
Sepulang dari rumah Aisyah, Edmund di bantu oleh suster Renata masuk ke rumah. Lalu melihat ke arah Sofa, sudah ada Ruli yang sedang tertidur.
Mengingat semua perlakuan Ruli pada menantunya Aisyah membuat hati Edmund seperti teriris, tak menduga Istrinya akan berubah banyak. Dulu dia wanita yang penyabar, rendah hati dan tidak pernah neko-neko. Tapi kini Ruli sangat menggilai harta, bahkan lebih mementingkan gengsi dengan geng sosialitanya di bandingkan peduli kepada kesehatan suaminya.
Apalagi semenjak Edmund kecelakaan, Ruli sudah tidak peduli lagi pada dirinya. Ia lebih memilih mentraktir teman-temannya dibandingkan menjaga dan merawat suaminya yang sedang sakit.
Beruntung Dimas memperhatikan itu, sehingga ia menyewa suster untuk merawat Ayahnya. Namun ia tetap sedih dan kecewa pada anaknya yang sudah menghancurkan hati Aisyah.
"Sus, antar saya ke kamar. Saya mau istirahat!" titah Edmund pada Suster Renata.
"Baik pak".
...----------------...
Keesokan harinya.
Marni sang assisten rumah tangga di rumah orang tua Dimas tampak sibuk mondar-mandir menjamu geng sosialita Ruli, sang majikan perempuan.
Berita tentang kasus Dimas dan perselingkuhan nya bersama seorang Artis yang bernama Maira membuat perempuan paruh baya itu menjadi bual-bulanan para tetangga komplek tetangga rumah Ruli
Setiap dia keluar rumah, mata para penghuni kompleks seolah mengatakan ingin bertanya langsung. Apa yang terjadi Djeng? Kenapa kok Dimas dibawa polisi?. Apa benar pemberitaan tentang Dimas di televisi? Koq bisa sich?.
Akibat perlakuan para tetangga yang menggosipkan dirinya langsung, tidak dipungkiri kesehatan Ruli menurun. Mau tak mau, hal tersebut mempengaruhi ruang gerak sosialisasinya. Para bestienya merasa ada yang kurang jika Ruli tidak ikut nongkrong, karena mereka harus bayar masing-masing. Di geng itu hanya Ruli yang sedikit saja di sanjung, akan sangat bermurah hati mentraktir teman-temannya.
"Maaf Djeng Ruli kita baru bisa jenguk, Akhir-akhir ini kita susah kumpul. Maklum anak dan suami minta di perhatikan lebih". ungkap Djeng Kirana sambil menyesap teh.
"Iyah yang sabar ya. Dimas anak yang kuat. Semoga dengan berkelakuan baik, masa tahanannya di persingkat dan mendapatkan remisi". tambah Djeng Siska mengelus punggung Ruli yang kebetulan duduk di sebelah Ruli.
__ADS_1
"Iyah terima kasih. Kalian sudah peduli, kalian memang bestie yang terbaik. hehee" kekeh Ruli. Perempuan paruh baya itu mencoba bersikap seperti biasa tetapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa malu nya itu. Dalam hati Ia sangat mengencam apa yang di lakukan Aisyah, Gara-gara Aisyah aku sekarang kehilangan muka untuk bertemu orang-orang.
"Oh yah Djeng. Bagaimana dengan Aisyah? Apakah ia benar-benar memenjarakan Dimas suaminya? Apa karena Dimas dekat dengan sahabat nya Maira yang artis itu? Koq bisa sih" tanya Djeng Siska sambil mencomot biskuit dan mengunyahnya.
Ruli kelihatan menghela napas. Tak selamanya semuanya bisa di sembunyikan. Cepat atau lambat mereka akan tahu semuanya. Apalagi pemberitaan tentang Dimas dan Maira berseliweran di televisi bahkan di jagat maya.
