Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 47. Permintaan Zalleta


__ADS_3

Semua orang nampak menatap kearah Tiara. Terlihat Zalleta berjalan menghampiri Tiara yang sudah ia anggap seperti Kakaknya sendiri itu, walaupun Zalleta tahu mereka tidak ada ikatan darah, akan tetapi baginya Tiara adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya, melihat Tiara yang membawa koper, serta tadi ia mendengar jika Kakaknya itu akan pergi, tentu saja Zalleta merasa sedih.


“Jangan pergi, Kak!” Zalleta langsung menghambur memeluk wanita itu. Tangis keduanya pecah.


Tiara membalas pelukan Zalleta, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia sangat merindukan gadis itu.


“Kenapa Kakak mau ninggalin aku? Apa Kakak udah gak sayang lagi sama aku, kenapa Kak?” lirih Zalleta yang masih memeluk erat Tiara tersebut.


“Maafkan Kakak, Kakak tidak mungkin terus berada di sini, Dek. Tugas Kakak sudah selesai, kamu sudah kembali bersama keluarga kamu, dan Tuan Muda sudah baik-baik saja,” jawab Tiara. Perlahan ia mulai melepaskan pelukannya, lalu menatap Zalleta, dengan senyuman yang terulas dari bibirnya itu.


Jujur, sebenarnya Tiara berat meninggalkan tempat tersebut, sebisa mungkin Tiara berusaha menampakan senyumannya itu, menyakinkan semua orang bahwa ia baik-baik saja.


“Lebih baik kita bicara di sana,” ujar Tuan Smith, meminta mereka semua untuk duduk di sofa yang berada di ruang tengah.


Semua orang pun menurut dan berjalan menuju sofa, lalu duduk.


Sementara itu Bu Maya beranjak menuju dapur mengambil air minum untuk mereka semua, akhirnya kini ia mengerti, tertanya Tiara yang selama ini sudah merawat Zalleta, jadi adiknya Tiara yang selama ini Tiara sering ceritakan itu adalah Zalleta.


‘Ya Tuhan, aku merasa jika dunia ini terasa sempit, tak menyangka, jika Tiara yang sudah merawat Non Zalleta selama ini, semoga saja Tiara tidak jadi pergi,’ batin wanita itu.


“Suster Tiara, sebelumnya saya sangat berterima kasih pada kamu, karena sudah merawat Zalleta selama ini, saya tidak akan memaksa kamu tetap tinggal di sini, tapi saya harap kamu tidak pergi, Zalleta pasti sangat sedih jika kamu pergi. Iya, saya tahu jika sekarang Teo sudah sembuh, tapi itu semua kerana kegigihannya kamu. Tapi berpikirlah lagi, apa kamu gak kasian sama Zalleta?” Tuan Smith kembali membuka pembicaraan.


Zalleta yang duduk di samping Tiara, gadis itu terlihat menggenggam tangan Tiara, dan menatap Tiara penuh harap.


“Maaf, Tuan. Keputusan saya sudah bulat, walaupun saya tidak lagi tinggal di sini, tapi saya akan sering mengunjungi Tari, emm.. maksud saya Zalleta, saya pastikan Zalleta akan tetap saya anggap sebagai adik saya sendiri, itu pun jika saya di izinkan untuk bermain ke sini,” jawab Tiara.


“Kak, tidak. Kakak harus tetap tinggal disini, aku gak mau jauh-jauh lagi sama Kakak,” timpal Zalleta, memohon.


“Zalleta,” Tiara menatapnya, sambil mengusap wajah adiknya itu, “kamu percayakan sama Kakak, kamu mengertikan posisi Kakak,” lanjutnya.


Setidaknya Tiara sadar diri, walaupun Tuan Smith dan yang lainnya begitu baik padanya, tapi untuk tetap tinggal di sana, rasanya itu tidak mungkin.


“Aku faham, Kak. Kita memang bukan saudara kandung, tapi aku sudah menganggap Kakak sebagai Kakak kandung aku sendiri, aku sangat menyayangi Kakak. Aku tahu apa yang ada di pikiran Kakak, merasa tidak enak tinggal di sini kerena bukan bagian dari anggota keluarga kami, begitu hah?” Sifat keras kepala Zalleta terlihat menonjol kembali.


Tiara hanya tersenyum, ia sadar sikap gadis kesayangannya itu keluar.


Tuan Smith dan Nyonya Henzy serta yang lainnya terlihat membulatkan matanya saat mendengar ucapan Zalleta, yang memang terasa sangat tidak enak terdengar di telinga mereka. Rasanya itu terlalu gamblang, bagaimana kalau Tiara merasa sakit hati akan perkataan tersebut? Pikir mereka.

__ADS_1


Namun pikiran mereka itu salah, Tiara sama sekali tidak merasakan hal itu, kerena Tiara tahu bagaimana sikap Zalleta, ia memang sudah terbiasa.


“Iya, benar. Tapi, walaupun begitu, Kakak tetap akan sering-sering menemui kamu Zalleta, kamu harus percaya sama Kakak.” Tiara pun membenarkan perkataan gadis itu.


“Baiklah kalau begitu, aku mengerti sekarang!” ucap Zalleta, gadis itu terlihat tersenyum penuh arti.


