Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab. 21 : Apa Nona sudah siap?


__ADS_3

Tiara menepuk-nepuk pipinya itu. Mencoba menyadarkan diri, apakah semua ini nyata atau hanya mimpi.


"Sakit kok," gumamnya.


'Tiara, saya sudah merencanakan jika Tari—Adik kamu besok, akan segara di bawa ke Luar negeri. Persiapkanlah semuanya, apa saja yang akan di bawa oleh Tari. Dan besok Ken akan menjemput kamu, mulai besok kamu mulai kerja dengan saya.'


Berulang kali Tiara membaca isi pesan dari nomer yang gak di kenal itu. Tiara yakin jika pesan tersebut dari Tuan Smith, Tiara benar-benar tidak menyangka jika Tuan Smith akan secepat ini membawa Tari.


'Baik Tuan, terima kasih sebelumnya.'


Tulis Tiara membalas pesan tersebut. 'Terima kasih ya Tuhan, akhirnya Tari bisa berobat keluar negeri,' batin Tiara.


Ia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, selain rasa bersyukurnya.


Tapi, hati kecilnya merasa sangat berat, ia harus berpisah bersama Tari, kerena Tiara yakin dia pasti tidak akan bisa mengantarkan adiknya itu, apa lagi menemaninya di sana. Kerena mulai hari ini Tiara juga akan menjalani tugasnya, perkerjaan baru yang di berikan oleh Tuan Smith.


"Aku tidak boleh seperti ini. Semua demi kebaikan Tari, aku harus bisa berpisah dengan Tari, lagian ini hanya sementara waktu saja, bukan?"


"Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Semangat Tiara, hidup baru akan segara di mulai, aku berjanji tidak akan mengecewakan Tuan Smith yang sangat baik padaku dan Tari, apa pun nanti kondisinya aku gak boleh nyerah!" ucap Tiara bermonolog dengan dirinya sendiri.


Setalah itu Tiara menghampiri Tari, mengusap wajahnya sang adik yang masih terlelap itu. Tiara tak bisa menahan air matanya, antara bahagia dan juga sedih rasanya.


Hingga tetesan air matanya itu, menetas ke wajah Tari, membuat gadis itu membuka mata perlahan.


"Kak..." panggil Tari.


"Eh sayang, maaf ya Kakak ganggu kamu tidur." Tiara sedikit terkejut, dengan cepat ia memalingkan wajahnya dan mengusap air mata yang membasahi wajahnya itu.


"Kakak kenapa menangis?" tanya Tari.


"Kakak gak apa-apa kok, Dek. Oh iya Kakak ada kabar gembira buat kamu," ujar Tiara.


"Gembira? Apa Kak?" Tari menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang tersebut, gadis itu terlihat antusias mendengar sang Kakak berkata ada kabar gembira untuknya.


"Hari ini kamu akan berangkat ke luar negeri, kamu akan melanjutkan pengobatan kamu di sana, Dek." jelas Tiara, dengan senyuman lebarnya.


Tari langsung terdiam, bahkan seperti tidak senang mendengar kabar tersebut. Membuat Tiara menatap heran pada Adiknya itu.


"Kok kamu malah sedih sih Dek? Kamu gak seneng kalau kamu mau lanjut pengobatan di sana? Please, Tari. Semuanya demi kebaikan kamu."


"Bukan itu Kak, Tari senang bisa melanjutkan pengobatan Tari di sana. Hanya saja Tari gak mau jauh dari Kakak, Tari takut Kak, Tari gak bisa tanpa Kakak, Kakak ikutkan nanti ke sana?"


"Tari dengar sayang," Tiara mendekap wajah adiknya itu, "Kakak juga sama tidak mau jauh dari kamu. Tapi Kakak gak bisa ikut, kerena Kakak juga hari ini sudah mulai berkerja pada Tuan Smith. Kamu jangan takut ya, walau pun raga kita berjauhan, tapi hati kita selalu dekat. Kamu selalu di hati Kakak, dan sebaliknya. Kamu jangan mikirin apa-apa, pokoknya nanti kamu harus fokus sama kesembuhan kamu. Lagian kita masih bisa video call, jadi kita masih bisa melihat satu sama lain."


