Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 43. Kembalinya ingatan


__ADS_3

“Syukurlah, Nak.” Nyonya Henzy kembali memeluk gadis yang masih terbaring lemas itu.


“Maafkan Mamah Zalleta, maafkan kami semua, selama ini kami pikir kamu itu sudah tiada, kerena saat itu kami menemukan jenazah seorang gadis yang sangat mirip sama kamu, kami semua pikir itu adalah kamu,” lanjut Nyonya Henzy, ia bener-bener merasa bersalah pada Zalleta.


“Tidak apa-apa Mah, Zalleta paham kok. Aku bahagia sekali karena bisa berkumpul dan bertemu lagi sama kalian semua,” ucap Tari/Zalleta.


Nyonya Henzy pun melepaskan pelukannya. Tuan Smith dan Teo terlihat berjalan menghampiri Tari/Zalleta, sementara Ken ia masih terdiam mematung, ia sungguh terkejut kerena ingatan Tari sudah kembali, gadis itu sudah tahu jika sebenarnya di adalah Zalleta.


“Papa, Kakak,” panggil Tari/Zalleta pada kedua pria yang kini sudah berdiri di samping tempat tidurnya itu.


Tuan Smith tidak bisa berkata-kata apa-apa, pria parubaya itu langsung menghambur putrinya, yang selama ini ia pikir sudah tiada.


“Maafkan Papa, Nak,” lirih Tuan Smith yang memeluk putrinya itu.


Tari/Zalleta tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, sama seperti halnya Nyonya Henzy, Tuan Smith pun merasakan hal yang sama, ia merasa bersalah kerena selama ini sudah menganggap jika Zalleta sudah tiada, dan saat kecelakaan itu terjadi, bahkan saat polisi menemukan jenazah seorang gadis yang di sangka itu Zalleta, ia dengan mudahnya percaya begitu saja.


“Kalian jangan menangis, aku baik-baik saja. Jangan merasa bersalah atas apa yang terjadi, semuanya sudah takdir dari Tuhan. Zalleta faham mengapa Mamah, Papa dan yang lainnya menyangka jika aku sudah tiada, kerena aku pun tidak menyangka, kalau aku akan selamat dalam kejadian saat itu.”


“Aku sungguh merasa bahagia, di saat kondisiku seperti ini, Tuhan mengembalikan ingatanku, Tuhan menemukan aku lagi dengan keluarga yang sangat aku cintai, Tuhan memang maha baik, seperti Tuhan sudah merencanakan ini semua agar aku bisa pergi dengan tenang,” lanjutnya.


Mendengar hal itu tangis Nyonya Henzy kembali pecah, begitu juga dengan Tuan Smith, ia terlihat melepaskan pelukannya, lalu menatap putri bungsunya itu dengan lekat.


“Jangan berkata seperti itu Nak, jangan pernah tinggal kami lagi, sudah cukup kamu menyiksa kami selama ini, semangat Zalleta, yakin kamu pasti sembuh, Nak,” ucap Tuan Smith, mencoba menyakinkan putrinya itu.


Bagaimana pun caranya, Zalleta harus sembuh, tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan bukan, dan tidak yang tidak mungkin, bukan? Jika Tuhan sudah berkehendak.


“Benar, Nak. Kamu harus tetap semangat, kami semua akan selalu bersama kamu,” timpal Nyonya Henzy.


Gadis itu pun menganggukkan kepalanya, ia juga memang ingin sembuh, ingin sekali. Tapi, apakah mungkin? Ia memang tahu kuasa Tuhan sangat besar, semoga saja Tuhan memberikannya umur yang panjang.


“Kak, apa Kakak tidak ingin memelukku?” tanya Tari/Zalleta pada Teo—sang Kakak.


Pria itu memang sedari tadi hanya diam mematung, memandangi Tari/Zalleta. Teo masih tidak menyangka jika ternyata adiknya itu masih hidup, akan tetapi melihat kondisi sang adik yang memprihatinkan itu, lagi-lagi Teo menganggap jika yang terjadi pada Zalleta semua itu karenanya.


“Kak Teo, apa Kakak sudah lupa sama aku?” ucap Tari/Zalleta lagi.


Namun Teo masih terdiam, ia bergeming.


“Apa benar kamu Zalleta, adikku?” Akhirnya Teo membuka suaranya, ia menatap adiknya itu meras tidak percaya, bukan hanya kondisi sang Adik yang memprihatinkan, rupa adik kesayangannya itu pun kini jauh berbeda, cantik walaupun dengan wajah pucatnya.


“Menurut Kakak aku siapa? Kakak tidak percaya kalau aku Zalleta hmm?” tanya balik adiknya itu, dengan bibir yang mengerucut.


Melihat ekspresi wajahnya, kini Teo yakin, bener, itu adalah Zalleta, adiknya. Adiknya masih hidup.


Teo pun langsung mendekati Tari/Zalleta lalu memeluk erat adik kesayangannya itu.


