
'Sebenarnya apa yang ingin di tawarkan Tuan Smith padaku? Perkerjaan apa yang di maksudnya?' batin Tiara bertanya-tanya.
"Terimalah tawar saya Suster Tiara, saya akan memberikan gajih yang belum besar, dari pada Rumah sakit tempat kamu berkerja. Saya juga akan menanggung semua pengobatan Adik kamu. Bukan hanya itu, saya juga akan membuatmu lepas dari suamimu," ucap Tuan Smith.
Tiara terkejut saat mendengar ucapannya, bagaimana dia bisa tahu semua masalah yang kini menimpanya?
"Bagaimana?" lanjut Tuan Smith bertanya pada Tiara.
"Bagiamana Tuan Bisa tau jika saya sedang mempunyai kendala pengobatan Adik saya, dan..." Tiara menggantungkan ucapan.
"Masalah suami kamu?" timpal Tuan Smith.
Tiara menganggukkan pelan, kenapa ia merasa bodoh. Bertanya sepeda itu pada Tuan Smith, dia banyak uang tentu saja akan mudah mencari tahu seluk beluk hidup Tiara. Dan mengenai masalah Rumah tangganya dengan Reyhan, bahkan semua orang mungkin sudah tahu, saat Poto suaminya dengan wanita lain itu tersebar.
Tapi tetap saja aneh sih, selama ini tidak banyak tahu jika Tiara adalah istri Reyhan. Karena Reyhan sendiri tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai istri kepada orang lain selama mereka menikah.
Bahkan dulu saja pernikahan mereka tidak ada pesta sama sekali, hanya ijab qobul saja. Karena Sarah—mertuanya melarang Reyhan untuk merayakan pernikahannya dengan Tiara.
"Bagiamana apa kamu setuju?" tanya Tuan Smith lagi.
"Maaf sebelumnya, jujur saja penawaran Tuan sangat menarik, tapi apa boleh saya tahu apa perkerjaan yang Tuan tawarkan pada saya?" Tiara memberanikan diri untuk menanyakan hal tersebut pada Tuan Smith.
Tawarnya memang sangat mengiurkan bagi Tiara, apa lagi Tuan Smith menyanggupinya penobatan Tari—adiknya.
"Hanya merawat, itu saya yang kamu kerjakan. Sama seperti kamu merawat pasien di Rumah Sakit, hanya saja kamu melakukan itu di rumah saya." jelas Tuan Smith.
"Maaf, siapa yang sakit Tuan?"
"Anak saya. Nanti tugas kamu hanya membantu istri saya dan yang lainnya di Rumah, untuk merawat Teo."
'Oh hanya merawat saja, aku rasa itu hal yang mudah, aku sudah biasa merawat orang sakit. Apa aku terima saja ya tawarannya?' batin Tiara.
"Apa saya boleh tau, berapa gajih yang Tuan janjikan pada saya?" Dengan sedikit ragu Tiara menanyakan hal itu. Walau pun sebenernya itu hal yang wajar. Tiara ingin tahu berapa gajih yang Tuan Smith akan berikan padanya, jika ia menerima tawaran untuk merawat anaknya tersebut.
"Berapa yang kamu mau?" Bukanya menjawab, Tuan Smith malah menanyakan padanya, berapa Tiara ingin mendapat gajih darinya.
"Tuan bilang akan meng-gajih saya lebih besar bukan dari Rumah sakit tempat saya berkerja, saya rasa Tuan tau berapa gajih saya di rumah sakit," jawab Tiara.
Tuan Smith tertawa ringan, lalu ia menganggukkan kepalanya. "Baiklah, saya akan meng-gajih kamu 50 juta setiap bulannya, jika kamu bisa mengurus anak saya dengan baik," ujar Tuan Smith.
Tiara langsung membulat matanya, bagaimana ia tidak terkejut, gajih yang di tawarkan oleh laki-laki parubaya itu nilainya sangat fantastis, berlipat-lipat dari gajih yang selama ini ia dapat dari RS tempat ia berkerja.
"Kenapa apa masih kurang? Apa terlalu sedikit?" tanya Tuan Smith, ia bingung saat melihat reaksi yang diberikan oleh wanita itu.
"Jika kamu bisa merawat anak saya dengan baik, bahkan saya akan memberikan bonus untuk kamu setiap bulannya. Apa lagi kalau saya bisa melihat perkembangan anak saya jadi lebih baik setalah kamu yang merawatnya," sambung Tuan Smith.
