
Ruli menahan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun.
"Hei Aisyah, Jangan sombong kamu yah. Emang kamu pikir enak jadi janda. Dasar perempuan bodoh, mandul lagi."
PLAK
Sonya menampar keras pipi Ruli dan berkata, "Sekali lagi kamu berbicara aku potong lidahmu, jangan pernah menghina anak saya. Yang bersalah itu anak kamu, seenaknya ngatain anak saya. Kalau mikir itu pakai otak jangan pakai dengkul". ucap Sonya tak kalah emosi.
"Apa kamu bilang?, maksudmu aku ga punya otak gitu?"
"Tuch kamu tahu"
Ruli tersulut emosi akibat hinaan Sonya padanya, dengan bar-bar nya dia maju lebih dekat dengan Sonya dan secara tak terduga dia datang mendekat untuk menjambak Sonya.
"Rasain ini,...." ujar Ruli sambil mulai menjambak rambut Sonya yang pirang karena cat.
Sonya yang belum siap akan hal itu, hanya bisa berteriak kesakitan. Sonya juga ikut menarik rambut panjang Ruli, Edmund tidak bisa berbuat banyak karena kondisi yang sedang sakit, Aisyah meminta pak satpam yang berjaga di luar untuk segera datang.
"Sindy cepat bantu mba!"
Sindy mendengus tak peduli.
Mau tak mau Aisyah yang melerai di bantu oleh suster Renata. Tapi bukannya melepaskan, mereka malah semakin adu kekuatan mereka masing-masing. Tenaga Aisyah dan suster Renata tak sebanding dengan kekuatan mereka yang sedang dipenuhi gelora amarah.
Tidak lama kemudian satpam datang untuk melerai keduanya.
Lalu Edmund menarik tangan Ruli kasar, "Apa-apaan sih mas?"
"Kamu yang apa-apaan, kamu datang-datang nyari ribut di sini. Cepat minta maaf" titah Edmund pada Ruli.
"Engga ah, ngapain juga minta maaf. Lagian bukan aku yang salah, apa yang aku omongin itu semua benar" ucap Ruli. " Udah ah lepas, aku gak terima yah di perlakukan seperti ini". tambahnya meminta satpam melepaskan tangan nya, lalu ia membenarkan rambut nya yang kusut akibat jambakan Sonya.
"Lalu mau mamah apa?" tanya Aisyah.
"Cabut tuntutan kamu pada Dimas!" Titah Ruli dengan nada tegas.
"Tidak akan pernah aku cabut laporan itu kecuali Mas Dimas membayar Denda". tegas Aisyah.
"Dan aku juga akan menggugat cerai Mas Dimas" tambahnya.
Sonya hanya tersenyum mendengar ucapan Aisyah, dia juga tidak sudi memiliki menantu seperti Dimas yang kerjanya selingkuh dan menyakiti hati putrinya.
"Sebaiknya mamah dan Sindy pulang!" perintah Aisyah.
"Yah kamu sebaiknya pulang, jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi!" teriak Sonya dia masih tidak terima dengan perilaku mantan besan nya itu.
"Kamu ngusir mamah?"
__ADS_1
"Yah" ucap Aisyah.
"Kalau kamu mau bercerai dengan Dimas, bagi harta gono gini milik Dimas"
"Hei, putramu itu tidak punya apa-apa, Apa yang harus di bagikan, wong rumah ini juga pemberian almarhum suami saya dan ini miliki Aisyah. Anak mu itu tidak pernah memberikan apapun pada putriku. Jadi jangan berharap ada harta gono gini" seru Sonya.
"Iyah Mah, apa yang di katakan Bunda benar. Bahkan dalam satu tahun pernikahan kami, Mas Dimas tidak pernah menafkahi aku" ucap Aisyah mengingat bagaimana perlakuan Dimas padanya.
"Masa sih?, Jangan bohong kamu!" ucap Ruli tak percaya.
"Sudahlah Mah, Ayo kita pulang saja!" Ajak Edmund pada Istrinya.
"Kenapa sih Mas, dulu aja kamu maksa-maksa Dimas buat menikahi Aisyah, padahal sudah ada Maira. Tapi sekarang lihat bahkan mereka akan bercerai pun kita tidak mendapat harta sepersen pun dari mereka" protes Ruli pada Edmud yang kesal melihat sikap suaminya.
"Hei Ruli. Kalau kamu mau harta tuh, Yah kerja. Bisa-bisa nya kamu minta harta anak saya. Dasar mental miskin!" maki Sonya.
