pada jawaban yang di berikan Tari, ia seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


'Maafkan Tari Kak, Tari gak mungkin bilang yang sebenernya. Tari gak mau Kakak sedih,' batin Tari.


"Tari gak lagi berbohong, 'kan sama Kakak?"


"Enggak Kak. Kakak Tari laper, Tapi Tari gak mau makan-makanan Rumah Sakit, Kak bisa beliin tari makanan gak?" pinta Tari, sengaja ia mengalihkan pembicaraannya.


"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Tiara.


"Apa saja Kakak. Kakak juga pasti belum sarapankan? Tari mau sarapan bareng sama Kakak."


Tiara mengangguk, "baiklah, kalau begitu Kakak tinggal dulu ya."


"Iya Kak."


Tiara mendaratkan kecupan di kening Adiknya itu sebelum ia berlalu dari ruangan tersebut. Tari menatap nanar kepergian sang Kakak, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kak, kenapa Kakak tidak pernah berbagi cerita sama aku. Bahkan di saat masalah berat menimpa Kakak, Kakak tetap pura-pura bahagia di depanku." ucap Tari lirih.


Tari sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga sang Kakak dan suaminya itu. Semalam Rey datang ke menemui Tari, ia menanyakan keberadaan istrinya itu pada Adik iparnya.


Flashback...


"Mas Rey?" Tari terkejut saat mendapati sang Kakak ipar malam-malam berada di ruangan rawatnya.


"Tari maaf kalau Kakak mengganggu istirahat kamu. Apa Tiara ke sini?" Tanya Rey.

__ADS_1


"Tidak ada Kak, tadi Dokter Marvin bilang, Kak Tiara sudah pulang. Tari juga bertemu dengan Kaka Tiara hanya tadi siang saja. Memangnya ada apa Kak Rey? Kenapa Kak Rey mencari Kak Tiara?" cerca Tari pada Rey.


"Tiara tadi memang sudah pulang ke rumah, tapi..."


"Tapi kenapa Kak Rey? Kak Tiara baik-baik sajakan?" pungkas Tari.


Rey terdiam, laki-laki itu mendudukkan tubuhnya ke sofa yang ada di ruangan rawat tersebut. Tari sama sekali tidak melepaskan tatapannya dari sang Kakak Iparnya itu. Menatap Rey penuh tanda tanya.


"Kak Rey, ada apa? Kenapa Kak Rey malah diam?" desak Tari.


"Sebenernya..." Rey pun akhirnya menceritakan semuanya yang terjadi pada Tari, Rey sangat menyayangi Tari, ia sudah menganggap Tari seperti adik kandungnya sendiri. Bahkan Rey tidak memperdulikan berapa pun uang yang ia korbankan untuk perawatan adik iparnya itu. Karna Rey sama seperti Taira, ia sangat menyayangi Tari, jadi Rey tidak sungkan-sungkan untuk menceritakan semuanya pada Tari. Namun bukan tanpa alasan, Rey berharap Tari bisa membantunya, untuk menyakinkan Tiara.


Tari terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan ia tak percaya apa yang sudah di lakukan Rey pada Kakaknya. Tari seorang wanita, tetap saja tidak bisa membenarkan sikap Rey, walau pun Rey bilang seribu kali ia menyesali perbuatannya itu.


"Kakak khilaf, Tari. Tolong bantu Kakak, agar Kak Tiara mau maafin Kakak," mohon Rey pada Tari.


Tari tak menjawab, ia hanya terdiam. Bahkan raut wajah Tari kini terlihat penuh amarah. Tentu saja Tari tidak terima jika Tiara—sang Kakak dikhianati oleh Rey.


Walau pun selama ini Rey sangat baik pada Tari, tapi Tari membayangkan betapa hancurnya hati Tiara. Tari rasanya tidak rela jika Tiara masih hidup bersama laki-laki itu.


"Maaf Kak, Tari gak bisa." jawab Tari.


Rey langsung berajak dari sofa dan berjalan menghampiri Tari.


"Tari, Kakak mohon. Hanya kamu harapan Kakak satu-satunya, Tiara pasti akan mendengar kamu, Tari. Kakak mohon Tari, bantu Kakak. Kakak menyesal, demi apa pun Kakak menyesal." mohon Rey.


