Di Atas Ranjang Suster Tiara

Di Atas Ranjang Suster Tiara
Bab 60. Bebek


__ADS_3

Tiara


Wanita yang kini sudah berada dihadapan Teo itu terlihat akan memeluknya, akan tetapi dengan cepat Teo mundur beberapa langkah.


Terlihat wajah wanita itu yang tadinya diselimuti senyuman mulai meredup.


“Maaf, apa saya mengenal anda?" tanya Teo.


“Mat, apa kau sudah lupa denganku? Kau jahat sekali! aku Flora, teman sekampus pas kita kuliah di Amerika dulu,” jawab wanita yang mengaku namanya Flora itu.


Teo terdiam sesaat, temen? Pas kuliah di Amerika? Teo merasa dia tidak pernah punya teman seorang wanita, ia tidak pernah mendekatkan diri dengan wanita.


Kecuali...


Ya Teo sekarang ingat, enak saja dia mengaku sebagai teman, sejak kapan Teo dan wanita yang bernama Flora itu berteman. Mereka dulu memang sempat satu kampus, dan Flora itu, ya bisa dikatakan sebagai fans-nya Teo.


Dimana dulu wanita itu selalu mengejar-ngejarnya Teo, dan mengungkapkan secara blak-blakan kalau dia cinta sama Teo, tapi Teo tidak pernah menggubrisnya. Bahkan itu terkenal sebagai bebek kampus. Sering sana-sini.


“Oh,” jawab Teo singkat, terlihat sangat acuh.


Flora ternganga, “cuman oh doang?”


“Terus saya harus ngapain?” Teo keheranan.


“Ya enggak ngapain-ngapain sih, emm btw kamu lagi ngapain di sini? Aku kengan banget tahu sama kamu, eh udah berapa lama ya kita gak ketemu, 7 tahun ya, apa lebih, kamu gak berubah ya tetap keren,” papar Flora.


Teo tersenyum sinis, malas sekali rasanya melayani wanita itu, sok asik, sok akrab pula. Menyebalkan sekali bukan?


“Mat, kok diajak ngobrol malah diem aja sih!” ketus Flora.


Dan satu lagi, Teo tidak suka jika orang memanggil dengan sebutan nama depannya. Mat, lah dikira Teo itu Mamat apa?


“Bukan urusan kamu!” jawab Teo acuh, jangan lupakan wajar tampan tanpa ekspresinya.


“Ih kok gitu sih, emang kamu gak kangen apa sama aku? Bisa dong kita ngopi-ngopi cantik dulu, udah lama loh kita gak ketemu, oh iya, aku juga masih jomblo loh.”


“Terus? Apa hubungannya dengan saya? Mau kamu jomblo kek, janda, kek, istri orang kek, saya gak perduli! Sebaiknya anda jangan terus menyerocos, kerena saya terganggu, saya bukan temen anda. Saya rasa kita juga tidak pernah berteman, saya tidak mengenal kamu.”


Sekak mat! Jawaban yang Teo berikan membuat wanita yang bernama Flora itu terlihat kesal. Padahal ia sangat senang bisa bertemu dengan Teo, malahan dia sudah berpikir jika ia akan berjodoh dengan Teo, merasa jika takdir seolah mempertemukan mereka kembali. Tapi nyatanya? Sungguh menyayat hati.


“Sayang lihatlah, apa ini bagus?” Tiba-tiba saja Tiara muncul dengan gaun yang dipakainya.


Sontak Teo dan Flora pun menoleh ke sumber suara tersebut.


“Bagus, sayang. Kamu sangat cantik sekali,” sahut Teo senyuman terlihat merekah di wajahnya.

__ADS_1


Tiara membalas senyuman Teo sambil tersipu malu.


“Yang ini saja ya gaunnya?” tanya Tiara.


Teo hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Tiara melihat jika ada wanita sedang berdiri tak jauh dari Teo, akan tetapi Tiara menghiraukannya, kerena ia pikir itu salah satu customer butik tersebut.


“Itu siapa Mat?” Flora yang sejak tadi penasaran, kembali mengeluarkan suaranya.


Sebenernya Flora sudah berpikiran jika Tiara itu mungkin wanitanya Teo. Tapi sengaja saja berpura-pura tidak tahu. Padahal dari situasinya saja sudah terbaca.


“Calon suamiku, siapa dia?” tanya Tiara pada Teo.


“Tidak tahu, aku tidak mengenalnya,” jawab Teo acuh, seakan benar dia tidak mengenal wanita itu.


Ya memang tidak mengenal aslinya juga. Hanya ingat saja jika wanita itu pernah mendekatinya.


Tiara merasa ada yang aneh, tapi ya sudahlah. Ia percaya-percaya saja.


“Kok kamu gitu sih, Mat? Kitakan pernah temenan, kita juga pernah dekat loh, kamu kok jahat bilang gitu sama aku,” protes Flora.


“Sayang kamu sudah selesaikan, aku tunggu di depan ya,” ujar Teo pada Tiara. Ia langsung berlalu dari sana.


