Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab. 8 : Hidup Tari akan jadi taruhannya!


__ADS_3

"Tiara..."


"Tiara, tunggu!" panggil Rey.


Tiara kembali meneruskan langkahnya, ia tak menggubrisnya Rey, yang masih memanggilnya itu.


"Jika kamu tetap minta kita berpisah, oke aku akan kabul. Tapi dengar Tiara, nyawa adikmu akan jadi taruhannya!" teriak Rey.


Kali ini ucapan Rey berhasil membuat Tiara menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap laki-laki yang masih berstatus suaminya itu.


"Apa kamu lupa Tiara, aku. Akulah yang membuat sampai detik ini adikmu yang penyakit itu tetap hidup. Aku yang membiayai semua pengobatan untuk Tari." lanjut Rey.


"Aku tidak pernah meminta kamu untuk menanggung semua itu Mas. Bukankah dari awal kamu sendiri yang memaksa aku untuk mengizinkan kamu yang menanggung semuanya," pekik Tiara. Ia tak menyangka jika Rey akan berkata seperti itu.


"Ya memang, karena aku mencintai kamu Tiara. Tolong maafkan aku, aku akan membiayai pengobatan Tari di luar negeri, jika kamu mau memaafkan aku."


Tiara terdiam, dari mana Rey tahu soal itu? Tari berpikir sejenak. 'Dokter Marvin, ya pasti Dokter Marvin yang memberitahu Mas Rey,' batin Tiara.


Namun Tiara tidak bisa menyalakan Dokter Marvin, Tiara tahu kenapa Dokter Marvin memberitahu Rey, karena Tiara yang sampai detik ini belum mengatakan pada Rey, karena Tiara harus berpikir berulang kali. Tapi Tiara tidak terima, kenapa Rey malah memanfaatkan kondisi ini.


Apa harus Tiara memaafkan Rey? Mengurung Niatnya untuk berpisah. Agar Tari tetap menjali pengobatan di luar negeri. Tapi, rasanya berat, apa masih bisa ia hidup bersama laki-laki yang sudah mengkhianatinya, mematahkan hatinya? Melihatnya saja Tiara jijik!


'Ya Tuhan aku harus bagaimana?' batin Tiara.


"Bagaimana Tiara, kamu setujukan? Demi kebaikan Tari, demi kebaikan kita juga!" bujuk Rey.


"Tidak semudah itu Mas, kesalahan kamu sangat fatal!" ucap Tiara. Lalu ia kembali melanjutkan langkahnya, meninggalkan Rey begitu saja.


"Arghh!" teriak Rey frustrasi. Rey ingin mengejar Tiara, namun ia ingat pagi ini ia ada metting dengan clien penting.


"Lihat saja Tiara, tidak semudah itu. Aku pastikan kamu akan selamanya bersamaku. Aku tidak akan pernah menceraikan kamu!" ucap Rey penuh keyakinan.


Rey pun akhirnya meninggalkan Rumah Sakit tersebut, ia langsung melajukan mobilnya menuju Perusahaannya.


Tiara mengusap sisa air matanya yang membasahi wajahnya sebelum ia masuk ke dalam ruangan rawat adiknya.


'Aku harus terlihat baik-baik saja di depan tari, jangan sampai Tari curiga, apa lagi ia sampai tau apa yang terjadi sama aku dan Mas Rey,' batin Tiara. Ia mengambil nafasnya, mencoba menteralkan semuanya.


Setalah itu Tiara pun masuk ke dalam ruangan rawat Tari.


"Kak, akhirnya Kakak kembali juga," ucap Tari saat melihat Kakaknya itu masuk.


"Iya, maaf ya. Kamu udah laper banget ya Dek? Ini Kakak beliin, kita makan sama-sama ya."

__ADS_1


Tari hanya menganggukkan kepalanya, Tiara menyiapkan bubur yang tadi ia beli itu, mengeluarkan kontak bubur tersebut dari dalam plastik, lalu membantu Tari untuk bangun, bersandar di kepala ranjang.


"Kakak suapin ya," ucap Tiara.


"Gak usah Kak, Tari makan sendiri aja. Kakak juga harus makan, kita makan buburnya berang-berang ya kak," tolak Tari dengan lembut.


Tiara tersenyum, ia pun mengikuti permintaan Adiknya itu, mereka menikmati bubur mereka masing-masing.


"Oh iya Kak, tadi ada orang ke sini nyariin Kakak," ucap Tari di sela menikmati buburnya itu.


Tiara mengerutkan keningnya, menatap Adiknya itu.


"Siapa Dek? Kok dia bisa tau ruangan kamu?"


"Gak tau Kak, tadi Tari lupa gak tanya siapa Bapak-bapak itu. Tapi dia kelihatannya orang baik, Kak."


Tiara terdiam sejenak, 'Bapak-bapak, siapa?' batin Tiara.


Perasaan Tiara tidak punya kenalan Bapak-bapak, apa lagi Tari juga tidak mengenali orang itu. Karena setiap orang yang Tiara kenal, Tari juga pasti tahu.


