Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 61. Drama Sang Mantan


__ADS_3

Teo hanya mengangguk sambil tersenyum sinis menyahut ucapan calon istrinya itu.


“Ah Sayang kamu itu payah, aku pikir kejutan apa, kalau kejutan begini sih, aku sama sekali tidak tertarik! Lebih baik kamu usir saja mereka Sayang,” sambung Tiara. Ia menatap Teo dengan mata menggodanya.


“Baiklah,” ucap Teo. “Kalian dengarkan barusan apa kata calon istri Saya, silahkan kalian keluar dari sini!” lanjut Teo pada Rey dan Lian.


“Tiara diamlah, aku ke sini tidak ada urusan sama kamu, aku ke sini ada urusan bisnis dengan Pak Mateozy," protes Reyhan.


“Bisnis apa? Kerjasama kita sudah selesai. Saya sudah tidak ada urusan lagi dengan anda Pak Reyhan!” timpal Teo.


“Pak saya mohon, tolong jangan libatkan urusan bisnis dengan masalah pribadi!” pinta Rey memohon.


Apa pun caranya Reyhan harus bisa membujuk Teo dan Ken, agar perusahannya tetap terselamatkan.


“Iya benar anda sangat tidak profesional Pak Mateozy dan anda juga Pak Kendra. Apa istimewanya Tiara sehingga kalian lebih memilih mengakhiri kerjasama sama kita, jelas bisnis ini sangat menguntungkan, dan apakan wanita itu sangat menguntungkan untuk kalian, dia itu hanya wanita miskin yang selalu memaafkan orang-orang seperti kalian berdua. Buktinya saja dulu dia menjadikan Reyhan sebagai mesin ATM-nya untuk membiayai adiknya yang penyakit itu, dia itu wanita benalu!” timpal Lian.


“Jaga ucapan kamu Lian, aku tidak pernah memaafkan Reyhan, aku tidak pernah memaksa dia untuk membiayai adikku saat kami masih menikah! Selama ini aku hanya diam melihat tingkah kamu Lian, tapi saat ini kamu benar-benar keterlaluan, kau sudah membuat kesabaranku habis, apa tidak cukup kau menghancurkan pernikahan dulu dengan Reyhan hah? Dan satu lagi jangan sebut aku wanita benalu, bahkan aku sudah membayar semua biaya yang Reyhan keluarkan dulu untuk adikku, aku sudah membayar dengan nominal yang calon suami kamu itu mau, paham kamu, sekali lagi kau tidak bisa menjaga ucapanmu, aku akan membuat perhitungan pada kamu Lian!” pekik Tiara.


Tiara sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, sejak dulu ia selalu diam saat wanita yang bernama Lian itu selalu menghinanya, tapi saat ini kesabaran Tiara sudah benar-benar habis menghadapi sikap wanita tidak tahu diri itu.


Bukan hanya Tiara yang hilang kesabarannya, seperti Teo dan Ken juga, namun mereka masih tetap diam, sengaja agar memberi waktu Tiara untuk meluapkan amarahnya terlebih dahulu pada Reyhan dan Lian.


“Kenapa kau marah, apa kau masih mengharapkan Reyhan?" tanya Lian dengan angkuhnya, menatap Tiara remeh.


“Hahaha ... ” tawa Tiara menggema.


“Mengharapkan dia?" Tiara menunjuk kearah Reyhan, “dalam mimpiku aku tidak pernah lagi mengharap laki-laki seperti dia! Laki-laki perhitungan, laki-laki tidak setia, laki-laki yang tidak bisa dipercaya, laki-laki yang ... ”


“Cukup Tiara!" bentak Reyhan memotong ucapan Tiara yang belum usai. Tentu saja Reyhan tidak suka dengan tuduhan Tiara tersebut, ya walaupun sebenernya itu benar, tapi Reyhan yang egois itu selalu ingin memang sendiri dan tidak mau disalahkan.


Jujur dalam lubuk hati yang paling dalam Reyhan masih mencintai Tiara sampai detik ini.


“Kenapa? Kau tidak terima Reyhan, bukankah yang aku katakan itu benar? Apa kau masih belum sadar juga!" sinis Tiara.


Reyhan terlihat menghelai napasnya, “Tiara kenapa kamu jadi seperti ini sih? Kanapa kamu berubah? Kamu tidak seperti yang Tiara aku kenal dulu!”


“Rey kamu itu apa-apa sih!" ucap Lian, tentu saja ia tidak suka dengan sikap Reyhan pada Tiara, yang seakan dari ucapnya itu masih mengandung benih cinta.


“Diam kamu!" bentak Reyhan pada Lian.


“Sudah cukup!" Teo mengeluarkan suara, ia benar-benar sudah geram.

__ADS_1


Semua orang langsung menatap kearah Teo.


“Apa sudah selesai berdramanya? Kalian berdua keluar dari sini!” pinta Teo pada Reyhan dan Lian dengan tatapan yang tajam.


Namun kedua orang itu masih terdiam. Jelas mereka tidak akan keluar, kerena belum ada kejelasan, pikirnya.


“Apa kalian tidak punya telinga hah?” pekik Teo.


