
Tari terkejut saat laki-laki itu tiba-tiba saja memeluknya dan memanggilnya dengan sebutan Zalleta.
Siapa Zalleta? Apakah kekasihnya laki-laki menyebalkan itu?
“Sejak awal aku memang meragukan kematian kamu Zalleta, aku yakin orang yang saat itu di temukan bukan kamu, tapi orang lain,” lanjut Ken, masih memeluk wanita itu.
“Ih apaan sih?” Tari mendorong tubuh Ken yang memeluknya itu. “Gak jelas benget sih kamu! Siapa Zalleta? Aku itu Tari, bukan Zalleta. Paham!” sambungnya.
“Zalleta, ini aku Kendra. Apa kamu tidak mengingat aku, aku yakin pasti sudah terjadi sesuatu sama kamu saat kecelakaan itu menimpa kamu. Kamu itu Zalleta, kamu adiknya Teo, putrinya Tuan Smith dan Nyonya Henzy!” terang Ken.
Tari terdiam, ia benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ken.
Apa sebenernya maksud dari perkataan laki-laki itu?
“Aku bukan Zalleta, aku Tari. Aku memang dulu sempat kecelakaan, tapi aku tidak ingat apa-apa. Yang aku ingat kedua orang tua angkatku dan Kak Tiara yang menolongku pada saat itu. Dan satu lagi, aku sama kenal pada kalian semua, Kendra, Tuan Smith, Nyonya Henzy. Aku tidak mengenal kalian semua.” tegas Tari.
“Jadi stop! Jangan bicara yang aneh-aneh. Jika benar orang-orang yang kamu sebutkan itu adalah keluargaku. Bukannya seharusnya mereka itu mencariku sejak dulu!” sambungnya.
“Kami semua mencari kamu...” Ken menceritakan semuanya pada Tari.
Dari mulai mereka mencari Zalleta, hingga beberapa hari kemudian, mereka pun menemukan seorang jasad gadis yang mirip sekali dengan Zalleta. Dan yang membuat mereka percaya adalah, hasil tes yang dilakukan oleh tim medis, jika jasad gadis itu persis dengan Zalleta, namun seperti yang sudah di ceritakan sejak awal, Ken sendiri tidak percaya, ia masih merasa ragu jika jasad gadis itu adalah Zalleta.
“Apa kamu benar-benar tidak ingat dengan aku Zalleta?” tanya Ken lagi, usai ia menceritakan semuanya kejadian tersebut pada Tari, dengan detail.
Tari mengelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia mencoba mengingat semuanya. Namun ia sama sekali tidak mengingat apa-apa. Alhasil kini ia merasakan kepalanya berdenyut tak karuan, dan rasanya sakit sekali.
“Awww....” pekik Tari meringis sambil memegangi kepalanya.
“Kenapa?” Ken terlihat panik.
“Kepalaku sakit sekali,” lirih Tari.
Ken segara meminta tim medis yang menemani mereka untuk memeriksa Tari.
__ADS_1
Wajah Ken terlihat mengkhawatirkan gadis itu.
“Sebaiknya jangan terlalu di paksa untuk memikirkan sesuatu yang keras, Nona. Anda juga harus banyak istirahat. Sebaiknya minum obat Anda, setalah itu tidurlah,” ujar Dokter pada Tari.
Tari menganggukkan kepalanya, Ken membantu Tari untuk minum obat, untunglah Tari tadi sudah makan, walaupun sedikit. Karena kini gadis itu tidak mau makan, walau pun Ken sudah mencoba membujuknya.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai menuju bandara. Mereka menaiki jet pribadi milik keluarga Smith. Tari kini sudah terlelap.
Ken masih mengamati wajah gadis itu, ia yakin jika Tari adalah Zalleta. Tapi kenapa gadis itu tidak mengingatnya? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada ingatan gadis itu. Seperti nanti Ken harus meminta tim medis untuk memeriksa lebih dalam lagi.
Apa kanker otak ini juga di sebabkan oleh kecelakaan yang gadis itu alami.
Jika itu memang benar, apa Ken harus membicarakan semua ini pada Tuan Smith dan Nyonya Henzy.
‘Aku rasa sekarang belum waktunya, aku harus mencari bukti yang kuat, jika Tari itu bener Zalleta. Tapi aku harus mencari bukti seperti apa?’ batin Ken bertanya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba Ken teringat sesuatu. ‘Tiara, ya Tiara. Aku harus menanyakan seolah ini pada Tiara, pasti Tiara mempunyai sesuatu untuk memperkuat dugaan aku ini, jika Tari adalah Nona Zalleta,’ batin Ken lagi. Mungkin setalah ia mengantarkan Tari ke Singapura, setalah selesai semua tugasnya. Ken akan menanyakan soal ini pada Tiara. Ken berharap dugaannya ini benar.
