Di Tikung Sahabat Sendiri

Di Tikung Sahabat Sendiri
Part 91


__ADS_3

"Hot news apaan sih Rin?. Paling berita ngga penting! kamu itu kebiasaan sih suka gangguin orang aja." gerutu Aisyah.


"Ya ampun Bu, ini tuh benar-benar berita paling penting. Itu tuh mantan suami Ibu dan Mantan sahabat ibu ditemukan tewas di tengah hutan di bawah jurang hutan Alas roban." ucap Rina membuat Aisyah terkejut.


***


Saat sedang mengambil ponselnya, tiba-tiba pintu rumah Bastian di ketuk dari luar.


Tok! Tok! Tok!


"Nak sepertinya ada di tamu di luar!. Coba kamu buka pintu nya dulu, Nak!."


"Baik Mah." Bastian beranjak untuk membukakan pintu namun ragu dan tak langsung membukakan pintu, dengan perasaan cemas ia mengintip dari jendela.


Deg!


"Polisi sudah datang!."


"Siapa Nak?." tanya Ratih yang sudah berada di belakang Bastian.


Bastian tidak langsung menjawab, ia gelisah dan takut. Hati kecil nya ingin kabur namun mengingat nasihat sang Mamah yang meminta nya untuk bertanggung jawab.


Ratih seperti tahu kegelisahan sang anak, tersenyum lalu mengusap lembut lengan sang anak. Berharap anak nya mengerti kalau dia tidak akan meninggalkannya.


"Baik, Mah. Aku akan bertanggung jawab."


Bastian menghembuskan nafas lalu mengeluarkannya perlahan. Berbalik badan lalu membuka pintu.


"Selamat siang, Kami dari kepolisian mendapatkan surat perintah penangkapan untuk saudara Bastian karena ada yang melaporkan jika saudara telah membunuh saudara Dimas Anggara dan Maira Jasmine. Kami mohon kerja sama nya." ucap salah seorang polisi.


Bastian pasrah polisi menangkapnya lalu ia tersenyum kepada sang Ibunda menandakan dia akan baik-baik saja.

__ADS_1


Bastian berjalan bersama kedua polisi dengan tangan di borgol lalu masuk ke dalam mobil.


Ratih mengusap air mata nya yang tidak tahu sejak kapan dia menangis. Bagaimana pun juga putra nya itu memang salah dan harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.


***


Sementara Aisyah yang mendapatkan telepon dari Rina yang begitu mengejutkan membuat ia shock dan sedikit panik.


Aisyah kemudian membuka aplikasi berlogo F itu. Ia mencari grup berita online itu. Berita kematian tragis yang di alami oleh Dimas dan Maira langsung menyebar luas ke seluruh jagat sosial media.


"Ada apa sih, Aisyah. Kok kamu panik gitu?." Tanya Aditya.


"Innalillahi...astaghfirullah. Ya Allah, kak Adit" teriak Aisyah histeris.


"Kenapa Sayang?." tanya Aditya sambil merebut ponsel yang ada di genggaman Aisyah.


Aditya membelalak, matanya melotot tajam ke arah foto jasad Dimas dan salah seorang perempuan yang begitu mengenaskan. Di ketahui jika perempuan itu adalah Maira Jasmine sang mantan artist, terbukti dari sidik jari nya walaupun wajah kini berbeda.


Mereka di temukan di dasar jurang dan ditemukan oleh seorang pendaki gunung. Dan yang membuat mereka meninggal secara mengenaskan adalah sebagian dari tubuh mereka sudah habis di makan binatang buas. Bahkan sebelum itu mereka di siksa oleh suami Maira yang diketahui jika itu mantan sahabat Aisyah, mereka selingkuh di belakang Bastian.


Begitu lah berita yang berseliweran di jagat maya.


Tanpa perlu mengotori tangan, keadilan sudah berpihak pada Aisyah. Rasa sakit yang dulu pernah Aisyah rasakan seperti terbalas kan dengan sendirinya.


Kini ia beruntung memiliki suami yang tulus dan keluarga yang menyanyangi Aisyah.


Aisyah tak menyesali masa lalunya, karena dari masa lalu Aisyah tahu bagaimana cara mensyukuri nikmatnya memiliki suami dan mertua yang baik hati.


Dia tahu dalam menjalankan kehidupan rumah tangga, pasti akan ada banhak ujian nya entah dari suami, mertua atau orang ketiga. Namun Aisyah berdoa semoga kehidupan baru nya kini selalu membawa kebahagiaan untuknya.


"Kak, bagaimana jika kita melayad ke sana?. Mungkin saja Papa Edmund membawa jenazah putranya."

__ADS_1


"Sebentar Sayang. Bukannya aku tak mengizinkan. Tetapi saat ini jasad mereka pasti sedang di periksa oleh dokter forensik. Jadi, kita tidak bisa melihat nya sekarang," papar Aditya.


"Kita ke sana besok pagi saja. Kita istirahat dulu ya," imbuhnya kemudian menuntun dan membaringkan Aisyah di ranjang.


Aisyah pun menurut dan ikut berbaring di samping suaminya. Matanya tak bisa terpejam, ia terus memikirkan nasib tragis yang menimpa Dimas dan Maira.


Meskipun mantan suami dan mantan sahabat nya sudah berpelaku tidak baik kepada Aisyah. Namun Aisyah tidak ingin hidup berada dalam dendam, ia ingin hidup tenang bersama dengan suami dan anaknya kelak. Untuk itu akan memaafkan segala perbuatan Dimas dan Maira kepada nya, dan berdoa semoga dosa-dosa mereka di ampuni oleh sang maha kuasa.


***


Jenazah Dimas dan Maira di makamkan di tempat umum. Hasil visum menerangkan bahwa tubuh mereka sebagian di makan binatang buas. Selain itu dokter juga menerangkan kondisi kesehatan Dimas yang sangat lemah bahkan dalam pengaruh obat-obatan sebelum meninggal.


Aisyah, Aditya, dan Sonya turut serta mengantar pemakaman Dimas dan Maira. Beberapa anggota kepolisian juga turut ikut serta mendalami kasus ini.


Setelah prosesi pemakaman selesai, Sindy tertunduk lesu dan Papa Edmund yang berada di samping nya menggunakan kursi roda menghadap makam Dimas dan Maira yang di makamkan bersampingan.


Edmund menerima dengan ikhlas kematian yang di alami oleh putranya. Sudah menjadi suratan takdir yang maha kuasa bahwa suatu saat yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya. Hanya saja Edmund menyayangkan kematian putranya yang belum sempat bertaubat. Tapi sebagai orang tua, ia akan mendoakan putranya agar amalan nya di terima oleh Allah swt.


Selama proses pemakaman berlangsung, Aisyah merasa ada yang menatap ke arah pemakaman ini, di sana terlihat seorang paruh baya yang berpakaian kumal. Perawakan nya seperti mantan ibu mertuanya tapi tidak jelas karena di halangi oleh kerudung. Merasa ada yang memperhatikannya, orang itu tiba-tiba pergi.


"Ada apa, Sayang?." ucap Aditya menyadarkan lamunan Aisyah yang sedang menatap sesuatu, ia memegang bahu istrinya.


Aisyah terkejut, "Hmmm tidak apa-apa, Sayang." Jawab Aisyah sembari tersenyum.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2