
“Loh, Ra, kamu mau kemana?” tanya Bu Maya yang melihat Tiara berpakaian rapi serta membawa kopernya.
Tiara terkejut, sontak wanita itu pun menghentikan langkahnya. ‘Ya Tuhan, kenapa harus bertemu dengan Bu Maya,’ batinnya.
“Eh Bu May, emm ... aku mau pergi, Bu,” jawab Tiara, kemudian ia menundukkan kepalanya.
“Pergi kemana? Maksud kamu gimana sih, Ra? Kamu mau pergi dari sini, begitu?” cerca Bu Maya.
Perlahan Tiara pun mengangguk kepalanya, iya memang benar, niatnya ia ingin pergi dari tempat tersendiri, bukan tanpa alasan. Toh, buat apa ia masih berada di sana? Teo sudah sembuh, bukan? Adiknya juga kini sudah berapa dalam kondisi yang aman dan terjamin, dia sudah bersama keluarga.
Sebenernya Tiara juga berat untuk meninggalkan tempat tersebut, tapi ini sudah menjadi keputusannya, niatnya juga ia akan pergi secara diam-diam, tapi sayangnya Bu Maya melihatnya.
“Ya ampun, Ra! apa yang kamu pikirkan sih? Kenapa kamu mau pergi? Bukankah kamu bilang kamu kerja sama Tuan dan Nyonya sudah membuat perjanjian hitam di atas putih?”
“Iya, Bu. Aku tahu, tapi untuk apa saya berada di sini? Tugas aku sudah selesai, Tuan Muda sudah sehat lagi, bahkan ia sudah bisa bicara,” jawab Tiara ia mencoba menarik bibirnya tersenyum.
“Bukannya kamu juga masih butuh uang untuk membiayai Adik kamu yang sakit itu, Ra? Jangan mengambil keputusan tergesa-gesa, Ibu tidak bermaksud ikut campur urusan kamu, Ra. Tapi Ibu sudah menganggap kamu sebagai keluarga. Jika memang kamu mau berhenti kerja di sini, sebaiknya kita tunggu Tuan dan Nyonya sampai saja. Dan apa kamu gak kasihan sama Ibu, nanti kalau Tuan dan Nyonya sampai, mereka nanyain kamu, Ibu harus gimana, Ra?”
“Terima kasih Bu, Ibu sudah menganggap aku sebagai keluarga, aku juga sama sudah menganggap Ibu seperti Ibu aku sendiri. Tapi, aku tidak mungkin terus berada di sini, dan untuk masalah Adikku, sekarang dia sudah berada di tempat yang aman, berada bersama keluarga kandungnya,” jawab Tiara menjelaskannya.
__ADS_1
“Keluarga kandung? Maksudnya?”
Tiara memang tidak pernah memberitahu Bu Maya jika adiknya yang selama ini ia perjuangkan ternyata bukan adik kandungnya.
“Nanti Ibu pasti akan tahu jawabannya.”
“Tapi, Ra. Jangan pergi sekarang, setidaknya kamu berpamitan dulu sama Tuan dan yang lainnya,” saran Bu Maya.
Tiara terdiam, ia mencoba mencerna semua ucapan dari wanita parubaya itu, memang lebih baik seperti itu, tapi lagi-lagi, Tiara memilih egonya.
Bukan tanpa alasan Tiara ingin pergi dengan cara seperti ini. Ia sakit harus melepaskan adiknya nanti, walaupun di sisi lain ia juga merasa bahagia jika adiknya itu berkumpul lagi bersama keluarga kandungnya.
“Enggak, Ra. Ibu gak setuju! Ibu gak mau berbohong, apa lagi Tuan dan Nyonya itu orang baik, Ibu gak bisa bohong sama mereka. Lebih baik kamu tunggu saja mereka pulang, sebentar lagi pasti sampai, Ra. Ibu mohon...” pinta Bu Maya.
“Tidak, Bu. Maaf, terserah Ibu nanti mau mengatakan jujur atau bohong tentang kepergian aku sama mereka, itu hak Ibu. Maafkan aku, Bu.”
“Memangnya kamu mau pergi kemana, Ra? Bukankah kamu bilang di sini kamu tidak punya siapa-siapa lagi, selain Adik kamu itu?”
“Iya, tap—”
__ADS_1
“Siapa yang mau pergi?”
Belum saja Tiara menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba ucapannya di sela oleh seseorang dari belakangnya.
Sontak Tiara dan Bu Maya pun menoleh ke sumber suara tersebut.
“Loh, Kak Tiara, Kakak mau kemana?” tanya Zalleta.
Ternyata mereka sudah sampai dan baru saja memasuki rumah tersebut.
“Tari ... ” gumam Tiara.
Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan votenya ygy.
Terima kasih.
Cie di gantung, wkwkwkwm
__ADS_1