"Apa anda bisa di percaya?" tanya Tiara. Dalam hati kecil tetap saja Tiara merasa ragu, gajih yang akan diberikan oleh Tuan Smith, sangat tidak wajar. Apa itu tidak terlalu banyak? Terlebih dia bilang akan membantu pengobatan Tari, yang sudah di pastikan akan menelan biaya tidak sedikit.
__ADS_1
"Apa kamu lihat saya sedang bermain-main?" Tuan Smith menaikan sebelah alisnya, seraya menatap Tiara.
Tiara yang memang memperhatikannya sejak tadi, ia tidak melihat sama sekali keraguan dari wajah laki-laki parubaya itu, bahkan sengat serius.
"Jika kamu bersedia, silahkan tanda tangan surat perjanjian yang sudah saya buat. Kamu juga baca dengan teliti apa saja poin yang tertulis di sana."
"Ken berikan berkasnya," lanjut Tuan Smith, meminta Ken untuk memberikan surat perjanjian kontrak kerja tersebut.
Ken mengangguk, lalu ia pun memberikan berkas surat perjanjian yang sudah sebelumnya ia buat itu kepada Tiara.
Taira pun mengambilnya, ia mulai membaca apa saja poin-poin dari isi surat perjanjian tersebut.
Tiara membacanya dengan teliti. Ia tidak mau sampai gegabah juga. Tiara tahu saat ini ia tengah berhadapan dengan siapa. Tuan Smith bukan orang sembarangan.
Isi surat tersebut dapat Tiara simpulan, jika ia menerimanya, memang sangat banyak menguntungkan untuknya. Tidak ada hal yang merugikan baginya, jika pun nanti Tiara gagal merawat anak dari Tuan Smith tersebut, Tiara hanya tinggal undur diri saja. Hanya saja setalah tiga bulan, baru ia bisa pergi. Tapi ada yang lebih menarik bagi Tiara, jika ia berhasil membuat kondisi anak Tuan Smith baik, maka Tiara akan diberikan sebuah Rumah, mobil dan sejumlah uang yang nominalnya cukup banyak, bahkan sangat banyak menurut Tiara, nominal yang tertulis di sana sebesar 1 milyar.
Cukup lama Tiara membaca isi surat tersebut, bahkan sampai berapa kali ia membaca lagi, kerena takut ada kekeliruan, namun sudah tiga kali ia membaca, pemahaman masih sama. Benar-benar menguntungkan bagi Tiara.
Tuan Smith hanya tersenyum saat menyadari jika wanita itu membaca surat tersebut berulang kali, benar-benar merasa takjub ia terhadap Tiara, wanita yang sangat teliti dan tidak mengambil keputusan dengan cepat. Hati dan logikanya sangat berjalan dengan bagus.
Sementara Ken, ia menatap heran, ia merasa gemas, 'konyol sekali dia, berulang kali membacanya. Mempersulit hidup saja, tinggal tanda tangani saja, kenapa dia begitu susah, padahal jelas-jelas itu semua tidak akan merugikan dia sama sekali, jika nanti dia tidak sanggup merawat Tuan Muda,' batin Ken.
"Bagiamana, apa kamu setuju?" tanya Tuan Smith. Saat melihat Tiara meletakkan berkas itu di atas meja.
Tiara tidak menjawab, ia hanya terdiam.
Seakan laki-laki parubaya itu tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Tiara saat ini. Ya dibalik tertarik untuk menerima tawaran tersebut, Tiara takut jika dia mengingkari semuanya. Dengan uang mereka bisa melakukan apa saja, Tiara pasti tidak akan berdaya jika suatu hari nanti hal itu terjadi. Uang sangat berkuasa di muka bumi ini.
Setalah mendengar ucapan Tuan Smith barusan, setidaknya Tiara merasa sedikit lega. Semoga saja Tuan Smith benar-benar menepati perjanjian itu.
Tuan Smith benar-benar datang di saat waktu yang tepat.
'Semoga keputusan yang aku ambil ini benar,' batin Tiara.
"baiklah saya setuju," ucap Tiara. Akhirnya ia pun menyetujui tawaran tersebut.
Senyuman lebar terlihat langsung terbit dari bibir Tuan Smith, bisa dilihat jika ia senang mendengar jawaban dari Tiara.
