Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab. 6 : Aku lelah, Kak!


__ADS_3

"Apa anda sudah siapa Nona?" tanya Ken pada Tiara. Tiara mengangguk sebagai jawaban.


"Baiklah, mari saya antar." Laki-laki itu mempersilakan Tiara untuk berjalan terlebih dahulu.


"Sebenernya Tuan Ken, saya ingin bertemu dengan Tuan Smith dan Nyonya Henzy, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada mereka," ucap Tiara.


"Seperti anda terlambat Nona, Tuan dan Nyonya baru saja pergi."


Tiara terlihat menghelai nafasnya, setalah itu ia pun berjalan melewati Ken. Sementara Ken, mengikuti langkah Tiara dari belakang.


Mereka berjalan keluar dari rumah tersebut menuju mobil.


"Mau di antar kemana?" tanya Ken, ia melihat pada Tiara lewat pantul kaca spion yang ada di depannya.


"Rumah Sakit Medika Indah," jawab Tiara. Setalah itu Ken pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


Tidak ada pembicaraan antara Ken dan Tiara selama diperjalanan. Baik Ken, mau pun Tiara mereka larut dalam pemikirannya masing-masing.


Sebenarnya hari ini Tiara masuk shift siang, saat ini waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Belum waktunya dia untuk berkerja. Namun jika Tiara pulang ke rumahnya, ia sangat malas. Ia belum siap untuk bertemu dengan Rey—suaminya, jika bisa Tiara tidak ingin menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Bayang-bayang penghianat Rey, masih terlintas jelas di benak Tiara, dan itu sangat menyakitkan baginya. Lebih baik Tiara ke rumah sakit, sebelum ia kerja ia bisa menghabiskan waktunya bersama Tari, sang adik.


Terlebih saat ini Tiara sudah memakai pakaian seragamnya, Maya sudah mencucikan pakaian kerjanya itu semalam.


Entah bagaimana cara Tiara untuk membalas kebaikan Tuan Smith serta yang lainnya. Mereka sangat baik pada Tiara. Tiara tidak akan pernah melupakan semuanya. Jika ia ada kesempatan untuk bertemu dengan Tuan Smith, ia akan mengucapkan rasa terima kasihnya secara langsung kepadanya.


Hingga tak terasa akhirnya Tiara pun sampai di depan Rumah Sakit tersebut.


"Terima kasih Tuan Ken, sudah mengantarkan saya. Tolong sampaikan juga terima kasih saya sama, Tuan Smith dan Nyonya Henzy," ucap Tiara, sebelum ia keluar dari mobil tersebut.


Ken hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Saya permisi." lanjut Tiara. Kini tidak ada sahutan lagi dari laki-laki yang tengah duduk di kursi pengemudi itu. Bahkan wajahnya saja terlihat datar tanpa ekspresi.


'Apakah orang kaya selalu seperti ini? Huh...' gerutu Tiara dalam hatinya. Karna tak mendapatkan respon dari laki-laki yang yang duduk sampingnya itu. Tiara pun bergegas turun dari mobil tersebut. Mobil itu pun langsung melaju kembali.


"Kenapa dia seperti bunglon? Sikapnya berubah-ubah, kadang manis, ramah. Kadang cuek kaya bebek!" gumam Tiara heran, sambil memandangi mobil yang dibawa oleh Ken melaju meninggalkan tempat tersebut.


"Suster Tiara..."


"Dokter Marvin, ada apa Dok?" tanya Tiara kepada Dokter Marvin, yang kini berjalan mendekatinya itu.


"Kenapa ponsel anda tidak aktif? Dari semalam saya coba menghubungi anda."


Tiara terdiam sejanak, ia baru ingat, dari semalam ia tidak melihat ponselnya. Tiara pun langsung mengceknya, ia membuka tasnya. Ponselnya ada, tapi sepertinya kehabisan daya.

__ADS_1


"Maaf Dok, ponsel saya kehabisan daya. Saya lupa mengchager-nya. Memangnya ada apa Dok?"


"Tari, semalam ia kritis."


"Apa?" Tiara terlihat begitu terkejut, mendengar kabar buruk tentang kondisi adiknya itu.


"Lalu sekarang bagaimana kondisinya Dok? Saya mau liat adik saya." Raut wajah penuh kekhawatiran terpancar jelas dari wajah cantik suster berusia 25 tahun itu.


"Tari sudah melawati masa kristisnya, sekarang dia masih di ICU. Mari ikut saya Suster Tiara, ada yang ingin saya bicarakan juga sama Anda," ucap Dokter Marvin. Tiara mengangguk, lalu mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan ICU.


Setalah sampai di ruangan ICU, mereka pun langsung masuk, terlihat Tari sang adik tengah terbaring lemah di ranjang, dengan beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya.


"Tari..." lirih Tiara, sambil menggenggam tangan adiknya itu. "Maafkan Kakak." Tiara menangis sendu. Ia merasa bersalah pada adiknya itu, karna di saat Tari semalam Kristis, Tiara tidak ada di samping adiknya itu.


"Kondisinya semakin melemah. Tari butuh penangan khusus untuk penyakit itu. Dan Rumah Sakit ini tidak bisa melakukan itu, karna terbatas. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Tari harus menjalani perawatan di luar negeri secepatnya Suster Tiara, di sini kami hanya bisa membantu meringankan, penyakit yang di alami oleh Adik anda ini sangat langka." jelas Dokter Marvin.


"Saya akan secepatnya membawa Tari berobat ke luar negeri, Dok."


