
‘Dia bisa bicara? Jadi selama ini dia pura-pura bisu? Astaga dia ternyata penipu!’ batin Tiara.
“Apa kau mau berdiri di sana terus? Apa kau mau lihat aku berganti pakaian? Dasar wanita genit!” Teo kembali mengeluarkan suaranya, membuat Tiara langsung tersadar dalam lamunannya.
“Eh, iya maaf Tuan.” Tiara pun langsung bergegas untuk meninggalkan kamar tersebut. ‘Ck, sial! aku lebih suka dia bisu, omongannya kaya cabe, pedes!’ lanjut Tiara dalam hatinya.
“Tunggu!” panggil Teo ketika Tiara akan membuka pintu kamar tersebut untuk keluar.
Tiara pun menghentikan langkahnya, lalu berbalik, “iya, kenapa Tuan?”
“Ingat rahasia dulu tentang ini, jangan sampai Papa dan Mamah tau,” pinta Teo.
“Kenapa Tuan? Bukankah ini kabar yang bagus, Tuan sudah tidak bisu lagi, atau jangan-jangan selama ini Tuan pura-pura bisu jadi takut kalau Tuan Smith dan Nyonya Henzy tahu?”
Teo langsung menatap tajam kearah Tiara.
Sementara Tiara ia menggerutu dalam hatinya, ah bodoh! kenapa ia malah bicara seperti itu, mampuslah sudah! ‘Bodoh kau Tiara bodoh! harusnya kamu bisa mengontrol ucapanmu, ingat dia itu Tuan Muda-mu, ya Tuhan tolong jangan sampai aku di pecat, kasihani aku Tuhan, aku masih perlu banyak uang untuk biaya pengobatan Adikku,' batin Tiara.
__ADS_1
“Kau mau bermain-main denganku hmm?” Teo berjalan mendekati Tiara, tatapan tajam tak lepas dari wanita yang berstatus sebagai asistennya itu.
Tiara langsung menunduk kepalanya, demi apa pun dia menyesal sudah berkata lancang seperti itu kepada Tuan Muda Teo.
“Ma—maaf Tuan,” ucap Tiara terbata-bata.
Teo yang kini sudah berada di depan Tiara langsung tersenyum sinis, tangannya terulur meraih dagu Tiara lalu mengangkat perlahan.
Tiara yang ketakutan hanya memejamkan matanya, ia tak berani menatap laki-laki yang ada dihadapannya itu.
“Sa—sakit Tuan Muda, sa—saya berjanji tidak akan memberitahu siapa pun, tapi saya mohon jangan lakukan itu,” mohon Tiara. Terlihat wanita itu menahan sakit akibat cengkraman tangan Teo, bahkan air mata kini terlihat mengalir dari sudut wanita itu.
Teo langsung langsung melepaskan cengkraman tangannya itu ketika melihat Tiara menangis, dalam hati ia sangat menyesali perbuatannya itu, kerena sebenernya Teo adalah notabene laki-laki yang tidak pernah kasar pada wanita, akan tetapi saat ini, entah mengapa Teo tidak bisa mengontrol emosinya.
“Keluar!” usir Teo.
Tiara langsung menganggukkan kepalanya, setalah itu ia pun langsung berlalu dari sana.
__ADS_1
Teo menghelai napas beratnya, ia sungguh menyesal, ia merasa tidak enak hati pada Suster Tiara, tapi untuk meminta maaf rasanya itu tidak mungkin.
“Sial! kenapa aku jadi tempramen kaya gini? Tapi, bagaimana kalau dia mengadu pada Papa dan Mamah tentang kelakuan aku barusan?”
“Apa aku minta maaf saja sama dia? Tidak, itu bodoh! itu gila jika aku harus meminta maaf pada suster sialan itu! Ck, kenapa aku harus memikirkan itu? Aku yakin dia tidak akan berani mengadu pada Mamah dan Papa, dia mata duitan, sebenernya apa yang membuat dia bertahan sejauh ini? Seperti aku harus mencari tau apa motif dia menerima pekerjaan sebagai Susterku.” Teo bermonolog dengan dirinya sendiri.
Bersambung....
Maaf baru sempat lanjut ceritanya.
Aku sibuk benget, jadi satu bulan ini gak update sama sekali.
Terima kasih ya yang sudah setia menunggu, aku benar-benar mohon maaf sekali.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya temen-temen, biar aku semangat lanjutin ceritanya.
Insyaallah untuk cerita ini aku gak buat panjang kok, ya bentar lagi menuju ending, hehe...
__ADS_1