Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 55. Serba Dadakan


__ADS_3

“Apa yang kamu inginkan lagi calon istriku?” tanya Teo pada Tiara.


Entah pertanyaan yang kesekian kalinya itu Teo lontarkan pada Tiara, lelaki itu terus-menerus menawari ini dan itu, tapi tanpa menunggu jawaban dari Tiara, Teo langsung membawa wanita itu ke toko-toko yang ada di Mall itu.


Mulai dari tas branded, pakaian, sepatu, jam tangan, aksesoris, dan masih banyak lagi. Dan yang lebih menyebalkan, Teo memilih sendiri barang-barang tersebut untuk calon istrinya itu tanpa persetujuannya Tiara.


Lihat saja kedua tangan Tiara kini sudah penuh menenteng barang belanjaanya itu, belum lagi di tangan Teo yang sama-sama penuh. Entah berapa digit nominal yang dikeluarkan oleh Teo untuk membeli barang-barang tersebut.


“Sudah cukup calon suamiku, apa kau tidak lihat kita sudah belanja sebanyak ini, apa lagi yang mau di beli? Mall ini aja sekalian kamu beli!” ketus Tiara, ia benar-benar merasa sebal, belanja bukanlah hobi Tiara, apa lagi belanja barang-barang mewah.


Buang-buang duit saja, bukan?


“Jadi kamu mau aku membeli Mall ini?” balik tanya Teo, wajah pria itu terlihat begitu santai.


“Ck, aku bercanda Mateozy Smith! Sudahlah aku lelah, aku mau pulang, kalau di sini terus bisa-bisa nanti kau bangkrut, lalu nanti setalah menikah kita mau makan apa?” kesal Tiara.


“Emm ... sekarang sudah berani ya nyebut nama panjang aku, nakal ya kamu. Oke, baiklah kita pulang, kalau kamu benar tidak mau aku belikan Mall ini,” ujar Teo.


‘Dasar sinting untuk apa beli Mall Segede ini, mending beli rumah kek, apa kek, bener-bener tidak waras. Ini lagi belanjaan sebanyak ini, mau aku apakah? Dan nanti apa kata orang rumah, bisa-bisa aku di cap wanita matre lagi, dia pasti bayar uang ini pake duit orang tuanya, ah menyebalkan!’ gerutu Tiara dalam hatinya.


“Kok wajahnya di tekuk gitu sih? Kenapa? Takut beneran aku bangkrut hmm? Tenang saja calon istriku, hartaku unlimited kok,” ucap Teo.


“Tau ah aku sudah capek, ayo kita pulang!” ajak Tiara, kesabaran sudah mulai terkikis.


“Oke-oke baiklah, ayo.”


Mereka pun berjalan keluar dari Mall tersebut.


Tiara merasa enteng entang saat semua barang-barang belanjaan tersebut sudah di masukan ke dalam garasi.


“Yakin, kita mau pulang sekarang?” tanya Teo.


Mereka kini sudah berada di dalam mobil.


“Iya, memangnya mau apa lagi?”


“Ya kali aja mau ke hotel dulu gitu,” goda Teo.


“Idih ngapain ke hotel, dasar mesum!”


“Hahaha,” Teo tertawa, “bercanda sayangku, baiklah ayo kita pulang.”


Teo pun mulai melaju mobilnya meninggal Mall tersebut. Tidak ada pembicaraan saat di perjalan, mereka larut dalam pemikiran mereka masing-masing, senyuman di bibir Teo terlihat terus melengkung, hari ini ia benar-benar merasa bahagia, bisa menghabiskan waktu bersama Tiara, ya walaupun setiap menit mereka selalu berselisih faham, ada saja yang bikin cekcok, tap, ya anggap saja itu sebagai bumbu cinta, aseeek!

__ADS_1


Sementara Tiara wajahnya terlihat di tekuk, ia merasa takut dan was-was, pikiran buruk memenuhi benaknya, bagaimana nanti reaksi kelurga Teo, kalau melihat Teo yang membelanjai Tiara begitu banyak. Ya Tuhan bagaimana ini?


Padahal tanpa sepengetahuan Tiara, Teo membelikan uang tersebut real dari uangnya sendiri, walaupun selama beberapa tahun ini Teo tidak berkerja alias pengangguran, tapi Teo mempunyai usaha, ia mempunya perusahan, tentu saja perusahaannya itu tidak kalah besar dengan perusahaan milik Papa-nya.


Ken, yang ditugaskan untuk mengelola perusahan miliknya selama ini, semua orang tahu itu, terkecuali ya Tiara, Tiara mengira jika Teo penikmat harta orang tuanya alias beban keluarga.


Hingga setengah jam kemudian mereka pun sampai.


“Ayo turun,” ajak Teo.


Tiara mengangguk, lalu mereka pun turun dari mobil tersebut.


“Belanjaannya nanti saja biar Bu Maya sama pelayan lain yang bawa, setalah ini kamu istirahat saja, aku tahu kamu pasti lelah,” ujar Toe sambil mengelus kepala Tiara.


Lagi-lagi Tiara hanya menganggukkan kepalanya. Lalu mereka berjalan masuk ke dalam rumah.


“Eh kalian udah pulang, sini-sini," ucap Nyonya Henzy saat melihat Teo dan Tiara tiba, wanita parubaya itu meminta mereka untuk duduk bergabung di ruang tengah, di mana di sana ada Tuan Smith, Ken serta Zalleta juga.