"Kapan Suster Tiara? Maaf, sebelumnya kamu selalu bilang seperti itu. Tapi kenyataannya? Iya saya tahu, tidak seharusnya saya berbicara seperti ini pada kamu, tapi kamu dan Tari sudah saya anggap seperti keluarga sendiri, Tiara. Andai saja saya bisa membantu kalian, saya pasti akan lakukan. Tapi saya tidak bisa Tiara," ucap Dokter Marvin, kini ia berbicara tidak formal pada Tiara. Ada sedikit rasa kesal pada Tiara, karna dia seperti tidak mendengarkan ucapannya.


Apa susahnya, membawa Tari berobat keluar negeri, yang Dokter Marvin tahu, Suaminya Tiara kaya raya. Ia rasa hanya untuk membiayai pengingat Tari, tidak akan menghabiskan semua hartanya, setengahnya pun ia rasa tidak.


Andai saja ia bisa membantu Tiara, ia akan melakukannya, tapi sayangnya Dokter Marvin tidak bisa, karna ia juga punya tanggung jawab yang lebih untuk keluarganya, adik-adik masih sekolah.


"Saya bingung, Dok..." lirih Tiara.


Tiara tak menjawab, ia malah semakin terisak tangis. Tiara tahu apa yang ada di pikiran Dokter Marvin, karna laki-laki itu kenal siapa Rey—suaminya. Tapi, sayangnya Dokter Marvin tidak tahu kenyataan seperti apa.


"Apa ada masalah Tiara? Cerita sama saya, kamu sudah saya anggap seperti keluarga saya. Kalau ada apa-apa kamu cerita saja sama saya, tidak usah sungkan Tiara," lanjut Dokter Marvin.


'Tidak Tiara, kamu jangan seperti ini. Kamu jangan terlihat lemah di mata orang lain.' ungkap Tiara dalam hatinya. Ia pun segara menyerka air matanya.


"Tidak Dok, tidak ada apa-apa. Kali ini saya berjanji Dok, saya akan menuruti apa kata Dokter, saya akan secepatnya membawa Tari berobat ke luar negeri." ucap Tiara, ia memaksakan senyumannya.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Dokter Marvin.


"Iya Dok, terima kasih."


Dokter Marvin mengangguk, setalah itu ia pun berlalu dari sana.


"Kak..." terdengar suara lemah memanggil-manggil Tiara.


"Tari, kamu sudah sadar sayang. Maafkan Kakak ya sayang, semalam kakak gak nemenin kamu," ucap Tiara pada adiknya itu.

__ADS_1


Tari tersenyum tipis, lalu mengelengkan kepalanya. "Kak, kakak tidak usah minta maaf. Justru Tari yang minta maaf, Tari selalu menyusahkan Kakak. Kak, kenapa Tuhan tidak mengambil nyawa Tari saja, Tari udah gak kuat, Tari juga gak mau jadi beban Kakak. Tari ingin menyusulnya Mommy dan Daddy saja Kak," ucap Tari dengan suara lemahnya, air mata terlihat mengalir dari sudut wanita itu.


"Tari jangan bicara seperti itu. Kalau kamu pergi Kakak di sini sama siapa? Kakak tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Hanya kamu Tari, Kakak hanya punya kamu. Bertahan ya sayang, kamu harus semangat, kamu pasti sembuh. Kakak janji, secepatnya Kakak akan membawa kamu berobat ke luar negeri." Dengan mata yang berkaca-kaca Tiara mencoba menguatkan adiknya itu. Mimpi buruk Tiara adalah kehilangan Tari, ia sangat menyayangi adiknya itu, apa pun caranya Tiara akan lakukan untuk kesembuhannya. Jika bisa, biar Tiara saja yang menggantikan posisi Tari.


Tiara harus bisa menguatkan Tari, walau pun sebenernya Tiara saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tiara juga tidak tahu harus bagaimana ia mendapatkan uang untuk membiayai perawatan Tari.


"Tari lelah Kak," Tari memalingkan wajahnya dari sang Kakak. Tari tahu jika Kakaknya saat ini tengah berpura-pura kuat. "Lagian dari mana Kakak akan membayar semua perawatan pengobatan Tari jika Tari berobat ke luar negeri? Sebaiknya itu tidak perlu Kak, bahkan penyakit Tari ini tidak tahu bisa di sembuhkan atau tidak, bukankah kata Dokter Marvin, kemungkinannya juga sangat kecil Kak."


"Jangan bicara seperti itu Tari, kamu harus optimise, kamu sayangkan sama Kakak?"


"Tari sayang sama Kakak, tapi Tari sadar, Tari gak mau terus menjadi beban buat Kakak!" Tari kembali menatap Kakaknya itu.


"Kamu bukan beban Kakak, Tari. Kamu itu tanggung jawab Kakak." ucap Tiara dengan lembut.


"Lalu dari mana Kakak akan mendapatkan uangnya Kak?" tanya Tari.


Tiara langsung terdiam, jujur saja ia juga tidak tahu mendapatkan uang itu dari mana. Tabungan Tiara saat ini tidak banyak, dan jauh dari kata cukup untuk membiayai pengobatan Tari nantinya, jika ia berobat keluar negeri. Padahal sudah satu tahun Tiara menyisihkan sebagai gajinya itu.


"Semalam Kak Rey, kesini Kak..." lanjut Tari.


Tiara terkejut saat mendengar ucapan yang dilontarkan oleh adiknya itu.


"Ma—Mas Rey, Mas Rey ke sini? Untuk apa?" tanya Tiara terbata-bata.


Tari terdiam, ia malah terisak tangis.


"Tari katakan?" tanya Tiara lagi.


Bersambung....


Like


Komen


Vote


Gift dulu atuh geas....


Jangan lupa di sewerannya ya... tonton Iklannya geas, hehee


Jangan lupa ya.


Terima kasih, Babay...

__ADS_1


Ada yang tahu Tari mengidap penyakit apa?


Cus komen, wkwkwk


__ADS_2