Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
[63] Tikus


__ADS_3

"Mari ikut saya mba!" Ajak Aisyah ke estalase tas berada.


"Ini koleksi tas-tas saya." ucap Aisyah lagi sambil memperlihatkan estalase besar yang penuh dengan tas-tas mahal. Gisel memandang satu persatu tas namun tidak ada pilihan yang sreg di hatinya.


"Gak ada model yang lain?." tanya Gisel sambil memandang Aisyah lekat. Tidak seperti di awal Gisel seperti tidak berani memandang nya tapi mungkin hanya perasaan Aisyah saja.


"Oh sebentar yah kak, saya ambilkan. Tapi harga tas nya agak tinggi dari ini, dan itu baru datang kemarin.". ucap Aisyah tersenyum ramah.


"Boleh saya lihat!". tanya Gisel.


"Tentu saja. Sebentar yah Kak. Saya ambilkan dulu." ucap Aisyah. "Eh, kakak kakak bisa duduk di sebelah sana, sambil menunggu saya mengambil tasnya." tambah Aisyah dan kemudian berlalu mengambil tas yang di maksud.


Gisel dan dua temannya kemudian duduk di kursi yang di maksud Aisyah. Di Butik ini ada semacam kursi untuk menunggu atau sekedar duduk karena lelah. Ada beberapa kursi yang terpasang berbeda tempat. Kursinya juga memiliki berbagai macam model seperti layaknya di butik-butik lain.


"Pokoknya rencana kita di sini harus berhasil." ucap Gisel kepada kedua temannya.


Mereka berdua menganguk dan tersenyum.


.


.


.


Aisyah membawa lima tas ke arah Gisel dan dua temannya di bantu oleh karyawannya juga.


"Ini Kak, tas nya. Mungkin ada yang cocok, dan sebenernya ini masih ada beberapa warna nya. Apa mau saya ambilkan semua? atau Kakak bisa melihat yang ini saja dulu." tanya Aisyah dengan ramah.


Teman-teman Gisel melirik ke arah Gisel, lalu mengambil beberapa tas yang di bawakan Aisyah dan karyawannya.


"Sebentar saya lihat yang ini saja dulu, kalau misalkan ada yang cocok, nanti boleh di ambil dengan warna yang lainnya." ucap lembut Gisel.


Kemudian tiba-tiba salah satu temannya yang bernama Nina memegang perut nya. "Aduh!" serunya.


"Kenapa Kak?," ucap Aisyah khawatir lalu menghampiri Nina.


"Bolehkah saya ikut ke toilet?," tanya Nina.


"Toilet nya ada di sebelah sana! Biar karyawan saya yang mengantar Kakak!." ucap Aisyah.


"Ti-tidak usah saya bisa sendiri!." serunya.

__ADS_1


"Baiklah toilet nya sebelah sana!."


Wanita yang bernama Nina itu pun pergi ke toilet dengan memegang perut nya yang sakit.


"Mba saya mau yang ini saja!." ucap Gisel mengalihkan perhatian Aisyah kepada Nina.


"Baik kak. Ada lagi?."


"Saya juga ingin mencari pakaian untuk acara ulang tahun suami saya. Di sini ada kan?."


"Ada kak. Tenang saja. Berbagai pakaian untuk acara formal maupun non formal tersedia di sini." ucap Aisyah ramah.


"Oh bagus lah kalau begitu." ucap Gisel sambil bersidekap dada.


Tidak lama kemudian wanita yang bernama Nina sudah kembali dari toilet.


"Mari ikut saya, pakaian untuk pesta ada di sebelah sana!." Mereka bertiga mengekor di belakang Aisyah menuju stand tempat pakaian pesta berada.


Mereka asyik memilih pakaian, Aisyah mengalihkan sebentar ke layar ponsel pertanda ada pesan masuk dari Bundanya.


"Sayang nanti malam kita pergi makan malam bersama sahabat Bunda. Kamu harus hadir yah!"


Aisyah hendak membalas pesan Bunda nya,


Aisyah terkejut mendengar teriakan itu lalu berlari menghampiri Nina.


"Ada apa Kak?" tanya Aisyah, karyawan-karyawan Aisyah pun ikut menghampiri mendengar teriakan itu.


"Ada apa? ada apa? Tuh lihat!" sambil menunjuk ke bawah. Aisyah mengikuti arahan telunjuk Nina.


"Kok bisa ada tikus di sini?," gumam Aisyah.


"Butik ini kok jorok sekali sampai ada tikus di sini," cemoh Nina sambil bersidekap dada.


"Sabar Nin, itu cuman tikus." ucap Gisel menenangkan temannya.


