Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 56. Lebih Cepat Lebih Baik


__ADS_3

“Maaf, apa ini tidak terlalu cepat?” tanya Tiara, ia merasa benar-benar belum siap.


“Bukannya lebih cepat lebih baik, iya gak?” balik tanya Mamah Henzy, mendapatkan anggukan dari semua orang.


“Iya benar loh, Kak. Menikah itukan ibadah, niat baik juga gak boleh di tunda-tunda, lebih dapat lebih baik juga. Aaa ... aku gak sabar deh mau lihat Kakak sama Kakak Teo bersanding di pelaminan nanti,” timpa Zalleta begitu antusias.


Kalau sudah begini, Tiara biasa apa? Ya sudah pasrah saja. Semoga saja semua ini awal yang indah, dan akan berakhir indah.


“Jadi semuanya sudah setuju ya?” tanya Tuan Smith, langsung mendapat anggukan dari semua orang.


Begitu juga dengan Tiara, ia terlihat malu-malu menganggukkan kepalanya.


“Oke, besok kalian ke butik untuk fitting baju pengantin kalian ya, oke Teo dan Tiara.”


“Oke Mah,” jawab Teo dan Tiara bersamaan.


“Cie ... cie ... kompak, ih so sweet dah, ah aku juga jadi pengen nikah deh,” ujar Zalleta.


“Nikah, anak bau kencur mau nikah!” sahut Teo.


“Enak aja bau kencur,”


“Sudah-sudah jangan bertengkar, Za sebaiknya kamu istirahat sana,” sela Mamahnya memotong ucapan Zalleta.


“Ken anterin Zalleta ke kamarnya gih," lanjutnya pada Kendra.


Ken mengangguk, lalu ia pun mengantar Zalleta ke kamarnya untuk beristirahat.


“Kamu juga Teo, Tiara, istirahat sana, nanti kalau makan malam udah siapa, kita panggil,” titahnya.


Teo dan Tiara pun mengangguk, lalu mereka pun beranjak dari sana.


Kini hany tinggal Nyonya Henzy dan Tuan Smith yang masih berada di sana.


“Akhirnya yang Pa, anak kita mau menikah juga,” ujar Nyonya Henzy pada suaminya.


“Iya, Mah. Oh iya, ada sesuatu yang ingin Papa sampaikan sama Mamah.”


“Apa?”


“Tadi Ken bicara sama Papa, Papa akui dia cukup berani,”


“Memangnya apa Pa, yang Ken bicarakan sama Papa?” sela sang istri.

__ADS_1


“Ya bentar dong, jangan di potong dulu ucapan Papa.”


“Oke-oke, baiklah.”


“Tadi Ken bicara empat mata sama Papa, dia melamar Zalleta, katanya dia sudah suka sama Zalleta sejak dulu, Mah.”


“Mamah sudah mengira hal ini memang pasti terjadi Pa, hanya saja ... ” istrinya itu menjeda ucapannya.


“Ya, Papa faham maksud, Mamah. Itulah yang Papa takutkan juga, apa lagi tadi Dokter memberikan hasil pemeriksaan baru tentang penyakit Zalleta,” sambung Tuan Smith, helaian napas beratnya terdengar dari pria parubaya itu.


“Mamah takut, Pa,” lirih Nyonya Henzy.


“Ya, Papa pun, kita pasrah saja sama yang maha kuasa, Mah. Yang penting kita harus tetap optimis, yakin jika Zalleta pasti akan sembuh, kita sudah berusaha semaksimal mungkin, dan hasilnya kita serahkan saja pada sang pemilik nyawa.”


Perkataan Tuan Smith tentu saja membuat hati istrinya merasa teriris. Mereka tidak mempermasalahkan Ken yang menyukai Zalleta, bahkan secara jantan Ken langsung mengutarakan pada Tuan Smith, mereka tentu saja bahagia dengan hal itu, tapi mengingat kondisi Zalleta saat ini, rasa tidak mungkin menerima lamaran Ken saat ini.


Terlebih sebenernya kondisi Zalleta kian hari kian memburuk, akan tetapi Zalleta terlihat mencoba melawan semuanya, ia berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang.


Dan inilah alasan Tuan Smith yang belum memberikan jawaban pada Kendra, ia hanya takut hal yang buruk terjadi pada Zalleta.


Bahkan Dokter saja sudah memberi peringatan, kanker yang diderita oleh Zalleta semakin menyebar keorgan tubuh yang lainnya, kemungkinan untuk sembuh sangatlah sedikit, memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Tuhan berkehendak, akan tetapi terkadang medis juga harus dijadikan sebagai acuan.


Ia takut bagaimana kalau Zalleta pergi? Mereka semua jelas akan merasa kehilangan, dan jika Zalleta pergi dengan status sebagai tunangan Ken, bagaimana perasaan Ken jika ditinggalkan Zalleta, jika mereka menerima lamaran Ken, tentu saja itu membuat harapan Ken semakin besar bukan? Lalu bagaimana jika benar Zalleta pergi? Mereka tidak mau jika Ken kehilangan arah nantinya, tidak mau kalau Ken terpuruk lebih dalam lagi.


