
‘Oh jadi ini alasan dia menerima tawaran Papa dan Mamah, sebenernya sakit apa Adiknya sehingga dia rela menjatuhkan harga dirinya seperti ini?’ batin Teo.
Sebenernya Teo memang sengaja mengancam Tiara, ia hanya ingin tahu apa alasan wanita itu menerima pekerjaan tersebut. Dan kini Teo tahu alasannya, ya walaupun sebenernya Teo juga ingin Susternya itu pergi, tapi untuk memencet Tiara itu tidak mungkin, ber-ribu kali pun Teo memecat Tiara, jika tanpa persetujuan dari Tuan Smith dan Nyonya Henzy tentu saja itu mustahil baginya.
Teo pikir Tiara mengerti soal itu, ternyata tidak. Benar-benar gadis polos, entah polos atau bodoh! pikir Teo.
“Memangnya saya perduli hmm? Apa pun alasannya saya sama sekali tidak perduli! kau paham Suster Tiara?!”
“Saya mohon Tuan Muda, saya janji tidak akan berbicara seperti itu lagi, saya janji akan menuruti permintaan Tuan Muda, apa pun akan saya lakukan asalkan Tuan Muda tetap membiarkan saya berkerja di sini, saya benar-benar membutuhkan perkerjaan ini Tuan, saya mohon...” Tiara kembali memohon, berharap Tuan Mudanya itu berbelas kasihan padanya.
“Berdiri!” titah Teo.
“Saya tidak akan berdiri sebelum Tuan memaafkan saya.”
“Saya bilang berdiri! atau kamu benar akan saya pecat!” tegas Teo.
Mendengar hal itu Tiara pun langsung berdiri. Ia mengusap air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya itu.
__ADS_1
Teo sedikit terkejut melihat wanita itu menangis. ‘Dia cengeng sekali, lemah!’ batin Teo. Akan tetapi dalam lubuk hatinya yang paling dalam Teo merasa bersalah, kerena sudah membuat air mata seorang wanita terjatuh. Tapi untuk meminta maaf ia terlalu gengsi.
“Jadi Tuan tidak akan memecat saya?” tanya Tiara, matanya terlihat berbinar bola mata wanita itu.
Teo tertegun melihatnya, kenapa wanita dihadapannya itu terlihat cantik dan mengemaskan? ‘Ck! apa yang aku pikirkan, aku seperti orang tidak waras! jelas-jelas wanita ini sangat menyebalkan. Ya, emang sih dia cantik,’ ucapnya dalam hati. Mencoba menyangkal apa yang ia lihat namun nyatanya hatinya tak bisa dibohongi, hanya saja ia terlalu naif mungkin.
“Terima kasih Tuan Muda, terima kasih.” Tiara langsung menarik tangan Teo dan menggenggamnya. Terlihat binar bahagia terpancar dari wajah cantik janda muda tersebut.
Teo bergeming sambil menatap tangannya yang berada digenggaman Tiara tersebut, aneh kenapa detak jantungnya seperti ingin melompat.
Sementara itu, Tiara sadar akan tatapan Tuan Mudanya itu, dengan cepat Tiara pun melepaskan genggaman tangannya itu.
“Baiklah saya akan memaafkan kamu dan tidak akan memecat kamu, tapi...” Teo menggantungkan ucapnya.
“Tapi apa Tuan?” sela Tiara, menatap Tuan Mudanya itu penuh tanya.
“Kamu sudah berjanji akan melakukan apa saja bukan? Dan kamu juga sudah berjanji akan menuruti semua permintaan saya, bukan begitu Suster Tiara?” sambung Teo.
__ADS_1
Pria itu menatap Tiara dengan tatapan yang penuh arti.
‘Kenapa tatapan sangat mengerikan? Kenapa perasaanku jadi tidak enak begini?' batin Tiara.
“Suster Tiara apa kau mendengar ucapan saya hmm? Benarkan yang barusan saya katakan?” tanya Teo lagi.
Dengan ragu Tiara pun menganggukkan kepalanya pelan. “I—iya Tuan, saya berjanji akan menuruti permintaan Tuan Muda,” jawab Tiara gugup.
“Bagus!” Teo semakin melebarkan senyuman penuh artinya itu pada Tiara.
“Maaf memang apa yang Tuan inginkan?”
“Temani aku tidur sekarang!”
Deg!
Tiara terkejut, langsung membulat matanya.
__ADS_1
Bersambung....
Up lagi gak nih?