"Tidak Kak Rey! Kak Rey itu jahat, Kak Rey sudah menyakiti hati Kaka Tiara. Maaf Tari gak bisa. Tari gak mau ikut campur urusan Kak Rey dan Kak Tiara!" tegas Tari.


"Kamu itu benar-benar tidak tau diri ya Tari! Selama ini aku yang membuat kamu bertahan sampai sekarang, apa kamu lupa hah? Aku yang sudah membiayai pengobatan kamu selama ini! Aku Tari! Dan sekarang, lihatlah, aku minta bantuan padamu, bahkan aku memohon padamu! Tapi kamu sama sekali tidak peduli. Seharusnya kamu itu mati Tari, karna hidup kamu itu hanya menambah beban semua orang!" bentak Rey. Setalah berkata seperti itu Rey langsung meninggalkan ruang rawat Tari.


Tangis Tari pecah, usai kepergian Kakak Iparnya itu. Tari benar-benar tidak menyangka Rey akan berbicara seperti itu. Bukannya dia introspeksi diri, tapi Rey malah berucap hal yang menyakiti hati Tari.


Perkataan Rey sungguh membuat Tari down. Hingga akhirnya kondisinya pun kritis, untung saja Dokter Marvin dengan capat menangani Tari.

__ADS_1


Flashback off.


Sementara itu Tiara memutuskan untuk membeli bubur yang tak jauh dari Rumah Sakit tersebut. Tari tidak boleh makan yang berat-berat, tidak bisa juga makan sembarangan. Sudah satu tahun Tari mengidap penyakit kanker otak, stadium 4.


Sebenernya untuk sembuh itu kemungkinan hanya sedikit. Bahkan Dokter sudah pernah mengatakan jika Tari hanya bisa bertahan paling lama 5 tahun saja.


Namun Tiara tidak mau menyerah, umur seseorang hanya Tuhan yang tahu, dan Tiara berharap adiknya itu bisa bertahan lebih dari itu.


Semua pengobatan sudah Tari lakukan, dari kemoterapi dan yang lainnya. Bahkan Tari saat ini sudah tidak mempunyai rambut, dia botak. Tapi kondisi Tari akhir-akhir ini semakin memburuk, Dokter menyarankan agar Tari di bawa berobat ke luar negeri, yaitu Singapura.


Setalah memberi bubur untuknya dan juga sang Adik, Tiara pun kembali. Dokter Marvin mengabarinya lewat pesan, jika Tari akan di pindahkan ke ruang rawat biasanya.


Tiara pun berjalan menulusuri koridor Rumah Sakit menuju ruang rawat Adiknya itu.


Namun tiba-tiba saja seseorang terdengar memanggilnya.


"Tiara..." Suara itu sangat Tiara kenal, bukannya berhenti atau pun menyahut orang yang memanggilnya itu, Tiara malah mempercepat langkahnya, berusaha menghindari orang tersebut.


Namun langkah Tiara kurang cepat, hingga tanganya berhasil di raih. Dan membuat Tiara terpaksa menghentikan langkahnya.


"Tiara, kamu kemana saja sayang? Semalam Mas nungguin kamu pulang? Kamu baik-baik ajakan sayang, Mas sangat mengkhawatirkan kamu. Maafkan Mas, Tiara..." ucap Rey, sambil menggenggam tangan istrinya itu.


Namun Tiara langsung menghempaskan tanganya Rey.


"Jangan sentuh aku Mas!"


"Tiara jangan seperti ini Mas mohon," ucap Rey.


"Lalu aku harus bagaimana Mas? Tidak semudah itu bagiku Mas! Kamu sudah mengkhianati kepercayaan aku, kamu sudah mematahkan hatiku Mas! Tidak ada seorang istri yang baik-baik saja ketika melihat suami bermain di atas ranjang kita sendiri bersama wanita lain, Mas! Aku mau kita berpisah Mas!" tegas Tiara.


Bersambung...


Hallo geas, aku gak akan bosan-bosan mengingatkan kalian buat, like, komen dan vote ya.

__ADS_1


Salam sayang dari author sok imut ini, hahaha


Babay...


__ADS_2