
Teo terlihat menahan tawanya, sekarang ia paham, ternyata oh ternyata calon istrinya itu ternyata cemburu. Ah sangat menggemaskan.
“Kenapa malah cengegesan hah? cepat jalan!” titah Tiara galak.
Teo hanya menganggukkan kepalanya, dalam hati ia sangat bersorak gembira, kini Teo sudah yakin seribu persen jika Tiara sudah benar-benar mencintai, ya iyalah, memangnya ada yang bisa menolak sejuta pesona dari seorang Mateozy Smith? Tidak 'kan?
Tuh liat aja yang nulis aja sampe senyum-senyum sendiri.
“Iya gak Thor?”
“Apaan sih lu kagak jelas Teo!”
Oke lanjut!
Teo pun langsung melajukan mobilnya, Tiara terlihat semakin merasa kesal. Ya, gimana tidak kesal, punya calon laki gak peka sama sekali. Benar-benar menyebalkan.
Di sepanjang perjalan keduanya terlihat bungkam, suasana hening mendominasi di dalam mobil tersebut.
Sudah lebih setengah jam mobil itu masih terus melaju, Tiara mengerutkan keningnya keheranan. Kenapa tidak sampai-sampai? Seharusnya 15 menit saja sudah sampai di rumah.
Dan Tiara baru sadar, kenapa Teo tidak membelokkan laju mobilnya? Seharusnya kan belok kanan, ini malah lurus saja.
“Hey jalan rumah kelewatan tuh!” ketus Tiara.
“Ya tahu,” sahut Teo santai.
“Kita mau kemana sih? Gak jelas benget, aku lelah, aku mau istirahat, malah diajak jalan-jalan gak jelas!” Lagi-lagi Tiara berbicara dengan nada yang ketus.
Teo tidak menanggapinya, pria itu terus melajukan mobilnya, memang sengaja Teo tidak membelokkan arah mobilnya tadi, ia ingin memberikan kejutan pada Tiara.
‘Apa penyakit sok bisunya itu kumat lagi? Apa sih ini maunya, benar-benar menjengkelkan sekali!’ lanjut Tiara berucap dalam hatinya.
Tapi Tiara malah beradu mulut, ia memilih untuk diam, tak bersuara. Terserah calon suaminya itu mau membawanya kemana, mode pasrah, Tiara lelah.
Hingga setengah jam kemudian, Teo menghentikan laju mobilnya, di dekat sebuah danau yang terlihat indah. Tapi, saat Teo melirik kearah Tiara, wanita itu terlihat tertidur pulas.
“Sepertinya dia benar-benar lelah, maafkan aku ya sayang, tunggu sebentar ya di sini,” ucap Teo pelan, lalu ia mengusap kepala Tiara pelan.
Tidak ada pergerakan sama sekali dari Tiara saat Teo mengelusnya, sepertinya Tiara memang kelelahan.
Teo pun turun dari mobil tersebut, ia menghampiri seseorang, yang tak lain orang tersebut adalah teman lama Teo, yang mengelola kawasan danau tersebut, yang memang dijadikan sebagai tempat wisata.
Teo terlihat berbincang dengan temannya itu.
“ .... gimana bisa gak kira-kira?” tanya Teo diakhiri kalimat, setalah ia membicarakan suatu permintaannya pada teman lamanya itu.
“Sekarang?”
“Ya iya, sekarang. Pokok harus bisa, tenang saja saya akan membayar lebih, jika kamu bersedia menyiapkan sekarang,” jales Teo.
__ADS_1
“Siap Bos, satu jam deh tunggu ya.”
“Terlalu lama, setengah jam, oke!”
“Itu terlalu singkat, ini tidak mudah,” pintanya.
“Tidak mau tahu, kalau dalam setengah jam tidak selesai, maka saya tidak akan membayarnya, dan jika selesai dalam waktu yang ditentukan, saya akan membayar sepuluh kali lipat, gimana?”
Senyuman di wajah pria yang menjadi teman lamanya Teo itu terlihat langsung bersemangat.
“Siap laksanakan Bos!” serunya.
“Ya sudah capat.”
Pria itu pun berlalu dari hadapan Teo, ia langsung melaksanakan permintaan teman lama yang ia sebut sebagai Bos itu. Sementara Teo, ia kembali ke dalam mobil. Tiara terlihat masih tertidur lelap.
Setalah itu Teo menghubungi Ken, entah apa yang diminta Teo pada Ken, kerena Ken seperti sangat kesal dari nada bicaranya saat berbicara lewat sambungan telepon tersebut bersama Teo.
“Cepat, Carikan yang bagus. 20 menit harus sampai, aku kirim lokasi sekarang,” pinta Teo.
“Kau benar-benar keterlaluan Mateozy Smit, kau ... ”
Klik!
Teo langsung mengakhiri sambungan telepon tersebut, padahal di sebrang sana Ken belum usai berbicara.
