Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 92 [TAMAT]


__ADS_3

Beberapa bulan setelah kematian Dimas dan Maira.


Pagi hari Aditya terbangun. Dia tidak melihat Aisyah di sisinya.


Aditya terkejut mendengar suara Aisyah di dalam kamar mandi yang sedang muntah.


Hoek... Hoek ...


"Aisyah!." Aditya segera menyambar handuk dan berlari ke kamar mandi. Dia melihat istrinya yang sedang bersandar lemas di dinding sambil memegang perutnya.


"Aisyah...Kamu kenapa?." Aditya sempat panik melihat istrinya sudah lemas di dalam kamar mandi.


Aditya ingin segera memapah istrinya untuk keluar dari kamar mandi.


"Ayo kamu pasti masuk angin." ucap Aditya sambil meraih kedua bahu istrinya.


Aisyah sudah hendak melangkah tetapi tiba-tiba dia merasa mual kembali.


"Sebentar, Kak." Aisyah kembali ke closed dan kembali muntah.


"Ya Allah, Aisyah kenapa sampai seperti ini?." Dengan perasaan khawatir Aditya membantu Aisyah dengan memijat tengkuknya.


Wajah Aisyah terlihat sangat pucat dan badan yang gemetaran. Aditya cepat membawa istrinya kembali ke ranjang dan mengoleskan minyak telon ke perut dan punggung istrinya.


"Masih mual?." tanya Aditya. Dia bisa melihat keringat dingin mengalir di leher istrinya.


"Masih Kak. Masih mual." baru saja menjawab Aisyah sudah berlari ke kamar mandi.


Sekarang Aditya mulai panik dan menghubungi sekretarisnya, Riko.


"Riko seperti nya aku belum bisa ke kantor. Istriku sakit. Aku harus membawanya ke rumah sakit." ucap Aditya ketika panggilan telah di angkat.


"Nyonya sakit?." tanya Riko sedikit terkejut.


"Dia muntah terus dari bangun tadi. Aku khawatir ada masalah dengan lambungnya."


"Muntah?." Riko kembali terkejut dan sedikit berpikir sekarang.


"Tuan cepat bawa Nyonya ke rumah sakit. Untuk masalah kantor aku bisa menanganinya. Aku khawatir Nyonya bukan sekedar sakit."


Mendengar ucapan terakhir Riko, Aditya mengangkat alisnya.


"Maksudnya? kamu jangan menakut-nakuti aku, Riko!."


"Bukan Tuan, maksudku itu ... Siapa tahu Nyonya muntah di pagi hari bisa jadi karena sedang hamil."


Aditya seketika terbelalak matanya. Dia menoleh kepada Aisyah yang sekarang sudah kembali ke ranjang dengan lesu.


"I-iya kalau begitu, sudah yah? Aku tutup teleponnya." Aditya cepat menutup panggilan. Hatinya mendadak riang memikirkan ucapan Riko.


Tapi kan belum tentu. Bisa jadi Aisyah sungguh sakit lambungnya.


Aditya yang tadi sudah tersenyum kembali khawatir.

__ADS_1


"Aisyah aku akan meminta Bi Sumi membuatkan teh dulu. Kamu minumlah teh dulu, aku akan mandi sebentar, setelah itu kita harus ke rumah sakit." ucap Aditya sembari mengelus punggung istrinya itu yang sekarang sudah tepar di atas kasur.


Aisyah hanya menganguk.


Aditya keluar sebentar untuk memanggil Bi Sumi dan meminta nya untuk membuatkan teh hangat untuk Aisyah.


Sebenarnya Aditya bisa saja memanggil dokter pribadi untuk datang ke rumah nya. Tapi entah kenapa Aditya memilih untuk membawa istrinya langsung ke rumah sakit itu karena Aditya penasaran dengan apa yang di katakan Riko tadi.


'Hamil?.'


'Apa benar ya Aisyah hamil?.'


Aditya berharap sungguh apa yang di katakan Riko benar-benar terjadi pada Istrinya.


"Ya Allah, mudah-mudahan benar." Dengan secepat kilat Aditya mengguyur tubuhnya. Pikiran nya sudah melayang kemana-mana.


Selesai mandi, Aditya segera berganti. Dia melihat Aisyah sedang duduk meminum teh hangat.


"Apa masih mual?." tanya Aditya kembali bertanya.


"Masih, Kak. Badan ku rasanya tidak enak sekali. Kepala pusing banget, rasanya mengantuk sekali." Jawab Aisyah.


"Tunggu sebentar yah." Aditya mempercepat gerakannya untuk merapihkan badan. Kemudian mengambil sisir.


Aisyah tadi terlihat belum sempat menyisir, bahkan rambutnya masih menyisakan air.


Tanpa persetujuan dari Aisyah, Aditya mengeringkan rambut nya Aisyah terlebih dahulu dan menyisirnya. Kemudian mengambil jilbab instan untuk di pakai Aisyah.


Mereka di antar oleh supir. Aditya duduk bersama Aisyah di kursi belakang dengan kepala Aisyah berada di pangkuan Aditya. Rasanya tidak sanggup hanya sekedar mengangkat kepala saja.


