
"Tuan, apa Nona Tiara ada menghubungi Tuan?" tanya Ken pada Tuan Smith, mereka baru sampai di kediaman Tuan Smith.
"Tidak, memangnya kenapa?"
"Tadi Nona Tiara menghubungi saya, dia minta untuk bertemu, saya kira Nona Tiara memberi tau Tuan juga," jelas Ken.
"Ya sudah besok kamu temui saja."
Ken hanya menganggukkan kepalanya, setalah itu mereka pun bergegas masuk ke rumah mewah tersebut.
Ken memang tinggal bersama Tuan Smith, Ken seorang anak yatim piatu. Tujuan hidupnya yaitu mengabdi pada Tuan Smith, karena keluarga Tuan Smith lah yang sudah merawat dan menyekolahkan Ken, hingga ia lulus S2 di Australia.
Setalah masuk ke dalam rumah tersebut, Tuan Smith dan Ken berpisah arah, menuju kamar mereka masing-masing.
"Pah..." sapa Nyonya Henzy—sang istri. Wanita itu tersenyum menyambut kepulangan suaminya. Namun di balik senyumannya itu Tuan Smith bisa melihat jika istrinya itu terlihat lelah.
"Istirahatlah Mah, kau keliatan sangat lelah," titah Tuan Smith. Ia menolak saat istrinya itu membantunya untuk melepaskan jas yang masih membalut tubuhnya itu.
"Aku tidak lelah Pah, hanya saja aku merasa putus asa," kata Nyonya Henzy, wajahnya kini terlihat sangat lesu, matanya pun berkaca-kaca. Nyonya Henzy duduk di tepi ranjang, menatap kosong lurus ke depan.
Terdengar helaian nafas berat dari Tuan Smith, lalu ia pun menghampiri sang istri dan duduk di sampingnya.
"Jangan bicara seperti itu, ada masalah apa coba ceritakan?" Tuan Smith mengusap punggung tangan istrinya itu dengan lembut.
"Sampai kapan Pah? Sampai kapan Teo akan seperti itu. Mamah tidak kuat Pah, sudah cukup Mamah kehilangan putri kita satu-satunya, Mamah tidak mau kehilangan Teo, putra kita satu-satunya juga Pah." keluh Nyonya Henzy sambil terisak.
"Yakinlah Mah, Teo pasti sembuh, dia pasti akan hidup normal kembali." Tuan Smith membawa istrinya itu kedalam pelukannya. Mengusap lembut kepala sang istri, jujur saja sebenernya Tuan Smith juga merasakan hal yang sama. Dia sudah lelah, berbagai cara sudah mereka lakukan untuk ke sembuhkan Teo, tapi semua hasilnya zonk.
Namun ia sebagai kepala keluarga tidak ingin terlihat lemah, ia harus bisa tegar. Demi keluarganya, tidak jarang Tuan Smith menghabiskan malamnya sendiri, meratapi nasib putranya yang tak kunjung sembuh, Tuan Smith rindu dengan suara Teo sudah lama sekali ia tak mendengar Teo memanggilnya dengan sebutan 'Papah' atau menyebutnya 'Si Tua Bangka budak cinta' jika Tuan Smith sedang menggoda istrinya.
Semenjak Teo sakit, akibat mengalami trauma yang begitu dalam, keadaan rumah merasa sangat sepi, keluarga seperti tidak berwarna, apa lagi putri bungsu mereka juga sudah tiada, akibat kecelakaan maut yang menimpanya, menyebabkan putri bungsu Tuan Smith dan Nona Henzy yang bernama Zalleta Smith meninggalkan dunia.
Flashback.
Saat itu Teo baru saja mendapatkan surat izin mengemudinya, ia lolos test mengemudi, dan langsung mendapat sebuah kado mobil mewah dari Tuan Smith — Papahnya.
"Pah boleh aku mencobanya?" tanya Teo pada Papahnya.
"Tentu saja, itu milikmu."
__ADS_1
Teo begitu bersemangat untuk mencoba mobil baru yang diberikan oleh Papahnya itu.
"Kak, aku ikut," teriak Zellita. Tanpa menunggu jawaban dari sangat Kakak, gadis itu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Teo.
"Zellita, sebaik kamu jangan ikut. Sana keluar," usir Teo. Meminta adiknya itu untuk keluar, entah mengapa Teo merasa ragu, bahkan semangatnya yang tadi begitu besar itu menghilang begitu saja saat Zellita ingin ikut dengannya.
"Tidak mau Kak, aku akan ikut kemana pun Kakak pergi, mati pun aku akan ikut," ucap Zellita. Gadis itu memang sedikit keras kepala.
"Kalau mau mati jangan bawa-bawa aku, kau saja yang duluan sana. Aku tidak mau mati bersama kamu!" ketus Teo.
Zellita yang mendengar ucapan sang Kakak hanya tertawa, karena memang dirinya berkata seperti itu hanya bercanda.
"Keluar sana cepat!" usir Teo lagi.
"Enggak, aku mau ikut pokoknya. Ya kapan lagi coba Kakak bisa bawa aku jalan-jalan seperti ini." Keukeh Zellita.