Membuat semua orang langsung menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


“Aku punya satu permintaan untuk Kakak, tapi Kakak harus berjanji akan menuruti permintaan aku, setalah itu terserah Kakak,” sambungnya.


Tiara mengerutkan keningnya, menatap Zalleta, perasaan Tiara sudah mulai tidak enak, ia mencoba membaca pikiran adiknya itu, melawati mimik wajahnya, mencoba menebaknya, tapi sayangnya ia tidak mengerti. Permintaan apa yang akan Zalleta ajukan padanya?


“Apa?” tanya Tiara.


“Berjanjilah dulu untuk menurutinya, anggap saja ini permintaan terakhir aku sama Kakak,” jawab Zalleta.


“Jangan bicara seperti itu, Zalleta. Kamu boleh meminta apa pun sama Kakak, jangan bilang permintaan terakhir-terakhir!” tegas Tiara.


Mendengar hal itu tentu saja Tiara merasa takut, mendengar kata terakhir dari gadis itu, membuatnya teringat pada penyakit yang di derita oleh Zalleta. Sungguh Tiara takut, takut jika ini adalah sebuah isyarat, bahwa Zalleta akan meninggalkannya.


‘Tidak, aku tidak boleh berpikir buruk. Ayolah Tiara, berpikir positif jangan seperti ini,’ batinnya.


Dengan ragu akhirnya Tiara pun mengangguk kepalanya, di sisi lain ia juga takut Zalleta berbuat nekat. Katakan saja Tiara mencari aman, ia cukup tahu sikap Zalleta yang keras kepala.


“Benarkah? Serius kan Kak?” tanyanya lagi.


“I—iya, apa pun untuk kamu, Kakak akan lakukan,” jawab Tiara meyakinkan gadis itu.


Sementara orang-orang yang berada di sana, hanya menyimak dengan perasaan yang penasaran apa yang diminta oleh Zalleta pada Tiara.


“Menikahlah dengan Kak Ken,” punya Zalleta.


Deg!


Tiara terkejut, bukan hanya Tiara bahkan semua orang yang berada di sana pun tak kalah terkejut, begitu juga dengan Ken.


“Non Zalleta, apa maksudnya?” tanya Ken, ia sungguh tidak mengerti, kenapa tiba-tiba Zalleta meminta dirinya untuk menikah dengan Suster Tiara?

__ADS_1


“Bukankah kalian sangat dekat, kalian menjalin suatu hubungankan?” balik tanya Zalleta.


Lalu Zalleta beralih menatap Mamahnya, “iyakan Mau?” tanyanya pada Nyonya Henzy.


Nyonya Henzy langsung menganga sambil mengusap-usap tengkuaknya.


Sontak semua orang pun kini menatap pada Nyonya Henzy.


“Mah, benarkan kalau Kak Tiara sama Kak Ken menjalin suatu hubungan? Jawab dong Mah ih? Kalau begitu kita harus menikahkan mereka saja, jadi Kak Tiara tidak akan bisa pergi dari sini, kerena Kak Ken anggota keluarga kita juga!”


“Dek, kayanya kamu salah paham deh, Kakak sama Tuan Ken gak pernah menjalin hubungan apa-apa, kita memang sering berkomunikasi tapi itu semua untuk terkait dengan perkejaan Kakak, dan buat tanya keadaan kamu sama Tuan Ken, itu saya,” sahut Tiara menjelaskannya.


“Iya benar, kamu salah paham Zalleta," timpal Ken.


Ya memang itulah kenyataannya, mereka tidak punya hubungan apa-apa, tidak ada perasan apa-apaan, yang ada Ken itu maunya menikah dengan Zalleta, karena sejak dulu ia sudah menyukai gadis itu, tapi katakan saja Ken lelaki pengecut yang tidak pernah berani mengungkapkannya.


Zalleta membulatkan matanya mendengar ucapan Tiara dan Ken tersebut, jadi mereka tidak ada hubungan apa-apa? Terus bagaimana cara Zalleta menahan Tiara agar tetap tinggal di sana? Karena ia pikir tadi semua itu adalah cara yang jitu, ya walaupun sebenernya ia pun agak sesak, kerena harus merelakan Ken si pria yang diam-diam sudah mencuri hatinya itu.


Sementara itu, pria yang duduk di samping Ken, yang tak lain adalah Teo, pria itu terlihat bernapas lega, saat sejak tadi, entah mengapa hatinya terasa panas, saat Zalleta meminta Tiara untuk menikah dengan Ken.


“Be—beneran kalian gak ada hubungan apa-apa?” tanya Zalleta pada Ken dan Tiara.


Ken dan Tiara pun mengangguk kepalanya bersamaan.


“Aku yang akan menikahi Tiara.”


Semua orang langsung menatap kearah sumber suara yang mengatakan hal tersebut, mereka langsung membulat matanya terkejut.


“Hah?” ucap mereka semua serentak.


Bersambung...


Gantung lagi ya, wkwkwkwk


Yakin deh udah pada bisa nebak, siapa yang ngomong barusan, iya gak? Wkwkwk


Like dulu yuk.

__ADS_1


Komen juga!


__ADS_2