Tiara hanya mengangguk dengan wajah penuh kebingungan.


“Iya, kenapa?” jawab Tiara.


“Kamu biasa aja, lebih cantikan juga aku. Kok dia mau sih sama kamu, pake pelet apa kamu sehingga Mateozy mau sama kamu, aku saja yang dulu ngejar-ngejar dia sudah ditaklukan!” ejek wanita tersebut.


Rasanya Tiara ingin tertawa, lah di kok sewot. Tapi kini Tiara paham, jadi wanita itu ternyata fans berat calon suaminya. Kasihan sekali.


“Kamu mau tahu saya pake pelet apa?” balik tanya Tiara, ia terlihat begitu santai menghadapi wanita itu.


“Jadi beneran kamu pake pelat, ih sangat menjijikan sekali!” lagi-lagi wanita yang bernama Flora itu menatap merendahkan Tiara, dengan tatapan seperti orang jijik pula.


“Terus apa masalahnya sama kamu, kalau saya pake pelet? Kalau bicara itu coba ngaca dulu deh, Mbak. Emang situ cantik? Lagian mending pake pelet tapi berhasil ngedapatin orangnya dari pada sok cantik, ngejar-ngejar nggak dapat-dapat, kasian amat sih, Mbak!” balas Tiara sengit, tak lupa senyuman sinis terulas dari bibirnya.


‘Mampus mati kutu kau, enak saja nuduh orang pake pelet, ngarti juga enggak. Heran, kok jaman modern begini masih ada orang yang berasumsi seperti ini,’ lanjut Tiara dalam hatinya.


Dan benar saja, ucapan Tiara tidak mampu membuat wanita yang bernama Flora itu berkutik lagi. Hanya wajah kesal dan penuh amarah terpancar di sana.


“Lihat saja aku akan rebut Mateozy dari kamu!” ancam wanita itu.


“Silahkan, kalau orangnya mau. Tapi, yakin Mbak bisa ngerebut calon suamiku hmm? Oh atau jangan-jangan Mbak mau cari pelet yang bagus dulu? Ah iya silahkan Mbak, saya tunggu deh ya,” ujar Tiara.

__ADS_1


“Dasar sinting!” pekik Flora.


“Hahaha ... ” Tiara tertawa. Sebenarnya Tiara merasa geram, tapi ia tidak mau terpancing emosi. Menghadapai wanita seperti Flora itu harus dengan cantik dan elegan. Biasanya wanita semacam ini suka bertingkah nekat.


“Siapa yang sinting? Kamu membicarakan kamu sendiri, Mbak! Kasian amat sih cinta di tolak pelet bertindak, haha ...”


“Siapa yang mau melet hah? Kamu tuh yang udah melet gebetan aku, awas saja ya, lihat nanti aku akan gagalkan rencana pernikahan kamu sama Mateozy, ingat itu!”


“Gagalkan saja kalau bisa, kalau kamu sudah bosen menghirup oksigen di dunia ini,” ucap Tiara.


Nada bicara terdengar lembut namun terdengar mengerikan di telinga Flora.


“Kau tahukan siapa calon suamiku? Apa lagi keluarga calon suamiku, kalau ada orang yang mengecam calon menantu kesayangannya kira-kira reaksi mereka gimana ya?”


“Aku tidak takut. Memangnya mereka akan tahu, jelas nggak ya!”


“Yakin? Tuh lihat di atas kamu apa?”


Flora mengikuti pandangan Tiara, ah sial. Di sana ada CCTV ternyata.


Wajah Flora langsung pucat, tanpa kata, akhirnya wanita itu pun berlalu dari hadapan Tiara.


“Hadeh, ada-ada saja. Sabar Tiara, ini ujian menuju pernikahan,” gumam Tiara.


Namun dalam hati kini Tiara bertekad, jika nanti wanita itu bener-bener nekat juga, maka Tiara tidak akan pernah tinggal diam.


Sudah cukup satu kali ia pernah kehilangan orang yang dicintai, dan kini ia tidak akan melepaskan Teo, apa yang kini berada digenggamannya, selamanya akan jadi miliknya.


*


*


*


“Lama benget sih!” gerutu Teo pada Tiara yang baru saja masuk ke dalam mobilnya itu.


“Gak sabaran benget sih jadi orang!” sahut Tiara ketus.


Teo langsung terdiam, ia terlihat bingung.


Lah kenapa Tiara yang kesal? Seharusnya kan Teo yang kesal, kerena Tiara lama, hampir setengah jam Teo menunggu Tiara di dalam mobil.


“Kenapa diam? Jalan cepat!” ketus Tiara lagi.


“Kamu kenapa sih calon istri? Kok ketus, marah-marah gak jelas! Harusnya aku yang kesal, kerena kamu lama di dalam sana.”

__ADS_1


“Pikir aja sendiri, ini semua gara-gara gebetan kamu yang cantik jelita itu loh,” ucap Tiara sewot.


Bersambung ...


__ADS_2