
"Sial kenapa bisa gagal sih?" teriak Maira didalam Apartement nya.
Maira mendapat kabar dari orang suruhannya, Xion. Bahwa ia hampir ketahuan menyabotase mobil Aisyah. Dan sekarang Xion tidak bisa di hubungi.
"Sial....sial" umpatnya saat dia masih belum bisa menghubungi Xion.
Maira kalut dan bingung, dirinya gelisah memikirkan apa Xion tertangkap?. Karena dia tidak bisa menghubunginya. Lalu dia mematikan ponsel nya supaya dia tidak mudah terlacak.
Bahkan Maira sudah berusaha menunda melakukan konferensi pers karena Bastian terus saja memaksa nya. Dia masih tidak sudi meminta maaf pada Aisyah sebelum Aisyah celaka.
Maira berniat untuk keluar dari Apartement, dia akan menemui Ruli langsung dan meminta bekerja sama dengan wanita itu bagaimana untuk menyingkirkan Aisyah.
Maira memakai pakaian serba tertutup, jaket, topi dan kaca mata. Dia masih harus berhati-hati dengan serangan haters nya. Setelah merasa dirinya tidak ada yang mengenalnya lalu dia keluar Apartement dan menuju parkiran.
Sesampainya di parkiran, Maira masuk ke dalam mobil dan memasang selt beltnya lalu melajukan mobilnya dan meninggalkan Apartement.
Tanpa Maira ketahui ada sebuah mobil yang mengikuti nya di belakang, mobil itu sudah menunggu beberapa hari di dekat Apartementnya. Saat target keluar, mobil itu juga melajukan kendaraan mengikuti mobil Maira di belakang.
***
Beberapa hari Sonya di rawat di Rumah sakit, hari ini Sonya diperbolehkan pulang oleh Dokter.
Selama di rumah sakit, Aisyah terus menemani Bundanya. Dia sangat senang Sonya bisa pulang hari ini.
Tok...tok...tok...
Aisyah membukakkan pintu, dan munculah Aditya yang datang membawa buah- buahan di tangannya.
"Assalamualaikum, Aisyah apa kabar?," tanya Aditya dengan tersenyum senang karena dia sudah sangat menahan rindu sekali ingin bertemu Aisyah.
"Baik Kak Adit, silahkan masuk,"
.
.
.
"Maaf Tante, saya baru bisa nengokin Tante hari ini" ucap Aditya, karena beberapa hari ini dirinya sibuk mencari siapa dalang perusak mobil Aisyah.
Jadi setelah Aditya membawa mobil Aisyah ke bengkel, benar saja mobil itu sudah di sabotase oleh seseorang. Dan Aditya sudah mengamankan orang tersebut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Nak Adit, saya tahu Nak Adit pasti sibuk. Makasih yah sudah nengokin Tante". Ucap Sonya tersenyum pada Aditya.
Sedangkan Aisyah sibuk membereskan barang-barang nya sembari dia mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.
"Sama-sama Tante. Gimana Tante kabarnya, Masih ada yang sakit?." tanya Aditya.
"Tidak Nak Adit, Tante sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter hari ini." jawab Sonya.
"Syukurlah saya senang mendengarnya." ucap Aditya lalu sedkit melirik Aisyah yang sedang sibuk membereskan barang-barang yang akan di bawa pulang.
Waktu menunjukkan pukul dua siang, Mereka berjalan keluar dari ruang rawat. Lalu Aisyah mendorong kursi roda Sonya sedangkan Aditya berjalan bersisian dengan Aisyah yang membawakan barang-barang mereka.
Sepulang dari Rumah sakit, ternyata di rumah Aisyah sudah ada Ruli dan Sindy yang menunggu kepulangannya.
"Oh baru pulang yah?" ucap Ruli melihat Aisyah dan Sonya datang.
"Ada apa mamah kemari?" tanya ketus Aisyah, dia begitu kesal karena kedatangan mamah mertuanya.
"Apa benar kamu menggugat cerai Dimas, Aisyah?" tanya Ruli.
"Iyah." jawab Aisyah mantap.
"Sebaiknya Bunda masuk ke kamar dan istirahat, Bi tolong antar Bunda ke kamar yah!" titah Aisyah kepada Bi Asih.
Ruli menelan saliva nya dengan susah payah, Ia sama sekali tidak menyangka jika menantu nya itu serius menggugat cerai Dimas.
Padahal bagi sebagian perempuan di ceraikan oleh seorang suami adalah hal yang sangat menakutkan. Jangankan di kehidupan nyata, sekedar mimpi pun tidak. Lantas kenapa menantu nya itu malah menantang dirinya, batin Ruli.
Akan tetapi logika Ruli seketika bekerja, ia yakin wanita yang di depannya itu hanya memberikan gertakan saja.
"Oh, kamu nantangin mamah yah? kamu mau jadi janda cerai? kamu mau keluarga mu di pandang sebelah mata oleh orang-orang karena status janda kamu yang bercerai," dengan jumawa Ruli berucap.