Sebenarnya geng sosialitas Ruli tahu semua masalah yang tengah di hadapi Ruli tentang Dimas yang melakukan kdrt dan selingkuh dengan sahabat istrinya. Mereka hanya ingin melakukan pembenaran langsung bertanya kepada orangnya.
Ruli menoleh ke arah Djeng Siska yang sedang menikmati biskuit kalengan yang disuguhkan Marni, "Semua yang di tuduhkan kepada Dimas itu tidak benar, pemberitaan itu salah, ini Fitnah. Mereka hanya ingin menjatuhkan karir dan rumah tangga Dimas dan Aisyah". Ruli tetap mengelak tuduhan itu.
"Syukurlah kalau berita itu hanya Fitnah, tapi koq polisi bisa menangkap Dimas. Polisi kan gak mungkin asal tangkap kalau ga ada bukti." ujar Djeng Siska yang nampak berpikir.
"Djeng Siska ini, Djeng Ruli kan ga mungkin bohong sama kita. Kalau Djeng Ruli bilang ini hanya Fitnah, yah kita harus percaya dong" Djeng Kirana berusaha untuk membela Ruli walaupun dalam hati Ia membenarkan perkataan Siska.
Mendengar obrolan temannya, Ruli hanya tersenyum kecut.
"Hahaaa" Semuanya pun ikut tertawa.
Ruli hanya tersenyum canggung, Dia kesal kenapa mereka malah memuji Aisyah. Dalam hati nya ia sangat membenci Aisyah, karena Aisyah sudah membuat Dimas di penjara.
Lalu Djeng Kirana menambahkan, " Wajar dong Aisyah kan Istri Idaman. Bahkan kabar nya ia juga punya Butik sendiri dan cabangnya sudah di mana-mana. Iyah kan Djeng?" tanya Kirana pada Ruli.
Yang lain mengangguk setuju membenarkan pernyataan Kirana.
Sampai detik ini, Ruli masih berusaha tersenyum, dia sudah kehilangan mood nya sejak mereka membicarakan Aisyah. Tanpa ada yang menyadari dia menghela nafas pelan.
Ketika geng macan-macan cantik tersebut masih sibuk berbincang dan bercanda, ponsel Ruli berdering.
__ADS_1
Ruli melihat identitas pemanggil, sayangnya nomor tersebut tidak di simpan dalam kontaknya. Setelah memperhatikan lebih teliti, ternyata itu bukan dari nomer selulernya. Tetapi dari nomer jaringan tetap berupa telepon kantor. Ruli mengabaikannya karena dia cukup sering menerima telepon bermodus penipuan dari jaringan telepon tetap seperti itu.
Setelah tiga kali berdering, Djeng Sinta menyarankan, "Tolong diangkat aja Djeng Ruli. Kalau tidak jelas bisa di matikan, laporkan dan blokir".
Ketiga temannya menganguk setuju.
Pada deringan ke-empat Ruli mengangkat telepon nya.
Belum sempat Ruli mengucapkan salam, wajah perempuan paruh baya itu mendadak pias dan dia tidak sengaja memecahkan gelas yang ada di tangannya.
Yang lain terkejut dan sontak menoleh.
Marni yang mendengar bunyi pecahan gelas, segera berlari ke ruang tamu untuk membereskan kekacauan tadi.
Sejak menerima telepon, Ruli belum mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan mengucapkan salam, hello, atau kalimat sapaan lainnya juga tidak.
"Baiklah saya akan segera ke sana!" Ruli mematikan telepon nya.
Setelah selesai melakukan panggilan tersebut. Para anggota geng macam cantik ingin bertanya, Ada apa? Apa yang terjadi?, tetapi pertanyaan mereka urung mereka ungkapkan karena Ruli sudah langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Tak lama kemudian Ruli keluar dengan tampilan berbeda. Ketiga tamu yang datang berkunjung itu sudah bisa menebak bahwa Ruli sudah mau pergi. Jadi mau tidak mau, merek pun bangkit dan undur diri.
Setelah mereka pergi, Marni segera membereskan ruang tamu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...