"Silahkan tanda tangan Nona," ucap Ken, seraya memberikan bulfoin pada Tiara.
Tiara menganggukkan, ia pun langsung menanda tangani surat tersebut, di atas matrei.
"Terima kasih, Tiara." ucap Tuan Smith.
Tiara hanya tersenyum dan mengangguk.
"Baiklah, saya permisi dulu. Saya harus kembali ke kantor. Kamu silahkan urus surat pengunduran diri kamu dulu dari Rumah sakit itu. Saya akan memberikan kamu waktu beberapa hari."
__ADS_1
"Baik Tuan, terima kasih."
"Sama-sama. Berikan nomer ponsel kamu pada Ken. Nanti kamu kasih kabar saja pada Ken, jika urusan kamu sudah selesai, Ken akan menjemput kamu." ujar Tuan Smith.
Tiara hanya mengangguk kepalanya.
"Ken, saya tunggu di mobil." ucap Tuan Smith pada Ken. Ken hanya mengangguk sebagai jawaban.
Setalah itu Ken dan Tiara pun bertukar nomer ponsel mereka.
"Kira-kira berapa hari Nona menyelesaikan semuanya?" tanya Ken, usai mereka bertukar nomer ponsel.
"Saya usahakan secepatnya Tuan Ken."
"Baiklah, kabari aku saja. Tapi jangan terlalu lama." Ken langsung beranjak dari sana.
"Tuan Ken, tunggu..." Panggil Tiara. Ken pun menoleh pada wanita itu.
"Maaf apa saya boleh bertanya?"
"Silahkan."
"Kapan adik saya akan mulai melakukan pengobatannya?" tanya Tiara. Tiara tidak mau menundanya lebih lama, ia ingin cepat Tari mendapatkan pengobatan itu. Ia tidak peduli jika ia di sebut tidak sabaran.
"Secepatnya. Jika Nona sudah selesai dengan urusan Nona, Tuan Smith akan segara membawa adik Nona ke sana. Dan untuk urusan perceraian Nona dengan suami Nona, Tuan juga sudah menyiapkan pengacara untuk membantu Nona. Tenang saja, Tuan saya tidak akan mengingkari semua janjinya. Jadi Nona tidak perlu takut," jawab Ken panjang lebar.
Tiara hanya mengangguk. Setalah itu Ken pun berlalu dari sana.
Tiara menghelai nafasnya setalah kedua laki-laki itu pergi. Akhirnya ia mendapat jalan keluarnya juga. Semoga semuanya berjalan lancar.
"Tapi tunggu! Anaknya Tuan Smith sakit apa? Di surat tadi aku tidak mendapatkan informasi tentang penyakitnya anaknya itu? Anaknya itu laki-laki atau perempuan ya?" gumam Tiara.
"Ck, kenapa aku bodoh. Tadi kan Tuan Ken menyebutkan anaknya Tuan Smith itu dengan sebutan Tuan muda, dia pasti laki-laki."
"Tuan Muda Teo... aku penasaran dia mengidap penyakit apa? Eh apa dia masih muda ya? Apa anak kecil. Ah sudahlah itu tidak terlalu penting. Setidaknya sekarang aku sudah merasa tenang, urusan Tari sudah tertangani, dan aku bisa berpisah juga dengan Mas Rey. Sebaiknya aku harus cepat mengurus surat pengunduran diri. Dan fokus nantinya merawat anaknya Tuan Smith, semoga aku tidak mengecewakan meraka. Semangat Taira!" Tiara bermonolog dengan diri sendiri. Setalah ia pun berlalu dari Restoran tersebut.
Tiara kembali ke Rumah Sakit, tujuan utamanya saat ini menemui Tadi, Tiara ingin menceritakan semuanya pada Adiknya itu. Wajah Tiara di penuh dengan senyuman manisnya.
"Tiara..." panggil seseorang langsung membuat langkah Tiara terhenti. Senyuman dari wajah Tiara pun pudar saat melihat siapa yang memanggilnya itu, bahkan orang itu kini tengah berjalan menghampirinya dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata.
'Mau apa Mamah ke sini?' batin Tiara.
Bersambung...
Jangan lupa, tekan like, tulis komentar juga.
Vote sama sawerannya buat otor, wkwkwk.
__ADS_1
Terima kasih.