"Iya Tari tau, Kak. Tapi..."


"Tapi apa hmm?"


"Tari sayang sama Kakak, terima kasih Kak. Kakak selalu berkorban buah Tari." lirih Tari sambil terisak, ia langsung menghambur memeluk Kakaknya itu.


"Ini sudah kewajiban Kakak, Tari. Jangan berkata seperti itu. Kamu segalanya buat Kakak, Kakak tidak minta banyak dari kamu, hanya satu Tari, jika kamu sayang sama Kakak, kamu harus semangat, kamu harus yakin, kamu pasti sembuh," ucap Tiara. Seraya membalas pelukan sang Adik.


"Udah ya, kamu jangan nangis. Kakak gak mau liat kamu pergi dari Kakak dengan tangis seperti ini, Kakak mau lihat senyuman kamu."


Perlahan Tiara mengurai pelukannya, lalu menatap Tari, mengusap lembut air mata yang membasahi wajah cantik adiknya itu.

__ADS_1


"Senyum dong," pinta Tiara menggoda adiknya itu.


Perlahan Tari pun menarik ujung bibirnya tersenyum.


"Tari janji Kak, Tari akan menuruti apa kata Kakak, Tari akan berusaha secepat sembuh. Agar kita bisa bersama lagi," ucap Tari bersungguh-sungguh.


"Nah gitu dong, baru Adiknya Kakak," seru Taira sambil menyubit hidung Tari yang mancung itu.


"Ih Kakak, untung ingus Tari gak keluar," protes Tari, sambil mengerucutkan bibirnya. Membuat Taira langsung terkekeh.


"Kalau gitu Kakak mau belikan serapan buat kamu dulu ya. Oh iya kamu mau makan apa?"


"Gak usah Kak, aku mau sarapan makanan Rumah Sakit aja."


"Tumben banget? Bisanya juga paling gak mau."


"Hehe... Kan aku nanti mau ninggalin Rumah Sakit ini, anggap aja ini terakhir kalinya, Tari makan di sini." jawab Tari. Lagi-lagi Tiara hanya terkekeh, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya sudah, tapi makanannya belum datang. Kayanya bentar lagi deh."


"Iya Kak, gak apa-apa kok. Lagian Tari belum laper juga."


"Ini bukan soal laper dan enggak Dek, tapi kamu emang harus makan tepat waktu. Pokoknya kalau nanti kamu udah di rawat di sana. Ingat gak boleh nunggu sampe laper dulu baru makan ya, waktunya kamu makan, kamu harus makan!" tegas Tiara. Semua demi kebaikan Adiknya.


"Siap Kak. Kakak tenang aja."


"Oke kalau gitu, Kakak mau keluar dulu ya. Ada yang musti Kakak urus," pamit Tiara.


"Iya Kak, tapi jangan lama-lama ya."


Namun saat Tiara kelar, di berpapasan dengan Ken. Seperti laki-laki itu akan ke ruang rawat Tari.


"Loh Tuan Ken, kok ada di sini?" tanya Tiara.


"Iya, ada hal yang harus di urus dulu. Bagaimana apa Nona Tari sudah siap?"


"Saya baru bilang sama Tadi barusan Tuan Ken, saya kira anda tidak akan datang sepagi ini," jawab Tiara.


"Saya belum sempat membereskan keperluan Tari nanti buat di sana," sambung Tiara.


"Tenang saja, masih ada waktu. Nona Tari akan berangkat nanti sore. Lalu bagiamana dengan anda Nona? Saya ke sini ingin menjemput anda juga."


"Sekarang?" Tiara terlihat terkejut.


"Ya." jawab Ken singkat.


"Tapi..."


"Tapi kenapa? Bukankah Nona sudah di kabari oleh Tuan semalam?"


"Iya memang sudah, tapi aku baru membuka pesan dari Tuan Smith, saat aku bangun tidur. Apa gak bisa saya nanti aja ikut sama Tuan Ken, setalah Tari berangkat?"


