
Teo terdiam, sial kenapa ia seperti terjebak dengan perkataannya sendiri. Tidak! Teo harus mencari alasan yang masuk akal, tapi apa?
“Bagaimana Tuan Muda? Kenapa Anda terdiam, benarkan ucapan saya barusan?” ucap Tiara lagi, senyuman penuh kemenangan terlihat dari bibir wanita itu.
“Ya, me-memang itu keinginan Zalleta juga, tapi silahkan saja kalau kamu mau membatalkannya dan menolaknya, aku yakin Zalleta akan sangat kecewa sama kamu, benar begitukan Suster Tiara?”
Cerdaskan Teo, masalah gaun saja tadi Tiara tidak bisa menolaknya, kalau tidak dirinya yang meminta wanita itu untuk ganti pakaian, pasti Tiara akan tetap memakainya, walaupun dia tidak nyaman, bukankah masalah gaun itu hanya hal sepele yang diminta oleh Zalleta, tapi Tiara mau-maunya saja menurutinya.
Kasih sayang Tiara pada Zalleta itu seperti sangat besar, jadi Teo yakin tadi Tiara hanya menggertaknya saja. karena Teo yakin wanita itu pasti tidak ingin membuat Zalleta kecewa.
Tiara terlihat berdecak kesal, “ayo cepat jalan! Bukankah kita mau pergi!” ketus Tiara.
Teo terkekeh pelan, “oke-oke calon istriku,” sahut Teo.
Wanita memang begitu ya, kalah bicara langsung emosi jiwa. Teo pun langsung melajukan mobilnya pelan.
“Kenapa bawa mobilnya pelan sekali! Tidak bisakah lebih cepat sedikit, kalau begini lebih baik kita jalan kaki saja!” Tiara yang sedari tadi kesal, jadi tambah kesal, kerena Teo membawa mobil tersebut sangat pelan, bener-bener pelan.
“Maaf, a-aku sudah lama tidak bawa mobil, aku..." ucap Teo terhenti.
Tiba-tiba saja kejadian saat ia kecelakaan bersama Zalleta terlintas jelas di benak Teo.
Tangan Teo terlihat bergetar, wajahnya juga terlihat langsung pucat, keringat dingin terlihat mengucur dari kening pria itu.
Tiara yang menyadari ada yang tidak beres, ia pun langsung meminta Teo untuk menghentikan laju mobilnya.
“Stop!"
Teo pun langsung berhenti, Tiara langsung menoleh kearah Teo.
“Kamu kenapa?” tanya Tiara terkejut, melihat kondisi Teo yang tidak baik-baik saja itu.
“A-aku baik-baik saja, maaf,” jawab Teo lirih.
Bayangan tentang kecelakaannya dulu seakan terus menghantuinya.
“Tidak!” teriak Teo histeris.
“Ada apa? Hey kau kenapa?" Tiara semakin bingung, ia tidak mengerti apa yang terjadi pada Teo, kenapa tiba-tiba Teo seperti orang yang sedang ketakutan, atau jangan-jangan...
Tiara ingat, pasti Teo teringat kembali kejadian dulu yang menimpa pria itu dengan Zellata, rasa trauma Teo pasti kambuh.
Tiara sengaja mendekat pada Teo, ia langsung membawa Teo ke dalam pelukannya, ya yang Teo butuhkan saat ini pasti ketenangan dan kenyamanan.
“Tenanglah, tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja,” ucap Tiara lembut, ia mencoba menenangkan Teo, mengusap lembut punggung pria itu.
“Aku takut Tiara, aku takut,” lirih Teo dengan suara yang bergetar.
“Tidak, kamu harus bisa melawannya, tenangkan dirimu, oke. Lawan semua itu, kamu pasti bisa, semuanya akan baik-baik saja percayalah!”
Teo pun mencoba melawan itu semua, rasa takut dan trauma yang ada di hati dan benaknya.
Hingga beberapa saat kemudian, Teo terlihat mulai tenang, Tiara pun perlahan mengurai pelukannya.
“Sudah lebih baik?” tanya Tiara.
Teo hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Lebih baik kita pulang saja ya, lain kali saja kita jalan-jalannya, aku rasa kamu butuh istirahat. Sebentar, biar aku telepon Tuan Ken, biar dia yang membawa mobilnya,” ujar Tiara, ia langsung mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Namun saat Tiara akan menelpon Ken, Teo malah menahannya.
“Jangan, kita lanjutkan saja, aku baik-baik saja,” ucap Teo.
“Ta-tapi...”
“Dengar, salama kamu bersamaku, aku yakin semuanya akan baik-baik saja, kamu percayakan sama aku Tiara?” Teo tersenyum pada wanita yang berada di sampingnya itu.