"Ingat Aisyah. Hidup itu gak melulu soal memikirkan diri sendiri. Bayangkan kalau kamu jadi janda cerai, apa kata orang? kamu tahu kan, perceraian itu suatu aib." imbuh Ruli.
Seketika kedua sudut bibir wanita itu tertarik keatas, membentuk sebuah lengkungan senyum. Ruli merasa menang, sebab Aisyah yang hanya diam.
Ia yakin jika menantu nya itu tengah memikirkan setiap kata yang ia lontarkan. Seketika sebuah ide terbersit dalam otak wanita paruh baya itu. Sebuah ide agar menantu nya kembali menjadi Aisyah yang penurut dan tak banyak tingkah.
Di hela nafas dalam-dalam lalu ia keluarkan perlahan. Dan selanjutnya Ruli pun kembali melanjutkan ucapan nya yang sempat tertunda.
"Uang tak ada apa-apa nya di bandingkan rumah tangga adem ayem, untuk apa uang banyak tapi rumah tangga berantakan. Apakah kamu tidak kasihan dengan mendiang Papamu, dia ingin kamu dan Dimas bersatu atas nama persahabatan."
__ADS_1
Aisyah mengangguk-angguk, membuat Ruli merasa lega sebab apa yang di ucapkan masuk ke diri sang menantu.
"Sudah, Bu bicaranya?," ucap Aisyah.
"Memang apa yang mama katakan itu kurang jelas ? Ya udah lah minta maaf lah pada Dimas dan kamu keluarkan dia dari penjara. Kasian anakku di sana. Mamah yakin Dimas akan memaafkan kamu, kalau pun enggak memaafkan kamu itu akan menjadi urusan mamah. Dimas itu anak penurut, apapun yang Ibu katakan selalu ia lakukan. Apalagi hanya memberikanmu maaf. kecil itu mah. Ya udah buka saja kartu golden star. Mamah jamin rumah tangga kalian akan baik-baik saja." ucap Ruli dengan panjang lebarnya.
Ia tak tahu kalau ucapan demi ucapan Ruli bagaikan sebuah lelucon bagi Aisyah.
"Sekarang Aisyah jelasin yah, dan Mamah denger baik-baik."
Aisyah meraup udara dalam-dalam sedangkan Ruli menatap sang menantu dengan kening berkerut.
"Pertama, soal Aisyah yang akan menjadi janda, itu bukan masalah besar bagi keluarga Aisyah. Aisyah yakin kalau keputusan bercerai keluarga besar Aisyah bakalan setuju jika tahu alasan yang sebenarnya." ucapan Aisyah membuat Ruli mendelik.
"Terlebih jika sang suami berkhianat, Tak ada kata maaf untuk sebuah pengkhianatan di keluarga besar Aisyah." imbuh Aisyah.
"Jaga bicara mu Aisyah, Jangan fitnah putra ku!"
"Fitnah?, apa Aisyah tidak salah dengar. Apakah mamah lupa?, bisa-bisa nya mamah lupa dengan calon menantu Idaman mamah sendiri. Justru mamah mendukung wanita itu menjadi istri nya Dimas. Iyah kan Mah!""ucap Aisyah yang menatap heran bisa-bisa nya Ruli berpura-pura amnesia.
"Keputusan Aisyah sudah bulat untuk bercerai dengan Dimas, bahkan surat cerai sudah aku kirim langsung ke Mas Dimas."
Mendengar ucapan Aisyah, seketika emosi Ruli semakin melonjak.
"Kamu.."
"Sudah lah Mah, aku ikhlas memberikan Mas Dimas kepada Menantu Idaman mamah. Lagian juga Aisyah tidak pernah mencintai Mas Dimas. Apakah mamah seperti ini karena tidak terima rencana licik mamah gagal total? Hhhmm"
"Aisyah tahu apa yang ada di otak mamah tuh, ingin menguasai harta Aisyah. Iyah kan? Tapi ternyata Aisyah tidak sebodoh itu dan rencana mamah tidak berhasil bahkan putra kesanyangan mamah sekarang justru mendekam di penjara" ucapan Aisyah tersenyum membuat Ruli mendelik.
Tangan Ruli terangkat, ia ingin menampar mulut kurang ajar menantunya itu. Akan tetapi dengan gesit menantunya itu mencekal pergelangan tangan milik Ruli. Hingga akhirnya tamparan itu tak bisa mendarat di pipi mulus Aisyah.
"Jangan coba-coba menyakiti ku, Mah. Aisyah tak segan-segan menjebloskan orang ke penjara. Meskipun itu mamah!" desis Aisyah.
"Sepertinya sudah cukup pertemuan kita kali ini, Silahkan Mamah pulang. Aisyah masih banyak urusan , tak ada waktu hanya untuk sekedar melamun perdebatan tak penting seperti ini."
"Pintu gerbang keluar masih berada di tempat yang sama. Silahkan Mamah pulang!."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...