"Tidak bisa. Karena saya yang akan mengantarkan Nona Tari."


"Tapi aku gak bisa ikut sekarang, Tuan Ken. Karena aku juga ada urusan dulu, aku juga belum siap-siap." kata Tiara.

__ADS_1


Memang niat Tiara saat ini, ia ingin pulang dulu ke Rumah Reyhan, Tiara ingin mengambil beberapa barang berharga yang masih tersimpan di Rumah Reyhan. Sebenernya Tiara sangat enggan untuk ke sana. Tapi pakaian miliknya masih berada di Rumah itu, serta perhiasan peninggalan orang tuanya juga.


"Baiklah bersiap-siap sekarang." titah Ken.


"Aku ingin mengambil beberapa barang saya dulu."


"Mari saya antar."


"Maaf Tuan Ken, aku rasa aku pergi sendiri saja.'' tolak Tiara.


"Enggak! Saya antar atau Nona tidak saya izinkan untuk pergi!" tegas Ken.


Huh, Tiara hanya bisa menghelai nafas beratnya. 'Ah dia sungguh menyebalkan, selalu saja seperti ini!' gerutu Tiara dalam hatinya.


Lalu mereka pun berjalan beriringan menuju tempat parkir Rumah Sakit tersebut.


Setalah sampai Ken dan Tiara langsung masuk ke dalam mobil, dan Ken pun mulai melajukan mobilnya.


"Oh iya Tuan Ken, aku lupa. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan," ujar Tiara yang duduk di belakang Ken tersebut.


Ken tidak menyahut ia hanya menatap sekilas pada Tiara lewat pantulan kaca spion yang ada di hadapannya.


"Soal uang itu.. Emm, apa Tuan Ken sudah mengatakan pada Tuan Smith?" tanya Tiara. Sebenarnya ia merasa ragu dan juga malu menanyakan hal tersebut pada Ken.


"Sudah," jawab Ken singkat.


"Lalu?"


"Jika Nona ingin tau apa jawaban, silakan Nona hanya sendiri pada Tuan Smith."


'Huh manusia satu ini benar-benar menyebalkan! Apa susahnya tidak jawab iya atau tidak. Mempersulit hidupku saja!' batin Tiara.


Setalah itu tidak ada lagi pembicaraan dua antara mereka, baik Ken dan juga Tiara mereka kembali lagi ke pemikiran mereka masing-masing.


Lagian Tiara juga enggan berbicara dengan Ken lagi saat ini. Laki-laki itu hanya membuat Tiara jengkel saja, pikirnya.


'Heran deh, kok bisa sih Tuan Smith punya orang kepercayaan macam Tuan Ken?' batin Tiara lagi.


30 menit kemudian, akhirnya mereka pun sampai. Ken menghentikan mobilnya itu di dalam rumah tersebut.


Tiara mencoba menteralkan diri dan hatinya itu, sebelum ia keluar dari mobil tersebut.


"Waktu anda hanya 30 menit Nona Tiara, saya akan menunggu anda di sini," ujar Ken pada Tiara, yang kini sudah bersiap untuk keluar dari mobil tersebut.


Tiara hanya mengangguk. Ia rasa waktu 30 menit cukup banyak, lagian Tiara juga tidak mau berlama-lama di rumah Reyhan — yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya itu.


Jika tidak ada barang yang berharga yang ia simpan di sana. Rasanya Tiara gak Sudi!


Namun saat Tiara akan berjalan menuju Rumah tersebut. beriringan dengan Rey yang baru saja keluar dari Rumah itu. Rey terlihat terkejut saat melihat Tiara ada di sana.


'Sudah aku bilang, kamu pasti akan datang ke sini Tiara. Kamu pasti akan bersujud di kaki aku bukan? Hahaha,' batin Rey penuh percaya diri.


Bersambung...


Maaf update ke maleman. Baru sempat, kerena di di real life aku lagi sibuk benget.

__ADS_1


Jadi jangan lupa like, komentar dan dukungannya, terima kasih.


__ADS_2