Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab. 19 : Kesialan Reyhan


__ADS_3

"Kenapa kamu Rey, wajahmu masam begitu? Kaya orang susah aja!" tanya Sarah—Mamahnya. Saat Reyhan sampai di kediamannya itu.


"Apaan sih Mamah, keppo aja!" jawab Rey ketus, ia tidak terlalu mempedulikan Mamahnya itu, ia terus berjalan melawati Mamah Sarah.


"Eh-eh tunggu Rey, itu kamu bawa apa?" tanya Mamah Sarah lagi, wanita itu bergegas menyusul Reyhan, dan mengambil sebuah amplop yang di berikan oleh Ken tadi.


"Apaan sih Mah, main ambil aja!" Reyhan merebut amplop itu dari tangan Mamah Sarah.


"Idih pelit banget, Mamah cuman mau liat doang isinya apaan!" ketus Mamah Sarah, segera wanita parubaya itu merebut kembali dari Reyhan.


"Waoow, gila... banyak banget ini Rey, dari mana kamu punya uang sebanyak ini?" Mata Mamah Sarah terlihat berbinar melihat isi lembaran kertas yang jumlahnya tidak bisa ia hitung itu di dalam amplop tersebut.


"Sini Mah, itu bukan uang Rey!" tegas Rey, kembali ia akan merebut amplop tersebut dari tangan Mamahnya, namun sayangnya Reyhan cukup gesit, Mamah Sarah sudah memasukan amplop yang berisikan uang 1 Milyar itu ke dalam tasnya.


"Ini udah masuk tas Mamah ya Rey, kamu gak akan bisa ambil lagi. Kalau kamu ambil, kamu saja mencurinya!"


"Gak bisa begitu dong Mah. Itu bukan uang Rey, sini kembalikan! Besok yang itu mau Rey kembali pada orangnya!"


"Gak bisa! Kalau Mamah bilang gak bisa ya enggak Reyhan! Lagian kamu ini kenapa pelit benget sih sama Mamah sendiri juga. Dengar ya Reyhan, Mamah itu yang sudah mengandung kamu selama sembilan bulan, terus lahiran kamu, besarin kamu sampe kamu bisa seperti ini! Bayangkan bagaimana Mamah memperjuangkan kamu, berapa banyak uang yang Mamah keluarkan untuk membiayai kamu hingga kamu bisa sukses seperti ini Reyhan. Sampai kapan pun kamu gak akan bisa bayar semuanya! Jadi jangan pelit dong sama Mamah, cuman uang segini saja juga!" ucap Mamah Sarah panjang lebar.


Ada rasa sesak di hati Reyhan, kenapa Mamahnya berbicara seperti itu, bukankah itu memang kewajiban Mamahnya sebagai orang tua, merawat dan membesarkan Reyhan. Kenapa harus di bicarakan secara gamblang? Seperti tidak ikhlas saja membesarkan dirinya. Ingin rasanya Reyhan berkata kasar, tapi ya sudahlah. Walau bagaimana pun ia harus tetap menghormati wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Iya Mah Reyhan tau, Rey sangat berhutang Budi sama Mamah. Tapi Rey mohon Mah, jangan ambil uang itu. Itu benar-benar bukan uang Rey!" bujuk Rey.


"Terus uang siapa? Kalau bukan uang kamu kenapa kamu bawa pulang? Uang sebanyak ini cash pula!"


"Itu uang Tiara Mah," jawab Reyhan.


"Hahahaha, kamu pikir Mamah percaya? Kamu ini suka melawak Rey, Rey. Dari mana si Tiara punya uang sebanyak ini? Kamu mimpi kali Rey," ledak Mamah Sarah sambil tertawa.


"Gak Mah, beneran. Ya udah gini aja, kita bagi dua aja ya uangnya, 500 juta buat Mamah, nanti yang 500 jutanya aku kasih lagi sama Tiara." Rey masih terus mencoba membujuk Mamahnya itu.

__ADS_1


Reyhan memang berencana akan mengambalik uang itu lagi, tapi bukan pada Ken, melainkan pada Tiara.


Rey juga berniat ingin meminta maaf pada Tiara, bahwa soal uang itu ia hanya bercanda.


Tapi kalau begini ceritanya, Rey merasa pusing juga. Ya setidaknya, yang 500 juta yang ia kasih pada Mamahnya itu, Rey akan ganti dari uang tabungannya.


"Jadi uang ini jumlahnya 1 M?" Mamah Sarah terlihat shock sekali senang, akhirnya ia mengetahui jumlah uang yang ada di amplop itu, tanpa menghitungnya dulu.


"Iya Mah. Itu buat berobat Tari, ayolah Mah kita bagi dua aja ya."