“Teo, bisakan sekali saja kamu tidak keras kepala? Aku takut, takut kalau kita kenapa-kenapa gimana?” ucap Tiara suaranya sedikit memekik. Saking kesalnya Tiara menyebut pria itu dengan namanya, bukan apa-apa Tiara hanya takut, ia mengkhawatirkan kondisi Teo.
“Bukankah kamu yang bilang aku harus melewat rasa trauma aku ini? Jika kita pulang, bukankah itu tandanya aku lemah?”
“Bukan begitu maksud aku, tapi bisa lain kali saja, aku khawatir sama kondisi kamu! Kenapa sih gak ngerti-ngerti!” kesalnya.
“Emm ... jadi calon istriku mengkhawatirkan calon suaminya. Tenang saja sayang, bukankah aku sudah bilang, kalau aku pastikan akan baik-baik saja jika bersama kamu, buktinya saja tadi aku langsung tenang di peluk sama Ayang," ucap Teo, sambil tersenyum menggoda Tiara.
__ADS_1
“Apaan sih!" Tiara langsung memalingkan wajahnya kearah samping, sumpah kenapa Tiara jadi salah tingkah begini? Padahal gombalan Teo terdengar sangat receh. Tak sadar senyuman terulas dari bibirnya.
Aaa... Teo gemas rasanya melihat tingkah calon istrinya itu. Tiara malu-malu meong deh.
“Baiklah, kita lanjutkan kita,” ucap Teo.
Lalu Teo pun kembali melajukan mobilnya, ia mencoba rileks, perlahan-lahan ia mencoba menambahkan kecepatan mobilnya.
Setalah itu tidak ada lagi pembicaraan antara keduanya, mereka sama-sama fokus dengan pemikiran mereka masing-masing.
Hingga akhirnya mereka pun sampai di salah satu Mall ternama yang ada di kota tersebut.
“Ayo turun," ajak Teo pada Tiara.
Tiara hanya mengangguk kepalanya, lalu mereka pun turun dari mobil tersebut.
“Sini jalannya jangan jauh-jauhan udah kaya social distancing saja!” Teo langsung menarik tangan Tiara dan menggenggamnya dengan erat, seakan ia tidak mau melepaskan wanita itu.
Tiara sebenarnya tidak nyamannya, tapi anehnya ia tidak bisa menolaknya. Mereka pun berjalan memasuki Mall tersebut.
“Kita mau kemana?" tanya Tiara.
“Toko perhiasan," jawab Teo.
“Hah? Untuk apa?”
“Ya untuk membeli perhiasanlah calon istriku, masa mau beli sayuran," jawab Teo asal-asalan.
“Aku serius calon suami! Kamu mau membeli perhiasan untuk siapa? Untuk Zalleta?” tanyanya.
Tiara benar-benar tidak peka!
“Sudah ikut saja, jangan banyak bicara. Oke calon istriku!”
Tiara hanya menghelai napasnya, mungkin Teo mau membelikan Zalleta perhiasan, pikirnya. Hingga akhirnya mereka pun tiba di salah satu Toko Perhiasan yang ada di Mall tersebut, tentu saja Toko Perhiasan itu, sebuah Toko ternama, bukan hanya perhiasan dari emas asli 24 karat saja yang mereka jual, tapi berlian juga tersedia di sana, dengar harga yang sangat fantastis tentunya.
“Pilihlah yang kamu suka,” titah Teo pada Tiara.
Sontak Tiara pun membulatkan matanya, bukannya Teo mau membelikan perhiasan untuk Zellata, kenapa Tiara yang harus memilihnya? Apa mungkin kerena Tiara sama-sama wanita dan ia juga sangat dekat dengan Zalleta, makanya Teo meminta Tiara yang memilihnya. Oke baiklah.
Tiara pun mulai melihat-lihat perhiasan berbentuk kalung berwarna silver tersebut. Semuanya nampak bangus, Tiara bingung harus memilih yang mana.
“Aku bingung, semuanya nampak bagus, bagaimana kalau kita pilih berdua saja, kitakan sama-sama tahu selera Zalleta seperti apa.” Tiara mengalihkan pandangan pada Teo.
“Dasar tidak peka!" ledek Teo sambil mencubit gemas hidung Tiara.
“Ih sakit tau!” rengek Tiara.
“Habisnya kamu itu gemas banget sih hemm, aku suruh pilih bukan buat Zalleta, tapi untuk kamu Tiara,” ucap Teo sambil terkekeh.
“Hah?" Tentu saja Tiara terkejut.
“Sudah jangan banyak tanya, pilih saja cepat, setalah ini kita cari makan, aku lapar," titah Teo. Dari raut wajahnya menampakan jika Teo tidak ingin mendengar penolakan dari Tiara.
Akan tetapi Tiara masih terdiam.
