Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 60. Terapi Jantung Untuk Sang Mantan


__ADS_3

Teo pun memutuskan untuk kembali lakukan aktifitas kerjanya itu. Hingga kurang lebih setengah jam kemudian, salah satu OB di sana mengantarkan makanan yang di pesan oleh Bos-nya itu.


“Terima kasih,” sambil menerima makanan tersebut.


“Sama-sama, Pak. Saya permisi,” pamitnya.


Teo hanya mengangguk kepalanya, setalah itu ia meletakan makanan tersebut di atas meja yang berada di depan sofa.


Teo langsung menghampiri Tiara yang seperti masih terlelap di ruang privat miliknya itu.


“Calon istri, bangun ... ” Teo mengguncangkan pelan bahu Tiara.


“Ah, iya kenapa?” tanya Tiara, ia terlihat terkejut, refleks langsung bangun.


“Maaf, aku ketiduran. Ada apa?” tanya Tiara lagi.


“Ayo kita makan, aku sudah pesankan makanan untuk kita,” ajak Teo.


Tiara pun langsung menganggukkan kepalanya, memang kini perut sudah terasa perih, emm ... pantes saja sekarang sudah pukul 11 siang, sebentar lagi malah masuk jam makan siang, mana tadi pagi ia belum mengisi perutnya sama sekali.


“Ah iya baiklah, aku cuci muka dulu.” Tiara pun beranjak dari ranjang tersebut.


“Gak usah lama!" Teo langsung menarik tangan wanita itu.


“Tapikan jorok ih, aku cuci muka dulu ya,” ujar Tiara, ia mencoba melepaskan tangannya.


“Bandel banget sih, ayo cepat, aku sudah lapar tau!” Teo malah menarik lagi tangan Tiara kembali.


Kalau sudah begini ya sudahlah, Tiara bisa apa? Pasrah saja. Keduanya pun keluar dari ruangan tersebut, berjalan menuju sofa.


Tanpa basa-basi lagi keduanya langsung menikmati makanan tersebut.


“Oh iya calon istri, aku ada kejutan buat kamu nanti,” ujar Teo di sela makanannya itu.


“Kejutan apa? Aku tidak sedang ulang tahun, untuk apa memberikan kejutan?” sahut Tiara sekilas ia melirik kearah Teo, lalu kembali fokus pada makanannya.


“Memangnya kalau kasih kejutan harus saat ulang tahun saja?”


“Ya enggak juga sih, emangnya kejutan apa sih?” tanya balik Tiara.


“Pokoknya kamu lihat saja nanti, kamu pasti sangat terkejut,” jawab Teo.


“Kalau gak mau ngasih tau, ngapain bilang-bilang coba, bikin orang penasaran aja!” ketus Tiara.


Teo malah terkekeh menanggapinya.


“Habiskan makanannya, biar kamu gendut,” titah Teo.


“Emang gak apa-apa kalau nanti aku gendut? Kalau aku gendut yang ada nanti aku insecure dong!”


“Kenapa musti insecure hmm? Kalau gendut enakkan nanti kalau kita sudah menikah, mau anu gak usah pake kasur, kamu sudah empuk," celetuk Teo.


Jelas Tiara terkejut, ia langsung membulat matanya. “Dasar mesum!” ketus Tiara.

__ADS_1


“Eh tapi sayang aku tidak suka dibawah, aku lebih suka di atas!” sambung Tiara sambil tertawa.


Bercanda kali, jangan baper ah.


“Wah itu bagus dong, jadi nanti aku gak harus capek-capek nyangkul,” sahut Teo ia pun ikut tertawa.


“Lah kamu pikir aku ini sawah apa, pake dicangkul segala!”


“Iya nanti kan kalau kita sudah menikah kamu akan menjadi lahan bercocok tanam.”


Sepertinya kedua manusia itu kini sudah tak sungkan-sungkan lagi, mereka sama-sama mengeluarkan sikap amsrudnya.


“Udah ah aku kenyang,” ujar Teo.


“Ya udah aja, orang makannya juga sudah habis, apa kamu gak makan sekalian aja sama tempatnya tuh,” celetuk Tiara.


“Kamu pikir aku ini apa hemm?” Teo menatap Tiara dengan gemas.


Tiara terlihat masih menikmati makanannya.


“Calon istriku," panggil Teo.


“Hemm ... ” sahut Tiara.


“Ke KUA sekarang aja yuk, rasanya aku udah gak tahan ini,” ujar Teo. Entah itu sebuah candaan atau sungguhan.


Yang pasti sih Teo emang sudah ngebet untuk kawin eh salah maksud menikah.


“Jangan gila deh!”


“Sabar, cuman satu Minggu lagi juga.”


“Satu Minggu itu lama!”


“Ah iya, bukankah hari ini kita harus ke butik ya?” Tiara sengaja mengalihkan pembicaraannya.


Rasanya tidak etis jika harus membicarakan kearah anu, ya anu, sangat menganu-nganu. Tiara takut Teo berbuat nekat padanya, kalau Teo sampai lebih dulu menyimpan saham, kan gak lucu.


