
Dara terdiam, lagi-lagi ia merasa ragu untuk memberitahukan tentang Tuan Mudanya yang sudah bisa bicara lagi itu.
Bagaimana jika nanti setalah Tuan Smith dan Nyonya Henzy tahu, Tiara akan disuruh untuk berhenti kerja di sana? Eh tapi, bukankah ia sudah menandatangani surat kerjanya sebelumnya.
Tiara pun memantapkan hati kembali, lebih baik ia jujur kepada Tuan Smith dan Nyonya Henzy mengenai kondisi Teo, rasanya ia tidak enak jika menyembunyikan ini semua menginginkan kebaikan kedua orang itu. Dan masalah ancaman Teo, Tiara rasa itu tidak perlu ditakutkan, toh Tuan Smith dan Nyonya Henzy pasti akan membelanya, dan yang memperkerjakan Tiara serta menggajihnya juga bukan Teo, melainkan mereka.
“Suster Tiara, kok malah bengong? Kenapa kondisi Toe?” tanya Nyonya Henzy. Wanita parubaya itu masih menatap Tiara.
Dan hati sebenernya baik Nyonya Henzy dan Tuan Smith sudah tahu kemana arah bicara Tiara, kerena selama ini memang mereka diam-diam selalu memantau Tiara dan Teo lewat CCTV yang Tuan Smith pasang. Tapi, mereka memilih untuk bungkam saja. Mereka juga ingin tahu bagaimana Tiara menyikapi ini semua, tentang kejujuran Tiara, mereka pun tahu jika Tiara itu diancam oleh putra mereka.
“Se—sebenarnya, Tuan Muda sudah bisa—”
“Selamat siang Tuan, Nyonya.” Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang menyela ucapan Tiara.
Tiara, Nyonya Henzy dan Tuan Smith pun langsung mengalihkan pandangan mereka ke pusat suara tersebut, di lihatnya Ken sudah berada di sana.
“Ken, sini-sini duduk,” pinta Nyonya Henzy, ia terlihat begitu antusias menyambut kedatangan Kendra.
Ken tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, ia pun bergegas menghampirinya mereka duduk di sofa yang berada di sebelah Tiara.
Dalam hati Tiara juga ingin menanyakan banyak hal pada Ken mengenai kondisi Tari, tapi rasanya tidak mungkin ia menanyakan sekali, tidak enak dengan Tuan Smith dan Nyonya Henzy.
“Gimana kondisi Adiknya Suster Tiara?” tanya Tuan Smith.
“Kondisinya jauh lebih baik, Tuan. Nona Tara sangat bersemangat untuk menjalankan pengobatannya, saya yakin Nona Tari akan cepat sembuh,” jawab Ken.
“Ah syukurlah. Semoga saja Tari bisa bener-bener sembuhnya,” ucap Nyonya Henzy.
“Oh iya Tuan, Nyonya, apa saya bisa bicara dulu dengan Suster Tiara, ada yang ingin saya sampai.” Ken meminta izin pada Tuan Smith dan Nyonya Henzy. Ada satu hal yang ingin Ken tanyakan pada wanita itu.
Tiara langsung menatap Ken usai mendengar ucapan pria itu.
Sementara Tuan Smith dan Nyonya Henzy mereka hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, kalian bicara saja. Saya juga mau ada bersiap-siap, hari saya dan istri saya akan menghadiri undangan dari rekan bisnis kita,” ujar Tuan Smith.
“Apa mau saya antar, Tuan?” tawar Ken.
__ADS_1
“Tidak udah Ken, kamu istirahat saja. Saya tahu kamu lelah,” tolak Tuan Smith.
Ken pun mengangguk kepalanya, setalah itu Tuan Smith dan Nyonya Henzy pun beranjak dari sana.
“Anda mau bicara apa, Tuan Ken?” tanya Tiara.
“Bagaimana kondisi Tari? Dia baik-baik sajakan?” lanjut Tiara mencerca pria itu.
Ken terlihat menghelai napasnya, kenapa seorang wanita selalu begini? Tidak sabaran!
“Bukankah saya sudah bilang, jika kondisi adik Nona sudah lebih baik!” jawab Ken, dengan ekspresi wajah yang datar.
‘Ck!’ umpat Tiara dalam hatinya. Iya, ia tahu. Maksud Tiara, ia ingin tahu kondisi Tari lebih detailnya. Setidaknya Tiara itu seorang suster, dia sangat tahu kondisi Tari secara medis itu seperti apa! Tari mengalami kanker otak stadium akhir, ia sangat sulit untuk disembuhkan. Ya memang jika Tuhan sudah mengharuskan Tari sembuh, tidak ada yang tidak mungkin, tapi jika bicara soal medis, tentu saja semua itu hal yang sulit.