“Ya sudah biar aku saja yang pilihkan," ujarnya. Lalu Teo melihat-lihat perhiasan tersebut, dan beberapa saat kemudian Teo menjatuhkan pilihannya, sebuah kalung dengan liontin kecil berbentuk bulat di dalam bulatan tersebut terlihat ada dua mata berlian yang berkilau.
“Coba sini pake," ujar Teo.
Tiara hanya terdiam, Teo memakaikan kalung tersebut pada leher calon istrinya itu, kalung itu terlibat sangat indah menjutai dileher Tiara.
“Bagus,” ucap Teo tersenyum puas, ia marasa pilihnya sangat tepat.
Tanpa basa-basi lagi, Teo langsung membayar kalung berlian tersebut, Tiara membulat matanya saat mendengar nominal harga yang harus dibayar oleh Teo untuk membeli kalung tersebut. Harganya sampai ratusan juta.
‘Astaga mahal sekali, bagaimana kalau nanti Nyonya Henzy dan Tuan Smith tahu, kalau dia membeli aku kalung berlian semahal ini, ya Tuhan, bagaimana ini?’ ucap Tiara dalam hatinya.
“Wah-wah sudah lama sekalinya kita tidak bertemu?” Tiba-tiba saja terdengar suara seorang wanita seperti berbicara pada Tiara.
Sontak Tiara pun langsung membalikan badannya, terlihat satu wanita parubaya dan sepasang kekasih terlihat sudah berdiri di dekatnya.
“Ngapain kamu di sini Tiara? Ini toko perhiasan mahal loh, bisa-bisanya orang miskin sepertimu ada di sini,” ucap wanita parubaya itu lagi, tatapan terlihat merendahkan Tiara.
“Memang ada larang orang miskin tidak boleh datang ke sini?” tanya balik Tiara, ia tersenyum sinis.
__ADS_1
Sebenernya Tiara melas sekali meladeni mereka, ya mereka, siapa lagi kalau mantan Ibu mertuanya, Reyhan dan juga Lian.
“Ya tidak sih, tapi ya gak cocok aja. Kasian sekali kamu Tiara, pasti sekarang sudah jadi gembel ya, setalah berpisah dengan anak saya," ucapnya jumawa.
Teo yang sudah selesai melakukan pembayaran terlihat langsung menghampiri Tiara.
“Apa anda melihat saya seperti gembel? Tidak bukan, Anda pikir setalah saya berpisah dengan anak Anda yang bajingan itu hidup saya akan hancur. Anda salah besar, lihatlah bahkan saya jauh lebih baik, bahkan saya jauh lebih bahagia, saya menyesal kenapa tidak dari dulu saja, saya berpisah dengan anak Anda yang tidak punya hati itu!” tegas Tiara.
Mereka pikir Tiara lemah? Tidak! Tiara yang sekarang jelas sudah berbeda dengan yang dulu.
“Mah, sudahlah. Jangan cari masalah, ingat tujuan kita ke sini untuk apa!” ucap Reyhan pada Mamahnya.
“Iya Mah, benar kata Mas Rey, kita kesini untuk shoping, membeli perhiasan yang cantik-cantik, jangan layani wanita miskin dan tidak tahu diri itu, Mah,” timpal Lian.
“Apa kamu bilang? Apa saya tidak salah dengar, kamu menyebut saya tidak tahu diri! Hello Lian, seharusnya kata-kata itu tertuju untuk kamu sendiri," sinis Tiara.
“Bukankah kamu yang tidak tahu diri merebut pria milik wanita lain?” lanjut Tiara.
“Aku tidak merebut Rey dari kamu Tiara, kamu dan Reyhan kan sudah berpisah. Bilang saja kamu pasti irikan sama aku, kerena Rey lebih memilih aku dari pada kamu, oh iya satu lagi, aku lagi mengandung darah daging dari Rey loh, dan kami akan segara menikah, kami ke sini untuk membeli cincin pernikahan kami,” ujar Lian tanpa tahu malunya.
Tiara tertawa sumbang, “Lian, Lian, hamil diluar nikah kok bangga! Lucu sekali sih kamu. Lagian mau kalian menikah ke mau apa kek, terserah, aku tidak peduli. Kenapa kamu harus membeberkannya? Benar-benar tidak tahu malu!”
“Kurang ajar kamu!" Mantan Ibu mertua Tiara terlihat mengangkat tangannya, dan mengarahkan pada Tiara.
Akan tetapi tangan wanita parubaya itu di tahan oleh seseorang.
“Berani kamu menyentuh calon istriku, akan aku patahkan tanganmu nenek tua!” ancam Teo.
Lalu Teo menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar, tatapannya menatap mantan ibu mertua Tiara dengan tajam.
