
Samar-samar terdengar suara muadzin mengumandangkan adzan subuh. Sindy membuka mata perlahan lalu bangkit dari tidurnya, memunguti pakaian yang berserakan di lantai kemudian membangunkan Arga pacar dari teman kuliah Sindy.
"Mana uang yang Mas janjikan semalam, Aku mau pulang karena sebentar lagi subuh, takut ada yang lihat aku datang ke sini!" ucap perempuan itu seraya menodongkan tangan.
Arga berdecak kesal dan dengan malas-malasan beranjak dari tempat tidur lalu mengambil dompet, kemudian menyerahkan uang lima lembar uang ratusan ke tangan Sindy.
"Loh, Mas kok cuma segini ngasihnya?. Bukannya semalam kamu janjinya ngasih sejuta ke aku, kok ini cuma lima ratus ribu?, Aku capek loh ngelayanin kamu semalam sampai tiga kali. Masa hanya dapat upah segini?," protes Sindy karena tidak terima ketika menerima uang yang di berikan oleh pacar teman kuliah nya sendiri.
"Segitu juga lumayan banyak, Sindy. Dari pada kamu mangkal di pinggir jalan paling dapatnya seratus ribu sekali kencan!, jangan nawar atau aku ambil saja uangnya kembali." ancam Arga, mengulurkan tangan hendak mengambil uang dari tangan Sindy, akan tetapi perempuan itu buru-buru menyimpan uang ke dalam tasnya.
"Tambahin atau aku bakalan ceritain semuanya ke Shela!" Sindy balik mengancam.
Sambil mendengus Arga pun mengeluarkan dua lembar pecahan ratusan ribu menyerahkan nya kepada sang teman kencan nya lalu menyuruh Sindy untuk pergi sebelum matahari terbit dan para tetangga memergoki mereka sedang kumpul kebo.
"Ingat, jangan sampai Shela tahu!" pesan Arga dengan nada setengah berbisik.
"Iyah tenang saja, aku juga ga bakalan bilang sama pacar kamu, karena jika ada yang tahu tentang hubungan kita, selain memalukan juga nama baik ku akan tercemar." Sindy menyahut seraya menyambar tas kemudian berjalan mengendap perlahan keluar dari kost-an pacar teman kuliahnya.
"Kalau saja Mas Dimas tidak di penjara aku pasti akan bebas menggunakan kartu gold star milik Mba Aisyah dan aku tidak akan menjajakan tubuhku seperti ini. Tapi demi gengsi aku akan menghalalkan segala cara. Toh ga ada yang tahu aku melakukan hal semenjijikan ini!." Dia berkata dalam hati, membetulkan pakaiannya yang masih terlihat sedikit berantakan kemudian menganyunkan kaki cepat hingga sampai ke jalan utama, mengambil ponsel dari dalam tas dan berniat memesan taksi.
Kedua mata Sindy menyipit melihat ada banyak panggilan masuk dari mamahnya, lekas membuka aplikasi berwarna hijau miliknya, dan membaca pesan dari sang mamah.
Sindy terkejut setelah membaca pesan dari Ruli, kemarin seharian dirinya terlalu asik berkencan bersama Arga hingga ia lupa dan tak mengecek ponselnya. Handphone nya pun dalam mode silent jadi dia tidak mendengar panggilan dari sang Mamah. Dia juga tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Mamahnya, kenapa Papahnya tega mengusir Mamahnya dari rumah.
Dia memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri namun ia tetap melangkahkan kaki.
Dia tidak menyangka musibah terus berdatangan menimpa keluarganya. Semenjak Kakaknya di penjara, mereka kekurangan pemasukan, Papahnya pun tidak bisa di andalkan karena keadaan kakinya yang tidak bisa digerakkan alias lumpuh. Selama ini yang membiayai hidup mereka itu Dimas yang menggunakan harta kekayaan Aisyah, istrinya.
Jadi mereka tidak pernah pusing memikirkan biaya hidup karena mereka selalu mendapatkan apa yang mereka mau dengan cara merongrong harta kekayaan Aisyah. Namun sekarang mereka tidak bisa lagi. Bahkan saking putus asa nya Sindy rela menjadi selingkuhan pacar teman nya untuk mendapatkan uang.