Kalian mengertikan saham yang dimaksud Tiara, lagi pula itu jangan, tidak boleh, ingat dosa!


“Oh iya, nanti sehabis pulang kantor saja,” jawab Teo.


“Itu terlalu sore, bukankah Mamah bilang sekitar jam satu-an.”


“Iya nanti jam satu kita langsung ke sana saja, masih lama juga, ini baru jam 11 lewat.”


“Baiklah.”


Tiara yang sudah selesai makannya itu pun langsung membereskan bekas makanan tersebut.


“Dia sudah datang,” ucap Ken yang tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan milik Teo.


“Suruh dia ke sini saja,” pinta Teo.

__ADS_1


Ken langsung menganggukkan kepalanya, setalah itu ia pun berlalu dari sana.


Lalu Ken meminta bawahannya untuk mengantarkan tamu spesial mereka ke ruangan Teo.


Hingga beberapa saat kemudian tamu istimewa Teo dan Ken terlihat sudah sampai di depan ruangan Teo. Ken yang mengetahui itu semua terlihat langsung keluar dari ruangannya, ruangan Ken memang berhadapan dengan Teo.


“Selamat siang, Pak Reyhan dan Bu Lian,” ujar Ken.


Reyhan dan Lian nampak terkejut mengapa Ken ada di sana.


“Selamat siang Pak Ken, kenapa anda ada di sini?” tanya Reyhan.


“Silahkan masuk,” Ken tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Rey, ia malah membuka pintu ruangan Teo dan mempersilahkan mereka masuk.


Teo yang duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut pun langsung menatap kearah mereka.


“Loh, kamu?” Lagi-lagi Reyhan dibuat terkejut, kenapa di ruangan tersebut ada pria yang mengaku sebagai calon suaminya Tiara?


Teo menampakkan senyuman sinisnya.


“Perkenalkan beliau adalah Mateozy Smith, pemilik perusahaan MZ-Jaya,” ucap Ken.


Rey dan Lian menatap tak percaya, dia? Mateozy Smith pemilik perusahaan MZ-Jaya, apakah itu benar? Sial, kini Rey sadar, hancur sudah semuanya.


“Hallo Pak Reyhan, kita bertemu lagi, silahkan duduk,” ucap Teo senyuman sinis masih terpancar dari pria itu.


“Silahkan duduk Pak Reyhan dan Bu Lian, bukankah kalian yang meminta untuk bertemu dengan kami, saya di sini mewakil Tuan Smith, karana beliau tidak bisa hadir,” timpal Kendra.


“Ini maksudnya gimana ya?” Lian terdengar membuka suaranya, sepertinya wanita itu tidak langsung cepat menangkap situasi tersebut, sementara Reyhan ia sudah memahami semuanya.


“Duduk," bisik Rey pada Lian. Mereka pun duduk di sofa tersebut.


Ken dan Teo terlihat menikmati situasi saat ini, melihat ekspresi Reyhan yang jelas terlihat bingung itu.


“Jadi begini maksud kedatangan kami ke sini, ingin membicarakan soal Perusahan kalian yang penarikan saham di perusahaan kami secara sepihak,”


“Memangnya ada larangan? Tidak ada bukan, lagian perusahan saya sudah membayar denda yang kita sepakati,” sela Toe memotong ucapan Rey yang belum selesai itu.


“Iya saya tahu, tapi perusahan anda tidak mengatakan alasannya, saya harap anda bisa berkerjasama dengan profesional, dan jangan sangkut pautkan masalah pribadi dengan bisnis!” tegas Reyhan.


“Hahaha ... " Teo malah tertawa, sementara Ken ia hanya tersenyum sinis.


Sejak awal Ken memang tidak setuju jika perusahan milik Teo dan Tuan Smith kerjasama dengan Perusahaan milik Reyhan, dalam bisnis tentu saja sangat tidak menguntungkan, kalau bukan kerena permintaan Tuan Smith dulu itu.


“Kenapa anda tertawa? Jadi benarkan apa yang saya katakan barusan?”


“Kalau benar memangnya kenapa? Masalah dengan kamu? dengar saya paling tidak suka di dunia bisnis atau pun di dunia pribadi pada orang-orang seperti kalian, yang tidak punya etika sama sekali dan selalu merendahkan orang lain, paling sok berkuasa! Ingat di atas langit masih ada langit!" tegas Teo, amarah terlihat jelas dari wajah pria itu.


“Calon suami ak ... ” Tiara yang baru saja keluar dari ruangan privat milik Teo itu terkejut melihat orang-orang yang ada di ruangan tersebut, barusan Tiara baru saja selesai dari toilet.


“Kamu, kenapa wanita miskin ini ada di sini?” sentak Lian.


“Jaga bicara kamu!" pekik Teo pada wanita itu, tentu saja Teo tidak suka jika calon istri direndahkan oleh Lian.

__ADS_1


Raut wajah Tiara yang tadinya terkejut kini berubah menjadi sinis. “Oh jadi ini Sayang kejutan untuk aku yang kamu bilang, jadi kamu mau melakukan terapi jantung untuk sang mantan sialanku," ucap Tiara.


bersambung ...


__ADS_2