Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 51. Calon Istri


__ADS_3

“Kenapa, emang ada yang salah? Benarkan, kamu itu calon istri saya?” tanya Teo dengan santainya, tatapannya tak lepas dari Tiara, yang masih memasang wajah kesal bercampurnya terkejut.


“Kalau bukan karena Zalleta, saya tidak mau menikah dengan Anda, Tuan Muda!” tegas Tiara, tersenyum sinis.


“Yakin? Saya tahu diam-diam kamu suka kan sama saya? Udah gak usah sok-sokan gitu deh, lagian seharusnya kamu bersyukur bisa menikah dengan saya, saya tampan, kaya raya, dan tentu saja saya akan menjadi suami dan Ayah yang baik dan bertanggung jawab untuk kamu dan anak-anak kita kelak!” paparnya.


uwoooo, rasanya Tiara mual mendengar ocehan pria yang ada di sampingnya itu, pade sekali dia? Kalau bukan kerena Zalleta mana mau Tiara menikah dengan pria yang menyebalkan seperti Tuan Mudanya itu.


Tiara kembali melanjutkan langkahnya, melas sekali rasanya ia berbicara dengan Bayi Gede yang sebentar lagi akan menjadi calon suaminya itu.


‘Huh, kenapa aku selalu terjebak dalam situasi yang rumit, bisakah kalian doakan aku wahai pada Readers! Tolong sampaikan sama sang penulis, hidupku akan seperti apa akhirnya? Happy ending, kah? Atau sad ending? Aku benar-benar lelah!’ batin Tiara.


Melihat Tiara tidak yang pergi tanpa menyahut ucapannya lagi, Teo pun terus mengikuti langkah wanita itu, kemana pun Tiara melangkah Teo mengikutinya, Teo sudah seperti anak kecil yang menuntut di bokong Ibunya. Benar-benar kelakuan bayi gede Tiara, meresahkan.


Sedari tadi Tiara tidak mempedulikan Teo, tapi lama-lama Tiara merasa risih!


“Tuan Muda, apakah anda tidak ada kerjaan lain hmm?" tanya Tiara pelan sambil mencoba tersenyum, aslinya Tiara sangat dongkol.


“Tidak ada, saya tidak ada kerjaan. Memang kenapa? Iya-iya saya tahu saya memang pengangguran, tapi tenang saja nanti kalau kita sudah menikah, saya pasti akan memenuhi kewajiban saya, jangan takut, tenang saja, lahir batin kamu pasti akan saya penuhi,” jawab Teo.


Astaga! Tiara benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, bukan itu maksud pertanyaan Tiara, ya Tuhan! sumpah Tiara jadi gemas sendiri, tapi bukan gemas lucu tapi kesal.


“Jangan kesal begitu dong, tenang mulai besok saya akan kerja, jadi kamu gak usah khawatir, oke," lanjut Teo dengan percaya dirinya.


Entah sejak kapan Teo jatuh cinta pada Tiara, yang pasti hobi Teo kini menganggu Tiara dan tidak mau jauh-jauh dengan wanita itu, terdengar konyol, tidak ada pendekatan atau apa, tiba-tiba jatuh cinta terus bucin tingkat dewa.


“Tuan Muda, apa anda sehat? Saya rasa anda sedang tidak sehat, kelakuan anda sudah seperti seorang anak kecil tau gak!" ketus Tiara. Sudah, Tiara sudah tidak bisa lagi menahan kekesalannya.


“Emm ... menurut kamu saya sehat atau tidak?”


“Kenapa anda malah bertanya pada saya?”


“Yakan kamu suster, pasti dong tahu gimana orang sakit dan tidak? Iyakan?”

__ADS_1


“Cukup, Tuan Muda, oke. Saya mau kerja, saya mau bantu-bantu Bu Maya, kalau anda seperti ini terus mengikuti saya, saya tidak bisa berkerja dengan tenang, nanti Tuan dan Nyonya lihat, saya tidak mau dianggap numpang hidup di sini,” ucap Tiara penuh dengan senyuman, tentu saja senyuman itu senyuman palsu.


“Kata siapa kamu menumpang? Ini rumah kamu, dan satu lagi jangan panggil saya Tuan Muda, oke! Jangan panggil juga Mamah dan Papa, Tuan dan Nyonya! Saya akan menjadi suami kamu, dan Papa dan Mamah akan menjadi orang tua kamu juga, faham sayangku?” Teo membalas senyuman Tiara, senyuman Teo tentu saja asli tanpa sandiwara.