__ADS_1
Sungguh miris sekali nasib mereka,
Tidak lama kemudian, sebuah mobil minibus berhenti tidak jauh dari tempat Sindy berdiri. Dan Sindy segera masuk kedalam mobil taksi tersebut. Lalu meminta supir mengantarnya ke alamat yang sesuai aplikasi.
.
.
.
Sedangkan di tempat lain, Ruli terbangun karena getaran yang ditimbulkan oleh ponsel di saku celananya. Ternyata itu pesan dari anaknya, Sindy.
Ruli bangkit dari tidurnya dan membuka layar ponsel lalu membaca pesan dari anaknya.
'Mah aku minta maaf Hp Sindy lowbate kemarin. Sindy juga baru pulang dari rumah teman. Mamah dimana? Minta sharelok lokasi!'
Ruli melihat ke sekeliling ruangan menyadari kalau ia masih berada di pos kamling. Melihat ada sedikit sinar matahari yang masuk ke celah-celah bilik pos dan menyinari ruangan kecil itu menandakan bahwa hari sudah pagi. Namun keadaan di luar Pos Kamling masih sepi.
Tidak banyak orang yang lewat, mungkin sebagian dari mereka masih di rumah sedang bersiap-siap memulai aktivitas mereka di pagi hari, dan sebagian lagi sudah bersiap-siap berangkat bekerja.
Ruli menunggu kedatangan anaknya menjemput nya di sini. Dia sudah lelah, lemas karena belum makan dari kemarin. Di tambah fisik nya yang sudah tidak muda lagi membuat kaki Ruli pegal-pegal karena harus berjalan kaki kemarin.
Supir taksi yang membawa Sindy sudah sampai ke tujuan.
Ruli mendengus kesal karena Anaknya baru tiba setelah hari mulai cerah, merutuk panjang lebar meluapkan segala kekesalan yang tersimpan sejak beberapa jam yang lalu.
"Maaf Mah, aku tadi kejebak macet di jalan. Supir taksi pun kebingungan mencari alamat ini. Jadi bagaimana keadaan Mamah sekarang? Kenapa Papah mengusir Mamah dari rumah."
"Kamu itu yah Mamah butuhkan dari kemarin tapi gak nongol-nongol, sibuk pacaran Hah.? Mana Mamah kelaparan dari kemarin sekarang sudah siang belum juga makan. Buruan carilah Mamah makanan dulu." cerocos Ruli yang kesal pada anaknya.
__ADS_1
"Mamah kalau masih bisa ngomel berarti masih bertenaga." bela Sindy yang tidak terima di salahkan oleh sang Mamah, lalu mengajak Mamah nya untuk naik ke Taksi. Beruntung Taksi belum pergi tadi, jadi Sindy tidak usah memesan Taksi lagi.
"Pak antar kami ke Restaurant Melati," ucap Sindy.
"Baik Non."
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan tempat menginap Ruli semalam. Sindy menoleh ke arah Mamah nya yang sedang memejamkan mata sejenak, Ruli sedang memikirkan bagaimana nasib nya kedepan.
Sesampainya di Restaurant, Ruli membersihkan diri di toilet umum lalu menghampiri anaknya. Mereka pun memesan makanan di Restaurant itu. Banyak sekali makanan yang di pesan Ruli, mengingat dia tidak makan kemarin.
Sindy tidak mempermasalahkan Ruli yang memesan makanan begitu banyak, beruntung dia masih punya sedikit uang untuk membayar nanti sekaligus mencari kontrakan sementara untuk Mamahnya.
Biarlah nanti dia yang akan membujuk sang Papah untuk menerima Mamahnya kembali.
"Jadi kenapa Papah mengusir Mamah" ucap Sindy memulai percakapan, karena melihat Mamahnya sudah selesai makan.
"Mamah ketahuan selingkuh sedang berduaan bersama pacar Mamah di kamar saat Papah mu check up." Jawab jujur Ruli.
"Ya ampun Mamah kok bisa ceroboh sih? kenapa Mamah ngelakuin itu di kamar?" bukannya terkejut Mamah nya membawa pacar justru Sindy seakan tahu kalau Mamah nya punya pacar.
"Yah Mamah gak menyangka Papahmu pulang cepat,"
Sindy menghela nafas, karena nafsu Mamah nya tidak bisa berpikir. Bagaimana bisa membawa selingkuhan ke rumah sudah pasti akan ketahuan karena Papah selalu ada di rumah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1