Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 57. Tidak Perduli


__ADS_3

“Maaf, Kak. Tapi aku tidak bisa, aku tidak mau memberikan sebuah harapan palsu untuk, Kakak!”


“Aku mengerti posisi kamu, Za. Apa pun yang terjadi aku tak perduli, izinkan aku untuk menjadi orang yang sangat berharga di kehidupan kamu, Za, aku mohon ... ” ucap Ken.


“Kak, jika Kakak mengerti, harusnya Kakak tidak seperti ini! Kakak tetap menjadi orang yang sangat berharga bagi aku, karena Kak Ken sudah aku anggap sebagai Kakak aku sendiri!” tegas Zalleta.


“Lebih baik Kakak keluar, aku ingin istirahat!” lanjut Zalleta mengusir Kendra.


Ia langsung membelakangi Ken.


“Tapi, Za ... ”


“Aku bilang keluar!” pekik Zalleta.


Ken menghelai napasnya, lalu ia pun menuruti permintaan Zalleta, Ken berlalu keluar dari kamar tersebut.


Tangis Zalleta pecah usai Ken berlalu dari sana, sakit rasanya ya Tuhan.


“Aku juga mencintai kamu, Kak. Tapi kita tidak mungkin bersama,” lirihnya sambil terisak tangis.


*


*


*


Ken kini tengah duduk dihalaman belakang untuk menenangkan hati dan pikirannya. Entah mengapa Ken merasa jika perasaan sebenernya di balas oleh Zalleta, tapi gadis itu tidak mau mengiyakan permintaannya.


Ken tahu posisi Zalleta, maksud Zalleta yang tidak ingin memberikan harapan palsu padanya, Ken mengerti ucapan itu.


Ken tidak perduli jika nantinya Zalleta hidup bersama singkat, Ken hanya ingin merasakan hidup bersama orang yang ia cintai, apa pun yang terjadi nanti, Ken sudah siap.


“Itulah yang Papa takutkan, Ken.” Tiba-tiba saja Tuan Smith sudah berada di sana.


Sontak Ken pun melirik kearah Tuan Smith yang sudah ia anggap sebagai Papa-nya, tapi bukan berarti status itu membuat Ken tidak bisa bersama dengan Zalleta, jelas Ken dan Zalleta tidak sedarah, tentunya mereka sah jika menikah.


Tapi yang Ken heran mengapa Tuan Smith tahu tentang apa yang Ken pikiran sekarang?


“Apa Papa mendengar semuanya?" tanya Ken.


“Ya tentu saja, bukankah di sana sudah ada CCTV yang lengkap dengan penyadap suara,” jawab Tuan Smith sambil terkekeh, lalu pria parubaya itu berjalan menghampiri Ken, dan duduk di bangku yang berada di samping Ken.


“Lalu aku harus bagaimana Pa? Apa Papa juga tidak merestui aku dan Zalleta jika kamu bersama?”


“Kalau takdir menggariskan kalian bersama, memangnya Papa bisa apa, Ken? Tapi, bukankah tidak semudah itu, bahkan kamu mendapatkan penolakan dari putriku?”


“Zalleta tidak menolakku, Pa,” kilah Ken.


“Lalu apa hmm?”

__ADS_1


“Ya belum siap saja mungkin, aku yakin Zalleta juga membalas perasaanku, dia hanya terlalu berpikir pendek saja. Padahal apa pun yang terjadi Ken akan hadapi, Pa.”


“Bukan, Zellata bukan berpikir pendek, tapi dia berpikir menggunakan logika, Ken. Dia tidak ingin mengecewakan kamu, dia takut jika hal buruk terjadi, kamu akan terluka, bukan hanya kamu tapi kita semua.”


“Entahlah, Pa.”


“Ya sekarang terserah sama kamu saja, jika Zalleta mau, silahkan nikahi dia, tapi jika tidak jangan memaksanya,” kata Tuan Smith.


Setalah berkata seperti itu, ia pun berlalu dari sana. Tadi, ia dan istrinya saling bertukar pikiran, awalnya merasa sama-sama, sependapat jangan sampai Ken menikah dengan Zalleta, bukan tidak suka pada Ken.


Hanya saja, tidak perlu dijelaskan lagi, bukan?


“Ayolah Ken, kau jangan seperti ini! Kamu pasti bisa meluluhkan hati Zalleta, dia pasti akan jatuh kepelukannya kamu, cinta itu butuh perjuangan Ken, ayo semangat!” ujar Ken pada dirinya sendiri.


Ya kalau tidak menyemangati diri sendiri? Lalu di semangat sama siapa? Readers, ada yang mau semangatin Kendra? Ayo merapat.


Cukup lama Ken terdiam di sana, malam semakin larut, Ken pun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah.


