
"Saya baru pulang dari penjara, Pak. Saya belum pegang uang." ujar Dimas dengan jujur.
"Apa?." Supir angkot itu kaget. "Ya sudah kamu cepat turun!." seru supir itu dengan wajah panik.
"Iya Pak, sekali lagi terima kasih yah Pak. Semoga rezeki Bapak lancar." tukas Aditya kemudian segera turun.
"Huh...untung ngga di begal." gumam sopir angkot itu seraya menghembuskan nafas lega.
Ia panik karena mengira Dimas ialah orang jahat dan takut mencelakainya.
Dimas mengendarkan pandangan nya pada sebuah rumah yang berdiri kokoh di hadapannya.
"Wah rumahnya semakin bagus. Siapa ya yang merenovasi rumah ini?." gumam Dimas ketika rumah yang dulu ia tinggalin semasa kecil itu kini semakin banyak perubahan yang bagus.
Ia kemudian melangkah dengan pelan.
Tok!tok!tok!.
Dimas mengetuk pintu rumah yang di tutup. Ia tercengang ketika melihat banyak sekali rak yang berisi pakaian yang masih baru.
"Siapa yang buka usaha? Apa Sindy?." batin Dimas.
Ia kembali mengetuk pintu dengan keras. Sang pemilik rumah yang mendengar suara ketukan pintu langsung berjalan ke depan.
"Maaf cari siapa yah?." tanya pemilik rumah itu yang tak mengenali wajah Dimas.
"Kamu siapa?." Dimas bertanya balik.
"Ditanyain malah nanya balik. Kamu siapa? Mau apa kamu kemari?." Sentak sang pemilik rumah bernama Maya.
"Saya anak dari pemilik rumah ini." Jawab Dimas.
"Kamu siapa?, kenapa rumah ini di jadikan gudang barang seperti ini." tukas Dimas kembali bertanya.
__ADS_1
"Ini rumah saya. Rumah ini dulu sudah di jual dan sekarang ini rumah milik saya." balas Maya.
Dimas terkejut, ia tak menyangka kalau rumah ini ternyata sudah di jual.
"Lalu kemana semua penghuni rumah ini tinggal sekarang?."
"Mana saya tahu. Sudah sekarang kamu pergi dari sini, saya sedang sibuk." seru Maya mengusir Dimas dari rumahnya seraya menutup pintu begitu saja.
***
Sementara itu Edmund dan Sindy berada di pinggiran kota. Mereka sudah lama tinggal di sana. Hasil penjualan rumah mewah mereka, mereka alokasikan untuk membeli rumah yang sederhana dan sebagian untuk modal usaha Sindy.
Sindy sudah sangat berubah sekarang, tidak ada lagi Sindy yang manja bahkan dia sekarang menjadi seorang pekerja keras. Dia sadar bahwa dirinya sekarang menjadi tulang punggung keluarga dan harus merawat Ayahnya.
Untuk itu Ia menjadikan uang sisa penjualan rumah nya untuk membuka usaha warung kecil-kecilan di rumahnya.
Perawat yang merawat Edmund sudah tidak bekerja lagi karena Edmund dan Sindy tidak ingin merepotkan Aisyah yang sekarang status mereka bukan siapa-siapa lagi. Dan Sindy tidak mampu untuk menggaji perawat. Alhasil Sindy lah yang kini merawat Ayahnya sambil berjualan di rumahnya.
Edmund bersyukur dengan keadaan mereka yang sekarang, menjadikan kesalahan anak dan istrinya sebagai pelajaran hidup mereka. Bahwa harta kesenangan dunia itu tidak menjamin diri kita bahagia. Dan sekarang dia dan putrinya bahagia menjalani kehidupan mereka dalam kesederhanaan.
Bersyukur dalam keadaan terpuruk Sindy memiliki teman bernama Dina yang selalu menyemangati nya.
Flashback on.
Sindy sedang duduk di bangku panjang di teras rumah baru Sindy dan Ayahnya beli. Rumah yang sungguh berbeda jauh dengan rumah mereka sebelumnya, tetapi Sindy tidak mengeluh dengan nasib nya yang sekarang karena dirinya sudah berjanji kepada Ayahnya untuk bisa berubah menjadi yang lebih baik lagi.
