
Seorang wanita terlihat berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam sebuah Caffe ternama yang ada di kota tersebut.
Tatapannya menyapu setiap sudut area Caffe tersebut. Ia menarik ujung bibirnya tersenyum tipis, berjalan seraya mengoptimalkan deru napasnya yang ngos-ngosan itu.
Kakinya melangkah ke sebuah meja yang ada di sudut Caffe tersebut, di mana di sana sudah ada seorang laki-laki yang duduk, dengan mata yang fokus dengan benda canggih yang ada di tangannya.
"Nona terlambat 15 menit, cepat katakan apa keperluan Nona," ujar Ken, ketika Tiara sampai di depannya. Tatapan pria itu tidak teralih dari ponsel yang ada di tangannya.
"Maaf, tadi ada urusan sebentar. Jadi saya terlambat. Apa anda tidak mempersilahkan saya duduk? Saya sudah berjalan satu kilo meter untuk ke sini, kaki saya pegal!"
Ken berdecak pelan, lalu mengalihkan pandangan dari layar ponselnya itu.
"Duduklah!" pintanya dengan raut wajah tanpa ekspresi.
Tiara menganggukkan, lalu ia menarik kursi yang ada di hadapan laki-laki itu, dalam hati ia menggerutu. Kalau keadaan mendesak, Tiara tidak mau bertemu dengan laki-laki itu, laki-laki tampan, tapi sikapnya seperti es batu, dingin. Sangat menyebalkan bukan?
"Katakan apa yang ingin Nona sampaikan? Saya tidak ada waktu banyak, masih banyak hal yang penting yang harus aku urus!" pinta Ken, terdengar penuh penekanan.
"Baiklah, aku juga bingung mau memulai dari mana," ucap Tiara, lalu ia memberikan sebuah berkas yang tadi ia bawa. "Ini, ini adalah surat persetujuan dari pihak Rumah Sakit, jika aku sudah resmi tidak kerja di sana lagi."
Ken menatap berkas yang ada di hadapannya itu.
"Lalu kenapa Nona memberikannya pada saya?"
"Ya aku hanya ingin memberitahu anda jika aku sudah tidak berkerja lagi di sana. Semua urusanku sudah beres! Dan aku sudah siap berkerja dengan Tuan Smith, untuk merawat putranya itu," jelas Tiara.
"Apa Nona ingin bertemu dengan saya hanya untuk menyampaikan hal ini saja?"
"Emm tidak. Ada hal lain yang ingin aku sampaikan---" Tiara menjeda ucapannya, ia merasa ragu untuk mengatakan hal lain yang ia maksud itu.
Ken diam seraya memperhatikan wanita yang ada di hadapannya itu, menunggu Tiara untuk melanjutkan ucapannya.
"Apa aku boleh meminjam uang terlebih dahulu? Emm, maaf sebelumnya jika aku lancang dan tidak tau diri, ini keadaanya sangat mendesak," sambungnya.
"Uang?"
__ADS_1
"Heem, itu pun jika boleh, tapi aku berharap kalian memberikannya, kerena hanya kalianlah yang jadi harapan aku satu-satunya. Tapi, kalau tidak bisa, aku tidak akan memaksa."
"Ucap Nona barusan sama saja dengan memaksa. Berapa yang Nona butuhkan?"
"Tidak banyak." Tiara seperti mendapat sebuah harapan saat Ken menanyakan berapa nominal yang ia butuhkan.
"Ya, berapa?"
"Hanya satu milyar," jawab Tiara.
"Apa?" Ken nampak terkejut saat Tiara mengatakan berapa nominal uang yang wanita itu butuhkan.
"Bukankah itu nominal yang tidak banyak untuk Tuan-mu? Aku mohon Tuan Ken, tolong bantu aku, aku benar-benar membutuhkan uang itu." Tiara memasang wajah memperihatinkannya pada laki-laki yang ada di hadapannya itu, entahlah. Ia tidak peduli Ken akan menyebut seperti apa dirinya itu. Tapi Tiara benar-benar membutuhkannya, hanya Tuan Smith lah hadapannya satu-satunya. Lagian ia bukan meminjam cuma-cuma, Tiara pasti akan membayarnya nanti jika ia sudah berkerja pada Tuan Smith.