“Ma-aaf Pak Mateozy, tapi bukankah kita belum mendapatkan kejelasan tantang masalah kita?” sahut Reyhan.


Benar-benar tidak punya malu lelaki itu.


“Kejelasan apa lagi hah? Kita sudah selesai, saya tidak sudi berkerjasama dengan perusahaan anda! Terlebih kalian berdua tidak punya etika, berani membuat masalah dengan di tempat kekuasaan saya!”


'Sial ini gara-gara Lian, kalau saja dari tadi dia diam pasti tidak akan rumit seperti ini, kalau sudah begini aku harus bagaimana? Hancur, semuanya hancur!’ batin Reyhan kesal.


Sementara Tiara ia terlihat melipat kedua tangannya, ia sangat puas melihat Reyhan yang tidak bisa berkutik, kini Tiara juga mengerti apa yang terjadi.


‘Selamat hancur sang mantan!’ ucap Tiara dalam hatinya.


“Keluar kalian sekarang!” Ken membentak Reyhan dan Lian.


Terlihat kedua orang itu tersentak, bukan hanya mereka, Tiara dan Teo pun ikut tersentak.


“Keluar sekarang secara terhormat atau saya akan panggilkan petugas keamanan untuk menyeret kalian berdua seperti sampah!” bentak Ken lagi.


Terlihat Lian beranjak dari tempat duduknya, sementara Reyhan masih bergeming, tekatnya ia tidak akan keluar dari sini sebelum mereka mengabulkan permintaannya. Bagaimana nasibnya jika semua ini tidak membuahkan hasil, jelas dia akan menjadi gelandangan, rumah yang ia tinggali pasti akan dijual, untuk membayar tunggakan pembayaran perusahannya pada perkerjanya.


“Rey ayo," Lian menarik tangan Reyhan.


Reyhan langsung menepis tangan Lian, lalu pria itu beranjak dari tempat duduknya, lalu ia menghampiri Teo dan Ken.


“Tolong, tolong kasihani saya, hanya kalian yang bisa menyelamatkan saya,” mohon Reyhan.


Tak disangka Reyhan bahkan rela menjatuhkan harga dirinya, ia bersujud di kaki Teo dan Ken.


Lian terlihat membulatkan matanya tak percaya, bukan hanya Lian, Tiara pun merasakan hal yang sama, namun keterkejutannya Tiara seketika berubah menjadi senyuman puas, mungkin itu karma untuk orang seperti Reyhan.


“Ken, panggil petugas keamanan,” titah Teo pada pria itu.


Ken mengangguk, lalu menghubungi petugas keamanan di kantornya.

__ADS_1


Kedua pria itu nampak acuh melihat Reyhan yang kini masih bersujud di kaki mereka itu. Terkesan tidak punya hati, tapi mereka pikir, Reyhan memang pantas menerima semuanya, kasihan ada, tapi orang seperti Reyhan jika dikasihani pasti nantinya akan menginjak kepala, sudah terlihat dari sikapnya.


“Rey bangunlah, jangan seperti ini, tidak pantas kamu merendah diri dihadapan kedua manusia tidak punya hati ini,” ucap Lian. Ia kembali menarik tangan Reyhan, agar pria itu berdiri.


“Diam kamu Lian, semua ini gara-gara kamu. Kalau tidak seperti ini aku akan hancur Lian.” Lagi-lagi Reyhan menepis tangan wanita itu.


Sementara Ken dan Toe serta Tiara, mereka terlihat menatap malas. Drama lagi, Drama lagi!


Hingga beberapa saat kemudian dua petugas keamanan terlihat datang.


“Bawa orang gila ini, dan kalian berdua lihat baik-baik wajah kedua orang ini, jangan sampai dia masuk atau menginjakkan kaki ke tempat ini!” titah Teo pada kedua petugas pengamanan tersebut.


Keduanya langsung menganggukkan hormat, setalah itu langsung membawa Reyhan dan Lian. Reyhan terdengar berteriak-teriak, pria itu masih memohon.


Namun lagi-lagi Teo dan Ken tidak menghiraukannya, mereka berdua malah menutup kedua telinganya dengan tangan.


“Mengerikan!” ucap Ken, tanpa pamit Ken langsung beranjak keluar dari ruangan Teo.


Ya kali dia mau jadi nyamuk lagi, ogah!


Teo dan Tiara terlihat memandangi Ken yang berlalu tanpa pamit itu.


“Sini,” pinta Teo pada Tiara, ia menepuk sofa yang disampingnya meminta calon istrinya itu duduk.


Tiara mengangguk, lalu menghampirinya.


Teo langsung memeluk Tiara.


“Apa sekarang sudah lebih lega?” tanya Teo, suaranya terlihat sangat lembut.


Tiara yang masih dalam pelukannya mengangguk. Teo mengusap lembut kepala Tiara.


“Baiklah ayo kita ke butik sekarang,” ajak Teo, perlahan ia melepaskan pelukannya pada Tiara.


Cup.


Tiara mendaratkan kecupan di pipi Teo, Teo langsung terkejut diam membisu.


“Terima kasih,” ucap Tiara tulus, wajahnya terlihat memerah.


‘Ya ampun kenapa aku berani sekali, ah memalukan,’ lanjutnya dalam hati.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2