Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab. 18 : Keputusan ada ditangan Anda!


__ADS_3

Tiga puluh menit kemudian, Rey akhirnya sampai di tempat tersebut. Laki-laki itu merapihkan terlebih dahulu pakaian, padahal itu rasanya tidak perlu, kerena penampilan sudah rapi. Pakaiannya saja hanya mengangguk kemeja dan celana jeans.


Setelah itu Rey keluar dari mobilnya dan bergegas memasuki Restoran tersebut. Ia menyapu area Restoran tersebut, nampaknya Ken belum datang, karena Rey tidak melihat batang hidung laki-laki itu. Rey pun memilih duduk seraya menunggunya.


Sudah hampir 1 jam menunggu, tapi Rey tidak mendapati tanda-tanda Ken datang. Tidak ada kabar juga darinya.


"Sial! Kenapa dia lama sekali? Gak on time banget sih, janjian jam delapan malam ini sudah jam sembilan, tapi dia belum nongol juga. Kalau dia bukan bawahan Tuan Smith, malas banget aku nunggu sampe kaya orang bego begini!" gerutu Reyhan.


Lima belas menit berlalu, akhirnya Rey melihat laki-laki yang sedari tadi ia tunggu itu, masuk ke dalam Restoran tersebut.


Ken nampak berjalan santai menghampirinya Reyhan. 'Sombong sekali dia, gak ada rasa bersalahnya, udah telat juga, mana mukanya datar banget lagi, menyebalkan,' batin Rey.


Namun bibirnya tersenyum menyambut kedatangan Ken.


"Selamat malam Pak Reyhan, maaf sudah membuat anda menunggu, tadi saya ada urusan dulu," ucap Ken. Seraya menarik kursi yang ada di depan Rey, lalu mendaratkan pantatnya di sana.


"Ah tidak apa-apa Pak Ken, saya senang menunggu anda," sahut Rey melebarkan senyumnya, seolah tidak apa-apa, padahal dalam hatinya kesal merajalela.


"Baiklah, kita bicara pada intinya saja." ujar Ken, mendapatkan anggukan dari Rey.


Ken terlihat mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Rey hanya memperhatikan gerak-gerik laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Ini uang 1 milyar yang anda minta Pak Reyhan," lanjut Ken seraya memberikan amplop berwarna coklat yang tebal, yang sudah dipastikan itu adalah uang sejumlah 1 milyar tersebut.


"Uang?" Reyhan terlihat bingung seraya menatap amplop tebal tersebut, yang kini sudah di hadapannya.


"Iya, uang yang anda minta, untuk menganti rugi biaya pengobatan Nona Tari selama ini." jelas Ken.


"Tunggu! Kenapa Pak Ken memberikan ini sama saya? Saya tidak minta sama anda, apa hubungannya anda sama Tari dan Tiara?"


Ken tersenyum pada Reyhan, senyuman yang benar-benar tidak bisa Reyhan mengerti.


"Anda tidak perlu tau apa hubungannya saya sama mereka. Ambillah uang itu, dan saya minta anda jangan pernah menganggu mereka lagi, karena mereka kini sudah milik saya!" ucap Ken santai, namun Reyhan yang mendengar seperti tengah mendapat penekanan.


"Apa maksud anda? Saya tidak ada hubungannya sama sekali dengan anda Pak Kendy! Saya tidak butuh uang ini, karena saya tidak meminta uang ini pada anda, tapi pada Tiara!" tolak Ken, wajahnya terlihat merah padam. Menandakan jika laki-laki itu tengah di selimuti amarah.


Ken tersenyum smirk. "Apa bedanya, mau dari saya atau pun Nona Tiara, itu sama saja bukan?"


"Tentu saja beda Pak Ken, kerena saya tidak ada urusan sama anda!"

__ADS_1


"Haha, iya memang. Tapi urusan Nona Tiara akan menjadi urusan saya juga mulai saat ini."


"Tidak bisa begitu dong. Lagian saya itu hanya menggertak Tiara saja, saya tidak sungguh-sungguh meminta uang itu."


"Menggertak? Anda sangat lucu sekali Pak Reyhan." ledek Ken.


"Apa maksud Pak Ken? Jangan macam-macam ya sama saya!" Reyhan menatap tajam Ken yang duduk di hadapannya itu.


"Hahaha, anda mengancam saya Pak Reyhan? Harusnya saya yang bicara seperti itu pada anda! Jangan macam-macam sama saya!" tegas Ken, ia membalas tatapan tajam Reyhan.


Membuat Reyhan langsung menciut, "bu-bukan begitu maksud saya Pak Ken.." ucap Rey gugup.


"Lalu?" Ken menaikan sebelah alisnya.


"Terima kasih uang itu dan turuti permintaan saya. Jangan pernah anda menganggu Nona Tiara dan Tari lagi. Anda mengerti? Kalau anda tidak menurutinya maka jangan salahkan saya jika terjadi sesuatu pada Perusahaan anda!" lanjut Ken dengan tegas.


