Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab.9 : Terserah!


__ADS_3

Tiara terkejut saat mendengar perkataan yang dilontarkannya oleh Adiknya itu, sesaat ia terdiam, lalu Tiara memeluk Tari. Tangisnya pecah di pelukan sang Adik.


"Kakak harus bagaimana Tari?" tanya Tiara pada Adiknya itu, sambil terisak tangis.


Kakak beradik itu kini sama-sama terisak tangis. Sebenernya Tiara bisa saja menuruti permintaan Adiknya itu untuk berpisah dengan Rey—suaminya. Karena memang itulah yang Tiara inginkan. Tapi perkataan Rey tadi membuat Tiara menimbang-nimbang lagi keputusan tersebut.


Kerena Rey menjanjikan membantunya membiayai semua biaya pengobatan Tari ke luar negeri.


Cukup lama mereka saling berpelukan, hingga akhirnya Tiara mengurai pelukannya itu.


"Sudah kamu jangan pikirkan hal ini, ini biar jadi urusan Kak," ucap Tiara pada Tari, lalu ia mengusap air matanya, masih tetap berusaha tersenyum di hadapan Adiknya itu.


"Tidak Kak!" tegas Tari, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kakak harus pisah dari Kak Rey." lanjut Tari, lalu ia meraih tangan Kakaknya itu.


"Tari dengar, kakak." Tiara menggenggam tangan adiknya itu dengan erat. "Tidak semudah itu Sayang."


"Kenapa? Apa karena Kakak sangat mencintai Kak Rey, atau merasa tidak enak selama ini dia sudah membiayai pengobatan Tari? Kak dengar, dengan atau tanpa Kak Rey membantu pengobatan Tari, semua itu tidak akan mengubah keadaan. Jangan memikirkan Tari, Kak. Tari juga sudah lelah, bertahun-tahun menjalin segala pengobatan, tapi mana? Hasilnya Zonk, Tari sudah pasrah Kak, jika Tuhan mengambil Tari saat ini pun, karena cepat atau lambat, semuanya akan terjadi bukan?"


"Tari jangan bicara seperti itu, Kakak belum siapa kehilangan kamu, Dek. Kakak tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, hanya kamu Dek, hanya kamu yang Kakak punya. Kamu yang membuat Kakak semangat, kamu yang membuat Kakak bisa berdiri kuat seperti saat ini. Kamu pasti sembuh Dek, yakin! Tidak ada yang tidak mungkin, tidak ada penyakit yang tidak bisa di obati, kamu harus semangat untuk sembuh, Kakak akan melakukan apa pun untuk ke sembuh kamu," ucap Tiara, ia menyakinkan Adiknya itu.


"Apa Kakak yakin aku akan sembuh? Kak kita sudah melewati semua ini sama-sama, terima kasih atas pengorbanan Kakak selama ini, tapi tolong, kali ini saja. Tari mohon Kak, turuti permintaan Tari, semuanya demi kebaikan Kakak juga, Tari mau lihat Kakak bahagia." mohon Tari pada Kakaknya itu.


"Perjuangan kita seperti cukup sampai di sini saja Kak, pengobatan itu hanya akan mempersulit posisi Kak, dan belum tentu aku akan sembuh, hanya memperlambat saja. Kakak juga tau sendirikan penyakitku bukan demam, tapi Kanker otak Kak, aku kanker otak stadium 4!" lanjut Tari dengan suara yang mulai melemah.


"Tari stop! Jangan berkata seperti itu. Kebahagiaan Kakak itu kamu, jangan berkata seperti ini. Jika kamu sayang sama Kakak, jangan seperti ini. Kakak mohon. Kakak yakin Tari, Kakak bisa menentukan mana yang terbaik dan tidak untuk Kakak."


"Terserah kakak saja!" sahut Tari, memalingkan wajahnya dari Kakaknya itu.


Tiara hanya menghelai nafasnya, ia memilih untuk menyudahi percakapannya itu dengan Tari.


"Kamu istirahat, Kakak mau kerja dulu," pamit Tiara. Tari nampak acuh, tidak menyahutnya. Lagi Tiara hanya menghelai nafasnya, setalah itu Tiara pun beranjak keluar dari ruangan rawat Adiknya itu.


Karena waktu kerjanya akan segara di mulai.


.


.


.

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain.


"Bagaimana Ken, apa kamu sudah mendapatkan informasi yang saya minta?" Tanya Tuan Smith pada Ken, yang baru saja memasuki ruangannya.


"Sudah Tuan," jawab Ken.


"Bacakan secara rinci," titah Tuan Smith.


Ken menganggukkan kepalanya, lalu ia membuka map yang ada di tengahnya itu.