Sekarang Dia sudah mengantongi uang sisa penjualan rumah mereka sebelumnya. Namun dia masih bingung untuk menggunakan uang tersebut. Dia harus bisa memanfaatkan uang mereka agar tidak terbuang percuma. Apalagi dia harus membeli obat untuk Ayahnya.
"Hei ngelamun aja." ucap Dina mengangetkan Sindy.
Dina adalah teman Sindy sewaktu sekolah dasar, mereka sudah lama tidak bertemu. Sindy dan Dina dipertemukan kembali saat Sindy dan Ayahnya sedang mencari rumah. Dan kebetulan ternyata rumah di sebelah rumah Sindy kosong dan akan di jual oleh pemiliknya.
Akhirnya mereka membeli rumah kosong itu. Dan sekarang Sindy dan Dina hidup bertetangga.
__ADS_1
Sindy terlonjak kaget hampir saja dirinya jatuh dari bangku panjang itu, namun dia masih bisa menyeimbangkan diri agar tidak terjatuh.
"Eh Din ngagetin aja."
"Lagian kamu melamun mulu. Kenapa sih?."
Sindy tidak langsung menjawab. Ia menghela nafas panjang baru memulai menjawab pertanyaan Dina.
"Aku bingung Din, mau ngapain. Aku punya uang sisa penjualan rumah orang tuaku, tapi aku bingung mau di apakan uangnya. Aku mau usaha tapi usaha apa?, aku tidak punya keahlian apa-apa." ujar Sindy dengan nada lemah. Ia sudah biasa bercerita dengan temannya ini, bahkan Dina juga tahu masa lalu Sindy sehingga Sindy bisa menjadi seperti ini.
Walaupun Sindy sempat kuliah, tapi dia tidak benar-benar kuliah. Dia hanya menghabiskan waktunya bersenang-senang hangout bersama teman temannya. Jadi dia sama sekali tidak bisa melakukan apa-apa.
"Emmm gitu yah, Gimana kalau bikin warung kecil-kecilan aja. Jual sarapan misalnya." ujar Dina membuat Sindy berpikir sejenak.
"Emm kalau sarapan aku ngga bisa masak, Din!." balas Sindy lagi.
"Ya belajar lah, jangan cepat menyerah gitu."
"Emm yang lain aja kek." ujar Sindy lagi.
"Mau buka usaha lain sih bisa, Sin... Tapi kamu cari apa yang merupakan bidang yang kamu bisa. Kalau kamu nggak bisa masak, kan bisa belajar dulu. Atau nggak kamu jual jajanan anak -anak gitu. Kamu bisa beli di pasar. Setelah itu kamu jual deh depan rumah. Kan bisa juga tuh!." ide Dina lagi.
Sindy berpikir sejenak,
'Kalau aku buka warung kecil-kecilan apa aku bisa?,'
"Gimana Sin?, dari pada kamu cari kerja di luaran sana, kan belum tentu dapet. Zaman sekarang cari kerja itu gak gampang loh. Apalagi kamu belum tamat sarjana, yang tamatan sarjana aja berseliweran sana-sini ngga dapet kerja, apalagi kita-kita ini, Sin. Kan kalau kamu buka usaha warung, kamu masih bisa tetap di rumah jagain Ayah kamu." ujar Dina lagi karena melihat Sindy yang masih terus berpikir.
"Nih yah kamu bisa dari mulai yang kecil, kamu bisa buka usaha kecil-kecilan gitu, terus kasih sambil-sambilan gitu seperti jualan pulsa, atau sambil jualan online gitu tapi sistem nya drosipper....." tambah Dina lagi memberi masukan pada Sindy.
Sindy mangut-mangut, Ide Dina menurutnya bagus juga dan tak sulit untuk di capai. Yang penting ada modal dan tekad yang kuat. Dan dia bisa menggunakan uang nya untuk itu.
Dina mengatakan semuanya ada prosesnya. Yang penting tetap optimis dan tetap berusaha walau hasilnya tak sesuai ekspetasi dan yang pasti terus diiringi dengan doa. Yang penting, kita tak merebut atau mengambil hak orang lain atau melakukan hal lain yang tak halal demi mendapatkan sesuatu yang diinginkan dengan cara instan.
__ADS_1
"Makasih banyak yah Din. Udah ngasih masukannya." ucap Sindy tulus.
"Iyah sama-sama, terus kapan nih rencana nya mau bikin usaha?. Biar aku bantu gitu, barangkali ada yang bisa aku bantu."