
Sementara itu, Tari kini sudah di perjalan menuju bandara. Di temani oleh Ken, dan beberapa tim medis.
‘Kenapa aku merasa tidak asing dengan wanita ini? Kenapa rasanya aku pernah mengenalnya?’ batin Ken. Memperhatikan dengan sudut matanya.
“Nona Tari, apa saya bisa bertanya sesuatu pada Anda?” tanya Ken kemudian pada wanita yang duduk di sampingnya itu.
“Apa?” Tari langsung menatap Ken dengan kening yang mengkerut.
“Maaf sebelumnya, orang tua Nona di mana?”
“Orang tuaku sudah meninggal, memangnya kenapa?”
“Bukan itu maksud saya, orang tua kandung Nona?”
Tari terdiam, kenapa Ken bisa tahu kalau dirinya dan Tiara tidak ada hubungan darah?
“Dari mana Anda tau seolah itu? Perasaan kita baru beberapa kali bertemu dan kita belum bicara banyak.”
“Emm...” Ken terlihat bingung. Sial kenapa ia bodoh bertanya seperti itu pada Tari.
“Hay aku bertanya padamu!” lanjut Tari, suara terdengar ketus.
__ADS_1
“Ah iya, emm... Nona Tiara yang menceritakan semuanya pada saya.” dusta Ken.
“Kak Tiara?” Tari nampak terkejut, tapi ia rasanya tidak percaya, untuk apa Kakaknya menceritakan soal ini pada orang lain. Apa tujuannya coba?
“I—iya, Nona.”
“Tidak mungkin. Kamu pasti bohongkan, Kak Tiara itu gak pernah menceritakan masalah privasi ke orang lain. Apa lagi soal aku yang bukan adik kandungnya! Kamu pasti mencari informasi tentang aku dan Kak Tiara, Kan?!” Tari menatap Ken penuh selidik.
“Kalau iya memang kenapa, hmm?”
“Sudah aku duga! Orang kaya memang selalu sepeda itu! Kepo banget sama orang lain!” ketus Tari.
Hah apa? Apa Ken tidak salah dengar, berani sekali wanita itu berkata seperti itu padanya.
“Ck! Lalu apa maksud kamu tadi tanya tentang orang tua kandungku? Apa kamu tau orang tua kandung ku di mana?” ucap Tari dengan memalas.
“Tidak! Aku tidak tau orang tua Nona.”
“Ya kalau gak tau buat kamu bertanya. Jadi begini ya orang kaya, selain kepo dia juga menyebalkan!” ketus Tari lagi.
Astaga! Kena hanya bisa menahan ke kesalannya. Ia merasa jika wanita itu benar-benar sangat menyebalkan. Tapi sikap ketusnya membuat Ken teringat pada seseorang. Zalleta—adiknya Teo, sikapnya sungguh sama dengan gadis itu.
__ADS_1
‘Kenapa sikap Tari sangat sama dengan sikap Zalleta, apa mungkin Tari adalah Zalleta?’ ucap Ken dalam hatinya.
Bukan tanpa alasan Ken berbicara seperti itu, ia mengingat dulu saat mendapatkan kabar jika Zalleta meninggal, namun saat melihat jenazah gadis itu, Ken merasa tidak yakin jika itu Zalleta, karena ada sesuatu yang berbeda. Zalleta mempunyai tanda tahi lalat di lehernya, sementara gadis yang waktu itu di anggap adalah Zalleta tidak ada tahi lalatnya. Wajahnya memang sudah tidak bisa di kenali kerena mengalami luka bakar yang sangat parah pada saat itu.
Entah mengapa batin Ken mengatakan jika Tari adalah Zalleta. Tapi, jika ia Zalleta, kenapa tidak mengenali dirinya, dulu Ken dan Zalleta memang sangat dekat, bahkan gadis itu sangat manja pada Ken dari pada sama Teo kakak kandungnya sendiri.
Lalu Ken melirik pada Tari, ia mengamati gadis itu dari atas sampai kebawah.
Tari yang menyadari Ken memperhatikannya, langsung menatap laki-laki itu penuh tanya dan bingung.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Tari.
Ken tak menjawab, lalu ia mendekati Tari, matanya kini menatap lekat wajah gadis itu, tatapan mereka saling bertemu. Perlahan Ken mengangkat tangannya lalu.
“Hey apa yang kamu lakukan!” pekik Tari, saat Ken menarik syal yang menutupi leher gadis itu.
Ken langsung membulatkan matanya, terkejut sekaligus tak percaya. Melihat ada tahi lalat di leher gadis itu.
“Zalleta...” ucap Ken, lalu memeluk Tari.
Bersambung....
__ADS_1
Like, komen, dan votenya jangan lupa ya BESTIE...
Terima kasih.