Sejak tadi Teo memang sengaja diam dan mendengar percakapan mereka, dan sekarang Teo tahu, ternyata mereka adalah mantan suami Tiara dan mantan ibu mertuanya, serta wanita yang bersama mereka, sudah bisa diyakini jika wanita itulah orang ketiga yang menghancurkan pernikahan Tiara dulu.
“Sudah Sayang, jangan melayani orang-orang tidak waras ini, lebih baik kita pergi, terima kasih ya untuk kalung berliannya, aku sangat suka sekali, I Love You calon suamiku," ucap Tiara pada Teo, ia melingkarkan tangannya ke tangan Teo.
Sengaja Tiara memarkan kalung yang dibelikan oleh Teo tadi. Mampus kepanasan kan pasti mereka semua, pikirnya.
Mantan Ibu serta suaminya terlihat membulatkan mata mereka, begitu juga dengan Lian.
“Ra, apa aku tidak salah dengar?” tanya Reyhan, ia begitu terkejut saat Tiara memanggil pria tersebut dengan sebutan sayang, dan pria itu menyebut Tiara sebagai calon istrinya.
“Benar, Tiara adalah calon istriku, oh iya terima kasih sudah melepaskan Tiara. Seperti Tiara sangat beruntung bisa lepas dari suami dan Ibu mertuanya yang durjana seperti kalian." Bukan Tiara yang menjawab melainkan Teo.
“Sama barang bekas aja bangga!” ledek Ibunya Reyhan.
Sungguh perkataan mantan ibu mertuanya itu membuat Tiara sangat sakit hati, Teo yang menyadari itu semua, ia langsung mengampit tubuh Tiara agar lebih dekat dengannya dan melingkar tangannya di pinggang Tiara.
“Kanapa memang kalau barang bekas? Ada yang salah. Saya tidak keberatan dengan masa lalu calon istri saya. Saya mencintainya. Dan satu hal lagi, barang bekas masih bisa di duar ulang, apa lagi jika di daur ulang oleh orang yang tepat, barang bekas akan seperti barang yang sangat berharga, dan dipastikan semua orang pasti akan menginginkannya. Lebih baik dapat barang bekas bukan, dari pada barang segel tapi murahan?” ucap Teo, tatapannya teralih pada Lian.
“Barang bekas tetap saja berang bekas, sebagus apa pun mendaur ulangnya, tetap saja akan menjadi sampah!” pekik Ibunya Reyhan.
“Anda salah Nyonya, Tiara bukan barang, jadi tidak berlaku kata-kata anda itu. Tiara seorang wanita yang disia-siakan oleh kalian semua, kalian semua bodoh, membuang berlian demi batu kerikil seperti dia!" Teo sudah tidak bisa lagi menahan gejolak emosinya. Tentu saja ia tidak terima mereka merendahkan Tiara.
“Hey memangnya kau siapa? Berani sekali kau menghina calon menantuku? Bangga sekali kamu bisa mendapatkan si Tiara!” bentak Ibunya Reyhan.
“Tentu saja saya bangga, Tiara wanita baik dan berharga untuk saya, jadi jaga bicara anda. Dan anda mau tahu siapa saya? Lihat saja nanti kalian juga akan tahu siapa saya, dan kamu," Teo menunjuk pada Reyhan, “Kau akan mendapatkan batunya kerena ulah Ibumu tidak punya etika ini!” lanjutnya mengancam Reyhan.
“Sudah lebih baik kita pergi," bisik Tiara pada Teo, kini mereka sudah menjadi pusat perhatian di sana.
“Tidak, mereka harus diberi pelajaran," tolak Teo.
“Sudah jangan melayani orang gila seperti mereka, nanti kita disangka orang gila juga," keukeh Tiara.
Teo menghelai napas beratnya, akhirnya Teo pun menurut permintaan Tiara, mereka pun beranjak dari sana.
“Dasar sok-sok ngancam, memang siapa dia? Sok berkuasa!” ucap mantan Ibu mertuanya Tiara sambil menatap kepergian Tiara dan Teo dari tempat tersebut.
Setalah menjauh dari tempat tersebut, tangis Tiara langsung pecah. Ia menangis bukan kerena sakit hati melihat Reyhan dengan Lain, tidak bukan itu, tapi perkataan mantan Ibu mertuanya yang sangat kejam itu, begitu sangat menyakiti hatinya.
“Sudah jangan menangis," ucap Teo lembut, ia langsung menarik Tiara ke dalam pelukannya.
‘Jadi namanya Reyhan, baiklah aku akan tahu cari siapa dia sebenernya, lihat saja aku akan menghancurkan kalian semua, karena kalian sudah membuat wanitaku menangis!’ ucap Teo dalam hatinya penuh dengan amarah dan dendam.
Bersambung...
Like woy like, komen juga woy.
__ADS_1
Ini 2 bab, aku gabung yee..
Jadi jangan bilang up kilat seperti petir oke, wkwkwkwk