“Aku suka melihat kamu cemburu sayang, aku suka melihat kamu kesal, kamu terlihat sangat menggemaskan sekali Tiara, apa lagi saat tidur begini, kamu terlihat cantik sekali.
Aku heran, kenapa si Reyhan itu sangat bodoh, membuang berlian demi batu krikil berlumpur dijalanan. Kamu selamanya akan menjadi milikku Tiara, tidak akan ada yang bisa merebutmu dari aku, aku mencintaimu,” ucap Teo pelan, matanya tak lepas menandingi calon istrinya itu.
Tak terasa setengah jam pun berlalu, Teo masih asik memandangi Tiara, yang dipandang terlihat masih anteng memejamkan matanya.
Teo mendapatkan satu pesan, ia membuka pesan tersebut, senyuman di wajah Teo semakin merekah, saat ia membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya itu, pesan tersebut yang tak lain dari temannya tadi, dia mengatakan jika semua sudah finist.
“Oke terima kasih, saya transfer bayarannya sekarang.”
Teo membalas pesan dari teman itu, setalah itu Teo mendapatkan balasan kembali, temannya itu memberikan nomer rekeningnya. Teo langsung mentransfer nominal yang ia janjikan tadi.
“Si Ken kemana lagi, lama benget!” gerutu Teo.
Ini sudah lebih dari waktu yang Teo tempo pada Ken, tapi sahabatnya itu belum terlihat batang hidungnya.
Teo pun langsung menghubungi Ken.
“Aku sudah sampai Tuan Muda, ini pesanannya, cepat ambil, aku sudah dibelakang mobilmu!” ucap Ken dalam sambung telepon tersebut.
Teo pun mematikan sambungannya, lalu kelar dari mobil, dan benar saja Ken sudah ada di belakang mobilnya.
“Mana?” tanya Teo yang kini sudah didepan Ken.
__ADS_1
“Nih ambil, puas ngerepotin orang terus.” kesal Ken sambil memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah pada Teo.
“Kau memang biasa direpotkan, bukan?” Teo pun mengambil kontak tersebut.
“Aku langsung balik,” ucap Ken. Tanpa menunggu jawaban dari Teo, Ken langsung berlalu masuk ke dalam mobilnya.
Teo hanya tersenyum menanggapinya. Dalam hati sebenernya ia juga tidak mau merepotkan Ken, tapi ya bagaimana lagi, hanya Ken yang bisa diandalkan.
Teo pun memasukan kontak kecil tersebut ke dalam saku jasnya. Setalah itu ia masuk kembali ke dalam mobil, lalu membangunkan Tiara.
“Tiara, bangun ... ” Teo menggoyangkan lengan Tiara.
Tiara menggeliat pelan dengan mata yang masih rapat tersebut.
“Calon istri bangun cepat, kita sudah sampai.” Teo kembali menggoyangkan lengan Tiara.
Perlahan Tiara pun membuka matanya, “kita susah sampai ya?” tanyanya dengan suara khas orang bangun tidur.
Tiara masih mengumpulkan jiwanya, matanya terasa sangat berat.
Teo keluar dari mobil, lalu membukakan pintu mobil sebelahnya untuk Tiara.
“Ayo turun," ajak Teo tangannya terulur kearah calon istri itu.
Tiara yang masih setengah mengantuk itu hanya mengangguk, lalu ia meraih tangan Teo, sepertinya Tiara juga belum sadar dirinya sekarang ada di mana.
Setalah Tiara turun, Teo pun melepaskan tangannya, lalu tangannya itu beralih menutup mata Tiara.
“Kamu apa-apa sih?” kesal Tiara.
Bagaimana tidak kesal, tiba-tiba Teo langsung menutupi matanya dengan telapak tangannya pria itu.
“Jangan banyak protes, ayo jalan saja,” pinta Teo sambil mengiringi Tiara untuk jalan.
Tiara terdengar mendengkus kesal, namun ia menuruti permintaan calon suaminya itu.
Mereka berjalan beberapa meter, hingga akhirnya sampailah di tempat tujuannya itu.
“Kejutan!” seru Teo pada Tiara saat melepaskan tangannya yang menutupi mata Tiara tersebut.
Mata Tiara yang sejak tadi masih mengantuk berat itu, kini langsung terbuka sempurna, rasa kantuknya itu seketika langsung hilang.
Tiara memandang takjub sebuah tulisan yang terbentuk dari lampu-lampu dihadapannya itu, bunga-bunga terlihat berjejer rapi dengan view Danau dibelakangnya membuat malam ini terlihat sangat indah.
Teo berjalan beberapa langkah, ia berdiri di hadapan Tiara, lalu merongoh saku jasnya mengambil sebuah kotak berwarna merah itu.
“Will you Marry me Suster Tiara?” Teo berlutut di depan Tiara seraya membuka kontak berwarna merah yang berisikan sebuah cincin berlian itu.
Bersambung ...
__ADS_1