Bukan maksud mereka berpikir buruk tentang Zalleta, tentu saja itu tidak benar. Orang tua selalu ingin yang terbaik untuk anakknya, mereka juga tidak mau jika Zalleta pergi, tapi mereka tidak tahu garis takdir kedapannya akan seperti apa, lebih tepatnya apa pun yang terjadi, siapa tidak siapa, jika suatu hal buruk terjadi, mereka harus hadapi.


Sementara itu Ken yang kini berada di kamar Zalleta, ia membantu gadis itu untuk berbaring, lalu menyelimutinya.


“Seharusnya kamu lebih banyak beristirahat, kamu itu terlalu keras kepala, sok kuat tahu gak!” ujar Ken, suara terdengar agak ketus.


Ken memang sudah tahu tentang kondisi sebenarnya Zalleta seperti apa, di sana yang tidak tahu hanyalah Tiara dan Teo, sengaja mereka juga bungkam, atas permintaan Zalleta. Dengan alasan, jika kakaknya itu tahu kondisinya tidak baik, bisa jadi Tiara dan Teo menunda pernikahannya. Dan Zalleta juga yang meminta pada orang tuanya untuk mempercepat pernikahan Tiara dan Teo.


Di depan Tiara dan Teo, Zalleta berusaha menahan sakitnya, bahkan ia sengaja memoles wajahnya dengan make-up agar mereka tidak curiga tentang kondisinya, dan seperti semua itu berhasil.


“Aku jenuh kalau di kamar terus, Kak Ken,” ucap Zalleta.


“Demi kebaikan kamu Zalleta,”


“Kebaikan apa hmm? Yang ada aku stres di kamar terus. Aku ingin menikmati masa-masa terakhirku Kak Ken," sela Tiara.


Gadis itu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, entahlah Zalleta seperti sudah mempunyai sebuah firasat, jika ia akan pergi selamanya, mungkin.


“Jangan bicara seperti itu, Za. Jangan putus asa dong.” Ken nampak tak suka mendengar ucapan yang dilontarkan oleh gadis itu, tentu saja Ken tidak suka, ia belum siap kehilangan Zalleta, gadis yang selama ini diam-diam ia cintai, bahkan sampai detik ini Ken belum berani mengungkapkannya.

__ADS_1


Tapi tadi Ken, mencoba memberanikan diri berbicara jujur pada Tuan Smith mengenai perasaannya pada Zalleta, tapi sayangnya belum ada jawaban dari Tuan Smith.


“Aku tidak putus asa, Kak Ken. Aku hanya sudah pasrah saja. Aku hanya berharap sebelum aku pergi, aku ingin melihat orang yang aku sayangi bahagia, semoga Tuhan mengabulkan permintaan aku ini.” Kini Zalleta berucap diiringi dengan air mata yang menetes dari sudut matanya.


Perih, rasanya hati Kendra saat mendengar semua itu, Kendra duduk di tepi ranjang, lalu ia mengusap lembut air mata Zalleta.


“Boleh aku berkata jujur, Za?” tanya Ken.


Mungkin sudah saatnya ia berkata jujur tentang perasaannya selama ini pada Zalleta.


“Kejujuran itu yang utama, Kak Ken. Katakanlah apa yang ingin Kakak sampaikan?” Zalleta mencoba kembali mengulas senyumannya.


“Boleh aku mencintai kamu?” Ken menatap lekat wajah Zalleta.


Akan tetapi Zalleta langsung memalingkan wajahnya, jika boleh berkata, ‘Iya, tentu saja Kak, aku juga mencintaimu’ tapi sayangnya itu tidak mungkin.


“Za, aku bertanya padamu, aku sedang berbicara padamu, bisakah kamu melihat kearahku?”


Zalleta pun memberanikan diri untuk menatap Ken.


“Bolehkah aku mencintaimu?” Ken mengulang kembali kalimat tersebut.


“Kak, jangan bercanda! Apa yang bisa diharapkan dari wanita penyakitan seperti aku, entah besok atau lusa bisa saja aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Masih banyak wanita diluar sana yang sempurna Kak, jangan mengharapkan aku,” jawab Zalleta.


Ia merasa terluka dengan ucapannya sendiri, karena apa? Hati dan pikirannya serta ucapannya itu tidak sejalan.


Hatinya berkata, ya tentu saja boleh. Kerena Zalleta pun mencintai Kendra.


Sementara pikirannya, masih berpikir logika.


Dan bibirnya, tidak mungkin ia mengatakan iya kerena itu hanya akan membuat Ken berharap padanya.


Zalleta tidak mau membuat Ken berharap, setalah itu ia menghancurkan harapan Ken.


“Jawaban kamu sangat ambigu, Za. Aku tidak peduli apa pun kondisi kamu, apa pun yang terjadi aku mencintaimu Za,”


“Bahkan aku sudah mengatakan hal ini sama Papa, aku sudah melamar kamu pada Papa,” lanjutnya.


“Kak, jangan bercanda!”


“Aku bersungguh-sungguh, Za. Apa kamu lihat aku seperti sedang bercanda? Tidak 'kan?”


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2