
"Hay sayang, akhirnya kamu pulang juga," ujar Rey. Laki-laki itu berjalan menghampiri Tiara, yang memang sedang berjalan kearahnya.
Rey langsung merentang tangan, ingin memeluk Tiara, namun dengan cepat Tiara menunduk. Alhasil Rey tersandung sambil memeluk angin.
Tiara tersenyum sinis. "Peluk tuh angin, enak aja mau main peluk-peluk! Kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi ya Reyhan. Jadi jangan keterlaluan!" ucap Tiara.
Bahkan Ken yang berada di dalam mobil menunggu Tiara, terlihat menahan tawanya, melihat Reyhan yang terlihat seperti orang bodoh itu.
Reyhan terlihat menahan kesalnya, sambil menggerutu dalam hatinya. 'Sial! Kenapa dia bersikap seperti ini? Sabar Reyhan, sabar. Lihat saja sebentar lagi dia akan bersujud di kakimu!' batin Reyhan. Sebisa mungkin ia berpura-pura baik-baik saja, bahkan Reyhan tersenyum pada Tiara.
"Sayang kok kamu gitu sih? Emang kamu gak kangen sama aku? Sini peluk dulu." kata Reyhan, dengan suara di mendayu manja, ia kembali merentangkan tangannya untuk memeluk Tiara, namun dengan cepat Tiar mendorong tubuhnya, membuat Reyhan langsung tersungkur.
"Sayang-sayang matamu peang! Dengar ya Reyhan, jangan sebut itu lagi, aku jijik mendengar kata sayang dari mulut busukmu itu!" pekik Tiara.
Reyhan langsung mengepalkan tangannya, lalu berdiri.
"Kamu benar-benar ya Tiara!" geram Reyhan, laki-laki itu langsung melayangkan tangannya dan...
Plakk!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Tiara. Tiara memegangi pipinya yang terasa perih itu, lalu ia menatap tajam laki-laki yang pernah mengisi hatinya itu.
Ken yang melihat Tiara di tampar oleh Reyhan, terlihat akan turun dari mobilnya itu. Namun, baru saja Ken akan membuka pintu mobil tersebut.
Plakk!
Ken terkejut seraya meringis saat melihat Tiara membalas tamparan Reyhan.
"Uuh perih, ternyata Nona Tiara sangat berani juga." gumam Ken. Ia mengusap-usap pipinya, Reyhan yang di tampar oleh Tiara, seakan Ken bisa merasakan bagaimana perihnya saat tangan wanita itu mendarat di pipi Reyhan.
Bukan hanya Ken. Reyhan nampak terkejut juga, pipinya terasa perih. Ia tak menyangka Tiara akan membalas tamparannya itu.
"Kamu!" geram Reyhan, ia menunjuk Tiara, sorot matanya terlihat jelas di penuhi oleh amarah.
"Apa hah? Gak terima? Sini kita duel saja sekalian! Aku gak selemah yang kamu pikir ya Reyhan! Aku selama ini diam karena aku menghormati kamu sebagai suamiku! Tapi itu dulu, dan sekarang. Kita akan segara berpisah! Jadi kamu jangan macam-macam sama aku, aku sama sekali tidak takut padamu!"
"Hahahaha..." Reyhan langsung tertawa.
"Apa kamu yakin mau berpisah denganku? Bagiamana dengan adik mu, dan aku sudah katakan padamu! Jangan mentang-mentang kamu bisa membayar ganti rugi uang yang aku minta itu ya Tiara! Kamu bisa seenaknya begini sama aku. Dengar sampai kapan pun aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Aku pastikan kamu tidak akan semudah itu lepas dari aku!" ucap Reyhan.
"Tanpa kamu aku bisa mengobati Tari!" pekik Tiara.
"Oke, kita lihat saja nanti siapa yang akan menang di pengadilan saat sidang! Aku pastikan hakim akan mengabulkan gugatan ceraiku padamu Reyhan!"
"Hahahaha, iya kau benar. Sekarangkan kamu banyak uang ya, buktinya saja kamu bisa membayar uang 1 Milyar itu padaku. Baiklah, seperti aku harus menceraikan kamu, kerena aku juga gak Sudi rasanya, punya istri wanita murahan seperti kamu!" Sinis Reyhan. Entahlah apa lagi yang kini direncanakan oleh akal busuk laki-laki itu.
__ADS_1
"Apa maksud kamu hah?" Tentu saja Tiara merasa tidak suka dengan ucapan Reyhan buruasan. Apa lagi ia menyebut dengan wanita murahan! Apa-apa ini?
Terlebih kini Reyhan menatap meremehkannya.
"Jangan sok polos! Kamu pikir aku gak tau hah? Kamu menjadi simpanan Tuan Smith, kan?"
"Hah?" Tiara membulatkan matanya.
"Kamu benar-benar sudah tidak waras Reyhan! Jaga bicara kamu ya!"
"Ck, munafik!"