Rasanya Teo heran juga pada dirinya sendiri, kok bisa dia secepat ini bucin pada Tiara? Jelas-jelas pada awalnya ia sangat benci sama Tiara, memang benar cinta dan benci itu beda tipis.


“Ya Tuhan, kenapa hidupku rumit sih?" keluh Tiara. Ia sudah habis kesabaran, bahkan bicara seperti itu langsung di depan Teo.


“Gak ada hidup yang sulit, Tuhan tidak pernah mempersulit semuanya, kamu saja yang membuat sulit semuanya Tiara.” Teo berkata dengan nada yang sengat lembut dan penuh perhatian, ini untuk yang pertama kalinya juga Teo memanggil Tiara dengan sebutan namanya.


Eh kok, aneh? Kenapa Tiara merasa hatinya adem saat Teo memanggil namanya.


“Dengarkan tadi kata aku, pokoknya kamu jangan panggil aku lagi dengan sebutan Tuan Muda, oke. Panggil aku Teo, atau sayang gitu,” sambung Teo.


“Apaan sih gak jelas!” ketus Tiara, ia memalingkan wajahnya yang terlihat tersipu malu.


“Coe salting,” ejek Teo.


“Sudah ah, saya mau mandi dulu.” Tanpa menunggu sahutan dari Teo Tiara langsung bergegas dari sana.


Tiara menghentikan langkahnya lalu menoleh.


“Tidak ada kata penolakan, aku tidak suka di tolak oke, jam 7 jangan sampe telat, oke Calon istri,” ucap Teo.


Tiara hanya menghelai napasnya lalu ia kembali melanjutkan langkahnya.


Usia kepergian Tiara, Teo terlihat senyum-senyum sendiri, ia benar-benar tidak menyangka akan terjadi seperti ini, berasa mimpi, harusnya judul ceritanya bukan ‘Di Atas Ranjang Suster Tiara’ tapi ‘Susterku Istriku’ atau Tidak ‘Suster cantik kesayangan Tuan Muda’.


“Cie yang lagi bucin tingkat Dewa,” tiba-tiba terdengar seseorang berbicara dari arah belakang Teo berdiri.


Sontak Teo pun langsung berbalik, Ken terlihat sudah berdiri di belakangnya.


“Sirik aja kau!” sahut Teo ketus.

__ADS_1


“Hahaha ... ” Ken tertawa.


Ya, sedari tadi Ken memang melihat dan menguping pembicaraan antara Teo dan Tiara, tidak menguping sih sejak tadi Ken memang sudah ada di sana, tapi kedua manusia itu saja yang tidak menyadarinya.


“Ketawa lagi, gak jelas!” ejek Teo.


“Dasar bayi gede,” ejek Ken balik.


“Sialan!”


“Jadi kalian mau jalan-jalan?” tanya Ken.


“Ya, kenapa?”


“Okelah, aku akan siapakah mobilnya, aku juga akan bersiap-siap dulu,” jawab Ken.


“Siap-siap? Sorry saya tidak mengajak anda!”


“Ya aku tau, tapi yakin gak mau dianterin, mau nyetir sendiri?”


Teo langsung menganggukkan kepalanya, sebenernya ia juga ragu, karena sejak pernah mengalami kecelakaan, Teo tidak pernah lagi menyetir mobil, jangankan membawa mobil, keluar rumah pun jarang, kecuali hanya sekeliling komplek untuk berolahraga pagi.


“Aku akan mencobanya, aku tidak mungkin seperti ini terus bukan? Aku harus hidup normal kembali, aku harus jadi aku yang dulu.”


“Baiklah, tapi aku akan tetap menemani kamu, sorry bukan maksud apa-apa, hanya saja aku..”


“Ya aku paham, ikuti saja, tapi dari kejauhan,” sela Teo.


Ken langsung menganggukkan, setalah itu Teo pun berlalu dari sana.


Sementara Tiara yang kini sudah berada di dalam kamarnya terlihat masih duduk di tepi ranjang, dengan tatapan yang menerawang, sesekali bibirnya terulas senyuman.


‘Aku masih heran, kenapa dia tiba-tiba menjadi aneh seperti itu?’ ucap Tiara dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung...


Like, komen dan votenya ygy, makasih.


__ADS_2