Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 90


__ADS_3

[Area 21+ mohon bijak membaca nya].


"Brengs*k kau Bastian. Ini minuman cabe, kau sengaja membuatku hancur dan mati perlahan." Seru Maira ketika melihat minuman itu banyak bijih cabe nya.


"Jangan minum Ra?". Ucap Dimas yang sudah lemas dan tak berdaya karena di hajar habis-habisan.


Seorang lelaki yang memegang pisau mendekati Dimas lalu mengarahkan pisau tepat di sebelah leher Dimas dan menggesekkan nya sedikit.


"Aarrgh." jerit Dimas saat pisau itu sedikit menyanyat kulit tipis itu.


"Cepat minum dan habiskan atau pisau ini akan menggorok leher kekasih mu!." Ancam Bastian dengan seringai yang tajam.


"Baik aku akan minum, tapi tolong! jauhkan pisau itu dari leher Dimas!." pinta Maira.


Ia kemudian minum jus cabe itu sampai habis.


Huhah, huhah, huhah...


"Pedas." desis Maira kepedesan.


Hahahaha.


Bastian dan para anak buah tertawa dengan lantang. Suara tawa nya memenuhi seisi gedung ini.


Maira menjerit dengan kencang, dada nya terlihat naik turun menahan sakit setelah meminum jus cabe yang Bastian campur dengan garam.


Bastian puas melihat Maira tersiksa seperti ini.


"Rasakan itu Sayang! Itu hukuman karena sudah mempermainkan hati ku selama ini." seru Bastian dengan pandangan yang sangat tajam.


"Baiklah kita bersenang-senang dulu Oke!." Bastian berucap sembari mencekik leher Maira lalu...


Plak!.


Bastian melayangkan tamparan di pipi Maira hingga membekas warna merah di sana.


"Hentikan! Brengs*k." teriak Dimas yang tak tahan melihat penyiksaan yang di lakukan oleh Bastian terhadap Maira, hati nya teriris melihat pemandangan di depan nya itu. Tapi untuk melawan ia sudah tidak mempunyai tenaga lagi.


Bastian tersenyum mendengar teriakan Dimas, "Kau juga akan dapat giliran, tenang saja." senyuman nya menyeringai.


"Anton siksa dia lagi!." titah Bastian menunjuk ke arah Dimas.


Anton dan ketiga temannya bersiap melepaskan ikat pinggang. Tanpa aba-aba mereka melayangkan cambukan ke pinggang Dimas.


Cetarrr!,


Cetarrr!,


Cetarrr!.

__ADS_1


Suara pukulan ikat pinggang yang mengenai punggung Dimas terdengar sangat kencang hingga orang mendengar pun merasa ikut perih. Maira meringis menahan sakit.


"Hentikan!, hentikan!, jangan Bastian!." teriak Maira.


Bruk!!!


Ucapan Maira terjeda karena tubuhnya terjatuh dan membentuk lantai.


"Maira!." jerit Dimas histeris tak lama ia pun pingsan.


"Hahahahaa nikmatilah penderitaan mu, Maira Sayang." kelakar Bastian di sertai dengan tawa menggelegar. Bastian sudah seperti psikopat yang belum puas menyiksa musuhnya.


"Anton kamu buang mereka ke dalam jurang!." titah Bastian yang melihat Maira dan Dimas sudah tidak sadarkan diri.


"Baik Bos!."


"Pastikan mereka mati karena aku tidak ingin melihat mereka lagi!." seru Bastian membuat Anton menganguk.


"Siap Bos!."


Beberapa anak buah Bastian menggotong Maira dan Dimas dan memasukkan nya ke dalam mobil.


***


Keesokan hari nya, Bastian masuk ke dalam rumah dengan tersenyum lebar. Kini ia sudah berada di kediaman Wicaksono, Bastian merasa beruntung karena telah menjadi bagian dari keluarga Wicaksono.


Mereka sangat baik sekali kepada Bastian, walaupun Bastian bukan anak kandung mereka, tetapi Mereka menyanyangi Bastian seperti anak kandung sendiri..


Ratih tersenyum senang melihat anak angkat nya itu, Bastian berjongkok hingga wajah nya sejajar dengan Ratih.


"Mama apa kabar?." tanya Bastian.


"Baik, Nak. Kamu bagaimana ? kenapa beberapa hari ini kamu tidak pulang?." tanya Ratih.


"Aku baik-baik saja Mah." Jawab Bastian. "Beberapa hari kemarin Bastian ada kerjaan di luar kota." tambahnya.


"Oh yah Papa belum pulang?." tanya Bastian.