"Kenapa anda bawa-bawa Perusahaan saya. Anda harus profesional dong Pak Ken, jangan sangkut pautkan urusan pribadi dengan bisnis!" Reyhan nampak tak terima dengan ucapan Ken tersebut.


"Keputusan anda di tangan anda Pak Reyhan. Silahkan pikirkan baik-baik! Saya permisi," ujar Ken. Lalu ia beranjak dari hadapan Reyhan. Meninggalkan Restoran tersebut.


"Sialan!" geram Reyhan, mengepalkan kedua tangannya, seraya menatap punggung Ken yang berlalu dari sana.


'Ah Taira, padahal aku tidak bersungguh-sungguh meminta uang ini. Aku hanya menggertak kamu agar kamu tidak meninggalkan aku!' batin Reyhan.


Rasanya Reyhan menyesal, jika ia tahu Tiara kenal dengan Ken. Ia tidak akan meminta Tiara untuk menganti uang itu. Karena ia bener-bener hanya ingin menggertak Tiara, ia tahu jika Tiara tidak mungkin bisa mendapat uang dengan nominal sebanyak itu.


Niat ingin menjebak Tiara, sekarang malah ia yang merasa terjebak dalam permainannya itu.


"Sial!" Rey masih mengumpat, sambil meninggalkan Restoran tersebut.


'Pak Reyhan, apa anda sudah bertemu dengan Ken? Bagaimana apa dia sudah menyampaikan semuanya. Ingat jangan ganggu Tiara dan Tari lagi, sekarang mereka dalam lingkupan saya. Jangan berpikir untuk memakai cara licik lagi! Nasib perusahaan anda ada ditangannya saya, kapan pun saya mau. Saya akan membuat anda jatuh sejatuh-jatuhnya!'


"Arggggh...." teriak Reyhan penuh amarah, usai membaca pesan yang diberikan oleh Tuan Smith padanya.


"Sial! Kenapa Tiara bisa kenal dengan si Tua bangka ini juga! Sial aku sudah di jebak oleh mereka semua. Tiara kau benar-benar membuatku marah! Aku akan membuat perhitungan padamu!" geram Reyhan.


*


*

__ADS_1


*


"Kak, kakak kenapa sih? Dari tadi Tari diperhatikan Kakak sepertinya sedang gelisah. Ada masalah? Cerita sama Tari Kak?" tanya Tari.


"Kakak gak apa-apa kok Dek. Kamu tidur ya, ini sudah malam." Tiara mengulas senyum tipisnya pada sang adik.


Tidak mungkin Tiara menceritakan hal ini pada Tari. Apa lagi sampai saat ini Tiara belum mendapatkan titik terang, Ken sama sekali tidak ada menghubungi nya.


"Kakak yakin gak apa-apa?" tanya Tari. Ia menatap Kakaknya itu penuh selidik.


"Enggak sayang. Kakak gak apa-apa. Kamu tidur ya ini sudah malam, Kakak juga mau tidur." jawab Tiara. Ia mengusap lembut pipi adiknya itu.


Tari tersenyum tipis, lalu mengangguk. Sebenernya Tari masih tidak percaya jika Kakaknya itu baik-baik saja. Hanya saja Tari juga tidak mungkin mendesak Tiara. Tari ingin berubah, ia tidak mau egois dan keras kepala. Ia juga harus memberikan ruang pada Kakaknya itu. Yang pasti saat ini, apa pun yang Tiara lakukan, Tari yakin itu yang terbaik untuk mereka.


"Aku mau tidur sama Kakak," ujar Tari.


"Tidur di samping Tari Kak," pintanya.


"Emang gak apa-apa? Kakak tidur di sofa aja ya, nanti kamu kesempitan." tolak Tiara halus.


"Kak, malam ini saja. Tari ingin tidur di pelukan Kakak, anggap saja ini permintaan Tari yang terakhir untuk Kakak," ucap Tari penuh harap.


"Jangan bicara seperti itu, Kakak akan selalu ada di samping kamu, begitu juga kamu, kita akan selalu sama-sama." Mata Tiara berkaca-kaca, perlahan ia pun naik ke atas ranjang tersebut dan membaringkan tubuhnya di samping Tari.


Tari tersenyum, lalu ia memeluk Kakaknya itu. 'Ya, kita akan selalu bersama Kak, sampai maut memisahkan kita,' lirih Tari dalam hatinya.


"Aku sayang Kakak." ujar Tari sambil membenamkan kepalanya di dada Tiara.


"Kakak juga sayang kamu Dek, sayang benget." Tiara membalas pelukan adiknya itu seraya mengusap punggung adik yang rentang itu, beriringan dengan air mata yang menetes begitu saja dari pelupuk mata Tiara.


Bersambung...


Like sama komentarnya geas.


Biar otor lebih semangat.


Nantikan lagi Tiara up malam ya.


Terima kasih.

__ADS_1


Salam sayang dari otor.


__ADS_2