
Padahal berita Maira dan suami Aisyah itu sempat viral, tapi Malika tidak pernah tahu karena ia ikut suaminya Bagas Wijaya ke luar negeri. Sehingga ia tidak tahu apa-apa.
"Aku sangat menyanyangkan nasib rumah tangga anak-anak kita, tapi kamu harus yakin Aisyah pasti akan menemukan kebahagiaannya nanti. Seperti aku dan kamu, di pernikahan kedua kita, kita mendapatkan suami yang baik dan bertanggung jawab." ucap Malika penuh semangat.
"Iyah aku berharap Aisyah menemukan kebahagiaannya nanti, karena kondisiku yang sakit-sakitan. Aku tidak ingin Aisyah sendirian dalam hidupnya, aku takut ia trauma untuk berhubungan baik hubungan pertemanan atau hubungan kekasih."
Malika tersenyum, "Kamu jangan berbicara seperti itu, aku jadi sedih baru aja ketemu masa harus berpisah. Aku berdoa semoga Kamu panjang umur dan nanti bisa menggendong cucu mu nanti."
"Oh yah Mas Bram kemana ? Apa dia sedang bekerja sekarang?"
Sonya menunduk sedih, "Mas Bram sudah meninggal satu tahun yang lalu."
Malika merasa bersalah atas pertanyaannya dan berusaha untuk minta maaf, "Maaf kan aku, Sonya aku tidak tahu."
"Tidak apa-apa Malika, kamu tidak perlu minta maaf. Aku hanya sedih karena mengingat apa yang terjadi pada Aisyah, Mas Bram tidak ada di sini." Sonya tidak ingin menceritakan apa yang di lakukan Almarhum suaminya, memilihkan jodoh untuk anak nya dengan anak sahabatnya tanpa melihat bagaimana karakter dan sifat dari anak sahabatnya itu.
Sonya tidak menyalahkan Almarhum suaminya, dia menganggap apa yang terjadi pada putrinya adalah takdir. Dan dia berdoa supaya putrinya menemukan kebahagiaan cinta sesungguhnya.
"Apa kamu mau, aku perkenalkan Aisyah dengan putra tiriku?. Dia ganteng, mapan dan tentu nya baik hati, putraku itu sangat menyanyangiku walau aku bukan Ibu kandungnya.
"Aku terserah bagaimana Aisyah, aku tidak ingin memaksa nya menuruti permintaanku. Biarlah dia menentukan untuk kebahagiaannya sendiri, walaupun sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam, aku tidak ingin membiarkan dia terlalu lama sendiri." ucap Sonya.
"Tentu, aku hanya ingin memperkenalkan mereka dulu. Terserah kalau mereka mau lanjut atau tidak. Yang penting persahabatan kita tidak akan terputus walaupun tidak menjadi besan sekalipun."
Sonya tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Malika.
"Oh yah aku pamit dulu yah, Sonya. Ibu mertuaku terlalu lama di tinggal sendiri. Kamu tidak apa-apa di tinggal sendiri? Apa aku tungu Aisyah dulu?"
"Tidak apa-apa Malika, sebentar lagi Aisyah akan datang. Salam untuk Ibu mertua mu yah."
__ADS_1
"Ya sudah aku pamit yah, aku sudah menyimpan nomermu. Nanti aku kabarin lagi. Assalamualaikum" pamit Malika lalu meninggalkan ruang rawat Sonya.
"Waalaikumsalam" jawab Sonya.
.
.
FLASH BACK OFF
"Mamah, mamah" panggil Adel sambil menggoyangkan lengan mamah nya karena mendapati mamah nya yang melamun.
"Mamah melamunin apa?" tanya Adel.
"Tidak mamah tidak melamun," sanggah Malika lalu membenarkan duduknya. "Jadi gimana, Dit? Apa kamu mau temuin dulu temen mamah, mana tahu kamu suka?"
Aditya menghela nafas, inilah yang paling di hindari dari sang mamah, mamahnya tidak pernah gentar menjodohkan nya dengan anak temannya, bukan hanya kali ini saja tapi sudah berkali-kali Malika menjodohkan Aditya, tapi Malika tidak pernah memaksa Aditya untuk menerima. Hanya sekedar kenalan saja.
Malika menganguk dan tersenyum.
"Baiklah, tapi kali ini saja. Kalau nanti jawabanku tidak. Mamah tidak akan mempertemukan lagi dengan anak teman mamah lagi."
"Iyah kali ini saja. Dan jawabannya pasti akan berubah, karena kali ini kamu pasti tidak akan kecewa." ucap Malika tersenyum.