"Siapa ya Dek? Kenapa orang itu nyariin Kakak? Perasaan Kakak gak ada urusan dengan siapa pun?" tanya Tiara pada Adiknya itu.


"Tari gak tau Kak. Tari juga baru pertama kali liat dia. Tapi dia bilang tadi akan ke sini lagi, ada urusan penting sama Kakak katanya," jelas Tari.


"Hah Ken? Untuk apa dia ke sini nyariin Kakak?" Tiara nampak terkejut.


"Kakak kenal sama mereka?"


"Emm, kenal sih enggak Dek. Cuman mereka sempat menolong Kakak," jawab Tiara, keceplosan. 'Aduh, kenapa aku malah bilang kenal lagi sama Tari,' lanjut Tiara dalam hatinya. Ah kenapa dia bisa keceplosan, fix adiknya itu pasti akan bertanya lebih banyak lagi.


"Menolong? Emang Kakak kenapa? Kenapa mereka sampai menolong Kakak? Kakak baik-baik ajakan? Kak, cerita sama Tari!" Tari langsung mencerca beberapa pertanyaan pada Kakaknya itu.


Tuhkan benar, dugaan Tiara.


"Semalam Kakak hampir tertabrak oleh mobil mereka, terus setalah itu Kakak pingsan begitu saja. Mereka menolong Kakak, membawa Kakak ke rumahnya," jelas Tiara.


"Jadi semalam Kakak di rumah mereka?"


Tiara menganggukkan kepalanya pelan.


"Kakak hampir tertabrak atau Kakak sengaja mau menabrakkan diri ke mobil mereka?" tanya Tari. Membuat Tiara terkejut, kenapa Tari bisa berpikir seperti pada Tiara?


"Kamu ini ngomong apa sih Dek. Enggaklah," kilah Tiara.

__ADS_1


"Sudah jangan di bahas lagi, lebih baik cepat habiskan buburnya." lanjut Tiara.


Tari hanya menghelai nafasnya, setalah itu ia pun kembali melanjutkan memakan bubur tersebut, begitu juga dengan Tiara. Kali ini tidak ada lagi percakapan antara Kakak beradik itu, mereka larut dalam pemikirannya masing-masing.


'Jadi semalam Kak Tiara menginap di Rumah orang itu, pantesan saja Kak Rey tidak bisa menemukan Kak Tiara. Kak, kenapa Kakak tidak jujur sama Tari sih, tentang kondisi rumah tangga Kakak,' batin Tari. Sambil diam-diam menatap Kakaknya yang tengah menikmati buburnya itu.


'Berarti orang yang dikatakan oleh Tari tadi, itu Tuan Smith bersama Tuan Ken. Untuk apa mereka ke sini mencariku? Dan diri mana mereka tau kalau Tari adalah adikku?' batin Tiara.


'Ck, kenapa kamu sangat bodoh Tiara, mereka itu orang kaya, punya kekuasaan, mencari informasi seperti ini pasti sangat mudah bagi mereka.' batin Tiara lagi.


Tak lama kemudian mereka pun menghabiskan bubur tersebut. Tiara meminta Adiknya untuk beristirahat, setelah Tiara memberikan obat untuk adiknya itu.


"Istirahat ya Dek, Kakak mau keluar dulu sebentar," ucap Tiara pada Adiknya itu, seraya mengusap kepala Tari yang di tutupi oleh penutup kepala (Ciput).


Tari tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Tiara pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.


"Kak tunggu!" Panggil Tari.


Sontak Tiara pun langsung menghentikan langkahnya, lalu berbalik kearah Tari.


"Mau sampai kapan Kakak begini? Mau sampai kapan Kakak menyembunyikan semuanya dari Tari, Kak? Kak, jangan pura-pura di depan Tari, Tari tau semuanya yang terjadi sama Kakak." ucap Tari.


Tiara menatap bingung Adiknya itu. Lalu Tiara berjalan kembali mendekati Tari. Tiara mencoba bersikap tenang, walau pun dalam hatinya ia mulai merasa tidak tenang, bahkan perkataan Tari barusan membuat banyak pertanyaan di benak Tiara. Apa maksud Tari? Adiknya mengetahui semuanya yang terjadi pada dirinya? Apa Rey yang mengatakan semuanya pada Tari?


"Kamu ini ngomong apa sih Dek?" tanya Tiara, berpura-pura tidak mengerti.


"Kak, jangan berpura-pura semuanya baik-baik saja. Sudah cukup Kak! Jangan sampai karena Tari, Kakak menyiksa diri Kakak sendiri."


"Tari, Kakak tidak mengerti apa yang kamu katakan!"


"Kak, Tari sudah tau semuanya. Mas Rey yang menceritakan semuanya pada Tari. Sudah Kak, cukup. Kakak saat ini sedang tidak baik-baik saja, Kakak sedang hancur, Kakak terluka. Berpisah dengan Kak Rey, Kak! Jangan pikirkan Tari," lirih Tari.


Bersambung....


Hay geas maaf baru update, author lagi gak enak badan dari kemarin.


Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen dan votenya.


Sawer author ya, tonton Iklan di gift, hahaha


Terima kasih.


Babay ...

__ADS_1


__ADS_2