
“Sudahlah Bu, jangan mengusik Tiara, tidakkah selama ini sudah cukup Ibu selalu memperlakukan Tiara secara tidak baik, saat dia masih menjadi istriku? Aku sudah menuruti semua kemauan Ibu!” ucap Reyhan pada Ibunya, yang terlihat masih menggerutu, kepanasan melihat hidup Tiara yang lebih baik.
Tentu saja ia tidak suka melihat Tiara bahagia, ia ingin selalu membuat mantan menantunya itu menderita.
“Ibu tidak mengusik dia kok, kita cuman kebetulan ketemu, Ibu gak suka saja lihat gaya dia yang sok kaya!”
“Iya Mas, benar kata Ibu loh, Ibu gak mengusik dia, kita semua bertemu secara tidak sengaja, lagian Mas ini kenapa sih, ingat Mas dia udah jadi mantan, ngapain kamu belain dia segala!” timpal Lian.
“Diam kamu, aku tidak berbicara sama kamu!” bentak Reyhan kesal.
“Sudah-sudah, lebih baik kita cara perhiasan yang kamu mau Lian, mood Ibu hancur sekarang gara-gara si Tiara sialan itu!”
Reyhan hanya bisa menggeleng kepalanya, entahlah. Apa yang diinginkan Ibunya itu, padahal sekarang Tiara bukan lagi menantunya, tapi masih saja menampakan sikap ketidak sukaannya itu pada Tiara.
Reyhan benar-benar tak habis pikir, padahal Reyhan sudah menurut semua kemauan wanita yang sudah melahirkan itu, bahkan sebentar lagi ia akan menikahi Lian, Lian yang saat ini sedang mengandung, namun entah anak siapa yang wanita itu kandung, Reyhan meragukan semuanya, bahkan ia sangat yakin jika janin yang ada di rahim wanita itu bukanlah darah dagingnya.
Setalah itu mereka pun langsung memilih perhiasan untuk mas kawin nanti.
“Mbak, saya mau kalung yang seperti wanita itu tadi dong,” ucap Lian pada seorang wanita yang melayaninya itu.
“Oh ya Mbak tadi beli itu ya Mbak, maaf model seperti itu tidak ada, karena untuk perhiasan dari berlian, kami selalu menyediakan satu model hanya satu, Mbak. Tapi, jika Mbak mau boleh memesannya terlebih dahulu,” jelas wanita tersebut.
“Lian, kamu itu apa-apaan sih, pilih yang lain saja. Kenapa harus sama sama Tiara!” protes Reyhan.
“Kira-kira berapa lama kalau saya pesan, Mbak?” tanya Lian lagi pada wanita tersebut, ia menghiraukan Rey yang jelas-jelas tidak menyukai keinginan dirinya itu.
“Paling lama satu Minggu, Mbak. Tapi jika mau memesannya harus di bayar sebagian dulu dari harganya,” jawabnya.
“Oke baiklah, berapa?”
‘Berapa pun harganya aku harus bisa memiliki kalung itu juga, enak saja seorang Tiara bisa memiliki dan aku tidak, aku tidak mau kalah pokoknya,’ lanjut Lian dalam hatinya.
“150 juta, nanti setalah barangnya sudah jadi baru setengahnya lagi Mbak bayar.”
Reyhan dan ibunya terlihat langsung membulatkan matanya. Total harganya berarti 300 juta, apa Lian gila? Tidak tahukan jika sekarang ini keuangan Reyhan sedang genting!
__ADS_1
“Tidak, kita cari perhiasan biasa saja Lian, kalau kamu keukeh silahkan bayar sendiri!” pungkas Reyhan.
“Loh kok gitu sih Mas? Kamulah yang bayarin!” kesal Lian.
“Benar kata Rey, Lian. Cari perhiasan yang biasa saja, ngapain beli yang mahal-mahal, ingat biaya pernikahan nanti kalian itu tidak sedikit!" tegas Ibunya Reyhan.
‘Kau benar-benar keterlaluan Lian, enak saja kau mau memanfaatkan anakku. Sial kenapa dia harus hamil sih, padahal niatku hanya ingin menghancurkan rumah tangga Reyhan dan si Tiara, tapi tidak Rey untuk menikahi wanita sial ini, seperti aku harus cari cara untuk menyingkirkan wanita ini,' batin Ibunya Reyhan.
“Enggak Mas, pokoknya aku mau kalung itu. Dan harus kamu yang bayarin!” keukeh Lian.
“Ya sudah kalau kamu mau, silahkan beli sendiri, ayo Rey kita tinggal saja dia!” sahut Ibunya Reyhan sambil menarik tangan putranya itu keluar dari tempat tersebut.
Reyhan terlihat menurut, kerena memang ia juga sepemikiran dengan sang Ibu, Lian terlihat berdecak kesal sambil menghentak-hentakkan kakinya.