"Entahlah Papa itu sejak kemarin lembur terus, Mamah jadi kesepian di rumah.


"Kan ada perawat Mah."


"Berbeda Dimas." ucap Ratih yang sedikit merajuk karena sejak kemarin dia selalu di rumah sendiri.


"Lagian kamu itu kapan mau menikah, kalau pun kamu ada kerjaan di luar kota, Mamah tidak akan kesepian karena pasti akan di temani Istri dan anak kamu."


Orang tua angkat nya emang tidak mengetahui pernikahan Bastian dan Maira, karena tujuan Bastian menikahi Maira bukan lagi karena cinta dia memanfaatkan keterpurukan Maira dan menikahi nya karena ingin membalas dendam karena sudah mempermainkan perasaannya.


"Suatu saat aku pasti akan menikah kok Mah, tenang saja." Jawab Bastian tidak berani menatap mata Mamah angkatnya itu.

__ADS_1


"Jujur lah Nak, apa yang terjadi?." tanya Ratih yang melihat putranya gelisah.


"Bukan apa-apa Mah, Mamah tidak usah khawatir."


Ratih memegang wajah putranya, dia tahu ada sesuatu yang di sembunyikan putranya tapi apa?. "Kamu tahu Nak?, Kamu tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Mamah."


Bastian ragu untuk menceritakan semua nya, ia tahu apa yang ia lakukan adalah tindakan kriminal dan cepat atau lambat akan terbongkar jika ada yang menemukan dua orang manusia yang paling ia benci saat ini.


"Kamu melakukan sesuatu, Nak?." tanya Ratih penuh selidik menatap mata putranya dengan curiga.


"Kamu tidak usah cerita jika tidak mah. Hanya ingat pesan Mamah. Hukum Allah lebih pedih Nak! Hukuman di akhirat itu hukuman yang paling adil. Jika kamu merasa puas karena menghukum mereka dengan keji seperti itu, maka kelak kalian semua akan di kumpulkan dalam satu ruangan dengan hukuman yang sama, di akhirat nanti, ajaran yang Mamah ajarkan selama ini ternyata tidak masuk ke dalam otak kamu!." ucap Ratih dengan nada yang naik turun.


Hah! Bastian berpikir dari pada Mamah nya tahu?.


"Bertaubat lah Nak... Minta maaf lah pada mereka yang kamu sakiti, minta ampun pada Allah." ujar Ratih mengelus sayang rambut Bastian.


Bastian memikirkan setiap kata yang di ucapkan Mamahnya itu. Mau tidak mau Bastian mengakui semua perbuatan nya itu kepada Sang Mamah.


"Ya Allah Bastian kenapa kamu melakukan itu, Nak?." Tanya Ratih, sudut matanya mengeluarkan air mata.


"Tetap saja itu cara yang salah Bastian, kamu tidak jauh berbeda dengan kelakuan mereka. Firasat Mamah ternyata benar, lebih baik kamu serahkan diri mu ke polisi." titah Ratih pada putranya. Lebih baik Ratih meminta Bastian bertanggung jawab atas perbuatan nya daripada membiarkan dan menutupi kejahatan putranya yang akan membuat putranya berada di jalan yang salah.


"Baiklah Mah, aku akan bertanggung jawab dan menyerahkan diri ke polisi. Tapi izinkan untuk terakhir kali Bastian memeluk Mamah." pinta Bastian.


Ratih pun merentangkan tangannya lalu memeluk putra angkat yang sudah ia asuh sejak kecil dan ia amat sangat menyanyanginya. Jika anak nya salah ia tidak segan untuk menegur.


***


Sementara itu Aisyah yang kini hendak tidur berjingkat kaget karena mendapat telepon dari Rina.


"Tumben jam segini Rina telpon, ada apa yah?." gumam Aisyah bertanya-tanya karena jam sudah menunjukkan larut malam tapi tiba-tiba Assisten nya itu menelpon.


"Coba kamu angkat saja Sayang." Kata Aditya.


Aisyah pun mengangkat telepon dari Rina.


"Halo Rin, ada apa?." tanya Aisyah ketika sambungan telepon telah terhubung.


"Halo Bu, ada Hot news!." seru Rina dari sebrang sana.


"Hot news apaan sih Rin?. Paling berita ngga penting! kamu itu kebiasaan sih suka gangguin orang aja." gerutu Aisyah.


"Ya ampun Bu, ini tuh benar-benar berita paling penting. Itu tuh mantan suami Ibu dan Mantan sahabat ibu ditemukan tewas di tengah hutan di bawah jurang hutan Alas roban." ucap Rina membuat Aisyah terkejut.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2