"Apa Nona gila? Untuk apa meminjam uang sebanyak itu? Bagaimana Nona akan membayarnya nanti? Dengan berkerja pada Tuan saya? Nona berkerja saja belum? Kita belum lihat bagaimana kerja Nona bagus atau tidak? Bagaimana kita bisa percaya pada Nona untuk meminjamkan uang dengan nominal uang sebanyak itu?" Ken memberikan beberapa pertanyaan pada Tiara, seperti wajah Tiara yang memelas itu tidak membuat serang Kendy Trisna luluh, atau merasa kasihan padanya.
"Iya aku tau, aku tidak tau diri, tapi aku sangat membutuhkannya. Aku berjanji akan berkerja dengan sangat baik nanti, kalau perlu aku akan berkerja seumur hidupku, mengabdi pada Tuan mu, aku tidak masalah, asalkan aku bisa mendapatkan uang itu sekarang juga. Ayolah Tuan Ken, aku mohon bantu aku, bukankah uang segitu tidak terlalu banyak untuk lain orang yang berada?"
"Tidak! Nona salah, uang nominal satu Milyar itu sangat berharga, karena kami juga mendapatnya dengan kerja keras! Dan Nona belum saja berkerja keras, tapi sudah ingin mendapatkan uang itu!"
Mata-mata Tiara kini sudah berkaca-kaca, mau berbicara lagi rasanya ia tidak sanggup. Seperti tidak ada harapan dari mereka.
Helaian nafas berat terdengar terhembus dari laki-laki yang ada dihadapan Tiara itu. Entahlah, Ken merasa kasian juga padanya, tapi apakah Tiara bisa dipercaya?
"Baiklah, saya akan coba membantu anda Nona, saya akan bicarakan hal ini pada Tuan Smith. Tapi anda harus katakan juga, untuk apa uang tersebut? Apa alasannya? Jika alasannya tidak masuk akal, maaf saya, saya tidak akan membantu anda Nona."
Ucapan Ken barusan, membuat setitik harapan timbul lagi di hati Tiara. Tapi, apakah harus Tiara mengatakan jika uang itu untuk menganti biaya pengobatan Tari pada Reyhan?
"Katakan atau saya akan berubah pikiran." lanjut Ken.
"Ah iya, baiklah. Sebenarnya uang itu untuk membayar hutang saya Tuan Ken."
Benerkan Tiara tidak salah berbicara, ia tidak berbohong. Kerena memang seolah kini ia punya hutang pada Reyhan.
"Hutang? Sebanyak itu? Meminjam pada siapa anda Nona? Lintah darat?"
__ADS_1
"Ya mungkin bisa di katakan seperti itu," jawab Tiara.
Tiara rasa Reyhan tidak ada bedanya dengan lintah darat, bahkan lebih dari itu, bayangkan saja biaya pengobatan Tari selama beberapa tahun ini tidak sampai 1 milyar, hanya seperempat dari nominal itu, itu pun seperti tidak.
"Siapa lintah darat itu?" tanya Ken. Ia cukup kenal dengan beberapa lintah darat yang ada kota tersebut. Tuan Smith tentu sangat di segani oleh mereka, Ken rasa ia bisa menyelesaikan masalah Tiara, tanpa harus memberikan uang berjumlah cukup besar itu, ia akan membantu membayar uang pokok yang di pinjam oleh wanita itu saja. Karena Ken yakin, jumlah sebayak itu pasti sudah mereka lipat gandakan dengan bunga yang tidak masuk dalam logika, lintah-lintah darat memang terkenal licik bukan?
"Apa harus aku memberitahu?" tanya Tiara.
"Tentu saja, karena ini untuk pertimbangan nanti saat saya berbicara pada Tuan Smith!"
"Reyhan." jawab Tiara.
"Reyhan?" Ken nampak berpikir sejenak, ia rasa ia tidak pernah mengenal lintah darat yang bermana Reyhan.
"Di mana dia tinggal?"
"Di rumahnya lah Tuan Ken, di mana lagi?"
"Ya maksud saya tempat Rumahnya itu dimana?" Ken terlihat kesal.
"Ya di Rumah tempat aku dan dia dulu tunggal. Di perumahan X," jelas Tiara.
Ken mengernyitkan dahinya, ia mencoba mencerna ucapannya wanita yang ada di hadapannya itu.
"Reyhan mantan suami saya, Tuan Ken!" lanjut Tiara.
Ken terlihat shock, apa-apaan ini?
Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan votenya geas....
Nantikan Tiara update lagi malam hari.
Babay...
__ADS_1