
Hari ini Zalleta dan keluarganya sudah siap untuk pulang menuju tanah air. Zalleta terlihat sangat antusias, senyuman penuh kebahagiaan terpancar jelas dari wajah gadis itu, wajahnya tidak terlalu pucat, kerena tadi gadis itu bersolek, menempelkan beberapa alat make-up milik sang Mamah yang ia pinjam.
“Mah, ayo dong cepat, aku sudah tidak sabar pengen pulang, udah kangen banget sama Kak Tiara ih,” ucapnya manja pada sang Mamah yang masih mengemasi barang-barangnya.
“Iya bentar Sayang, ini udah hampir selesai kok,” sahut Nyonya Henzy.
“Oh iya Mah, Kak Tiara gak Mamah kasih tahukan kalau hari ini kita semua pulang?” tanyanya.
“Kayanya enggak deh, Mamah gak bilang sama Suster Tiara, tapi gak tahu yang lain. Coba kamu tanya Ken, soalnya kalau ada apa-apa Ken, Ken yang sering berkomunikasi sama Suster Tiara.”
“Maksud Mamah? Apa Kak Ken punya hubungan khusus sama Kak Kendra?”
“Mybe, tapi Mamah gak tau jelas sih. Tapi di lihat-lihat Ken sangat perhatian sama Suster Tiara,” jelas Mamahnya.
Tiba-tiba senyuman di wajah Zalleta sedikit meredup, ia cukup terkejut. Entah kenapa rasanya sesak tiba-tiba melanda dadanya.
Ya, walaupun jawaban yang diberikan oleh Mamahnya itu ambigu, tidak jelas, benar atau tidak.
Tapi, bukankah itu bagus jika Ken dan Tiara menjalani hubungan yang lebih, tapi kok Zalleta rasanya sakit hati ya?
‘Huh, apa yang aku pikirkan? Apa aku cemburu kalau Kak Ken deket sama Kak Tiara, tapi bukankah itu bagus, Kak Ken orangnya baik, walaupun kadang nyebelin dan ketus juga. Tapi dia pria yang sangat penyayang. Jika benar, semoga saja Kak Ken bisa jadi pria yang baik untuk Kak Tiara, semoga saja Kak Tiara bahagia, sudah cukup selama ini Kak Tiara menderita, sampe di selingkuhin juga sama mantan suaminya si Reyhan, itu. Katanya Reyhan itu baik, tapi kok Reyhan ini sangat tidak baik, dan bener-bener buruk!’ ucap Zalleta dalam hatinya.
“Za, kok malah bengong? Kenapa?” tanya Nyonya Henzy yang kini sudah usai mengemasi barang-barangnya itu.
“Eh, enggak apa-apa kok Mah.” Zalleta sedikit tersentak. “Udah beres semuanya Mah?” lanjutnya.
“Udah, ayo kita ke bawah,” ajak Nyonya Henzy. Zalleta pun menganggukkan kepalanya, setalah itu kedua wanita beda generasi itu pun berjalan beriringan menuju ke lantai satu, di mana di sana sudah ada Tuan Smith, Teo dan Ken yang sudah menunggunya.
__ADS_1
“Lama benget sih!” gerutu Teo, saat melihat adik dan Mamahnya itu baru tiba.
“Udah deh Teo, jangan cari perkara,” pungkas Tuan Smith.
“Aku gak cari perkara, Pah. Lagian tadi Papah juga ngedumel kerena nunggu mamah sama Zalleta lama." balas Teo tak mau kalah.
“Heran Mamah sama Zalleta ngapain dulu sih?” sambungan bertanya.
“Kamu nanyaeee?” balik tanya Zalleta.
“Kamu bertanya-tanya?” timpal Mamahnya.
Teo yang mendengar itu semua tentu saja semakin kesal pada Adik dan Mamahnya itu, sementara Tuan Smith dan Ken langsung tertawa.
Tapi dalam hati Teo merasa tidak asing dengan ucapan mereka barusan, pernah mendengar, tapi ia lupa.
“Kamu tercandu-candu,” timpa Kendra.
Fix, Teo kini ingat. “Dasar korban Cekmek!” ledak Teo.
Sontak mereka pun langsung tertawa terbahak-bahak.
“Haha, ketahuan dia suka nonton live-nya juga. Jangan lupa give singa-nya, wooooarrr!” celetuk Zalleta.
“Udah ah, udah, ya ampun sakit perut Mamah ini, udah yuk kita berangkat sekarang,” ajak Nyonya Henzy, sambil berusaha menghentikan tawanya.
Sontak Ken dan Tuan Smith pun kembali memasang wajah cool-nya kembali, membenarkan jas mereka, lalu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Setalah itu mereka pun meninggalkan tempat tersebut.
***
Sementara itu di tempat lain, Bu Maya saat ini sedang memasak di dapur, menyiapkan makanan untuk makan nanti para majikan. Di temani oleh Tiara, mereka membuat sup ikan kesukaan keluarga Smith tersebut.
“Bi, cobain deh, udah pas apa belum rasanya,” pinta Tiara pada Bu Maya, yang memasak sup ikan memang Tiara, sementara Bu Maya memasak menu yang lainnya.
Bu Maya pun menyicipinya, mata wanita parubaya itu membuat sempurna. “Waoow ini sup ikan terenak yang pernah Ibu coba, Ra. Enak banget, para majikan kita pasti suka ini!” serunya.
Tiara tersenyum lebar, ia memang memasak sup ikan spesial hari ini, sengaja ia mencoba resep rahasia sup ikan super lezat dari mendiang Ibunya. Syukur jika Bu Maya bilang suka.
Setalah lama berkutat di dapur, akhirnya mereka pun menyelesaikan semuanya. Tiara langsung berpamit menuju kamar, sesampainya di kamar, Tiara mengambil sebuah kertas, tangannya lincah menulis di kertas tersebut dengan bulpoin yang ada ditangannya.
Terlihat ekspresi wajahnya berubah-ubah, Kedang tersenyum, kadang sedih, bercampur aduk, entah apa yang ditulis oleh wanita itu.
“Apa pun yang terjadi, Kakak akan selalu sayang sama kamu, Tari. Walaupun kamu sekarang bukanlah Tari, tapi Zalleta. Tapi, kasih sayang Kakak tidak akan pernah berubah, kamu tetap adik kakak yang sangat menggemaskan walaupun kadang menyebalkan,” gumam Tiara.
Bersambung...
Like
Komen
votenya ya jangan lupa.
up lagi setalah magrib ya, terima kasih untuk dukunganya. Komen kalian sangat membuat aku bersemangat, hehe.
__ADS_1
Makanya yuk komen, jangan jadi Readers sinlet ya, wkwkwkwk