"Nona Tiara, sebaiknya Nona segara selesai urusan Nona, kita harus segara pergi diri sini." Tiba-tiba aja Ken keluar dari mobil dan menghampiri Tiara.
"Pak Ken? Sedang apa anda di sini?" tanya Reyhan. Ia seperti terkejut melihat Ken ada di sana.
"Nona cepat!" titah Ken pada Tiara. Ken menghiraukan Reyhan yang bertanya padanya itu.
'Sial, sombong sekali dia!' ucap Reyhan dalam hatinya.
"Baiklah, tunggu sebentar," ucap Tiara pada Ken. Wanita itu langsung berlalu dari sana, dan berjalan masuk ke dalam rumah Reyhan.
'Mau kemana Tiara? Kenapa di masuk ke rumah? Sebenernya apa tujuan Tiara kesini bersama si sekretaris Pak Smith yang menyebalkan ini?' batin Reyhan bertanya-tanya.
"Lepaskan!" Reyhan menipis tangan Ken dengan kasar.
"Jangan mengatur saya, Tiara itu masih istri saya, dan ini juga Rumah saya. Anda jangan melarang saya! Karena ini wilayah saya!" lanjut Reyhan sambil menatap garam Ken yang berada di samping itu.
"Baiklah, silahkan! Tapi, satu kali anda melangkah, maka langkah anda itu akan menjadi Boomerang untuk anda sendiri! Dan saya pastikan langkah tersebut akan menjadi langkah anda yang terakhir kalinya!"
"Anda mengancam saya? Anda tidak profesional sekali Pak Ken!" sinis Reyhan.
"Saya tidak mengancam anda Pak Reyhan. Saya hanya mengingatkan! Ini bukan masalah profesional atau tidak. Tapi ingat, siapa yang berkuasa!" jawab Ken, tersenyum meremehkan Reyhan.
'Sial!' Reyhan hanya bisa mengerut dalam hatinya. 'Sepertinya meraka sudah merencanakan semua ini sejak awal, ah bodoh! Mereka menjebakku!'
Ken kembali tersenyum sinis, saat melihat Reyhan yang masih tetap diam, laki-laki tak berkutit. Ken pikir, dia akan tetap masuk menyusul Tiara, tapi ternyata tidak.
'Takut juga dia,' ucap Ken dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, Tiara terlihat kembali, ia membawa sebuah koper berukuran sedang.
"Ayo kita pergi Tuan Ken," ajak Tiara. Wanita itu berjalan terlebih dahulu ke mobil, melewati Reyhan begitu saja.
Ken pun langsung mengikuti Tiara. Lalu mereka pun masuk ke dalam mobil tersebut.
__ADS_1
"Tiara kamu mau kemana? Tiara..." teriak Reyhan saat mobil tersebut mulai melaju.
"Sial! Kenapa jadi seperti ini? Kacau semaunya kacau!" teriak Reyhan, ia bener-bener merasa frustasi.
*
*
*
"Anda baik-baik saja Nona?" tanya Ken. Sekilas ia menoleh kearah Tiara.
"Aku baik-baik saja Tuan Ken."
"Syukurlah. Tapi anda hebat sekali Nona," puji Ken. Ia teringat saat tadi Tiara membalas tamparannya pada Reyhan.
"Hebat? Apanya yang hebat?" Tiara merasa tidak mengerti dengan ucapan yang dilontarkan oleh laki-laki yang tangah mengemudikan mobil itu.
"Ya, anda sangat berani membalas Pak Reyhan."
"Oh itu. Apa anda sedang memujiku Tuan Ken?" tanya Tiara, ia mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Ken.
Ken tersenyum tipis. "Ya bisa dikatakan seperti itu."
"Waah aku sangat tersanjung. Terima kasih Tuan Ken. Emm.. tapi sebenarnya telapak tanganku sakit, panas juga. Apa aku menamparnya terlalu keras ya?"
Ken melebarkan senyumnya, kenapa wanita yang bersamaan itu terlihat sangat konyol, tapi menggemaskan. Ck, apa yang Ken pikirkan? Kenapa dia merasakan hal yang aneh pada dirinya.
'Ck sial! Kenapa dia begitu mempesona saat menampar Pak Reyhan tadi? Huh, ada apa dengan diriku? Kenapa aku jadi konyol seperti ini?' ucap Reyhan dalam hatinya.
"Tuan Ken, kenapa anda malah diam?" Tiara kembali bertanya.
"Lalu saya harus bagaimana Nona?" balik tanya Ken. Namun kini tatapannya fokus ke depan memperhatikan jalanan.
"Ah sudahlah, bicara sama anda, membuat saya pusing!" ucap Tiara suara terdengar Bete.
'Heran sama dia? Sikapnya sangat misterius sekali! Kadang ramah, ketus, dingin, perhatian, kadang menyeramkan juga. Curiga, dia manusia apa bukan sih?' lanjut Tiara dalam hatinya.
Bersambung...
Maaf baru sempat update geas.
Jangan lupa like and komen.
Terima kasih.
__ADS_1