Zalleta tersenyum diiringi dengan air mata yang menetes di sudut mata gadis itu. Tapi tentu saja tangis itu adalah tangis terharu bahagia. Setalah beberapa tahun terpisah, akhirnya ia bisa bertemu dengan sang Kakak.


“Maafkan Kakak, Kakak yang menyebabkan kamu seperti ini, Zalleta,” lirih Teo penuh penyesalan.


“Apaan sih Kakak, Kan tadi aku udah bilang, apa yang sudah terjadi sama aku, itu semua bukan karena salah siapa pun, semua itu sudah takdir, Kak. Lagian aku selama ini merasa bahagia kok, aku baik-baik saja, aku di tolong oleh orang-orang baik, orang-orang yang tulus menyayangi aku,” ujar Tari/Zalleta.


“Kakak janji akan menebus semua kesalahan Kakak, Dek. Kakak janji, Kakak akan mengembalikan waktu kamu yang hilang bersama kita dulu.”


“Waktu tidak akan pernah bisa diulang lagi, Kak. Yang udah terjadi biarlah terjadi, sudah aku bilang, aku gak apa-apa kok, selama jauh dari Kakak, Mamah sama Papa, aku gak ke kurang kasih sayang.”


“Syukurlah, siapa yang sudah menolong kamu?” tanya Teo.

__ADS_1


“Jangan di jawab Zalleta, dia hanya pura-pura tidak tahu saja!” sahut Nyonya Henzy menimpalnya.


Tari/Zalleta nampak bingung dengan kondisi saat ini. Apa yang sudah terjadi? Kenapa Mamahnya nampak sedang kesal pada sang Kakak? Oh iya ia baru teringat sesuatu.


“Mah, Pah, mana Kak Tiara?” tanya Tari/Zalleta.


“Tunggu! Apa benar dia yang sudah menolong kamu selama ini Zalleta?” tanya Teo.


“Iya Kak, benar. Kak Tiara dan orang tuanya sudah menolong aku, Ayah dan Ibu sangat baik, dia sama-sama menyayangi aku dan Kakak Tiara, kami tidak pernah dibeda-bedakan, walaupun keadaan keluarga mereka sederhana, tapi semua itu tidak membuat aku tersiksa, mereka sangat tulus.


Tapi Ayah dan Ibu Kak Tiara sudah meninggal, selama ini Kak Tiara yang sudah merawat aku, dia yang banting tulang mengobati aku, bahkan dia rela diperlakukan tidak baik, oleh mantan mertuanya, demi aku,” papar Tari/Zalleta.


Walaupun ingatan tentang siapa sebenernya dia, siapa keluarganya, sudah ia ingat, bukan berati ia lupa akan ingatannya masa kini, apa lagi pada Tiara.


“Jadi kamu ingat semuanya, Nak?” tanya Nyonya Henzy.


“Tentu saja Mah. Dimana Kak Tiara, Mah?”


“Suster Tiara tidak ikut, Nak.”


“Kenapa?” tanya Tari/Zalleta.


“Oh iya satu lagi, jadi Kak Tiara kerja sama Papa dan Mamah? Terus tadi Mamah kok menyebut Kak Tiara dengan sebutan Suster? Kak Tiara emang suster sih, tapi aku bingung, apa Mamah sama Papa punya Rumah Sakit sekarang? Apa Kak Tiara kerja di rumah sakit milik Papa sama Mamah?” cercanya.


“Ceritanya panjang, Nak. Nanti Mamah jelaskan ya," jawab Nyonya Henzy.


“Baiklah. Tapi aku ingin pulang, aku tidak mau di sini, aku mau di rawat di tempat kelahiran aku aja, boleh gak Mah, Pah?”


“Gak bisa, Zalleta, kamu harus tetap di sini, kamu harus menjalani pengobatan yang serius!” Teo yang menjawabnya.


Nyonya Henzy dan Tuan Smith saling menatap satu sama lain. Setalah itu Tuan Smith terlihat menganggukkan kepalanya.


“Iya, boleh,” jawab Nyonya Henzy.


Senyuman di wajah putrinya itu terlihat berbinar.


“Tidak, aku tidak setuju!” proses Teo.


“Kami tidak butuh persetujuan kamu, Teo. Di sini atau pun di rumah, itu sama saja. Papa akan mendatangkan Dokter khusus untuk Zalleta!”


Teo hanya bisa menahan kekesalannya, ya memang tidak ada yang tidak mungkin bagi Papahnya.


“Ya sudah kalau begitu aku mau pulang hari ini juga!” seru Tari/Zalleta.


“Tidak hari ini sayang, besok ya. Mamah sama Papa bicara dulu sama Dokter,” ujar Nyonya Henzy.


Tari/Zalleta terlihat menghelai napas beratnya, padahal ia ingin pulang sekarang, ia sudah tidak sebar ingin bertemu dengan Tiara, Kakak angkat yang sudah seperti Kakak kandung baginya itu. Jika tanpa Tiara, ia tidak tahu apakah saat ini ia bisa merasakan lagi dekapan keluarganya.