Aisyah pernah sakit, tapi tidak pernah merasa lemas seperti ini. Tulang belulang nya terasa ngilu.


Atau karena dia menahan nya beberapa hari? Aisyah berpikir demikian.


Sebenarnya dia merasa kurang enak badan sudah sejak mereka menginap di kediaman Malika sekitar satu minggu yang lalu. Dia sudah sering merasa mual dan ingin muntah. Tapi dia bisa menahannya dengan mengoleskan nya minyak telon di perutnya. Dia juga sering merasa pusing tetapi kadang datang dan nanti menghilang. Makannya Aisyah tidak terlalu merasakannya.


Tadi pagi dia tidak bisa menahan nya selagi dia mandi, perut nya seperti sedang di aduk-aduk saja dan dia langsung muntah.


Aisyah menutup mulutnya dengan sebuah sapu tangan yang dia dapat dari Aditya. Aditya juga tak berhenti mengelus punggungnya.


Ada rasa khawatir dalam diri Aditya. Namun lebih ke rasa penasaran.


Tidak lama kemudian, mobil telah berhenti di depan rumah sakit. Aditya turun dan membukakan pintu untuk Aisyah. Dengan hati-hati Aditya


membantu Aisyah turun dan segera membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


"Tunggu dulu di sini sebentar! Aku harus menemui resepsionis" Aditya menyuruh Aisyah duduk di bangku antrean sementara dirinya segera menemui resepsionis.


Setelah berbincang serius, seorang suster mengantar mereka ke ruangan dokter. Dan langsung di sambut oleh seorang Dokter wanita.


"Mari silahkan masuk!." Dokter itu dengan ramah mempersilahkan mereka masuk.


Setelah mengatakan keluhan istrinya dan Dokter mencatat nama pasien. Adityadi persilahkan untuk menunggu sebentar di luar.

__ADS_1


Dokter kemudian memeriksa Aisyah.


"Sudah berapa seperti ini Mbak Aisyah?" tanya Dokter sambil memeriksa tekanan darahnya.


"Parahnya baru tadi pagi Dokter. Tapi rasa tidak enak seperti ini sebenarnya sudah ada dua mingguan. Saya pikir hanya lemas pusing biasa karena kecapean jadi aku hanya menahan nya saja. Tapi tadi pagi rasanya tidak tahan lagi." Jawab Aisyah.


"Hem baiklah kita periksa dulu yang benar. Tentu darah normal." ucap Dokter lalu Aisyah di minta untuk berbaring.


Dokter pun memeriksa detak jantung dan bagian lambung.


Semua baik-baik saja. Lalu Dokter itu tersenyum.


"Apa mbak sudah telat datang bulan?." tanya Dokter sembari mengeluarkan alat tes kehamilan.


Aisyah mengangkat alis dan mengingat-ngingat kapan terakhir kali dia kedatangan tamu bulanan.


"Astaghfirulloh, Aku lupa! Iyah Dokter. Sudah hampir tiga minggu malah." Jawab Aisyag spontan ketika dia mengingat sudah telat lebih dari 3 minggu.


Sang Dokter pun tersenyum dan meminta Aisyah untuk mengambil sampel urine guna pemeriksaan lebih lanjut.


Ketika Dokter telah selesai memeriksa, maka sudah bisa di pastikan jika Aisyah benar-benar hamil.


"Selamat yah Mbak Aisyah, Mbak Aisyah tengah hamil. Dan kandungan nya sudah berjalan hampir lima minggu."


Aisyah terbelalak ketika melihat tes kehamilan yang sudah di sodorkan Dokter di hadapannya. Dua garis merah muda yang memang terlihat jelas di sana.


"Aku hamil Dokter? sudah lebih dari satu bulan?. Benarkah?." Aisyah benar-benar belum percaya.


"Iyah, Mbak Aisyah, Mbak Aisyah sudah hamil lebih dari satu bulan."


Dia segera menoleh ketika Aditya masuk ke dalam ruangan. Aditya sudah tidak sabar menunggu terlalu lama di luar hingga di masuk tanpa di suruh.


"Kak..." Aisyah langsung berdiri.


"Sayang, bagaimana apa kamu baik-baik saja?." Aditya menghampiri Aisyah. Masih banyak kecemasan dalam hatinya, tetapi jantungnya berdetak mana kala menatap tangan Aisyah yang menggenggam sebuah testpack.


"Aisyah kamu...?." Aditya menoleh ke arah Dokter yang kini tersenyum kepadanya.


"Selamat Ya Tuan. Istri Anda tengah Hamil."


Aditya langsung memeluk istrinya dengan hati yang di penuhi dengan kebahagiaan.


"Aisyah, kamu hamil Sayang. Kamu hamil! aku akan jadi seorang Ayah. Alhamdulillah. Ya Allah."


Aisyah tersenyum bahagia melihat suaminya kini bahagia atas kehamilan dirinya. Rasanya tidak bisa di gambarkan kebahagiaan Aisyah sekarang.


.


.


.


Tamat

__ADS_1


__ADS_2