"Namanya Tari, Tuan. Usianya 19 tahun, dia mengidap kanker otak stadium 4, selama ini yang membiayai semua pengobatan Tari adalah suaminya Nona Tiara, Reyhan pemilik perusahaan Start Grup--" Ken menghentikan ucapannya kerena Tuan Smith memotongnya.


"Reyhan? Start Grup, bukankah itu perusahan yang akan berkerja sama dengan kita?" tanya Tuan Smith.


"Iya Tuan, siang ini kita ada pertemuan dengan beliau."


"Menarik, lanjutkan!" Tuan Smith tersenyum dengan senyuman yang sulit diartikan, bahkan Ken sendiri tidak tahu apa arti senyumnya Bosnya itu.


Ken menganggukkan, lalu kembali melanjutkan membaca informasi tentang data-data diri Tari—Adiknya—Tiara, yang ia dapatkan dari salah satu temannya yang ahli dalam bidang tersebut, sesuai yang diperintahkan oleh Tuan Smith.


"Tari dan Nona Tiara sebenernya bukan saudara kandung, Tari adalah anak angkat Pak Harto dan Ibu Siena, yang tak lain orang tuanya kandungan Nona Tiara. Mereka sudah meninggal 5 tahun yang lalu, Nona Tiara adalah tulang punggung keluarga. Lalu ia menikah dengan Reyhan, Ibu Sarah—Ibunya Reyhan tidak menyukai Nona Tiara, selama ini Nona Tiara dan Adiknya diperlakukan tidak baik oleh Ibunya Reyhan." Jelas Ken panjang lebar.


"Ada informasi lain?" tanya Tuan Smith lagi.


"Katakan!"


"Saat ini hubungan Nona Tiara dan suaminya sedang tidak baik, Nona Tiara memergoki suaminya tengah bercinta dangan sekertaris sendiri di rumah mereka."


Tuan Smith langsung menatap Ken, Ken menundukkan kepalanya. Entahlah, Ken merasakan semua yang berbeda pada Bosnya itu.


'Kasian sekali dia, malang sekali kamu Tiara. Baiklah aku rasa ini tidak akan sulit,' batin Tuan Smith.


"Baiklah, kamu boleh keluar Ken. Kosongkan jadwal saya, usai pertemuan dengan pemilik perusahaan Start Grup itu. Kita harus menemui Tiara," titah Tuan Smith.


Ken hanya menganggukkan kepalanya, setalah itu ia pun berpamitan dan meninggalkan ruangan Tuan Smith.


"Jadi Tari bukan Adik kandungnya? Kenapa dia rela mengorbankan semuanya untuk orang yang tidak ada golongan darah sama sekali. Dan Tari... Kenapa saat melihat gadis itu aku merasakan sesuatu yang beda. Dia mengingatkanku pada..." Tuan Smith menggantungkan ucapan, lalu laki-laki parubaya itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin, ini hanya kebetulan saja, dan rasa simpati ku terhadap gadis itu," lanjutnya.


Entah apa yang dipikirkan oleh Tuan Smith. Cukup lama ia termenung dalam pemikiran itu. Hingga bunyi ponsel membuyarkannya.

__ADS_1


Terlihat telepon masuk ke dalam ponselnya itu, panggilan dari istrinya. Tuan Smith menghelai nafasnya, ia tau jika istrinya menelepon pasti terjadi sesuatu di Rumah.


"Hallo..."


.....


"Nanti Papah akan suruh Ken pulang dulu."


....


"Ya, baiklah. Pastikan dia tidak berbuat yang aneh-aneh."


Klik...


Tuan Smith mematikan sambungan telepon dengan istrinya itu. Laki-laki parubaya itu terlihat memijat pelipisnya keningnya.


Seperti dugaan sebelumnya, Nyonya Henzy memberi kabar jika Teo kembali membuat ulah dan minta Tuan Smith untuk pulang, namun ia memutuskan untuk Ken saja yang melihat dan menanganinya.


Bukan tanpa alasannya, Tuan Smith sudah tidak sanggup lagi, dia mengakui jika dia bukan orang yang sabar, ketika menghadapi Teo ia tidak bisa lemah lembut, dan selalu keras padanya.


Sebenarnya ia tidak mau seperti itu, dalam lubuk hatinya ia sangat menyayangi putra satu-satunya itu.


"Sampai kapan kamu akan seperti ini Teo?" lirih Tuan Smith. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menghubungi Ken, mintanya untuk melihat Teo di rumah.


Bersambung...


Like


Komen


Vote


Jangan lupa geas.


Maaf bolong terus update-nya, kondis belum benar-benar fit.


Terima kasih yang sudah setia menunggu kelanjutan kisah Tiara.


I love you lah pokoknya...


Babay...

__ADS_1


Eh BTW, mampir ke karya temen author juga ya, baru netes tuh.



__ADS_2