Ken langsung menuju kamarnya, seperti ia harus tidur, tenaga dan benar-benar merasa terkuras. Apa lagi besok pagi ia masih banyak kerjaan yang harus ia selesaikan, menjadi sekertaris Tuan Smith, mengurus perusahaan milik Teo, mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara pernikahan Teo dan Tiara, bayangkan saja betapa sibuknya seorang Kendra Mahesa!


Untuk dia ciptaan author, yang bisa skip-skip semua perkejaan, eeeaaaaaa ...


Akan tetapi Ken terkejut saat ia masuk ke dalam kamarnya, di sana terlihat sudah ada Teo yang tengah merebahkan diri di ranjang milik Ken.


Ken berdecak kesal, tidak bisakah beri waktu Ken untuk beristirahat?


“Akhirnya datang juga, dari mana saja kamu? Orang nunggu juga dari tadi!” ketus Teo pada Ken.


“Oh iya, apa kamu kenal dengan mantan suaminya Tiara?”


“Kenal sih tidak! Tapi aku pernah bertamu dengannya, dan kebutuhan perusahaan Papa menaruh saham banyak di sana. Memangnya kenapa?”


“Bagus!” seru Teo, lalu ia tersenyum penuh kemenangan.


Ken terlihat bingung dengan tingkah Teo, tapi Ken yakin pasti ada tujuan tertentu Teo menanyakan hal itu.


Apa mungkin Reyhan membuat masalah lagi pada Tiara? Apa yang sudah terjadi?


Saat Teo dan Tiara jalan ke Mall, Ken memang mengikutinya, tapi hanya memastikan mereka sampai ketujuan dengan lancar, jadi Ken tidak tahu apa yang terjadi.


“Tarik semua saham itu, Ken,” titah Teo.


“Lah, kenapa memangnya? Kasian nanti itu orang bisa bangkrut!”


“Bodo, memang itu yang aku inginkan, kalau bisa bikin dia menderita," sinis Teo.


“Memangnya kenapa? Dia membuat ulah?”


“Ya benar, bahkan dia menghina calon istriku dengan kejam, pokoknya besok semuanya harus selesai, aku tidak aku tahu. Aku ingin melihat mereka melarat!”

__ADS_1


Teo tidak perduli, itulah balasan untuk meraka kerena berani berurusan dengan keluarga Smith.


“Kau kejam sekali!”


“Sesekali harus kejam, biar mereka jera, manusia-manusia seperti itu harus diberi pelajaran sampai akar-akarnya!”


“Baiklah, lihat saja besok, apa yang kau inginkan pasti terjadi. Sekarang keluarlah aku ingin istirahat!” usir Ken.


“Sialan berani sekali kau mengusirku! Eh iya satu lagi, besok aku akan kembali ke kantor.”


“Baguslah akhirnya kau sadar juga, kenapa tidak dari kemarin saja, kau tau aku sudah seperti robot hidup, kepalaku hanya satu, aku harus memikirkan ini dan itu, tanganku hanya dua aku harus mengerjakan semuanya, lelah Mazeeeeh!”


“Kau bukan robot hidup, lagian sesibuk apa pun kau tidak akan bisa mati, kalau penulis tidak membuatmu mati! Kita itu hanya fiksi!”


Setalah berkata seperti itu, Teo langsung bergegas keluar dari kamar Ken. Seperti malam ini Teo bisa tidur dengan nyenyak.


*


*


*


Keesokan harinya . . .


Teo kini terlihat sudah rapi dengan setelan jas -nya, entah sudah berapa lama Teo tidak berpenampilan seperti itu, ia merasa takjub pada dirinya sendiri.


“Baiklah, aku sangat tampan, bukan?” ucap Teo sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin.


Setalah itu Teo pun bergegas keluar dari kamarnya, ia berjalan menuju kamar Tiara.


“Calon istriku ... ” panggil Teo sambil mengetuk pintu kamar tersebut.


Beberapa detik kemudian pintu pun terbuka.


Ceklek!


“Ya ada apa sih? Masih subuh juga udah ganggu aja!” ucap Tiara memelas, wajah mengantuk masih menyelimuti wajah cantik wanita itu.


“Mandi cepat, hari ini kamu ikut aku ke kantor," titah Teo.


Sontak Tiara langsung membelakkan matanya, apa dia gila? Lihatlah ini baru jam 5 subuh.


“Astaga, ini baru jam 5 subuh, apa jam di kamar kamu mati? Bisa-bisanya ngajak ke kantor jam segini, aku tidak mau. Lagian hari ini aku sibuk!”


“Ya berangkatnya nanti, sekarang siap-siap aja dulu, oke sayangku,” ucap Teo, lalu ia mendaratkan kecupan di pipi Tiara.


“Itu morning kiss Sayang,” sambung sambil bergegas dari hadapan Tiara.


“Dasar gila!" teriak Tiara, eh, lalu detik kemudian ia langsung membungkam mulutnya, ini masih subuh, ia sudah teriak-teriak bisa-bisa yang di sangka gila itu dirinya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2