"Cuman katamu? Coba pikir Gisel, katanya Butik ini bergengsi tapi kok bisa ada tikus di sini berarti Butik ini tidak bisa menjamin kualitas barangnya. Apalagi harga barang yang di jual di sini mahal-mahal. Bukankah ini sama saja penipuan?." ucap Nina mendelik.


"Maaf Kak. Atas ketidak nyamanannya. Tapi selama ini tidak pernah ada tikus di sini." ucap Aisyah.


"Jadi maksud kamu, aku berdusta begitu?, Apa kamu tidak bisa lihat tadi itu tikus!." ucap Nina dengan sorot mata tajam kepada Aisyah.

__ADS_1


Aisyah terdiam,


Gisel menghampiri temannya Nina, "Nina kamu jangan seperti ini. Mungkin Mbak Aisyah ini tidak tahu kalau ada tikus di sana, bisa saja ada orang yang iseng yang ingin menghancurkan bisnis mbak Aisyah dan sengaja menaroh tikus di sana. Bagaimana pun reputasi Mbak Aisyah di pertaruhkan di sini. Iyah kan Mbak?" ujar Gisel lembut.


Aisyah mendongak mendengar pembelaan dari Gisel. Sedikit merasa ada yang aneh, barusan Gisel menyebutkan namanya. Apakah mereka saling kenal?.


"Anda mengenal saya kak?." tanya Aisyah.


"Mmm i-itu karena saya mengetahui dari seorang yang sudah menjadi langganan di sini. Jadi dia merekomendasikan Butik kamu ini kepada saya. Saya memerlukan Gaun untuk acara pesta ulang tahun suami saya." Jelas Gisel.


"Kalau begitu terima kasih sudah bersedia datang mengunjungi Butik kami, Kak!." ucap Aisyah tersenyum.


Nina yang di acuhkan "Jadi bagaimana ini, Mbak? ini saya masih terkejut karena melihat ada tikus. Aku tidak mau tahu aku minta ganti rugi!."


"Baik Kak tenang dulu, mungkin ini ada sedikit kesalahan!, Saya mau cek cctv dulu. Kakak bisa tunggu di sebelah sana!." Ucap Aisyah mempersilahkan customers nya duduk. Lalu memanggil Rina.


Nina kelabakan lalu mengalihkan pandangan ke arah Maira alias Gisel. Gisel hanya memberikan kode dengan mata nya menyuruh Nina menghampiri Aisyah. "Eh tunggu dulu Kak!, saya di sini mau minta ganti rugi!."


"Kakak bisa duduk di sini dulu!, saya mau melihat cctv dulu sebentar." ucap Aisyah masih dengan nada tenang.


Tidak lama kemudian, Rina Assisten Aisyah datang menghampiri membawakan bukti vidio rekaman cctv membuat wajah Nina pias.


"Gisel, aku kayaknya gak jadi beli baju deh. Aku pulang duluan yah. Ayo Qila!." ucap Nina lalu mengajak temannya yang bernama Qila pulang duluan meninggalkan Gisel sendiri.


"Nin...Nina ya ampun anak itu." Gisel memanggil Nina. "Mba Aisyah, Saya mewakili teman saya mau meminta maaf atas kelakuan mereka. Saya jadi tak enak hati!."


Aisyah tersenyum, "Tidak apa-apa Kak, Kakak tidak salah, mereka yang salah."


"Kalau begitu panggil saya Gisel saja, sepertinya saya akan sering ke sini melihat koleksi barang di Butik ini bagus-bagus sekali." ucap ramah Gisel.


"Terima kasih Kak, sudah mau jadi langganan Butik kami." ucap ramah Aisyah.


"Kamu panggil saya Gisel saja. Dan saya juga akan manggil kamu Aisyah. Sepertinya kita juga seumuran!."


"Baiklah, Gisel!."


"Kalau begitu aku pamit pulang dulu. Oh yah jangan lupa pesanan tas dan juga pakaian-pakaian ini minta dikirim langsung ke alamat rumah aku yah. Ini kartu nama ku dan ini untuk pembayarannya!." Gisel menyodorkan dua buah kartu nama da kartu debit. "Jangan lupa yah Aisyah, soalnya aku mau pergi dulu ke tempat lain!."


"Baiklah Gisel."


Gisel pun meninggalkan Butik Aisyah, Aisyah masih terdiam mematung, mengingat bagaimana pertemuannya dengan Wanita bernama Gisel, postur dan gaya nya seperti tidak asing menurutnya.

__ADS_1


Lalu Rina menghampiri Aisyah dan berucap, "Bu seperti nya wanita itu tidak asing yah?." Mendengar Rina berkata seperti itu berarti bukan hanya dirinya saja yang tidak asing dengan wanita bernama Gisel.


...*** MOHON BANTU LIKE DAN KOMENT YAH ***...


__ADS_2