“Apa Tari adik kandung Nona?” tanya Ken.
Tiara langsung menatap Ken penuh tanya. Apa maksudnya Ken bertanya seperti itu?
“Dia adik kandungku,” jawab Tiara berbohong. Sengaja ia tidak mengatakan yang sebenernya, padahal dalam hati Tiara rasa, ia tidak perlu menjawab itu semua. Bukannya bagi orang-orang seperti Ken mencari informasi seperti itu sangatlah mudah?
“Jangan berbohong!”
Ken tersenyum tipis, lalu menatap Tiara.
Tiara yang melihat Ken menatapnya, ia mengerutkan keningnya.
“Kenapa?”
“Apa Nona bisa ceritakan bagaimana awal mula Nona bertemu dengan Nona Tari?” tanya Ken balik. Kini tatapan Ken berubah, menatap Tiara penuh harapan.
“Untuk apa?”
“Pokoknya ceritakan saja!” tegas Ken. Tatapan berubah menjadi tajam.
‘Ini orang kenapa sih? Datang-datang kok jadi aneh begini? Untuk apa dia mencari tahu tentang hal ini? Eh tapi tunggu, apa aku ceritakan saja ya sama Tuan Ken, siapa tahu dia bisa mencari tahu informasi tentang identitas asli dari Tari, walau bagaimana pun Tari harus bertemu dengan keluarganya,’ batin Tiara.
“Suster Tiara apa anda mendengar saya?!” ucap Ken lagi.
__ADS_1
“Ah iya, baiklah saya akan menceritakan semuanya. Asalkan ada syaratnya,” ujar Tiara.
“Syarat?” Ken mengerut keningnya mendengar ucapan wanita itu.
“Iya,” jawab Tiara.
“Baiklah, katakan.”
“Aku ingin Tuan Ken—”
“Stop!” sela Ken, memotong ucapan Tiara. “Nanti saja katakan syaratnya, ceritakan dulu semua sama saya!” lanjut Ken, suaranya terdengar mengeluarkan aura yang mengerikan.
Tiara hanya menahan kesalnya, setalah itu ia pun menceritakan semuanya pada Ken.
Ken terlihat begitu serius mendengarkan setiap kalimat yang terucap dari bibir wanita itu. Fix, setalah mendengar cerita Tiara, Ken sangat yakin jika Tari adalah Zalleta.
“Seperti itu ceritanya, sampai saat ini saya masih mencari mencoba mencari informasi tentang keluarga Tari, tapi saya tidak menemukan apa pun, terlebih tidak ada cela untuk menemukan informasi itu,” ucap Tiara, diakhiri kalimat suara terdengar sangat lirih.
“Apa ada satu barang yang bisa dijadikan informasi?” tanya Ken.
“Barang?” Tiara terlihat berpikir sejenak. Barang apa yang dimaksudkan oleh Ken.
“Iya, misalnya pada saat Nona menemukan Nona Tari, dia memakai apa, kalung mungkin, atau apa gitu?” jelas Ken.
Ah iya Tiara baru ingat. “Sebentar,” ucap Tiara. Setalah itu Tiara pun langsung beranjak dari sana, Ken hanya menatap kepergian wanita itu dengan tatapan bingung.
Tiara langsung menuju kamarnya, ia mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. Setalah mengambil barang tersebut, Tiara pun kembali menghampiri Ken.
“Ini, saat saya menemukan Tari, saya menemukan ini, dia memegangi benda ini.” Tiara memberikan sesuatu pada Ken, yang tak lain adalah benda yang ia ambil tadi.
Benda tersebut adalah sebuah liontin berbentuk love. Ken mengambil benda tersebut, lalu mengamatinya.
“Sepertinya di dalam liontin tersebut ada satu petunjuk, tapi dari dulu saya sudah mencoba membukanya itu sangat sulit, seperti harus memakai kunci untuk membukanya, lihatlah di tengahnya seperti ada lubang kunci bukan? Saya juga sudah mencoba ke tukang kunci untuk meminta membuatkannya, tapi dia bilang tidak bisa, kerena itu harus benar-benar dibuka dengan kuncinya yang ori, katanya liontin itu seperti dibuat khusus,” jelas Tiara.
“Apa itu Ken?” tanya Nyonya Henzy pada Ken sambil merebut liontin tersebut dari tangan Ken.
Bersambung....
__ADS_1
Like, votenya geas.
Ayo ramaikan kolom komentar.