Teo mendengkus kesal lalu ia memanggil kedua orang tuanya.
"Mah, Pah. Ini bawa anak gadis kalian. Aku tidak mau membawanya," teriak Teo pada Tuan Smith dan Nyonya Henzy. Yang kebetulan mereka masih berdiri di samping mobil tersebut, bahkan sejak tadi mereka mendengarkan perdebatan antara kakak beradik itu. Kerena memang kaca mobil tersebut terbuka.
"Zellita sebaiknya kamu jangan ikut ya, biarkan Kakak kamu sendirian. Lagian Kakak kamu masih belajar nyetir juga." bujuk Nyonya Henzy. Entah mengapa Nyonya Henzy merasakan sesuatu yang aneh di hatinya, seperti ini ada sesuatu yang mengganjal tapi dia sendiri tidak tau apa.
"Gak mau Mah, aku mau ikut pokoknya!" Zellita yang notabene agak keras kepala, tentu saja menolaknya.
"Ya sudah, tapi kalian hati-hati ya. Teo jaga adikmu, nyetirnya pelan-pelan aja, terus jangan jauh-jauh juga!" Pesan Nyonya Henzy pada putra sulungnya.
Teo hanya mengangguk, dengan wajah tanpa ekspresi, namun bisa digambarkan jika ia kesal. Sementara Zellita, gadis itu tersenyum penuh kemenangan.
Teo pun mulai melajukan mobilnya.
"Pah, kok perasaan Mamah gak enak begini ya," ucap Nyonya Henzy pada suaminya itu, namun tatapnya masih lekat menatap mobil yang di bawa oleh Teo, yang kini terus melaju dan menjauh dari pandangan itu.
"Sudah jangan aneh-aneh, ayo kita masuk," ajak Tuan Smith.
Sementara itu mobil yang di lajukan Teo sudah melaju di jalan raya. Zellita yang duduk di sampingnya itu, nampak menikmati perjalanannya dengan sang Kakak.
Seketika Teo tersenyum licik, akal jahilnya mulia berkerja. 'Baiklah adik ku sayang yang keras kepala, Kakak mu ini akan membuatmu kapok, karena tidak menurut.' batin Teo.
Akhirnya Teo pun mulai beraksi dengan sifat jahilnya itu, ia menambahkan kecepatan mobilnya. Zellita yang sejak tadi menikmati perjalanannya itu pun, kini terlihat panik.
__ADS_1
"Kak bawa mobilnya pelan-pelan, jangan kenceng-kenceng aku takut," protes Zellita sambil menatap kesal pada kakaknya itu.
Namun Teo sama sekali tidak menggubrisnya, ia malah semakin meninggikan kecepatan mobilnya itu. Dalam hati Teo tertawa, melihat wajah adiknya yang ketakutan itu.
"Kakak nanti aku bilang sama Papah dan Mamah ya, pelanin gak!" teriak Zellita. Gadis itu memejamkan matanya.
"Hahaha ... " Teo malah tertawa terbahak-bahak melihat adiknya itu. Setalah puas Teo pun kembali menurunkan kecepatannya.
"Makanya jangan ngeyel," ucap Teo, berusaha menahan tawanya.
Zellita yang merasakan laju mobil itu sedikit memelan, ia pun membuka matanya perlahan.
"Kak awas!" teriak Zellita.
Teo yang sadari tadi melihat kearah Zellita tanpa memperhatikan jalan yang ada di depannya itu, sontak langsung melihat kearah depan. Ia langsung membanting setir mobilnya itu, mencoba menghindari mobil kontener besar yang melaju cepat berlawan arah.
Namun sayang mobil itu keluar dari pembatas jalan, dan setengah menggantungkan di tepi jurang yang di di bawahnya terdapat sungai yang beralur deras.
"Zellita..." teriak Teo, ia masih setengah sadar. Teo mencoba membantu adiknya itu yang terlihat sudah gak sadarkan diri, kepala Zellita dipenuhi oleh darah seger.
"Zellita bertahanlah Dek, maafkan Kakak," teriak Teo, ia melepaskannya seltbeth yang masih melingkar di tubuh gadis itu. Dengan susah payah, sekuat tenaga ia menyalatkan Adiknya.
Namun karena pergerakan yang ia lakukan itu, membuat mobil itu kehilangan ke keseimbangan, dan terjatuh ke jurang. Setalah itu Teo tidak ingat apa-apa lagi, kesadaran hilang, beriringan dengan mobil yang berguling-guling di tebing jurang tersebut.
Flashback off.
Terjawab sudah ya geas, apa penyebab Toe seperti itu.
Ada beberapa jawaban yang benar, yang merasa menjawab dengan benar, DM otor ya. Ada hadiah kecil buat kalian, hehe...
Otor juga udah ada Ss-nya, siapa saja yang dapat, tapi otor pengen tau yang merasa aja dulu tebakannya benar. Wkwkwk
DM sekalian kenalan sama otor yuk.
DM ke IG @Ar_Inthan99
Atau boleh via inbox akun NT kalian ya.
Jangan lupa like, komen dan votenya dulu.
__ADS_1
Terima kasih.
Babay...