Setelah itu Tuan Smith dan Nyonya Henzy pun beranjak dari sana, mereka akan menemui Dokter, untuk membicarakan soal ini, setidaknya mereka harus konsultasi terlebih dahulu.


Dan kini hanya tinggal Tari/Zalleta, Teo dan juga Ken.


“Kakak sebenarnya apa yang terjadi selama aku tidak ada?” tanya Tari/Zalleta pada Teo—sang Kakak.


“Kakak kamu tidak akan pernah mau menceritakan Zalleta,” sahut Ken.


Zalleta langsung menatap pria itu.

__ADS_1


“Kak Ken, kalau begitu Kakak saja yang ceritakan. Aku tidak sabar mau tahu apa yang sebenernya terjadi. Tapi sebelum itu, boleh gak Kak Ken telepon Kak Tiara, aku ingin bicara sama dia, ponselku sudah beberapa hari mati,” ujar Tari/Zalleta.


Astaga! Ken juga baru ingat, Tiara juga kan meminta untuk menghubunginya jika Ken sudah sampai di sini.


“Aku tidak berhak menceritakan semuanya, terkesan lancang seperti, nanti biar Mamah dan Papa kamu saja yang menceritakan semuanya. Kalau masalah menelpon Nona Tiara, baiklah, ini." Ken memberikan ponsel pada Tari/Zalleta.


Gadis itu pun mulai melakukan panggilan video call pada nomer ponsel Tiara. Hingga beberapa saat kemudian. Terlihat wajah Tiara dari ponsel tersebut.


“Hallo, Kak...” sapa Tari/Zalleta, sambil melambaikan tangannya.


“Hallo adil Kakak tersayang, kemana aja kamu Dek, Kakak khawatir benget sama kamu, kenapa ponsel kamu tidak bisa dihubungi, kamu baik-baik saja kan Sayang?” cerca Tiara dari sebrang sana, raut wajah wanita itu jelas terlihat mengkhawatirkannya.


Bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.


“Maaf, Kak. Tari baik-baik saja kok.” Sengaja ia menyebutkan dirinya Tari, bukan Zalleta, ia memang tidak ingin memberitahu terlebih dahulu pada Tiara, jika ingatannya sudah kembali.


“Syukurlah, oh iya apa kamu sudah bertemu dengan...” Tiara terdengar menggantungkan ucapannya.


“Sudah, Kak,” jawabnya. Ia sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh Kakaknya itu.


“Kakak ikut bahagia, Dek. Kakak juga tidak menyangka jika ternyata majikan Kakak itu adalah orang tua kandung kamu, selamat ya sayang kamu sudah berkumpul dengan keluarga kandung kamu lagi. Emm, apa kamu mengingat mereka semua, Dek?”


Tari/Zalleta langsung terdiam, harus menjawab apa pada Tiara? Sedari tadi ia memperhatikan wajah Tiara, Tari/Zalleta melihat ada kesedihan yang dalam di sorot mata wanita yang sudah menganggap sebagai adik itu. Setidaknya ia tahu bagaimana seorang Tiara, memang sangat pandai menutupi kesedihannya dengan senyuman manis di wajah cantiknya itu.


Yang menjadi masalahnya adalah, ia takut Kakaknya bersedih jika ia mengatakan sudah mengingat tentang keluarganya? Ia takut jika Tiara meninggalnya, kerena merasa ia kini sudah bersama dengan keluarganya.


“Hey, kok malah bengong sih?" tanya Tiara lagi.


“Eh, emm gak apa-apa kok, Kak. Oh iya Kakak baik-baik ajakan di sana?” tanya balik Tari/Zalleta sengaja ia mengalihkan pembicaraannya.


“Kakak baik kok, Dek.”


“Ya sudah kalau begitu, aku mau istirahat dulu ya, Kak. Byee...”


Tanpa menunggu jawaban dari Tiara, ia langsung mengakhiri sambung video call tersebut.


Ken dan Teo terlihat menatap Tari/Zalleta.


“Kenapa tidak memberitahu semuanya, Zalleta?” tanya Ken.


“Nanti saja," jawabnya singkat. Setelah itu ia pun kembali memberikan ponsel tersebut pada pemiliknya.


“Oh iya, aku minta sembunyikan dulu tentang ingatan aku yang sudah kembali sama Kak Tiara, biar besok saja aku yang akan bicara secara langsung bertatap mata sama dia,” pintanya.


Ken hanya menganggukkan kepalanya, sementara Teo ia bergeming.


‘Sedekat itulah hubungan Zalleta dengan Tiara? Apa iya, wanita menyebalkan itu sangat tulus pada adikku?’ batin Teo.


Bersambung...


Ramaikan kolom komentar ya geas ya!


like dan votenya jangan lupa.


Lanjut gak nih?


Apa besok aja aku lanjutnya?🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2