"Apa kamu bilang?" ucap Ruli yang hendak melangkah maju lagi namun di tahan oleh Pak Satpam.
Sedangkan Sindy sedari tadi hanya menonton, layaknya sebuah pertunjukan yang mengasyikkan tidak berniat membantu Ibunya sekalipun.
Ternyata begini sikap asli Ruli yang baru Aisyah ketahui. Selama ini Ruli hanya berkedok menjadi malaikat yang manis untuk menjalankan rencana liciknya.
"Pak usir wanita ini! dan jangan sampai dia berani menginjakkan kaki di rumah ini lagi!" titah Sonya pada Pak satpam, lalu Pak Satpam menarik paksa lengan Ruli dan membawanya keluar dari rumah. Sindy hanya mengekor di belakangnya.
"Awas kalian yah, Jangan harap kalian bisa tenang karena sudah memperlakukanku seperti ini"
Mau tak mau, akhirnya Ruli pulang juga. Sepanjang perjalanan dia hanya mengumpat dan memupuk dendam yang makin membara pada Aisyah yang akan jadi mantan menantunya itu.
Sementara di rumah Aisyah,
Edmund sekali lagi meminta maaf pada Aisyah dan Sonya atas kelakuan Istrinya itu.
"Kamu ngga salah Edmund, yang salah itu emang istrimu tuh yang gak tahu diri" Sahut Sonya.
"Iyah, Ayah sama sekali nggak salah" ucap Aisyah.
Edmund hanya bisa tersenyum. Bagaimana pun juga ia sangat malu dengan kelakuan Istrinya itu, entah bagaimana Ruli bisa berubah seperti ini. Dulu dia wanita yang sabar dan mau di ajak susah sebelum ia mengenal Bramastya hidupnya tidak seperti sekarang, bahkan untuk makan saja mereka susah. Sahabat nya itulah yang membantu perekonomian keluarganya sehingga ia bisa sukses seperti sekarang.
Dengan kelakuan istri dan anak nya itu, dia sudah tidak punya muka untuk berhadapan dengan anak dan istri mendiang sahabatnya.
"Kalau begitu saya pamit undur diri. Aisyah, Sonya!" ucap Edmund. Lalu meminta Suster Renata mendorong kursi roda nya berbalik ke arah pintu.
"Baik Ayah, hati-hati di jalan. Jangan lupa jaga kesehatan Ayah" ucap Aisyah lembut dan mengiringi kepergian Ayah mertuannya itu.
Edmund hanya mengangguk, Suster Renata pun mendorong kursi roda. Di luar sudah ada Mobil Taxi yang di pesan Suster Renata tadi. Lalu Edmund di bantu oleh supir taxi masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah Aisyah.
__ADS_1
Setelah kepergian Ayah mertuanya, dering ponsel menyadarkan lamunan Aisyah.
Ddrtt
Ddrtt
Ddrtt
Aisyah mengangkat teleponnya, "Halo, Assalamualaikum" ucap salam Aisyah.
"Waalaikumsalam, Aisyah kamu di mana?, Aku lumutan nungguin kamu di sini" ucap orang di sebrang sana.
"Astaghfirulloh, Adel aku lupa!" seru Aisyah menepuk jidat nya pelan. Karena kehadiran Ibu dan Ayah mertua nya ia melupakan janji nya bersama Adel.
"Maaf tadi problem dikit di rumah"
"Jadi kamu belum berangkat dari tadi?" tanya Adel
"Belum" Jawab Aisyah sambil menggelengkan kepalanya walaupun sebenarnya Adel pun tidak bisa melihat Aisyah.
"Ya ampun Aisyah, Ya sudah kamu tunggu saja di rumah. Kak Adit, dia lagi di jalan sekarang."
"Ta..pi"
Tut
Belum Aisyah menjawab, Adel sudah mematikan teleponnya.
"Siapa ?" tanya Sonya.
"Adel bun" Jawab Aisyah.
"Oh, apa katanya?" tanya Bunda.
"Katanya Ka Adit nanti yang akan jemput Aisyah ke sini". ucap Aisyah.
"Seharusnya kamu jangan dulu dekat dengan lelaki lain, karena kamu masih suami orang,"
"Iyah Bun, tadi Aisyah juga mau menolak tapi Adel sudah mematikan telepon nya"
"Ya sudah Bunda ikut saja sama kamu, dari pada nanti malah jadi fitnah kamu berduaan sama nak Adit. Bunda mau siap-siap" ucap Sonya lalu bergegas masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1