"Ck, enak aja. Gak! Ini sudah menjadi milik Mamah. Lagian ngapain sih kamu masih ngurusin adiknya si Tiara itu, biarkan aja Reyhan. Buang-buang duit aja kamu. Bukannya kamu sama Tiara juga akan pisahkan? Untuk apa repot-repot ngurusin mereka lagi, itu bukan urusan kamu lagi Reyhan!" ketus Mamah Sarah.


"Reyhan cinta sama Tiara Mah, sampai kapan pun Rey gak akan pernah pisah sama dia!" tegas Reyhan. Raut wajahnya kini terlihat memerah. Menandakan kalau laki-laki itu kini di selimuti oleh amarah.


Mamah Sarah tersenyum sinis sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada.


"Yakin kamu? Tuh lihat surat di meja! Tiara udah menggugat kamu ke pengadilan, dia udah gak mau sama kamu. Sudahlah Reyhan lupakan wanita miskin itu, lebih baik kamu sama Lian aja, dia cantik, pintar, wanita karir lagi. Mamah lebih suka kamu sama dia, dari pada sama Tiara!"


"Ya-ya, terserah kamu saja Reyhan. Kamu memang tidak pernah mendengarnya Mamah mu ini. Silahkan kamu pertahanan Tiara kalau bisa! Mamah sih gak yakin, gugat cerai Tiara pasti akan di kabulkan sama hakim saat sidang nanti, terlebih dia pasti mempunyai bukti perselingkuhan kamu sama Lian."


"Aku gak selingkuh sama Lian Mah, aku gak pernah mengkhianati Tiara, dia hanya salah paham!" tegas Reyhan.


"Baiklah, kamu atur saja. Tapi jangan lupa, kamu juga harus pakai logika Reyhan, orang lain lebih percaya bukti dari pada kenyataannya!"


"Sudahlah Mamah mau pulang, besok Mamah mau shopping dengan uang ini. Dah anakku sayang..." lanjut Mamah Sarah. Setalah itu ia pun berlalu meninggalkan kediaman putranya itu.


"Ah sial! Mamah benar-benar keterlaluan. Jika saja dia bukan wanita yang sudah melahirkan ku, aku tidak akan diam seperti ini!" kesal Reyhan. Ia hanya bisa menatap punggung Mamahnya itu.


Setalah itu Reyhan mengambil surat yang sempat Mamahnya itu tunjukkan. Benar saja surat tersebut dari pengadilan agama.


"Aku gak mau pisah sama kamu Tiara, aku sangat mencintai kamu. Kenapa kamu tidak bisa memaafkan aku? Kenapa? Tuhan saja maha pemaaf, kenapa kamu tidak?" gumam Reyhan.

__ADS_1


Saat ini ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Kacau! Semuanya kacau, rencana gagal total. Terlebih uang itu sudah raib di ambil oleh Mamahnya.


"Kenapa aku jadi sial begini sih? Ini semua gara-gara Si Lian! Lihat saja besok aku akan memecat kamu Lian. Wanita tidak tau diri, aku sudah menolongnya dia malah menghancurkan semua hidupku, rumah tanggaku, perusahaanku! Dia bilang mau menjelaskan pada Tiara, tapi mana? Dia sekarang seakan tengah tertawa di atas penderitaanku!" geram Reyhan.


*


*


*


"Bagaimana Ken, sudah di atur semuanya?" tanya Tuan Smith pada Ken.


"Sudah Tuan, semuanya sudah saya kerjakan. Saya juga tadi sudah bertemu dengan Dokter yang selama ini merawat Nona Tari, beliau mengatakan jika ia bersedia mengantarkan Nona Tari besok ke Singapure," jelas Ken.


"Baiklah, kamu urus saja, kamu ikut juga ke sana, biar urusan di sini saya yang handel semuanya."


"Baik Tuan."


"Tiara bagaimana? Apa kamu sudah memberi tahu dia?"


"Belum Tuan."


"Ya sudah kamu pasti lelah istirahatlah. Biar saya yang menghubungi Tiara, kamu kirimkan kontak dia sama saya."


Ken mengangguk, lalu mengirimkan nomor ponsel Tiara pada Tuan Smith.


"Oke, saya akan menghubungi dia."


"Baik Tuan, saya permisi," pamit Ken. Langsung mendapat anggukan dari Tuan Smith. Setalah itu Ken pun berlalu dari hadapan laki-laki parubaya itu.


Tuan Smith menatap layar ponselnya itu, memperhatikan Poto profil kontak Tiara. Di mana di Poto tersebut terlihat Tiara tengah tersenyum bergaya bersama Tari—adiknya.

__ADS_1


'Mata itu? Kenapa mata itu mirip sekali dengan mata mending putriku, Zalleta?' batin Tuan Smith.


__ADS_2