***
“Suster Tiara, apa saya boleh bicara dengan kamu?” ucap Nyonya Henzy pada Tiara yang baru saja selesai mengurus semua keperluan Teo, sang Tuan Muda yang menyebalkan itu.
“Boleh Nyonya.”
“Duduklah,” pinta Nyonya Henzy, wanita parubaya itu mengulas senyumannya seraya mempersilahkan Tiara duduk di sofa.
Tiara pun mengangguk, lalu duduk.
“Saya harap kamu bisa bertahan mengurus putra saya. Setalah kejadian tadi, saya yakin Teo tidak akan tinggal diam, saya tau betul bagaimana sikap putra saya, sebisa mungkin dia pasti akan membawa kamu tidak betah dan mundur mengurus dia,” ucap Nyonya Henzy pada Tiara.
Tiara hanya mengangguk, ia mengerti apa yang dikatakan oleh majikan wanitanya itu. Tentu saja Tiara tidak akan mundur. Apa pun yang terjadi ia akan tetap bertahan, demi adiknya, keluarga Tuan Smith begitu berjasa untuknya.
“Oh iya satu lagi, dari mana kamu tau resep sup ikan itu?”
__ADS_1
“Oh sup ikan itu, maaf Nyonya saya tidak tau kalau Tuan Muda tidak menyukai makanan tersebut.”
“Bukan soal itu Suster Tiara, keluarga kami sangat menyukai menu makanan yang satu itu. Hanya saja semenjak putri kami meninggalkan kami tidak memperbolehkan orang lain memasak menu itu di rumah kami.”
“Meninggal?” Tiara nampak tidak mengerti, apa kaitannya putrinya meninggalkan dengan sup ikan buatannya?
“Iya, sebenernya Teo punya adik, namanya Zalleta, dia sudah meninggal. Kamu tau, Suster Tiara sup ikan itu menu kesukaan Zalleta, apa pun kondisi dia pada saat ia masih hidup, dia selalu meminta makan dengan sup ikan, dan itu adalah makanan kesukaan dia, kalau dia lagi sakit pun, dia akan lahap jika makan menu itu, katanya sup ikan itu pembangkit nafsu makannya,” jelas Nyonya Henzy. Mata wanita parubaya itu terlihat berkaca-kaca, mengingat putri bungsunya yang sudah tiada tersebut.
“Itu alasan Teo menumpahkan sup ikan buatan kamu, jika melihat sesuatu yang berhubungan dengan mendiang Adiknya dia pasti akan seperti itu,” sambungnya.
“Begitu ya Nyonya, saya bener-bener minta maaf, saya sama sekali tidak tau soal ini. Kerena sup ikan itu juga kesukaan adik saya, Tari. Dia selalu lahap jika makan dengan sup ikan, jadi saya memaksakan itu buat Tuan Muda, saya berpikir, Tuan Muda akan seperti adik saya, akan lahap makan dengan menu tersebut, walau pun nafsu makannya buruk,” jelas Taira, ia bener-bener merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, saya paham kok. Salah saya juga tidak mengatakan soal ini sama kamu sebelumnya. Dan satu lagi, saya berharap kamu akan tetap bertahan merawat Teo, saya percayakan Teo sama kamu, Suster Tiara.”
“Sebelumnya saya sangat berterima kasih pada Nyonya, karena sudah mempercayai saya, saya akan berusaha semaksimal mungkin, sebisa saya untuk merawat Tuan Muda.”
Nyonya Henzy tersenyum seraya mengangguk kepalanya. Entah mengapa kali ini benar-benar berharap banyak pada Tiara, ia sangat yakin jika Tiara bisa menyembuhkan Teo dari penyakit mentalnya itu.
“Baiklah, silahkan beristirahat Suster Tiara, saya tau kamu lelah. Untuk malam ini kamu boleh beristirahat, biar saya yang menjaga Teo,” ujar Nyonya Henzy.
“Terima kasih Nyonya, tapi semua keperluan Tuan Muda sudah saya siapkan. Kalau begitu saya permisi,” pamit Tiara.
Nyonya Henzy terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, setelah itu Tiara pun berlalu dari sana. Ia berjalan menuju kamarnya.
Rasanya perkerjaan ini sungguh melelahkan, padahal ia hanya mengurus satu orang saja. Berkerja di Rumah Sakit selama ini, ia merasa tidak pernah selelah ini.
“Kamu harus kuat Tiara, demi Tari...” gumam Tiara, menyemangati dirinya sendiri.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan votenya.
__ADS_1
Terima kasih.