“Mbak gimana, mau jadi pesan?” tanya wanita tadi dengan ramah.
“Tidak jadi!” jawab Lian ketus, lalu ia segara menyusul calon suami dan ibu mertuanya itu.
“Kita pulang saja Rey, biarkan aja si Lian itu kita tinggalin saja!” ajak sang Ibu.
Senyuman di wajah Tiara terlihat berseri-seri. “Apa kamu sudah benar-benar melupakan aku, Ra? Kamu terlihat sangat bahagia dengan pria itu? Apa benar dia calon suami kamu? Ra, apakah tidak ada lagi kesempatan untuk kita bersama kembali, aku masih mencintai kamu, Ra, sangat. Maafkan aku Tiara,’ ucap Rey lirih dalam hatinya.
***
“Sekarang sudah gak sedih lagi kan? Pokoknya jangan pernah menangisinya lagi, air mata kamu terlalu berharga untuk menangisi orang-orang seperti mereka,” ucap Teo lembut, seraya mengusap wajah Tiara yang dibasahi air mata itu.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
“Cari makan yuk, aku udah laper dari tadi, eh malah harus bujuk dan tenangin Suster si bayi gede ini dulu,” sambung Teo sambil terkekeh pelan.
“Aku tidak meminta kamu untuk membujuk atau menenangkan kok!" sahut Tiara ketus.
“Cie ngeles, tapi kenapa tadi mau-mau aja aku peluk, kalau gak mau dibujuk dan ditenangkan,” balas Teo tidak mau kalah.
“Berarti gak ikhlas dong tadi?”
__ADS_1
“Aku gak bilang begitu calon istri, sudah ah, bisa gak sih kita gak berdebat mulu? Aku tuh pengen uwu-uwu tahu,” ujar Teo.
“Ck, uwu-uwu endasmu!” ketus Tiara. “Yaudah ayo katanya tadi mau cari makan. Aku juga leper,” sambung Tiara.
Setalah itu mereka pun berjalan ke salah satu Restoran yang ada di Mall tersebut.
“Oh iya, ada yang lupa!” ucap Teo, ia menghentikan langkahnya.
Sontak Tiara pun ikut berhenti, lalu menatap pria di sampingnya itu dengan penuh tanda tanya. Apa lagi sih? Katanya tadi lapar!
“I LOVE YOU TOO,” ucap Teo pada Tiara.
Lah? Kok aneh, kenapa bilangnya I LOVE YOU TOO?
“Aku lupa belum membalas ucapan Love you kamu tadi calon istriku," sambung Teo kepada Tiara yang terlihat bingung itu.
“Memangnya kapan aku bilang I LOVE YOU?” Tiara mengerutkan kening.
“Tadi, jangan bilang lupa ya, mau aku cium hemm?” goda Teo.
“LOVE YOU TOO, itu untuk balasan ucapan yang barusan," sambung Teo sambil tersenyum lebar.
Oh iya Tiara baru ingat, tadi memang ia sempat berucap I LOVE YOU pada Teo pas di depan mantan suami dan ibu mertuanya serta Lian, sebagai ucapan terima kasih untuk kalung yang Teo belikan, lah kok bisa-bisanya baru bilang I LOVE YOU TOO sekarang, harusnya tadi. Ada-ada saja memang kelakuan bayi gede-nya itu.
Tapi tak bisa dipungkiri hati Tiara meras berbunga-bunga, ya ampun kok bisa-bisanya gombal garing Teo kembali melelehkan hatinya, bentar itu gombalan bukan sih masuknya? Ah sudahlah, terserah.
“Jadi sekarang kita udah saling cinta dong ya? Sudah bilang Love you, love you-an,” ucap Teo pada Tiara, lagi-lagi Teo tersenyum menggoda Tiara.
“Menurut kamu,” sahut Tiara, ia tidak membenarkan hal itu, lebih tepatnya jawaban Tiara ambigu. Tiara langsung kembali melanjutkan langkahnya, rasanya ia ingin cepat-cepat pulang saja, berlama-lama dengan pria itu membuat sport jantungnya.
Teo terkekeh pelan, ah rasanya ia gemas melihat tingkah calon istrinya itu, seperti pernikahan harus cepat di gelar, biar kegemasan Teo bisa tersalurkan sama Tiara, kalau sudah SAH kan bisa lebih uwu-uwu gemasnya.
“Eh, untuk para Readers, sampaikan salam Teo pada author kita yang cantik ini ya, bilang suruh percepat saja pernikahannya, kalian juga pasti udah gak tahankan, pasti gemaskan mau lihat aku segara unboxing Tiara, eh maaf keceplosan.”
Bersambung...
__ADS_1
Eh-eh apaan tuh Si Teo?🙄