"Ya sudah. Ayo Del kita pulang, biarkan kakak mu bekerja." sahut Malika lalu berdiri berjalan meninggalkan ruangan Aditya.
Adel pun ikut beranjak dari Sofa mengikuti Ibunya.
Aditya menggelengkan kepala melihat tingkah Ibu sambungnya.
__ADS_1
***
Di tempat lain, seorang wanita paruh baya sedang terpekur sendirian di pinggir jalan, nasibnya kini sudah berubah. Dia yang dulu memiliki gaya hedon sekarang berubah drastis. Suami nya yang dulu sangat mencintainya mengusir nya dari rumah. Tidak ada wanita dengan gaya sosialita, sekarang hanya pakaian seadanya yang melekat di tubuhnya.
Edmund mengusir nya dari rumah karena sikap Ruli yang tamak. Setelah Dimas di penjara, tidak ada yang memberi Ruli uang. Sedangkan uang suaminya hanya terbatas, Edmund tidak ingin sikap hedon Ruli justru akan membuat kekayaannya habis. Amarah Edmund memuncak mendapati Ruli sedang bermain dengan seorang Pria muda di dalam kamar mereka saat Edmund sedang kontrol ke rumah sakit.
Di bantu oleh para tetangganya, Edmund mengusir Ruli dari rumah. Karena amarahnya melihat istrinya selingkuh, Edmund kemudian langsung mentalak tiga Ruli.
Ruli tidak bisa berbuat banyak saat itu, dan para ketua di sana melarang Ruli datang ke rumah nya dan masuk ke lingkungan mereka. Mereka tidak ingin ketiban sial karena ada yang berbuat mesum di lingkungan mereka.
Dan saat ini dia sedang menunggu anaknya, Sindy. Ruli tidak pernah bekerja selama ini dia bergantung pada suaminya dan anaknya Dimas. Jadi saat dirinya di usir oleh suaminya. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk bertahan hidup, dirinya anak yatim dan tidak punya saudara untuk diminta bantuan.
"Kemana sih tuh anak? Lama banget, teleponnya gak aktif lagi. Gak tahu apa Ibunya kelaparan di sini. Lagian si Rendy juga kenapa gak mau bantuin aku, padahal selama ini aku yang membayar biaya hidupnya." ucap Sonya menyebut nama brondong selingkuhannya.
Ruli terus saja menggerutu, dan orang-orang yang berlalu lalang menganggapnya gila, namun Ruli masa bodoh dengan anggapan orang kepada dirinya.
Hingga sore menjelang, anaknya tidak muncul-muncul. Ruli sudah putus asa menunggu Sindy yang tak juga datang. Akhirnya dia bangkit berdiri dan berjalan tak tentu arah, tanpa tujuan. Mungkin dia harus menemui Rendy di kampusnya besok. Hari ini sudah sore bentar lagi malam, dia bingung mau tidur dimana.
Berjalan menyelusuri jalan, entah dimana dia berada. Ruli masuk ke daerah perkampungan. Langit sudah mulai gelap dan jalanan mulai sepi. Orang-orang masuk ke dalam rumahnya masing-masing, sebagian ada yang berangkat ke mesjid untuk menunaikan Sholat Maghrib.
Ruli berjalan melewati orang-orang itu, ada rasa gengsi untuk meminta bantuan, tidak ingin dianggap miskin walaupun pada kenyataan nya emang dia tidak punya apa-apa.
Langit menandakan akan turun hujan, Ruli bergegas mencari tempat untuk berteduh sebelum hujan turun. Lalu dia menemukan ada pos kamling saat berjalan melewati mesjid tadi. Lalu ia duduk berteduh dan benar saja hujan turun dengan lebatnya ditambah angin kencang disertai petir yang menyambar-nyambar.
Ruli beringsut di pojokan sambil menahan hawa dingin yang masuk karena bangunan kecil tanpa pintu itu tentu saja membuat tiupan hujan angin kencang itu masuk ke dalam, sehingga tubuhnya menggigil kedinginan. Kaki nya di tekuk di peluk erat tubuhnya sendiri mengusap-ngusap lengannya mencari kehangatan. Tapi percuma saja hawa dingin membuat tubuhnya yang sudah tidak muda lagi itu tetap kedinginan, di tambah dia yang belum makan apa-apa sejak siang tadi menjadi lemas.
Belum satu hari Ruli keluar dari rumah, tapi ia sudah sangat menderita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...*** MOHON BANTU LIKE DAN KOMENT YAH ***...