Teo dan Tiara pun menghampirinya, duduk bergabung di sofa tersebut.


“Gimana keadaan kamu, Dek?” tanya Tiara pada Zalleta.


“Sudah lebih baik, Kak. Eh tunggu-tunggu, Kakak kok pake baju ini sih?” protes Zalleta, tentu saja ia merasa kesal kerena Tiara tidak memakai gaun yang diberikannya.


“Kakak yang minta Tiara buat ganti, lagian kamu kasih gaun kok kurang bahan!” Bukan Tiara yang menjawab melainkan Teo.


“fashion dari Hongkong, bagus sih bagus, tapi belahan dadanya terlalu rendah, gak pantes calon istriku pake gaun begituan, gak sopan!” ucap Teo tak mau kalah.


“Apa benar kamu memberikan gaun sepeda itu, Za?” sahut Mamahnya bertanya.


“Hehe ... ” Zalleta menyengir kuda, “iya Mah, soalnya gaunnya bagus tahu itu.”


Mamahnya terlihat menggeleng-gelangkan kepala, “lain kali jangan seperti itu, kamu juga jangan sampe pakai gaun sepeda itu, benar kata Kakak kamu, kita harus berpakaian yang sopan, gak usah ikut fashion kekinian, berpakaian itu harus sesuai sama diri kita dan tentunya harus nyaman juga.”


“Hehe, iya Mah.”


“Kak, maafin aku ya,” lanjut Zalleta pada Tiara.


“Gak apa-apa kok, Dek.”


“Oh iya kalian habis dari mana?” tanya Zalleta menatap kedua Kakaknya itu.


“Habis jalan-jalan dong,” jawab Teo bangga.

__ADS_1


“Iya dari mana?”


“Kita cuman ke Mall aja kok, Dek,” jawab Tiara.


“Wih keren, beli apaan? Mana belanjaan-nya?” cerca Zalleta heboh.


Tiara merasa gugup saat Zalleta bertanya seperti itu, apa lagi kini tatapan semua orang yang ada di sana tertuju padanya.


“Teo jangan bilang kamu gak beliin apa-apa ya buat Tiara? Kamu kok pelit banget sih jadi cowok! Turunan dari mana kamu? Papa kamu aja selalu royal loh sama Mamah, sama anak-anaknya, masa kamu sama calon istri sendiri begitu, heran!” timpal Mamahnya.


Hah? Tiara cukup tercengang mendengar ucapan wanita itu, kok begitu? Berbeda sekali sama mantan mertuanya, Tiara belanja dikit aja mulut wanita itu langsung bicara panjang lebar kali tinggi, sementara Nyonya Henzy? Bukankah itu calon Mamah mertua idaman?


“Enak aja, nuduh aku pelit. Aku belikan apa pun kok yang calon istriku mau, cuman ya calon istriku ini yang ngirit kayanya, di tawari apa-apa gak jawab, aku tawari mau beli mall aja dia gak mau!” jawab Teo.


Sontak ucapan Teo pun menjadi gelak tawa mereka semua.


Sementara Tiara hanya tersenyum tipis saja. Ia benar-benar merasa tidak enak, masih merasa takut kalau di cap wanita matre, ya walaupun pada kenyataannya tidak mungkin juga sih. Keluarga Smith benar-benar kelurga sultan.


“Ya iyalah, Kak Tiara mana mau, lagian untuk apa beli Mall, Kak Tiara itu bukan tipikal wanita mata duitan tau!" ucap Zalleta.


Ah syukurlah ada Zalleta yang menjabarkannya.


“Aduh Tiara, mulai saat ini jangan begitu ya, calon mantuku, beli aja barang apa yang kamu mau, biarkan para lelaki yang memikirkan cari uangnya," canda Nyonya Henzy pada Tiara.


“Saya tidak terbiasa seperti itu, Nyonya. Hehe, rasanya sayang aja gitu, kalau uang hanya dipakai buat beli barang-barang yang terlalu penting,” ucap Tiara, ia memberanikan diri untuk mengeluarkan suara.


“Iya juga sih, ya udah deh terserah kamu saja, tapi kalau mau apa-apa jangan sungkan, bilang saja sama calon suami kamu ya. Oh iya satu lagi, jangan panggil saya dengan sebutan Nyonya, kamu kan calon mantuku, jadi mulai saat ini panggil saja saja Mamah, seperti Teo memanggil saya.”


“Ah iya, maaf. I-iya Ma-mamah.”


“Nah gitu dong.”


“Oke sudah ya acara rumpinya, sekarang kita lanjutkan pembahasan kita tadi, sudah sampai mana tadi?” timpal Tuan Smith.


“Ah iya jadi lupakan. Baiklah, jadi bening Teo, Tiara, Mamah sama Papa sudah mengatur semuanya, persiapan saat ini sudah hampir 70 persen untuk acara pernikahan kalian, dan hari H-nya Minggu depan, ya semuanya memang serba dadakan, tapi kalian jangan khawatir semuanya pasti akan sempurna,” ujar Mamah Henzy.


“Baiklah, kapan pun aku siap, besok juga aku siap,” sahut Teo.


Sementara Tiara wanita itu terlihat terkejut, satu Minggu lagi? Apa tidak salah?


Bersambung ...


Woi mau dong otor juga punya Mamah mertua macam Nyonya Henzy, enak keknya.

__ADS_1


Wkwkwk.


Ayo ada yang mau juga gak? Wkwkwk


__ADS_2